
Rhiana menikmati liburannya. Tidak perlu ke tempat wisata yang jauh dari tempat tinggalnya. Dia perlu pindah tempat ke sebuah resort mewah yang menyuguhkan keindahan dan fasilitas lengkap. Tempat di mana dia selalu mencurahkan semua kegundahannya selama ini.
Sarapan pagi di dekat kolam renang. Menikmati keindahan kolam dengan airnya yang begitu tenang. Setelah ini, dia akan mengganti pakaiannya dengan bikini. Kemudian Rhiana akan berenang sampai lelah. Inilah liburan yang sebenarnya.
Kenneth kelimpungan mencari Rhiana. Dia terpaksa menghubungi nomor yang ada di dalam kartu nama tersebut. Dia pikir Rhiana lah yang mengangkat panggilan itu, ternyata Kenneth salah besar.
"Halo, butik RR di sini. Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang pelayan di seberang sana.
Kenneth ingin mengumpat kasar saat panggilannya diangkat oleh orang lain. Namun, Kenneth harus menjaga sikapnya sampai telepon itu bisa sampai ke tangan Rhiana.
"Ehm, bisa bicara dengan Nona Rhiana?" Harapan Kenneth sangat besar bisa berbicara dengannya.
"Maaf, Tuan. Nona Rhiana sedang tidak ada di tempat."
Kenneth merasa tertekan. Ke mana perginya Rhiana?
"Ke mana perginya? Aku ada urusan penting dengannya." Kenneth berpura-pura untuk memiliki urusan dengannya.
"Maaf, Tuan. Kami tidak bisa mengatakan Nona pergi ke mana. Namun, yang kami tahu bahwa Nona sedang pergi berlibur."
Setelah tidak mendapatkan jawaban, Kenneth memutuskan hubungan. Dia merasa perlu mencari keberadaan Rhiana. Tidak akan sulit menemukan keberadaan wanita itu. Terlebih sedari dulu Rhiana suka sekali mengunjungi tempat-tempat yang tidak begitu ramai. Seperti hotel, resort, atau penginapan yang menyuguhkan keindahan dan ketenangan.
Tidak cukup sulit menemukan keberadaannya. Dia berada di sebuah resort yang tidak jauh dari butiknya. Kenneth akan menyusulnya ke sana dengan membawa beberapa barangnya.
Stella terkejut saat putranya ingin pergi dari mansion untuk beberapa hari. Terlebih dia membawa satu koper yang isinya lumayan penuh.
"Kau mau ke mana, Sayang? Seharusnya ikut papamu ke kantor daripada melakukan hal yang tidak jelas," tegur Stella.
"Aku ingin pergi berlibur sebentar, Mam. Setelah itu, aku berjanji akan membantu papa di kantor. Mama tidak akan melarangku, bukan?"
Stella kewalahan. Terlebih dia sudah membuat janji temu dengan Serry. Gadis itu akan sangat marah saat Stella membatalkan pertemuannya. Terlebih Stella juga tidak tahu kapan Kenneth akan kembali.
__ADS_1
"Hemm, baiklah. Janji temu dengan Serry akan kuubah dengan pergi berbelanja. Siapa tahu dia mau," ungkap batin Stella.
"Kapan kau akan kembali?" tanya Stella akhirnya.
"Tidak tentu, Mama. Aku akan bertemu dengan teman juga. Jadi, aku butuh waktu beberapa hari. Nanti kalau aku akan pulang, Mama lekas kukabari. Aku harus pergi sekarang." Kenneth tidak akan menunda waktu.
Rhiana sudah menjadi bayang-bayang kehidupannya. Semakin Rhiana menjauh, maka Kenneth yang akan mendekat.
"Aku akan datang, Rhiana!" Senyuman mengembang di bibirnya.
Entah, ini perasaan cinta atau obsesi ingin bertemu dengan Rhiana. Kenneth tidak mampu menahan perasaannya. Dia ingin terus berada di dekat wanita itu dengan berbagai alasan. Bayangannya tentang Rhiana adalah wanita itu akan mengajarinya berenang seperti saat itu. Di mana Kenneth membutuhkan guru les renang, tetapi Rhiana siap mengajarkan apa pun. Wanita itu super komplit bagi Kenneth.
Rhiana yang baru saja selesai berenang, dia mengenakan bathrobe-nya. Dia pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Setelah itu, Rhiana akan tertidur seharian penuh.
Saat Rhiana berada di dalam kamar dengan mimpi-mimpinya, maka lain halnya dengan Kenneth. Dia baru saja melakukan check in di resort yang sama dengan Rhiana. Kenneth memilih kamar tepat di hadapan kamar Rhiana.
Menjelang sore hari, setelah Rhiana terbangun dari tidurnya. Dia membersihkan diri di kamar mandi. Setelah ini, Rhiana akan menikmati suasana sore hari di dekat kolam renang. Tempat yang menjadi favorit Rhiana dan Kenneth di masa lalu.
