Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 31. Menginginkan Anak


__ADS_3

Menjadi pasangan suami istri sudah menjadi bayangan Kenneth sedari dulu. Dia pun sangat menikmati sekali perannya saat ini. Walaupun pesta telah usai, tetapi perjalanan dan pengalaman hidup Kenneth baru dimulai.


Kembali ke kamar, itu artinya Kenneth harus siap berbagi segalanya dengan sang istri. Terlebih selama ini Kenneth selalu tinggal sendirian di kamarnya. Akan ada sesuatu yang aneh saat berada di ranjang yang sama dengan hubungan yang berbeda.


"Sayang, apa kau sudah ganti baju?" tanya Kenneth untuk pertama kalinya. Dia tidak tahu harus tanya apalagi selain basa-basi murahan seperti itu.


"Hemm, aku sudah mengantuk, Kenneth. Oh ya, besok apa kau bisa mengantarkan aku ke butik? Kalau tidak bisa, aku akan pergi sendiri. Mungkin kau juga akan sibuk di kantor. Jadi, tidak masalah kalau aku berangkat sendiri, kan?"


Rhiana benar. Esok hari memang ada meeting penting dengan klien. Dia tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Begitu juga dengan istrinya.


"Kenapa tidak tunda lusa saja, Sayang? Aku besok ada meeting. Kalau lusa, aku akan melonggarkan jadwal untuk bisa mengantarkanmu."


Rhiana bingung. Besok harus mengerjakan apa jika berada di mansion bersama Stella. Wanita itu tidak akan berhenti mencoba menyentuhnya.


"Hemm, baiklah. Lusa saja."


Keduanya sebenarnya sama-sama canggung. Kenneth bukan anak kecil yang beberapa tahun lalu masih dijaga, ditemani kalau tidur, dan diperdengarkan dongeng-dongeng anak kecil.


Sekarang dia sudah tumbuh dewasa dan berstatus sebagai suaminya. Saat Kenneth berniat naik ke ranjang, Rhiana tidak mau. Dia masih malu dan canggung juga.


"Kenneth, tolong jangan tidur seranjang denganku. Aku merasa ini sangat aneh sekali. Mengertilah!" pinta Rhiana mengiba.


"Hemm, baiklah. Untuk malam ini aku mengalah," balasnya.


Bukan Kenneth namanya kalau tidak mempunyai seribu cara untuk tidur seranjang dengan sang istri. Setelah Rhiana terlelap, dia juga akan naik ke ranjang. Mana bisa tidur di sofa saat ranjang menawarkan keindahan ciptaan Tuhan berada di sana.


Setelah memastikan Rhiana terlelap, dia pun naik ke ranjang dengan perlahan. Jangan tanya, setelah menggunakan kaos lengkap beserta boxernya, kini Kenneth bertelanjang dada. Sangat wajar karena terbiasa tidur sendiri.


Aroma wangi tubuh Rhiana membuat rasa kantuk Kenneth tidak bisa tertahan. Tidak hanya itu, sebelum benar-benar tertidur, dia menyempatkan diri untuk memandang wajah Rhiana dari samping.


Istrinya memang sangat cantik. Kecantikannya semakin luar biasa di usianya sekarang ini. Jelas itu sangat berbeda saat masih mengasuh Kenneth kala itu. Dia masih menjadi gadis polos yang belum mengenal make up dan fashion.


Keesokan harinya, Rhiana bangun dengan menyipitkan matanya sejenak. Dia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya yang diam-diam ditimpa oleh tangan kekar. Hembusan napas lembut dengan aroma mint membuat Rhiana tersadar bahwa saat ini dia tidak sendiri, melainkan bersama seseorang.

__ADS_1


"Kenneth!" pekik Rhiana.


Sudah bisa diduga kalau Kenneth akan mengingkari permintaan Rhiana. Lelaki itu pasti akan bergabung saat dirinya lengah dan tertidur pulas.


Saat Kenneth mendengar panggilan itu, dia mencoba menata kesadarannya lebih dulu. Semalam, aroma floral yang tercium dari tubuh Rhiana membuatnya terlelap dengan begitu cepat.


"Hemm, ada apa? Aku masih mengantuk." Kenneth masih melingkarkan tangannya di perut sang istri.


"Kenneth, bangun! Aku mau ke kamar mandi."


Kenneth malah menguatkan tangannya agar Rhiana tidak turun lebih dulu. Posisi ini yang paling dinikmati saat statusnya sudah bergelar sebagai suami.


Melihat jam dinding, Rhiana harus segera turun. Jika tidak, Stella pasti akan terus mencari gara-gara dengannya.


"Kenneth, tolong lepaskan aku! Aku harus menyiapkan sarapan pagi sebelum mamamu mencari alasan untuk semakin membenciku. Tolong!"


