Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 34. Titik Kebahagiaan


__ADS_3

Kenneth sudah mengirimkan pesan kalau tidak bisa menjemput Rhiana. Dia beralasan sakit karena untuk memberikan kejutan itu harus ada sedikit kebohongan kecil. Bukan untuk membuat panik, tetapi kenyataannya Rhiana malah panik.


Beberapa sketsa gaun yang belum usai terpaksa dirapikan. Dia meminta izin pada karyawan kepercayaannya untuk menunda satu sketsa yang akan dikerjakan esok hari.


"Aku minta maaf harus pulang lebih awal. Suamiku mendadak sakit. Mungkin kelelahan setelah perjalanan jauh," pamit Rhiana.


"Iya, Nyonya. Tidak masalah. Sketsa terakhir baru dilihat oleh konsumen besok siang. Anda masih punya waktu untuk mengejar ketertinggalannya."


Rhiana juga harus meminta tolong untuk mengiklankan lowongan kerja yang bisa mendesain dan memahami butik. Dia hanya butuh satu orang yang akan digunakan untuk menggantikan dirinya saat Rhiana tidak berada di tempat.


Sementara Kenneth, dia tidak tahu kalau istrinya akan pulang lebih awal. Dia menyiapkan makan malam romantis dengan memesan makanan dari restoran tempatnya bekerja.


Tempatnya siap, tetapi lilin dan makanannya memang belum datang. Semula Rhiana akan pulang menjelang malam, tetapi karena Kenneth mengirim pesan tidak bisa menjemput dengan alasan sakit membuat Rhiana berada di depan unit apartemennya saat ini.


Kartu akses sudah diberikan pada Kenneth. Rhiana harus berdiri di depan unitnya sendiri lalu menekan bel.


Kenneth yang saat ini berada di dalam mengira itu adalah pegawai restoran yang biasanya mengirim makanan.


"Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga!" seru Kenneth. Namun, Kenneth kembali menutup pintunya karena terkejut saat melihat Rhiana yang datang. "Gawat! Kenapa dia sudah datang?"


"Kenneth, buka pintunya!" perintah Rhiana.


Daripada kena semprot istrinya, Kenneth akhirnya mengalah dan kejutan berakhir berantakan. Memang benar, sepandai-pandainya pria menyembunyikan sesuatu pasti akan ketahuan juga.


"Kenapa menutup pintunya lagi? Siapa sebenarnya yang kamu tunggu?" tanya Rhiana. Dia melihat Kenneth baik-baik saja dan tidak sakit.


"Harusnya kamu tidak pulang sekarang, Rhiana. Aku masih menyiapkan kejutan untukmu, tetapi sekarang bukan kejutan lagi," sesal Kenneth.


Tidak lama setelah Rhiana masuk, kurir makanan pun datang membawa pesanan Kenneth. Makanan, kue-kue, dan yang paling spesial adalah lilin. Kenneth sengaja menyiapkan candle light dinner untuk istri tercintanya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Kenneth. Aku panik saat kau bilang kalau sakit. Aku merasa tidak bisa berpikir bahwa apa yang aku lakukan ini salah. Apalagi membiarkanmu sendirian. Kalau kau benar-benar jatuh sakit, mamamu pasti akan terus memarahiku."


Selalu Stella yang menjadi alasan. Sebenarnya tanpa Stella tekan pun Rhiana merupakan sosok yang bertanggung jawab.


"Aku minta maaf sudah menyusahkanmu, Sayang. Aku janji tidak akan pernah membuatmu panik lagi. Mau lihat kejutan yang lainnya?" tanya Kenneth. Dia merasa kejutan makan malam romantis telah gagal.


"Boleh." Kali ini Rhiana melunak.


Kenneth membimbing Rhiana masuk ke kamar dengan mata terpejam. Semula Rhiana menolak, tetapi Kenneth mencoba agar kejutan yang ini tidak sampai gagal. Tidak masalah kalau nantinya Rhiana akan mengomel sejenak karena sudah merusak tatanan kamarnya.


Saat memasuki kamar, Rhiana menghirup aroma bunga-bunga yang sangat wangi. Dia pun menikmatinya dengan memejamkan mata begitu erat, kemudian merasakan bahwa sebentar lagi kebahagiaan akan tercipta.


"Sayang, buka matamu!"


Ada banyak bunga yang ditaburkan di atas ranjang. Jalanan menuju ranjang pun dihiasi sedemikian rupa membentuk seperti red carpet. Jalanan itu dibagi menjadi tiga arah. Pertama dari pintu masuk kamar menuju ke ranjang. Lalu, dari ranjang menuju ke kamar mandi.


