Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 30. Tidak Tahu Malu


__ADS_3

Stella kesal pada Rhiana. Seharusnya pengantin wanita mendampingi suaminya, tetapi malah enak-enakan di dalam kamar putranya.


"Biar mama jemput!"


"Jangan, Ma. Rhiana kecapekan. Dia sakit. Biarkan dia istirahat," pinta Kenneth.


Walaupun dia tahu kalau Rhiana sedang menstruasi. Dia tidak mau istrinya akan semakin kelelahan dengan padatnya acara hari ini. Tamu undangan memang lumayan banyak, tetapi menjawab alasan istrinya sedang menstruasi tidaklah logis.


"Baru begitu saja sudah capek. Bagaimana kalau mengurus rumah tangga? Mama mau kalau Rhiana yang mengerjakan tugas mengurusmu nanti. Biar dia tahu arti istri yang sebenarnya," pesan Stella.


Albert berdeham di belakangnya. Dia tidak suka jika Stella terlalu mencampuri urusan rumah tangga putranya.


"Kenneth, pergilah! Temui para tamu undangan dan katakan bahwa istrimu perlu istirahat. Papa akan berbicara dengan Mama sebentar baru menyusulmu," perintah Albert.


Stella tahu kalau sebentar lagi pahlawan kesiangan untuk Rhiana akan datang. Tidak lain adalah suaminya sendiri, Albert.


"Ada apa? Apa setelah Kenneth kau juga akan membela Rhiana? Kalian, anak dan Papa sama saja. Tidak pernah mengerti perasaanku!" kesal Stella.


Albert menarik tangan istrinya, meletakkan di dada, lalu menatap wajahnya secara intens.


"Sudah cukup marah-marahnya? Dengarkan aku! Kenneth mencintai Rhiana. Putra kita berhak bahagia. Sementara kita sebagai orang tua, sebisa mungkin jangan campuri urusan rumah tangga mereka. Apabila mereka yang meminta pendapat kita, barulah kita masuk ke tengah-tengah mereka. Coba posisikan dirimu sebagai Rhiana! Kau pasti akan sangat sedih melihat penolakan mama mertuanya. Bukan begitu?"


Ah, itu karena Rhiana tidak sebanding dengan Kenneth. Dari segi kekayaan dan usia, keduanya jauh berbeda. Wajar kalau Stella sama sekali tidak peduli.


"Ck, aku seperti orang asing di mansion suamiku sendiri," keluh Stella.


"Hmm, jangan bicara seperti itu! Kau tetap ratu di hati dan mansionku ini. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu bersikap buruk kepada Rhiana. Jangan sampai perbuatanmu menjadikan penyesalan seumur hidup."

__ADS_1


Stella sampai bosan mendengarnya. Albert selalu saja memberikan petuah kehidupan seolah sedang menasihati putranya. Sementara sikap Albert pada Kenneth tidak serumit ini.


Stella perlu kabur menuju ke tempat Kenneth. Di mana para tamu undangan sama penasarannya dengan pengantin wanita. Ya, setelah pernikahan, Kenneth menggelar resepsi di siang hari. Sebenarnya itu bisa dilakukan malam hari, tetapi niat liciknya sudah terstruktur dengan baik. Sayang, gara-gara tamu bulanan sialan itu, Kenneth harus menahan diri selama seminggu ke depan.


"Wah, pasti istri Tuan Kenneth sangat cantik. Tidak kalah dengan Nyonya Stella."


"Ah, iya. Aku bertemu dengannya saat pertunangan beberapa minggu yang lalu. Dia memang cantik dan ramah sekali. Kenapa tidak ada di sini, Tuan?" tanya tamu pada Kenneth.


"Setelah melangsungkan janji suci pernikahan kami, tiba-tiba kepalanya pusing. Mungkin kurang istirahat. Jadi, kuminta dia istirahat di kamar lebih dulu," jelas Kenneth.


"Wah, Anda tipikal suami idaman sekali. Kupikir sengaja disembunyikan biar pesonanya tidak diketahui banyak orang."


Semua pujian yang ditujukan kepada Rhiana membuat Stella semakin geram. Apa istimewanya wanita itu sehingga semua orang begitu peduli padanya? Sekarang, Stella sendirian. Dia cuma bisa berkomplot dengan Serry dan Samantha.


