Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 14. Getaran Cinta


__ADS_3

"Kenneth!" seru Rhiana kemudian menarik mundur tubuhnya.


"Aku minta maaf, Rhiana. Aku tidak sengaja. Sungguh, aku terkejut." Kenneth bangun kemudian duduk. Dia merasa bersalah atas kejadian yang tidak disengaja ini.


Seperti anak kecil yang baru saja bertengkar, Rhiana memutuskan masuk ke kamar. Membiarkan Kenneth sendiri adalah hal yang paling tepat.


Sementara di mansion, Albert dan Stella bercengkrama di ruang keluarga. Mereka membahas kepergian putranya yang secara tiba-tiba. Bukan karena itu saja, tiba-tiba Jane datang ke mansion marah-marah saat Kenneth mencampakkan gadis itu.


"Aku tidak tahu lagi harus bicara apa padamu, Albert." Stella mengungkapkan kegundahannya.


"Keputusan Kenneth itu benar, Stella. Dia harus mandiri, menjauhi gadis-gadis muda, dan fokus pada tujuannya lebih dulu."


Stella mengerucutkan bibirnya. Saat putranya kembali pun dia masih tidak bisa menggenggamnya. Ini terasa lucu sekali. Setelah bersama Rhiana, dia pergi ke luar negeri. Sekarang, hasilnya nihil lagi.


"Oh, ayolah, Albert! Jangan buat aku terus menyendiri seperti ini!"


"Lalu, apa maumu?"


"Nikahkan Kenneth dengan gadis pilihanku. Pekerjakan dia di kantor. Lalu, aku akan punya teman," jelas Stella.


Albert menggeleng. Dia tidak setuju dengan keputusan Stella. Kenneth pasti akan memberontak.


"Kalau kau mau, biarkan aku yang memiliki rencana," ucap Albert.


"Rencana apa? Apa kau punya calon untuk dinikahkan dengan putra kita?"


Albert menggeleng lagi. "Belum ada, tetapi aku akan meminta Kenneth membawa calonnya sendiri."


Stella tidak akan percaya kepada pilihan putranya. Sebentar lagi ulang tahun Kenneth. Itu kesempatan yang tepat untuk memilihkan salah satu gadis, kemudian mereka akan bertunangan. Setelah itu, Kenneth akan menikah.


"Aku tidak percaya pada pilihannya," cibir Stella.


"Justru aku tidak percaya pada pilihanmu." Albert tidak peduli bila istrinya sakit hati.


"Albert! Kau meremehkan aku!" Stella langsung memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Mari kita bertaruh, Sayang. Kenneth adalah laki-laki seperti aku. Dia tahu mana gadis yang cocok untuk mendampinginya ketimbang para gadis yang kau perkenalkan itu," tantang Albert.


"Ayo! Kalau aku menang, kau akan memberikan apa?"


Albert yakin kalau Stella akan kalah. Maka dari itu, dia sengaja memberikan hadiah yang sangat luar biasa. Hal itu akan menambah keyakinan Stella untuk gencar mengumpulkan para gadis demi perjodohan putranya.


"Liburan selama satu bulan dengan kapal pesiar. Perusahaan akan kutitipkan pada Kenneth. Bagaimana? Kau bebas memilih kapal pesiarnya. Mau yang pribadi, atau yang besar."


Hadiah yang sangat menggiurkan. Lalu, bagaimana jika Stella kalah?


"Lalu, kalau aku kalah?" Stella jelas tidak bisa memberikan seperti suaminya. Bukan tidak bisa, tetapi Stella bingung.


"Kau harus merestui dengan siapa pun Kenneth menentukan pasangannya."


Itu perkara yang mudah bagi Stella. Setelah menimbang dan memikirkan hasil akhirnya, Stella pun setuju.


"Oke, deal!" ucap Stella.


"Deal!" balas Albert.


Keesokan harinya, Kenneth yang tidur di sofa merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Semalam, tanpa sengaja bibirnya bersentuhan dengan bibir Rhiana. Rasanya memang berbeda. Tidak seperti saat dia masih kecil. Rhiana sering sekali memberikan kecupan di pipinya.


Rhiana masih berada di dalam kamar. Dia sedang bersiap untuk pergi ke butik. Namun, sebelum dia memoleskan lipstiknya, dia teringat kejadian semalam. Energinya sangat berbeda.


"Ouh, aku bisa gila!" gumam Rhiana.


