Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 44. Khawatir


__ADS_3

Albert senang mendapat kiriman dari temannya. Pemilik kafe itu memang orang yang sering dikunjungi.


"Jadi, mereka sudah mengenal Rhiana juga, Ma? Ah, aku senang. Hidup harus dinikmati sebaik mungkin. Masalah yang terjadi di kantor juga perlu ditinggalkan sejenak. Apalagi aku akan menjadi seorang kakek. Ah, ini sangat menakjubkan," ungkap Albert sambil menikmati pastry kiriman temannya.


"Iya, Pa. Mama juga tidak menyangka kalau Rhiana bisa hamil secepat itu. Oh ya, Papa ingin cucu laki-laki, kan? Semoga Kenneth memiliki anak laki-laki dari istrinya. Kalaupun kehamilan pertamanya adalah anak perempuan, bagi mama bukan masalah."


Albert meletakkan setengah pastry yang sedang dinikmati. Apa dia tidak salah dengar? Stella menerima apa pun jenis kelamin bayi yang dikandung menantunya.


"Tumben kau baik, Ma. Bukannya para mertua wanita di luaran sana selalu menginginkan cucu laki-laki?"


"Aku tidak seperti mertua-mertua yang kejam itu, Papa. Aku takut kutukan itu berbalik padaku. Bukannya aku bisa menikmati kebahagiaan hidup, malah memusuhi menantu. Aku ingin jadi mama mertua yang baik dan bisa harmonis dengan Rhiana. Apalagi dia kan desainer mama. Mana mungkin mama bisa memusuhinya?"


Albert lega. Stella mengalami kemajuan yang sangat luar biasa. Dia sama sekali tidak menyangka jika kehadiran Rhiana sebagai desainer pribadi mengubah pandangan terhadap menantunya itu.


"Baiklah. Karena Rhiana sedang hamil, Mama yang akan urus pembukaan butik Rhiana. Bagaimana? Persiapan sudah 75 persen. Tinggal beberapa persen lagi selesai. Cuma, itu butuh waktu beberapa bulan ke depan, Ma. Aku yakin kehamilan Rhiana pasti sudah membesar."


Ini merupakan kesibukan yang padat. Pemindahan beberapa barang penting dari butik Rhiana dan apartemennya juga memerlukan waktu. Apalagi Rhiana tidak bisa pergi ke sana kemari. Dia harus fokus mengurus butik dari rumah. Selain itu, Kenneth pun semakin menyebalkan.


Semakin mendekati trimester kedua kehamilan sang istri, Kenneth sering meminta makanan yang tidak biasa dimakan. Seperti buah-buahan yang sebenarnya Kenneth tidak suka menjadi suka. Stella sampai heran dibuatnya.


"Kenneth ini paling anti dengan durian. Mengapa sekarang malah ingin makan durian? Mama saja mencium baunya sudah membuat pusing. Apalagi makan."


"Wajar, Ma. Namanya Kenneth sedang mengidam. Tinggal beberapa bulan lagi setelah butik resmi dibuka, kita juga akan mengadakan gender reveal party untuk Rhiana. Apa kau setuju?"


Inilah acara yang ditunggu. Sebenarnya Stella menyukai keduanya, tetapi mengurus ini itu tanpa teman rasanya sulit sekali. Rhiana juga harus mengurus desain bajunya. Hampir setiap acara, Stella minta dibuatkan gaun-gaun yang baru.


"Kau juga jangan terlalu membuat Rhiana bekerja keras. Dia itu menantumu, bukan karyawanmu. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan kandungan Rhiana, aku tidak akan pernah bisa memaafkanmu."


Hari-hari berikutnya saat mendekati pembukaan butik, tiba-tiba Rhiana jatuh sakit. Kenneth sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri agar tidak tumbang. Dia pun harus pergi ke kantor untuk mengurus beberapa pekerjaannya.


"Aduh perutku!" pekik Rhiana.


Saat ini dia berada di mansion seorang diri. Stella pergi ke butik untuk mengurus semua keperluan di sana. Sementara Albert dan Kenneth sudah berada di kantor.


Daripada memanggil maid, tetapi tidak ada yang merespon. Rhiana memutuskan menghubungi suaminya. Sayang, beberapa kali panggilan tidak kunjung diangkat.


"Sayang, kau di mana? Kenapa lama sekali," keluh Rhiana dengan suara yang begitu pelan karena kesakitan.


Rhiana tidak kuat menahan rasa sakitnya hingga pingsan di kamar. Maid yang berniat untuk mengirimkan cemilan dan susu sudah mengetuk pintu cukup lumayan. Rhiana sama sekali tidak merespon.


"Ada apa dengan Nyonya? Apa mungkin di kamar mandi? Ini tidak biasanya."

__ADS_1


Maid itu merasa takut jika terjadi sesuatu pada Rhiana. Dia meletakkan nampan di meja yang tidak jauh dari kamar kemudian meminta pertolongan.


Samuel baru saja masuk karena ingin bertemu dengan Rhiana. Melihat maid yang panik, Samuel segera menghampiri.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat panik?"


"Oh, beruntung kau di sini. Aku mau mengantarkan makanan ke kamar nyonya Rhiana, tetapi aku ketuk pintunya tidak ada jawaban."