Memejamkan mata, menghirup udara segar, lalu menghembuskannya. Inilah yang dilakukan Rhiana untuk merilekskan pikiran dan tubuhnya dari rutinitas sehari-hari. Terlebih bayangan Kenneth pun sudah menari indah di pelupuk matanya. Bayangan saat Rhiana mengajari anak nakal itu berenang. Banyak sekali godaannya.
Rhiana tidak merasa membuat janji temu dengan seseorang, tetapi sikap kurang ajar orang itu membuat Rhiana kesal.
"Siapa kau? Jangan kurang ajar!" seru Rhiana dengan nada bicaranya sangat keras.
Kenneth terpaksa melepaskan tangannya. Dia pindah duduk tepat di samping Rhiana kemudian meminta maaf.
"Maaf, aku mengejutkanmu, bukan?"
Rhiana terkejut saat tahu Kenneth berada tepat di hadapannya. Sepertinya lelaki itu akan terus membayangi kehidupannya lagi. Entah, sampai kapan itu akan berakhir?
"Kau mengikutiku lagi, Kenneth?"
__ADS_1
Kenneth menggeleng. "Tidak. Hanya kebetulan kita bertemu di sini. Bukankah kegemaran kita sama, Rhiana?"
Semakin ke sini, Rhiana menganggap Kenneth bukan lagi anak kecil. Namun, sebagai lelaki dewasa yang paham sesuatu.
"Ck, kau masih anak nakal itu, Kenneth. Jangan ganggu aku! Lebih baik kau pergi dengan teman-temanmu. Aku butuh waktu menyendiri. Tolong pergilah!" Sekali lagi Rhiana mengusir Kenneth.
Kenneth tidak akan menyerah. Semakin sering Rhiana mengusirnya, semakin kuat Kenneth akan mengejarnya.
"Kalau aku tidak mau?"
"Maka aku yang akan pergi, Kenneth."
Rhiana beranjak dari tempat duduknya. Dia berniat untuk kembali ke kamarnya. Liburannya kali ini merasa terganggu setelah kedatangan Kenneth. Bukannya tenang, Rhiana seperti menjalani kehidupan masa lalunya, yaitu mengasuh seorang anak nakal dari keluarga kaya.
Tidak hanya menutup mata Rhiana, Kenneth pun berani menarik tangan Rhiana sehingga wanita itu jatuh ke pelukannya. Sejenak, Kenneth terdiam merasakan betapa bahagianya saat terjadi hal yang tidak sengaja ini. Kedekatannya begitu nyata. Bukan hanya memeluknya, tetapi merasakan hal yang berbeda.
Sejenak Rhiana seperti terhipnotis dengan kelakuan Kenneth. Beberapa detik dia sangat menikmatinya, kemudian saat sadar Rhiana mendorong tubuh Kenneth untuk mundur.
"Jaga batasanmu, Kenneth!" bentak Rhiana.
Hubungan yang terjalin antara keduanya hanyalah sebatas anak nakal dan pengasuhnya. Saat Kenneth mencoba mendekat dengan jarak tanpa jengkal, membuat Rhiana kacau. Sebisa mungkin Rhiana harus menghindarinya. Terlebih saat tahu jika Kenneth terus saja mencoba mendekatinya. Rhiana merasa kalau Kenneth memiliki rencana lain.
Kenneth tidak akan menyerah. Dia mengikuti ke mana Rhiana pergi. Rhiana berniat masuk ke kamarnya, tetapi salah satu kaki Kenneth mencegahnya.
"Kenapa lagi, Kenneth? Bukankah sudah jelas kalau kau tidak bisa menggangguku?" tegas Rhiana.
"Tunggu, Rhiana! Dengarkan aku! Aku ingin berbicara kepadamu. Ada hal penting yang ingin kusampaikan." Kenneth sedang berjuang untuk mendapatkan Rhiana kembali.
Mata Rhiana beradu. Dia seperti tidak bisa mengenal Kenneth dengan baik. Setelah hari ini, Rhiana berniat meninggalkan resort untuk pulang ke apartemennya.
"Aku tidak punya banyak waktu. Sebaiknya kau pulang dan jangan ganggu aku lagi!"
__ADS_1
Kenneth heran. Rhiana yang sekarang sangat berbeda. Seolah dia sangat anti terhadap para pria terlebih dirinya. Apakah Kenneth seperti penyakit yang harus dijauhi?
"Tunggu, Rhiana. Setelah kau mendengarkan semua ucapanku, terserah kau mau berbuat apa. Selama ini aku merasa tidak ada gadis atau wanita yang pantas untuk bisa dekat denganku. Aku menyadari saat kembali ke mansion lalu tidak menemukan dirimu. Aku kalut dan sangat kacau. Aku mencoba bertanya pada mama, papa, dan hatiku sendiri. Aku tidak bisa jauh darimu. Aku menyukaimu, Rhiana."