"Biarkan maid yang menyiapkan. Tak perlu susah payah membuat sarapan."


Kenneth tidak mengerti posisinya saat ini. Seandainya ini berada di apartemen atau rumahnya sendiri, Rhiana sama sekali tidak ingin beranjak dari tempat tidurnya. Sedang di sini sangat berbeda. Rhiana harus tahu diri dengan posisinya.


"Rhiana, lekas keluar! Siapkan sarapan untuk suamimu! Jadi istri jangan malas!" teriak Stella dari luar kamar.


"Nah, apa kau senang sekarang? Aku tidak hanya istrimu, tetapi pelayan di mansion ini!" kesal Rhiana sambil menyingkirkan tangan suaminya.


Rhiana segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi. Lalu, dia mengganti piyama dengan baju santainya kemudian menyemprotkan parfum. Jika dia mandi, Stella pasti akan merobohkan kamarnya saat ini.


Tanpa pamit atau berbicara dengan Kenneth, Rhiana segera membuka pintu. Rupanya Stella masih ada di depan menunggunya.


"Jam berapa sekarang? Kenneth harus siap-siap pergi ke kantor. Jangan jadi pemalas saat berada di mansionku."


Setelah puas membuat Rhiana kesal, Stella meninggalkan menantunya sendiri. Rhiana bergegas menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Beberapa maid merasa kasihan pada Rhiana sehingga mereka menawarkan diri untuk membantu.


"Ehm, Nyonya apa perlu dibantu?"

__ADS_1


"Tidak, terima kasih. Aku akan menyiapkan sarapan pagi untuk Kenneth. Kalian kerjakan saja apa yang diperintahkan Nyonya Stella," jawab Rhiana. Dia masih sulit untuk menyebut wanita itu sebagai mama mertuanya.


Rhiana cuma bisa menyiapkan sandwich sederhana ala tangannya sendiri. Saat Stella masuk ke dapur lalu melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Rhiana membuat matanya menyipit tajam.


"Apa kau cuma bisa membuat makanan biasa seperti itu? Lain kali belajar masak! Kasihan Kenneth kalau setiap hari makan makanan seperti itu! Bukannya sehat, yang ada malah anakku bisa kurus kering!" sindir Stella.


Rhiana memejamkan matanya sejenak, mengatur irama napasnya, mengelola jantung, dan emosinya supaya tidak meledak saat ini juga. Sebenarnya Rhiana juga malas berdebat dengan Stella, tetapi setiap ucapannya selalu menimbulkan gejala emosional yang membabi-buta.


"Iya, Mam. Rhiana akan belajar." Cuma itu yang bisa diucapkan Rhiana sebelum wanita itu beranjak pergi.


Rupanya Stella masuk ke kamar putranya. Melihat kamar yang berantakan, terbersit niat buruk untuk mempermalukan Rhiana saat di meja makan.


"Mama? Kenapa sudah ada di sini?" Kenneth bahkan tidak mendengar suara pintu diketuk.


"Mama cuma mau mengecek saja. Bagaimana Rhiana memperlakukan putra tunggal Mama? Kenapa kamarnya masih berantakan?"


"Oh, aku baru saja bangun, Ma. Rhiana kan Mama minta untuk menyiapkan sarapan pagi untukku," jawab Kenneth.


"Ck, harusnya dia bangun lebih pagi lalu merapikan kamarmu. Kalau sudah seperti ini, maid lagi yang repot, kan?"


Kenneth paham dengan ucapan mamanya. Dia hanya berusaha untuk membuat istrinya nyaman berada di mansion orang tuanya.


"Sudahlah, Ma! Rhiana pasti masih lelah. Jangan dipaksa untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak seharusnya dilakukan. Ada banyak maid di sini. Mereka juga dibayar. Tolong jangan buat istriku terlalu sibuk! Setelah ini kami akan mempersiapkan program kehamilan. Ya, itu untuk cucu Mama juga, kan?"


Sontak Stella terkejut. Rencana untuk memisahkan putranya akan semakin sulit jika Stella tidak segera melakukannya. Apalagi keinginan Kenneth sudah di luar jangkauannya.


"Apa kau menginginkan anak?"


Pertanyaan mamanya terdengar sangat menggelitik. Wajar saja Kenneth menginginkannya. Tujuan menikah memang untuk itu. Berbahagia dengan pasangannya, lalu menghasilkan keturunan yang akan membuat pernikahan mereka semakin erat.


"Bukannya sama seperti Mama yang menginginkan aku kala itu?"


Stella tidak lagi menjawab. Dia berada dalam dilema yang luar biasa. Bagaimana bisa memisahkan Rhiana kalau sampai wanita itu keburu hamil? Oh, Stella pasti akan dicap sebagai mama mertua yang kejam.

__ADS_1



__ADS_2