"Mungkin ke kamar mandi," ujar Samuel.


"Tidak mungkin kalau hanya ke kamar mandi. Ayo, ikut aku! Aku takut terjadi sesuatu pada nyonya."


Maid tidak sungkan lagi menarik tangan Samuel. Sampai di depan pintu, Samuel mencoba mengetuk.


"Iya. Tidak ada tanggapan. Apa ada kunci cadangan?"


Maid panik. Kunci cadangan hanya dipegang oleh Stella. Tidak ada siapa pun yang diizinkan memegang kunci itu selain dirinya.


"Tidak ada."


"Kau bisa ambilkan aku alat pertukangan apa pun? Terserah. Atau mungkin pisau dapur? Asalkan yang kuat. Aku mau dobrak pintu ini, tetapi terlalu sulit. Butuh alat."


Maid buru-buru mengambil apa pun yang diminta Samuel. Maid yang lainnya lagi ikut menunggu dan harap-harap cemas. Setelah Samuel mendapatkan apa yang diminta, dia pun meminta tolong maid untuk melakukan sesuatu.


Samuel agak kesulitan karena mendobrak pintu yang lumayan kuat itu. Butuh waktu sekitar hampir setengah jam. Sementara orang-orang yang dihubungi pun tak kunjung mengangkat panggilan.


Stella masih memberikan briefing pada semua karyawan Rhiana. Sementara Albert dan Kenneth sedang meeting dengan klien dari luar negeri. Mereka tidak di kantor, melainkan di restoran. Ponsel Kenneth ketinggalan di ruangan, sedangkan Albert selalu menggunakan mode silent saat meeting.


Pintu kamar terbuka. Samuel langsung histeris saat melihat Rhiana berada di lantai dalam keadaan pingsan.


"Nyonya!"


Para maid pun ikut membantu membawa Rhiana masuk ke mobil yang biasa dikendarai oleh Samuel. Dia meletakkan Rhiana di jok belakang.


"Salah satu dari kalian ikut aku. Lainnya lagi jangan lupa terus hubungi semua orang. Kalau memang tidak bisa, langsung hubungi kantor dan tanyakan pada resepsionis."


"Baik, Samuel. Hati-hati bawa Nyonya. Semoga dia baik-baik saja."


"Hemmm, aku pergi dulu."


Salah satu maid yang bertugas menghubungi semua orang merasa kesal karena tidak diangkat. Menghubungi resepsionis pun selalu sibuk. Sebenarnya apa yang terjadi hari ini? Mengapa semua orang mendadak sibuk sekali?

__ADS_1


"Aku akan ke kantor tuan Albert. Kalian di mansion saja. Menunggu mereka membalas telepon akan sangat lama."


Salah satu maid memberanikan diri untuk pergi menggunakan taksi. Rasanya harus dilakukan dengan cepat. Saat sampai di sana, maid itu melihat kesibukan yang luar biasa. Para resepsionis sedang menyiapkan beberapa persiapan penting untuk tamu yang katanya dari luar negeri.


"Maaf, Tuan Kenneth ada?"


"Tuan sedang meeting di luar dengan klien. Ada apa?"


"Kalau boleh tahu, meeting di mana, ya?"


"Restoran X, tapi sebaiknya jangan ke sana. Meeting ini sangat penting. Tuan pasti marah kalau diganggu."


"Ada yang jauh lebih penting dari meeting itu!" jawab maid dengan kesal.


Berniat menuju ke restoran, tiba-tiba mobil yang dikenalnya mulai masuk ke halaman perusahaan. Itu artinya Kenneth kembali. Maid itu langsung menghampiri saat Kenneth dan Albert baru turun. Mereka pun sedang bersama klien.


"Maaf, Tuan. Aku lancang datang ke sini. Semua orang panik di mansion. Ka- kami–"


"Bicara pelan-pelan. Ada apa?" tanya Albert.


Maid itu menarik napas sejenak kemudian menghembuskannya. "Kami menemukan nyonya Rhiana pingsan, Tuan."


"Apa? Rhiana pingsan?" Kenneth syok.


"Iya, Tuan. Sekarang Samuel sedang membawanya ke rumah sakit. Kami menghubungi Anda sejak tadi, tetapi semua orang tidak ada yang mengangkatnya."


Albert mengambil ponselnya dari saku dan melihat banyak panggilan masuk. Sementara Kenneth, dia baru ingat kalau ponselnya berada di dalam.


"Tunggu sebentar. Aku ambil ponsel ke atas," pamit Kenneth.


Benar saja, ponsel Kenneth juga berisi puluhan panggilan tak terjawab. Dia lekas pergi setelah pamit pada papanya.


"Pa, lanjutkan meetingnya. Maaf, Kenneth tidak bisa menemani."


"Ya, pergilah. Kabari terus papa."


Kenneth membawa maid itu langsung ke rumah sakit. Dia takut terjadi sesuatu pada Rhiana dan janin yang dikandungnya.


Sayang, semoga kau tidak apa-apa. Daddy takut terjadi sesuatu pada mommy dan kau. Daddy tidak akan bisa memaafkan diri Daddy sendiri.


Kenneth mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lebih kencang dari biasanya. Dia sangat khawatir pada kondisi sang istri.

__ADS_1



__ADS_2