Kedua gadis yang dicarinya sedang membaur dengan para tamu undangan. Sepertinya mereka sudah tidak peduli lagi dengan cintanya pada Kenneth. Sehingga saat ada kesempatan, Stella langsung memanggil keduanya. Mereka dibawa ke ruangan yang tidak jauh dari arena pesta, tetapi cukup sepi di sana. Semua orang masih fokus pada Kenneth dan Albert.


"Aunty? Kenapa kami dibawa ke sini?" protes Serry.


"Aunty, aku hari ini mau menikmati pesta sambil berkenalan dengan beberapa orang. Siapa tahu aku mendapatkan lelaki lain yang jauh lebih baik ketimbang Kenneth." Samantha meremehkan sahabatnya.


Stella menjewer kedua telinga gadis muda itu. Benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Harusnya mereka dukung Stella, bukannya kabur seperti ini.


Sementara Rhiana saat ini sedang berbaring di ranjang suaminya yang dihiasi kelopak bunga mawar yang begitu indah dan banyak. Dia tersenyum manis seakan kemenangan berada di tangannya.


"Ck, dasar suami kecilku yang mesum! Pikirannya pasti sudah kotor sebelumnya. Dasar anak nakal!" gumamnya sambil sesekali memegang perutnya yang sakit.


Ini sering terjadi saat Rhiana menstruasi, tetapi ada hal yang membuatnya aneh. Saat menghirup bau tubuh Kenneth, dia merasa tenang dan nyaman sekali. Perutnya pun tidak melilit seperti sebelumnya. Ini reaksi yang lumayan aneh menurutnya.

__ADS_1


"Ish, mengapa aku seperti wanita yang sangat tergila-gila pada lelaki itu? Ya, aku sadar kalau dia suamiku sekarang. Namun, mengapa makin ke sini aku merasa memiliki ketergantungan padanya? Ah, kenapa denganku?" Rhiana masih memusingkan diri sendiri.


Sebenarnya pesta pernikahan ini tidak akan sempurna tanpa dihadiri pengantin wanita. Itulah sebabnya sebelum para tamu undangan pamit, Kenneth mencoba masuk ke kamar untuk menjemput istrinya.


"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Kenneth yang langsung masuk setelah membuka pintu.


"Kenneth, kau mengejutkanku. Kenapa tidak mengetuk pintu lebih dulu?"


Rhiana lupa. Kamar ini milik Kenneth. Mau mengetuk pintu atau tidak, sebenarnya tidak ada masalah.


"Ini kamarku, Sayang. Aku bebas keluar masuk tanpa menggunakan aturan itu. Nantinya juga berlaku padamu. Jadi, aku tahu kalau istriku akan masuk." Bualan Kenneth dimulai lagi.


"Cukup, Kenneth! Aku bosan dengan cara membualmu!" cibir Rhiana.


"Oke, aku tidak membual sekarang. Kalau kau sudah mendingan, lebih baik ikut aku ke depan sebentar. Beberapa tamu undangan akan pamit."


Ini sama sekali tidak diinginkan Rhiana. Di sana pasti akan bertemu dengan Stella, tetapi jika dia tidak keluar akan sangat tidak nyaman karena mengabaikan suaminya.


"Tunggu sebentar! Aku akan bersiap. Beri aku waktu lima menit," pinta Rhiana.


Beberapa tamu undangan yang saat ini berada di luar harus dibuat menunggu dengan sabar. Kesempatan ini dimanfaatkan sebaik mungkin oleh Stella. Sebenarnya niatnya untuk menjatuhkan Rhiana, tetapi malah dia sendiri yang jatuh.


"Menantuku itu agak pemalu. Mungkin saja karena dia kurang cantik sehingga rasa percaya dirinya kecil sekali," ucap Stella sambil mencibir Rhiana.


Sayang, belum lama ucapannya itu dipatahkan dengan kehadiran wanita cantik yang menggandeng erat tangan Kenneth. Ya, Rhiana keluar dengan menggunakan gaun rancangannya sendiri. Gaun yang terlihat cantik dan menunjukkan sisi sensualnya.


Gaun panjang berwarna soft pink dengan belahan rok yang tinggi bagian punggung bertali sehingga mengekspos keindahan Rhiana yang kecantikannya masih terlihat sempurna di usianya yang matang.

__ADS_1


"Ck, dasar wanita tidak tahu malu!" gerutu Stella.


Secantik apa pun Rhiana, Stella akan menjadi wanita yang paling membenci menantunya. Balasan Rhiana cuma tersenyum manis lalu menemui para tamu yang berniat pulang.


__ADS_2