
Pagi ini Rhiana dan Kenneth harus pergi lebih awal. Walaupun mereka selesai sarapan, tetapi Stella memintanya pergi lebih dulu. Sementara Stella akan pergi ke rumah Samantha untuk menyampaikan penolakannya.
"Jadi, kau menolak lamaran Samantha?" tanya mama Samantha.
Pendengarannya seolah salah. Dia berharap bahwa ini hanyalah sebuah mimpi di siang hari.
"Maafkan aku," ucap Stella memohon.
"Apa mungkin Kenneth punya kekasih?" tanya mama Samantha lagi. Dia masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini. Samantha pasti akan sedih saat lamarannya untuk Kenneth ditolak tanpa penjelasan.
"Kalau kalian mau tahu jawabannya, datanglah malam ini ke mansion. Aku mengundang kalian untuk makan malam di sana." Stella lekas berpamitan. Dia tidak mau keputusan putranya berbuntut panjang.
Sementara mereka yang sudah berada di butik harus sabar menunggu. Pasalnya permintaan Kenneth sangat menyebalkan. Dia meminta gaun rancangan terbaik untuk Rhiana.
"Dasar lelaki aneh! Kenapa tidak memilih gaun biasa saja?" tegur Rhiana.
Hanya untuk dipakai sebentar, maunya Rhiana adalah gaun sederhana yang terlihat indah di pandang orang. Itu lebih dari cukup. Daripada membeli gaun mahal, sayang uangnya.
Rhiana pikir kalau Stella akan ikut campur dalam urusan ini, ternyata dia salah besar. Wanita itu seperti mengabaikan Rhiana begitu saja.
Setelah mendapatkan gaun yang diinginkan Kenneth, mereka pun langsung ke toko perhiasan. Di sana Kenneth memilih sepasang cincin yang akan digunakan untuk nanti malam. Harusnya bisa pesan yang terukir nama keduanya, tetapi karena mendadak, asalkan cocok akan dibelinya.
"Sementara kita beli cincin ini, Rhiana. Nanti kalau kita menikah, aku akan menggantikan dengan cincin yang terukir nama kita berdua. Aku berjanji," ucap Kenneth.
"Apa pun terserah kau, Kenneth. Aku tidak mau Nyonya Stella salah paham padaku. Aku menerimamu bukan karena apa yang kalian miliki, tetapi—"
"Karena kau juga mencintaiku, kan?" Kenneth menyela ucapan Rhiana.
"Ck, jangan biasakan menyela pembicaraan orang! Dalam dunia bisnis itu tidak pantas," tegur Rhiana.
__ADS_1
Ah, Rhiana tidak bisa membayangkan menikah dengan lelaki manja. Bisa-bisa saat memiliki anak, tidak hanya fokus merawat bayi, Kenneth pun pasti minta diperhatikan.
"Oh, astaga!" seru Rhiana tiba-tiba.
"Ada apa, Sayang? Apa kau melamun tentangku?" Kenneth memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi saat di hadapan Rhiana.
"Sudahlah, lupakan! Tidak penting juga."
Setelah semua keperluannya beres, Kenneth mampir dulu ke toko bunga. Dia memesan beberapa bunga untuk hiasan nanti malam. Dia juga memesan satu buket khusus yang akan diberikan kepada Rhiana sebagai calon tunangannya.
"Tolong antarkan ke mansion Nathanael. Mengenai pembayaran akan kutransfer," ucap Kenneth sebelum meninggalkan toko bunga.
Sejenak Rhiana berpikir ada sesuatu yang aneh pada diri Kenneth. Hari ini di toko bunga, dia melihat sesuatu yang berbeda. Bukan Kenneth yang manja, menjengkelkan, dan tidak kekanakan. Apa mungkin hanya pandangan Rhiana saja yang seperti itu? Ah, hanya sebuah kebetulan karena efek lelah setelah berkeliling seharian ini.
"Sayang, kita makan siang di mansion saja, ya? Aku juga sudah menyiapkan salon langganan mama untuk memberikan perawatan terbaik padamu sebelum acara dimulai. Kau pasti akan sangat lelah. Lalu, besok kau juga akan kembali, bukan? Oh ya, mana ponselmu?" Kenneth belum pernah tahu nomor pribadi Rhiana sampai saat ini.
"Untuk apa menanyakan ponsel? Apa kau juga akan membelikannya?" tanya Rhiana kesal.
