
Albert tahu di mana keberadaan Rhiana dari sopir pribadi Kenneth. Setelah keluar dari mansion, Rhiana diantarkan kembali oleh sopir tersebut. Albert yakin kalau dia masih ada di hotel karena hari sudah larut. Albert tidak bisa menunggu terlalu lama untuk membahas masalah ini.
Didatanginya hotel tersebut. Lalu, Albert memutuskan untuk menanyakan di mana kamar Rhiana berada. Sayang, reservasinya bukan atas nama Rhiana, melainkan Kenneth, putranya.
"Bisakah kau mengabarinya jika ada tamu sedang menunggu?" tanya Albert pada resepsionis.
"Tentu, Tuan. Silakan tunggu sebentar!"
Beruntung penghuni kamar itu lekas mengangkat panggilan tersebut. Rhiana merasa kalau itu bukan Kenneth. Lalu, siapa? Kalau Kenneth, lelaki itu pasti akan langsung menuju ke kamar tanpa bertanya lagi. Daripada mengira-ngira, Rhiana pun segera turun menemui tamunya tersebut. Semoga bukan orang tua Kenneth.
Saat melihat punggungnya, Rhiana sudah tahu bahwa itu adalah Albert. Rhiana mendekati lalu menyapanya.
"Tuan Albert, ada apa? Maaf, sudah mengacaukan pesta ulang tahun putramu," sapa Rhiana.
"Tidak masalah. Oh ya, bisa kita bicara sebentar?"
Albert datang pasti untuk meminta Rhiana menjauhi Kenneth. Apalagi selain kata itu? Rhiana mengangguk sehingga Albert mengajaknya ke bar hotel. Di sana bukan untuk minum saja, tetapi berbincang-bincang.
"Pesan minuman dulu! Baru kita bicara," ucap Albert.
Butuh beberapa menit saja sampai semua minuman itu berada di mejanya. Rhiana diam menunggu Albert.
"Sejak kapan kau berhubungan dengan putraku?"
Rhiana mulai menceritakan semua yang terjadi. Dia tidak mau menutupi apa pun dari Albert karena Rhiana yakin dengan keputusannya.
"Jadi, Kenneth yang mencarimu?"
Rhiana mengangguk.
"Lalu, apakah kau sudah menikah? Atau, kau masih sendiri?"
Pertanyaan inilah yang selalu ditakutkan Rhiana. Albert akan bertanya sampai ke akar-akarnya. Tanpa mengurangi rasa hormat, Rhiana tidak mau menceritakan secara detail kehidupannya. Dia hanya mengatakan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Maaf, Tuan. Aku masih sendiri. Jika Anda mengira aku memanfaatkan Kenneth atau apa pun itu, kurasa Anda salah besar."
__ADS_1
Rupanya Rhiana salah paham pada Albert. Padahal pria itu hanya ingin tahu status yang sebenarnya. Mungkin saja Rhiana masih seorang gadis. Jika itu benar, Albert akan mendukung keduanya.
"Bukan seperti itu maksudku, Rhiana? Sebelumnya apakah kau sudah pernah menikah? Atau, kau memang belum pernah menikah? Itu maksudku."
Setelah mendapatkan penjelasan dari Albert, Rhiana baru paham. Sebenarnya dia merasa rikuh juga menyebutkan bahwa dia sama sekali belum pernah menikah.
"Belum pernah menikah, Tuan. Kenapa? Anda jangan khawatir. Sebenarnya aku tidak pernah terlalu serius menganggap perasaan Kenneth. Aku hanya merasa kalau dia main-main saja," jelas Rhiana.
Albert diam sejenak.
"Kurasa tidak, Rhiana. Aku memahami putraku dengan baik. Dia pasti sudah mempertimbangkan dari berbagai aspek. Saat kau datang ke mansion, aku yakin kalau pilihannya tidak pernah salah. Hanya saja—"
"Nyonya Stella tidak akan pernah menyetujui hubungan ini, bukan? Sudah dari awal aku mengingatkan Kenneth. Aku pun sudah menolaknya beberapa kali. Dia tidak mau menyerah. Jadi, kalau kejadiannya seperti ini, aku sudah tidak akan terkejut lagi," ucap Rhiana memotong ucapan Albert.
"Rhiana, tolong jangan menyerah untuk Kenneth. Dia membutuhkanmu. Lanjutkan hubungan kalian!" perintah Albert.
Rhiana terkejut. Albert malah mendukungnya. Lalu, bagaimana dengan Stella?
"Maaf, Tuan Albert. Walaupun Kenneth menginginkannya, tetapi aku hanya akan melanjutkan hubungan saat orang tuanya setuju. Aku tidak akan mengubah keputusanku. Kami sudah memiliki kesepakatan. Jika salah satu mendapatkan penolakan, maka hubungan ini telah berakhir. Aku pun akan pulang secepatnya," tegas Rhiana.
