
Samantha menerobos masuk ke kamar tanpa mempedulikan bahwa di sana ada Rhiana. Gadis itu seakan sengaja membuat hubungan Rhiana dan Kenneth sedikit memanas.
"Kenneth, kalau kau ingin bertemu dengan temanmu, tidak bisakah di luar kamar?" tegur Rhiana.
"Maaf, Kakak ipar. Hadiah ini harus sampai dengan selamat di kamar Kenneth. Kalau di luar kamar, aku tidak akan jamin karena beberapa orang akan penasaran."
Dengan santainya Samantha meletakkan beberapa bingkisan di atas meja. Tidak hanya itu, beberapa dia letakkan di atas ranjang.
"Kenneth, tolong minta gadis ini keluar dari kamarku!" Kali ini Rhiana meradang.
Samantha sama sekali tidak tahu aturan. Sementara Rhiana sudah pernah memperingatkan pada Kenneth untuk menjadikan kamar sebagai tempat pribadi. Tidak sembarang orang bisa masuk ke sana.
"Ayo, keluar!" perintah Kenneth pada Samantha.
"Kenneth! Kau pelit sekali. Bukannya dulu aku sering main ke kamarmu? Kita kan sahabat. Jadi, tolong biarkan aku berada di sini." Samantha memohon.
"Kenneth, kau mau aku yang keluar atau gadis itu yang keluar?" ancam Rhiana.
Kenneth menarik tangan Samantha keluar kamar, tetapi saat berada di ambang pintu. Stella tiba-tiba datang menghampiri.
"Ada apa ini? Mengapa kau menarik paksa Samantha keluar dari kamarmu?"
"Istri Kenneth tidak suka kalau aku berada di kamar bersama Kenneth," jelas Samantha mengadu.
Stella merasa geram karena Kenneth dikendalikan terus oleh Rhiana. Kali ini Stella tidak akan mengampuni wanita itu.
"Mengapa kau minta Kenneth mengusir sahabatnya sendiri?" tanya Stella dengan nada tinggi.
"Mam, Rhiana benar. Ini kamar kami yang merupakan privasi suami istri," sahut Kenneth.
"Diam, Kenneth! Mama tidak berbicara denganmu! Oh ya, tolong jaga batasanmu! Walaupun kau sudah menjadi menantu di keluarga kami, tetapi bukan berarti kau bisa berbuat sesuka hatimu. Mansion ini punya aturan untuk menerima tamu seperti Samantha. Jadi, tolong selalu buat dia senyaman mungkin!" jelas Stella.
Rhiana menarik napas panjang. Dia juga tidak mau diinjak begitu saja oleh Stella.
__ADS_1
"Maaf, Ma. Coba posisikan Mama sebagai aku. Maksudku, saat Mama menikah dulu, apakah Mama akan membiarkan sahabat suami Mama masuk ke kamar? Bukankah Mama akan menempatkan kamar sebagai privasi suami istri?" tanya Rhiana.
Sebenarnya Rhiana juga benar. Stella tipikal wanita yang pencemburu. Saat baru menikah saja dia tidak mengizinkan saudara iparnya baik laki-laki ataupun perempuan untuk masuk ke kamar. Bahkan, dia rela meminta izin dari mertuanya demi bisa bersama dengan suaminya, Albert.
"Ah, banyak omong! Kalau tidak suka pada Samantha, ya sudah. Jangan bawa-bawa mama!" Bukannya menyetujui, Stella malah marah-marah.
"Sudahlah, Ma. Rhiana capek. Kalau Samantha memang mau bertamu, setidaknya minta jaga batasannya untuk tidak mendekati suami orang!" Rhiana turun dari ranjang kemudian masuk ke kamar mandi.
Setelah mengeluarkan Samantha dan mama dari kamar, Kenneth mengunci pintu. Suasana hati Rhiana sedang tidak bagus. Apalagi dia harus menyiapkan pameran secara mendadak yang diminta papanya.
"Sayang, apa kau masih lama di kamar mandi?"
Rhiana hanya mencuci muka saja, tetapi dia malas keluar. Dia mengira masih ada Stella dan Samantha di sana.
"Sayang, keluarlah! Mama sudah pergi," panggil Kenneth pada Rhiana.
Tidak lama, Rhiana pun menampakkan batang hidungnya. Kenneth lalu menggapai tangan Rhiana kemudian menggenggamnya dengan erat.
Tidak hanya menggenggam, Kenneth melepaskan tangan itu kemudian beralih memeluknya. Rhiana tidak menolak. Justru dia sangat menikmati pelukan suaminya.
