Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 36. Kedatangan Samantha


__ADS_3

Kembali ke mansion dengan meninggalkan rutinitas Rhiana sebagai seorang owner butik sekaligus desainer mandiri di tempatnya bekerja. Dia sudah mendapatkan pengganti untuk sementara waktu.


"Kau lega sudah mendapatkan pekerja yang profesional?" tanya Kenneth sambil melajukan mobilnya.


"Belum."


"Kenapa lagi?" Kenneth heran.


"Ada pekerjaan yang lebih rumit lagi," jawabnya lirih.


"Apa?"


"Menaklukkan hati mertua."


Kenneth tertawa. Susah memang membuat Stella mengakui kekalahannya. Dia tipikal wanita yang mau menang sendiri. Sebenarnya sedikit banyak tingkah Kenneth juga menirunya. Dia sama sekali tidak bisa kalah dengan keinginannya untuk memiliki Rhiana.


Rasa canggung dihadapi Rhiana ketika mobil itu sudah sampai di halaman mansion. Rasanya tidak ingin turun lalu menjumpai mama mertuanya yang terkenal tidak peduli itu. Ya, hanya Rhiana saja yang mencatat Stella sebagai wanita seperti itu.


Para maid dengan senang hati membantu Kenneth menurunkan beberapa koper. Tidak hanya itu, Rhiana juga membawa beberapa pigura foto hasil desainnya yang akan diletakkan di dalam kamar.


"Mama ada?" tanya Kenneth.


"Nyonya sedang pergi, Tuan. Kemungkinan kembali pada sore hari."


Ada aura lega terpancar dari wajah Rhiana. Dia bisa bernapas lega untuk beberapa saat sampai wanita itu kembali.


"Nah, kau bisa tenang sekarang. Ayo, masuk ke kamar!" ajak Kenneth.


Sementara Stella rupanya pergi ke kantor suaminya. Dia menyiapkan rencana dinner bersama beberapa teman sosialitanya. Namun, sepertinya Albert tidak begitu suka dengan rencana sang istri.


"Buat apa kau merencanakan acara yang tidak penting itu? Lebih baik fokus pada dirimu sendiri!" tegur Albert.


Semenjak memiliki menantu, tidak sekali pun Albert mau menyetujui permintaan istrinya. Apalagi sampai membuat acara yang melibatkan urusan pribadi dengan orang banyak. Lebih baik digunakan untuk quality time bersama keluarga.

__ADS_1


"Sayang, itu salah satu cara untuk memperkenalkan Rhiana kepada teman-teman sosialitaku. Lagi pula tidak ada salahnya, kan? Yah, hitung-hitung biar dia semakin terkenal," ucap Stella masih dalam mode merayu dan memohon sampai benar-benar diizinkan suaminya.


Jika Stella memiliki rencana licik, maka Albert pun memiliki rencana yang sama. Demi bisnis dan masa depan putra dan menantunya, Albert pun menyetujui.


"Baiklah. Aku setuju, tetapi setelah aku berbicara dengan Rhiana di mansion. Baru aku akan memberitahukan padamu apa yang harus dilakukan. Jangan malam ini! Tunggu sampai suamimu setuju," jelas Albert.


Sebenarnya Stella masih penasaran dengan apa yang akan dibicarakan. Daripada mengundang masalah baru, lebih baik Stella mengalah untuk sementara waktu. Sampai dia siap membuat Rhiana dipermalukan di depan teman sosialitanya.


Albert tidak pernah melupakan rencananya. Ketika sampai di mansion, dia meminta Rhiana untuk segera masuk ke ruang kerjanya.


"Maaf, Rhiana. Papa harus memanggilmu dengan cara seperti ini. Oh ya, apa Kenneth tidak curiga?" tanya Albert sebelum masuk ke inti permasalahan.


"Sempat bertanya sebentar, tetapi Rhiana bilang kalau ini hanyalah urusan bisnis. Itu saja."


"Hemm, baguslah. Oh ya, sebenarnya ini adalah rencana mamamu. Sebagai papa mertua, tentunya aku akan melindungi seluruh anggota keluargaku. Apalagi ini menyangkut dirimu."


Rhiana tidak tahu sebenarnya apa yang akan terjadi setelah ini. Namun, menurut penjelasan Albert, ada sesuatu yang sedang direncanakan mama mertuanya.