Tidak hanya itu, ada salah satu gaun yang mengganggu pandangan mata Rhiana. Gaun wanita yang sangat transparan sekali sengaja di gantung tepat di atas ranjangnya.


"Oh, itu adalah baju dinasmu malam ini, Sayang. Aku sengaja menyiapkannya karena aku yakin kalau kau akan berpenampilan tertutup. Aku tidak mau. Itulah sebabnya gaun itu ada!"


Rhiana susah payah menelan salivanya. Sejak kapan anak muda yang diasuhnya itu punya pikiran sejauh itu?


"Hemm, jangan tuduh aku mesum!" Kenneth menambahkan.


"Kau bisa baca pikiranku?"


Kenneth mengangguk. "Aku pria normal, Sayang. Menunggumu dengan tamu bulanan sialan itu membuatku harus bersabar sampai kau benar-benar siap. Hari ini aku tidak mau menunggu lagi karena aku yakin kalau kau pun menginginkan hal yang sama."


Pengantin baru yang hasratnya terlalu tinggi untuk ukuran pria seperti Kenneth. Anggap saja pria muda yang baru menemukan seseorang yang digunakan untuk memuaskan dahaganya.

__ADS_1


Kenneth tidak sekejam itu. Sebelum Rhiana memutuskan setuju, dia mengajak istrinya untuk makan lebih dahulu sebelum semua makanan itu dingin.


Hanya butuh beberapa menit untuk menghabiskan makanan dalam diam. Kenneth memutuskan untuk membersihkan diri lebih dahulu. Sementara Rhiana bertugas membereskan meja makan dan mengembalikannya dalam keadaan seperti semula.


Kenneth sudah rapi dan wangi saat Rhiana masuk ke kamarnya. Ada perasaan yang sangat luar biasa dari dalam dirinya. Kenneth menyerahkan baju transparan itu lalu memberikan kesempatan Rhiana untuk membersihkan diri lebih dulu.


"Oh, ya ampun! Aku harus menyerahkan segalanya kepada lelaki yang kuasuh sejak lama. Rasanya ini seperti menyerahkan diri kepada laki-laki muda yang tidak setara denganku. Mau menolak pun tidak bisa karena anak nakal itu kini sudah menjadi suamiku." Rhiana merutuki dirinya sendiri.


Tidak lama, Rhiana memutuskan menggunakan gaun malam pemberian Kenneth. Rasanya asing sekali memandangi tubuh seksinya di dalam cermin. Walaupun begitu, Rhiana malah sangat kelihatan cantik.


Rhiana keluar kamar mandi dengan pelan-pelan. Tatapan mata Kenneth tidak bisa menolak pesona kecantikan sang istri. Ini sangat luar biasa. Wanita dewasa yang akan menyerahkan seluruh kehidupannya bersama Kenneth hingga menua nanti.


Kenneth turun dari ranjang. Dia menyambut kedatangan Rhiana dengan satu tangannya menyambut tangan Rhiana.


"Izinkan aku memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya, Sayang," ucap Kenneth sebagai izinnya.


Rhiana mengangguk tanpa memberikan penolakan. Kenneth memutar tubuh istrinya seperti seorang penari. Rhiana terkejut dengan perlakuan Kenneth yang seperti sudah berpengalaman sekali. Tidak hanya memutar, tetapi memeluk Rhiana dari belakang sehingga bisa menghirup aroma yang menyegarkan dari tubuh istrinya.


"Malam ini adalah milik kita, Sayang. Aku tidak akan mengecewakanmu."


Kenneth mulai menciumi ceruk leher Rhiana. Wanita itu mencoba bertahan untuk tidak mengeluarkan suara-suara anehnya, tetapi dia kalah dengan kekuatan Kenneth yang terus membuatnya mengeluarkan suara merdu yang sangat Kenneth inginkan.


Puas bermain-main, Kenneth membimbing Rhiana untuk naik ke ranjang. Saat itu lampu di ruangan itu begitu terang sehingga Kenneth harus menggantinya dengan lampu remang-remang agar nuansa percintaan malam ini akan semakin indah.


"Sebelum aku bertindak lebih jauh, apakah kau mengizinkan aku untuk memulainya?"


"Lakukan apa pun yang kau inginkan, Kenneth. Aku milikmu!"


Saat Kenneth sudah mendapatkan persetujuan itu, tanpa ragu lagi untuk mengeluarkan taringnya. Mulai dari ciuman yang semakin lama semakin menuntut. Kemudian jejak-jejak kepemilikan tidak lupa diberikan Kenneth pada sang istri. Setelah itu, bagian inti yang menentukan segalanya. Kenneth langsung merobek lingerie seksi Rhiana hingga keduanya menuju titik kebahagiaan bersama.

__ADS_1



__ADS_2