Tanpa mau memikirkan hal lain, Rhiana berharap malam ini semuanya segera berakhir. Dia bisa pergi dengan tenang tanpa mendapatkan gangguan dari Kenneth.
"Jangan terlalu percaya diri, Sayang. Kau belum mengirimkan pesan padaku sama sekali. Mana mungkin tunangannya harus mengirim pesan ke ponsel butik. Pasti karyawanmu akan menertawakan kita," canda Kenneth.
Rhiana mengalah. Dia memberikan ponselnya kepada Kenneth. Saat Kenneth menuliskan nomornya lalu berniat untuk memanggil ponselnya sendiri, rupanya di layar sudah tertulis nama yang sangat menggemaskan, yaitu anak nakal. Ya, Rhiana menamai Kenneth seperti itu. Semula dia menulis nama Kenneth, beberapa hari kemudian dia menggantinya.
"Ah, Sayang. Ini manis sekali. Aku ganti dulu, ya? Suami nakalku," canda Kenneth tanpa ragu.
"Ck, itu sangat menjijikkan. Ganti nama yang lain!" tegur Rhiana.
Sementara sang sopir, Samuel malah tersenyum memandangi wajah bos dan calon bosnya. Terkadang jodoh memang unik. Satunya dewasa, satunya lagi kekanak-kanakan. Definisi rumah pasti akan ramai jika yang tinggal di sana adalah pasangan Rhiana dan Kenneth.
__ADS_1
"Semoga kalian selalu bahagia," ucap Samuel membuat keduanya terdiam sejenak.
"Terima kasih, Samuel. Semoga doamu itu benar-benar terwujud," balas Rhiana.
Bahagia versi Rhiana tidak semudah itu jika menghadapi Kenneth. Dia pasti akan mengeluarkan taringnya sepanjang hari. Darahnya pasti mendidih dan detak jantungnya tidak beraturan.
Sampai di mansion, kesibukan sudah terlihat. Memang tidak akan mengundang banyak orang, hanya beberapa saja yang akan menyaksikan pertunangan mereka.
Kenneth meminta maid untuk mengirimkan makan siang ke tepi kolam. Dia ingin menikmati makan siang bersama sambil mengenang masa lalu saat Rhiana menjadi bagian yang tidak terpisahkan.
Rhiana juga tidak perlu mengkhawatirkan Samuel. Pihak mansion sudah mengurusnya dengan sangat baik dan memperlakukannya sama seperti sopir yang lainnya.
"Kenapa kau memilih makan siang di sini? Kita bisa kan makan siang di meja makan saja," ucap Rhiana.
"Setidaknya ini hari terakhirku untuk mengenang masa kecil dulu. Setelah nanti malam, aku berjanji akan berusaha menjadi laki-laki dewasa yang ada di bayanganmu."
Rhiana seolah meremehkan Kenneth. Sama sekali tidak memberikan apresiasi kepadanya. Mungkin karena lelah atau entah apa yang dipikirkannya saat ini.
"Aku tidak tahu harus berkata apa, Kenneth. Pernikahan bukan hal segampang itu. Kau mungkin mencintai aku, tetapi apa kau tidak memikirkan bahwa menikah itu sesuatu yang sangat berbeda? Kau harus menjadi pria dewasa yang mengerti peran istrimu. Oke, aku sadar diri karena kau masih muda. Usiamu sekarang berapa?"
"21 tahun."
"Nah, aku tidak tahu apakah nantinya pernikahan kita akan berjalan seperti pada umumnya, atau kau hanya akan membuat hidupku sengsara?"
Wajar kalau Rhiana mengeluhkan hal ini sejak awal. Perbedaan usia mereka akan menjadi penghalang. Selain itu, sikap Stella juga akan membuat Rhiana sulit menikmati hidup. Wanita itu pasti akan membuat Rhiana menjadi menantu yang sama sekali tidak pernah diinginkan.
"Kita jalani bersama-sama, Rhiana. Aku tidak ingin kehilangan dirimu. Semesta masih memberikan kesempatan kita untuk bertemu, lalu menjalani kehidupan seperti ini. Aku tidak bisa membayangkan jika kau sudah menikah. Aku pasti akan merebutmu dari suamimu," jelas Kenneth.
"Dasar gila!"
__ADS_1
Sungguh, aneh rasanya mendengar penuturan Kenneth seperti itu. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang mengganjal di benaknya. Kapan Kenneth jatuh cinta pada Rhiana? Atau, sudah sejak lama Kenneth terobsesi pada Rhiana?