"Jika tidak ada yang dibicarakan lagi, bisakah aku kembali ke kamar?"
Rhiana meneguk minumannya lebih dulu. Sejak minumannya sampai, baik Rhiana maupun Albert sama sekali belum menyentuhnya. Keduanya asyik mengobrol hingga lupa segalanya.
"Tentu, Rhiana."
"Sebelum Anda pergi, aku ingin menitipkan sesuatu untuk Anda. Biasakan Anda menungguku di depan resepsionis?"
Kalau harus memutar ke bar lagi, Rhiana memerlukan waktu yang lumayan lama. Sementara malam semakin larut. Dia tidak mungkin membiarkan Albert berada di sana hingga dini hari, bukan?
Sesuai kesepakatan, Rhiana mengembalikan hadiah pemberian Kenneth. Lebih tepatnya gaun yang harus digunakan Rhiana saat pesta ulang tahun, tetapi sama sekali tidak dipakainya.
"Terima kasih untuk pemberiannya, tetapi sayang sekali aku tidak bisa memakainya, Tuan Albert. Sampaikan salamku pada Kenneth," pesan Rhiana.
"Kau akan pergi kapan? Kalau perlu, sopir akan mengantarmu." Albert tidak tega membiarkan Rhiana sendirian.
__ADS_1
"Setelah ini aku harus kembali, Tuan Albert."
Sedari dulu Rhiana tidak mau menunda waktu. Dia harus secepatnya menyelesaikan semua masalah yang dihadapi saat ini.
"Kalau begitu sopirku akan mengantarmu. Aku bisa pulang naik taksi," pamit Albert.
"Tidak perlu, Tuan Albert. Ini sudah sangat larut. Anda pasti kesulitan membawa kotak itu sampai ke tempat pemberhentian taksi."
Rhiana sedikit berlebihan, tetapi Albert bisa meminta resepsionis untuk memanggilkan taksi. Namun, Albert memastikan bahwa dia akan baik-baik saja. Setelah menghubungi sopirnya, Albert pamit pulang pada Rhiana.
"Jaga dirimu baik-baik. Kau sudah lama tidak pernah mengabariku. Ini kartu namaku, kau bisa menelepon setelah sopirku mengantarkanmu sampai tujuan. Pergilah!"
"Terima kasih, Tuan Albert. Anda selalu baik kepadaku."
Sebenarnya tidak hanya Albert yang baik, tetapi juga Stella. Sepasang suami istri itu sudah menerima Rhiana dengan baik sejak kehadirannya di mansion.
Sementara Kenneth tidak bisa tidur. Setelah pesta ulang tahun berakhir menyedihkan, Kenneth mengusir semua orang dari mansionnya. Samantha juga menjadi korban kekecewaan Kenneth kepada mamanya. Kenneth dan Stella tidak saling bicara karena Kenneth memutuskan untuk mogok bicara sampai Stella merestui hubungannya dengan Rhiana.
Saat tahu Albert pulang membawa sebuah box yang dikenalnya. Kenneth yakin kalau papanya baru saja bertemu dengan Rhiana.
"Apa yang Papa lakukan padanya? Apa Papa juga sudah mengusirnya?"
Jika Kenneth mogok bicara dengan Stella, maka tidak dengan papanya. Terlebih box itu menunjukkan bahwa Rhiana baru saja bertemu dengannya.
"Tidak, Kenneth. Rhiana hanya pamit pada papa untuk pulang lebih cepat. Besok pagi dia harus bekerja."
Albert tidak akan mengatakan apa pun sebelum tahu apa yang terjadi di mansion. Melihat wajah murung putranya sudah bisa dipastikan jika Stella masih tetap pada pendiriannya.
"Papa jangan bohong! Mama kan yang meminta Papa untuk mendatanginya lalu mengusirnya? Tolong, Pa! Tidakkah kau tahu aku harus mengikuti semua permintaanmu? Saat ini aku hanya ingin Rhiana, bukan yang lainnya."
Albert tersenyum. Sangat sulit memang bisa memahami cinta beda usia. Ini tidak mudah, tetapi perlu pendewasaan lagi untuk Kenneth. Dia terlihat seperti anak manja yang kehilangan induknya.
"Kalau begitu buktikan kau layak untuk Rhiana! Urusan mama, biar papa yang akan meyakinkan."
Sejenak Kenneth mencoba memahami ucapan papanya. Harus bersabar sampai berapa lama untuk menyiapkan diri sampai bisa setara dengan Rhiana? Jangan sampai wanita itu memilih pria lain ketimbang dirinya.
__ADS_1