Bagaimana tidak, pesona Kenneth sangat menarik. Rhiana seperti menjadi wanita yang tidak berharga di depan mata lelaki itu setelah kejadian semalam. Selain itu, Rhiana seperti tidak ingin menampakkan wajahnya di hadapan Kenneth.


"Apa lelaki itu sudah pergi?" Lagi-lagi Rhiana bergumam. "Bodoh, bodoh, bodoh! Please, Rhiana. Dia hanya anak nakal yang terobsesi dengan dirimu. Jangan diladeni!"


Sepertinya Rhiana perlu diingatkan lagi. Setelah kecupan semalam, dia mendadak amnesia. Rhiana sudah menerima Kenneth menjadi kekasihnya, tetapi untuk kelangsungan hubungan itu tetap berjalan, Rhiana sudah memberikan syarat untuk bertemu dengan mamanya.


Rhiana selesai memakai lipstiknya, lalu dia menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Sangat wangi dan segar sekali. Buru-buru dia memasang jam tangannya. Kali ini Rhiana terlihat cantik sekali. Dia mengikat rambutnya agak tinggi. Leher jenjangnya menggunakan kalung yang sesuai dengan pakaiannya hari ini. Terusan selutut tanpa lengan dengan tali yang begitu tipis di pundaknya.


"Aku butuh blazer." Rhiana kembali membuka lemarinya.

__ADS_1


Jangan sampai Rhiana terlihat begitu seksi di hadapan Kenneth. Sebelum keluar, Rhiana memastikan tidak ada yang kelewatan sedikit pun.


Baru keluar kamar, Kenneth menatap Rhiana tanpa berkedip. Bidadari hatinya itu terlihat begitu cantik, sementara Kenneth belum mandi. Dia sungkan untuk mengetuk pintu kamar Rhiana. Apalagi sampai mengganggunya.


"Pergilah mandi lebih dulu. Aku juga tidak akan sejahat itu membiarkanmu pergi dengan kondisi seperti itu," jelas Rhiana.


Kenneth terkejut. Rupanya Rhiana sudah tidak marah lagi. Mumpung hati malaikat sedang menguasainya, Kenneth beranjak dari tempat duduknya. Rhiana pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi berupa susu dan sandwich.


"Wah, Rhiana selalu rapi. Ranjangnya saja sudah tertata sedemikian rupa. Benar-benar istri idaman." Kenneth terus memuji kekasihnya.


Kembali ke ruang tamu, rupanya Rhiana memintanya untuk sarapan pagi lebih dulu. Ini tidak biasa terjadi padanya.


"Kau tidak marah padaku?" tanya Kenneth saat melihat Rhiana diam tidak berkomentar.


"Segera habiskan makananmu! Aku tidak punya waktu untuk mengobrol," tegas Rhiana.


Daripada kena damprat lagi, Kenneth pun menurut seperti dulu. Saat Rhiana memarahinya karena Kenneth tidak mau sarapan pagi. Setelah selesai, Kenneth berniat membantu meletakkan piringnya ke wastafel, tetapi Rhiana menolaknya.


"Biarkan saja di situ!" perintah Rhiana.


Seperti biasa, unitnya akan dibersihkan pelayan khusus yang disewanya setiap hari. Orang itu akan pulang saat siang hari. Itulah sebabnya Rhiana tidak mau Kenneth berlama-lama di unitnya.


Keluar dari unit berduaan, Kenneth merasa seperti seorang pria yang sempurna. Kenneth ingin berbicara lagi padanya, tetapi Rhiana sudah menjauh menuju ke mobilnya. Kenneth masih mengikutinya saat Rhiana sudah masuk ke dalam mobil.


"Ada apalagi?" tanya Rhiana ketus.


"Aku akan mengantarmu ke butik, lalu aku pergi ke restoran." Kenneth mencoba menawarkan.


"Aku wanita mandiri. Lebih baik kau segera pergi ke restoran. Jalanan akan semakin padat kalau kau terus berbicara."


"Baiklah, Sayang. Sampai bertemu lagi," pamit Kenneth.


Rhiana sudah melajukan mobilnya. Sementara Kenneth sangat suka sekali. Semakin Rhiana jutek, rasa sayang pada pengasuhnya itu semakin menggebu-gebu.


"Oh, aku pasti sudah gila. Dia semakin menarik saat marah. Sepertinya dia juga menghindari aku gara-gara semalam." Kenneth menyentuh bibirnya sendiri. Getaran cinta terasa begitu nyata. Harusnya semalam tidak hanya bibirnya saja yang bertemu, tetapi Kenneth memeluknya dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2