"Memangnya mama sedang merencanakan apa, Pa?"


Rhiana mencoba mencerna saran papa mertuanya. Ini bisa digunakan untuk ladang bisnis yang luar biasa. Maka Stella perlahan bisa menerimanya dengan pencapaian dari pameran dadakan ini. Itu pun jika Stella gampang berubah pikiran. Jika tidak, maka semuanya akan tetap sama seperti sebelumnya.


"Kalau kau setuju, papa akan segera mengatur jadwalnya. Kita bisa buat konsep selagi aku di mansion. Jadi, anggap saja ini kesempatanku juga untuk mewujudkan keinginanmu memiliki butik di sini. Mengenai tempat lama, kau bisa titipkan pada orang lain untuk mengelolanya."


Rhiana tidak bisa menolak rencana yang sudah disusun secara baik dan matang oleh papa mertuanya. Ini akan menjadi batu loncatan dalam kariernya. Lalu, Rhiana bisa bekerja dengan tenang di tempat baru.


"Baiklah, Pa. Rhiana setuju. Oh ya, apakah aku harus menyampaikannya pada mama?"


"Jangan dulu. Biar papa saja. Kapan kau siap? Jangan lama-lama! Nanti keburu mamamu berubah pikiran."


Menyiapkan konsep pameran mendadak memang belum pernah dilakukan oleh Rhiana. Dia bisa berbincang dengan suaminya mengenai rencana ini. Lelaki itu pasti punya banyak cara untuk melakukannya.


"Jadi, apa yang kau bicarakan dengan papa?" tanya Kenneth saat istrinya kembali.

__ADS_1


"Papa memintaku untuk membuat konsep pameran butik secara mendadak. Apa kau bisa membantuku?"


Melibatkan Kenneth bukanlah sebuah kesalahan. Rhiana tahu kalau Kenneth bisa menjalankan dengan baik.


"Wah, itu ide bagus. Memangnya kapan rencananya?"


Rhiana baru bisa menjawab jika susunan konsepnya sudah benar-benar matang dan siap. Jika belum, ini akan sangat sulit.


"Bantu aku menyusun konsepnya lebih dulu. Baru kita putuskan," jawab Rhiana.


Bangunan mansion seluas itu, Rhiana juga harus menentukan di mana letak pameran berlangsung. Ruang tamu dan ruang tengah bukan pilihan yang tepat. Namun, Kenneth menyarankan untuk menggunakan ruang tengah dengan alasan karena ruang itu terhubung antara ruang tamu dan ruang makan.


Peletakan beberapa manekin juga perlu dipertimbangkan. Apalagi kebanyakan desain yang dikerjakan Rhiana lebih banyak gaun pengantin dan gaun pesta.


"Jadi, tiga hari lagi bisa?" tanya Rhiana ragu.


"Hemm, kau tidak perlu datang ke butik. Minta Samuel untuk mengurus pendistribusiannya agar sampai di sini dengan baik. Kalau perlu, pekerjaan pria itu untuk mengurus semua usahamu yang berhubungan dengan pengiriman barang. Setidaknya kalian akan terlibat hubungan yang saling menguntungkan," jelas Kenneth.


Rhiana sama sekali tidak percaya jika Kenneth mampu melakukan semua itu dengan baik. Dia bahkan seperti melihat sosok yang berbeda dari lelaki itu.


"Kenapa memandangku seperti itu?"


"Tidak apa-apa. Aku hanya ragu dengan suamiku. Apa dia seperti manusia jadi-jadian?"


"Hemm, kalau cinta katakan saja! Apalagi aku juga sudah tahu semuanya. Jadi, kau tidak cinta padaku?"


Bukannya segera melaporkan pada Albert, sepasang suami istri itu malah bertengkar dengan hal-hal kecil. Sementara di luar kamar, seseorang sedang mengetuk pintu.


"Siapa?" ucap keduanya pelan.


"Tidak tahu." Rhiana menjawab lebih dulu.


Kenneth segera membuka pintunya lalu melihat sosok yang sudah lama tidak ditemuinya.

__ADS_1


"Kau?" Kenneth terkejut dengan kedatangannya.


Ya, Samantha datang membawa beberapa bingkisan hadiah pernikahan untuk Kenneth.


__ADS_2