"Aku juga minta maaf, Kenneth."
Berada di luar bersama Stella tidak menyurutkan niat Samantha untuk mendekati kembali sahabatnya.
"Aunty minta maaf atas kelakuan Rhiana. Dia memang begitu. Harusnya kau yang jadi menantu aunty."
Albert baru saja tahu jika Samantha datang lalu membuat suasana mansion menjadi gaduh.
"Ada apa, Ma? Mengapa Mama dan Samantha berdua saja? Di mana Kenneth?" tanya Albert.
"Dipenjara oleh istrinya. Kebiasaan menantu Papa kan seperti itu. Tidak membiarkan Kenneth dekat dengan siapa pun, termasuk mama!"
Albert tersenyum. Ini mungkin kesalahpahaman yang sengaja dibesarkan oleh sang istri.
__ADS_1
"Hemm, Rhiana dan Kenneth pasti sedang sibuk mengurus pamerannya. Papa yang meminta," ucap Albert.
Pameran? Stella bahkan tidak tahu apa pun tentang rencana suaminya. Dia menatap Samantha penuh tanya, tetapi tidak menemukan apa pun di wajah gadis itu.
"Pameran apa, Pa? Mama tidak tahu apa pun."
"Itulah gunanya Mama. Harusnya Mama bisa lebih dekat dengan Rhiana daripada yang lainnya. Bukannya Mama meminta beberapa teman sosialita datang ke mansion? Nah, tidak hanya beberapa, tetapi minta mereka datang semua. Papa ingin memamerkan beberapa hasil karya menantu kita. Nah, kalau mereka tertarik lalu menginginkan produksi massal, papa siap menjadi orang pertama yang akan menyiapkan dananya. Perusahaan kita akan mulai bercabang menyentuh produk fashion. Mama pasti akan senang," jelas Albert.
Stella merasa bahwa dirinya akan berada di red carpet bersama sang suami jika bisnis ini berhasil. Memang cita-cita Stella adalah menjadi pusat perhatian soal fashion. Mungkin dari Rhiana, Stella bisa bekerja sama untuk menciptakan gaun-gaun limited edition yang akan membuat teman-teman sosialitanya iri.
Samantha merasa kerdil bila dibandingkan dengan Rhiana. Talenta wanita itu yang membuat Kenneth semakin menggila.
"Aunty, boleh aku ikut andil dalam pameran itu?" Setidaknya Samantha akan berguna jika dirinya ikut bergabung. Tidak bisa memiliki Kenneth pun tidak masalah asalkan masih bisa melihatnya.
"Nanti coba aku tanya Rhiana. Setahuku dia sedang menyusun konsepnya bersama Kenneth," sahut Albert.
Bukannya tidak mau memberikan kesempatan pada Samantha, tetapi takutnya Rhiana yang tidak nyaman.
Makan malam pun siap. Semua anggota keluarga diminta berkumpul di meja makan. Sementara Albert akan menyiapkan waktu untuk berbincang dengan Stella sebelum acara itu dimulai.
"Jadi, kapan kau siap, Rhiana?" tanya Albert.
"Tiga hari lagi bisa, Pa. Konsepnya sudah siap. Jika Papa dan Mama setuju, besok Samuel yang akan membawa beberapa sampel gaun beserta manekinnya. Nanti konsepnya akan dibawa suamiku ke Papa," jelas Rhiana.
Samantha terus saja memerhatikan semua tingkah Rhiana. Walaupun dia sudah cukup tua untuk Kenneth, tetapi kecantikannya masih menunjukkan bahwa dia pantas bersanding dengan Kenneth. Ada gurat kecemburuan hadir di lubuk hati Samantha.
"Rhiana sangat spesial. Pantas saja Kenneth tidak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun selama ini. Tidak tahunya kalau Rhiana lah yang dikejar selama ini," gumam Samantha sambil menikmati makan malamnya.
"Bagaimana, Ma? Kalau Mama siap mengundang semua teman Mama, papa siap menyediakan segalanya," tutur Albert.
"Aku siap saja, Pa. Namun, aku minta Rhiana harus memenuhi syarat yang aku ajukan. Jika dia mau, maka aku akan mempermudah segalanya," balas Stella.
Rhiana dan Kenneth berpandangan. Stella masih saja memberikan syarat-syarat yang akan membuat rumit rumah tangga putranya. Kira-kira syarat apa yang akan Stella ajukan? Semoga saja Rhiana mampu menjalani syarat itu dengan baik.
__ADS_1