Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 47. Dudley Nathanael


__ADS_3

Setiap bulan Rhiana harus melakukan cek kandungan. Beberapa kali dokter mengatakan kalau jenis kelamin bayi sulit untuk diketahui. Beberapa kali dokter mengatakan bahwa jenis kelamin bayi Kenneth bisa laki-laki ataupun perempuan.


Mendekati trimester ketiga, Albert dan Stella malah memutuskan untuk pergi berlibur. Keduanya memang sudah merencanakan itu sejak lama. Sehingga pada saat kehamilan Rhiana memasuki trimester ketiga, kedua orang tua itu tidak ada di mansion.


Gender reveal party juga batal digelar karena sampai saat ini jenis kelamin bayi sulit sekali diketahui. Bayinya sengaja membuat penasaran kedua orang tuanya.


"Sayang, kita siapkan dua nama, ya?" tanya Kenneth pada istrinya.


"Tidak. Aku sudah menyiapkan satu nama laki-laki untuk bayi kita," ungkap Rhiana.


"Bukankah kita belum tahu jenis kelaminnya? Lalu, apakah kita akan membeli beberapa pakaian untuk dua gender sekaligus?"


"Tidak juga. Kita akan membeli kebutuhan baby setelah aku melahirkan."


"Hah, itu artinya aku harus belanja sendiri?" Kenneth merasa akan menjadi kambing hitam dari semua masalah ini.


"Memangnya siapa lagi? Kamu papanya, bukan?"


Aduh, sakit sekali ucapan Rhiana untuknya. Dia memang papanya, tetapi untuk belanja kebutuhan bayi, Kenneth mana paham.


"Sayang, tetapi aku sama sekali tidak paham dengan dunia seperti itu," ungkap Kenneth.


"Ada mama, kan? Mengapa kau jadi ikutan bingung?"


Mana mungkin mamanya akan stand by saat istrinya melahirkan. Saat ini saja mereka tidak tahu kapan kembalinya. Terlebih papa sudah memasrahkan segala urusan kantor kepada Kenneth. Sementara urusan butik, sudah ada orang kepercayaan yang mengelolanya.


Tiba saatnya Rhiana memasuki masa-masa melahirkan. Kenneth selalu menjadi suami siaga. Seperti kesepakatan yang sudah dibuat, Kenneth akan membelikan kebutuhan bayinya setelah sang istri melahirkan. Sementara ini dia hanya menyiapkan baju dan beberapa keperluan yang bisa digunakan untuk bayi laki-laki maupun perempuan.


"Kenneth, rasanya aku seperti buang air," ungkap Rhiana saat bersantai dengan suaminya.


"Apakah ini tanda-tanda mau melahirkan?"


"Memangnya apa? Aku ngompol begitu? Iya ini, tapi aku tidak merasakan mulas sama sekali. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang," ajak Rhiana.

__ADS_1


Salah satu maid diminta untuk ikut. Sementara yang lainnya diminta segera menghubungi mama dan papanya.


Sesampainya di rumah sakit, Rhiana langsung masuk ke ruang persalinan. Sementara dokter sedang melakukan cek secara berkala karena Rhiana sama sekali tidak mengalami kontraksi. Dia akan dipantau sampai beberapa jam ke depan.


"Bagaimana kondisi istriku, Dokter?" tanya Kenneth saat bertemu dengan dokter yang baru saja keluar dari ruangan itu.


"Masih dalam masa observasi, Tuan. Jika dalam beberapa jam ke depan tidak ada kontraksi, maka kami akan memutuskan untuk dilakukan operasi malam ini juga. Jadi, tolong Anda tunggu di sini karena kami akan meminta persetujuan Anda sebelum tindakan itu dilakukan."


Kenneth mengangguk pasrah. Mau bagaimana lagi? Memang ada baiknya mengikuti arahan dokter.


Ponselnya berdering. Ada nama papa tertera di sana. Buru-buru Kenneth harus mengangkatnya.


"Halo, Kenneth. Apa cucu papa sudah lahir?" tanya Albert langsung ke intinya.


"Masih dalam perjalanan, Pa. Kapan papa pulang?"


"Papa juga masih dalam perjalanan. Seperti cucu papa. Kenapa? Kau takut melihat istrimu melahirkan? Atau kau takut melihat darah yang akan berceceran seperti pertumpahan darah?"


"Papa!" pekik Kenneth. Jika bukan karena disenggol oleh salah satu maid yang dibawanya, Kenneth pasti langsung diusir oleh security rumah sakit. "Sorry, pa. Kenneth sedang menunggu kabar dokter. Kemungkinan Rhiana akan dioperasi malam ini juga. Kapan papa sampai? Di mana mama sekarang?"


Kenneth benar-benar sendirian. Dia tidak mungkin melibatkan maid dalam hal ini. Dia cuma bisa meminta mereka untuk disuruh ke sana kemari. Cuma itu saja.


Hari menjelang malam. Kenneth harus mencari makan sejenak. Sejak siang dia belum makan sama sekali. Dia pun belum diizinkan untuk menemui istrinya.


"Kau tunggu di sini. Aku akan pergi cari makan sebentar. Kalau ada informasi apa pun, lekas kabari aku. Setelah aku kembali, kau boleh pergi."


"Baik, Tuan."


Kenneth yang semula merasa lapar, saat memasuki sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah sakit nyatanya tidak membuatnya bisa makan. Dia sudah memesan makanan maupun minuman, tetapi dia hanya bisa minum saja. Selebihnya dia minta makanan itu dibungkus.


Ponselnya berdering saat sebuah panggilan masuk. Rupanya itu dari maid yang menemaninya.


"Halo. Ya, ada apa?" tanya Kenneth.

__ADS_1


"Tuan, Anda diminta untuk segera menghadap ke dokter. Nyonya akan dilakukan operasi dengan segera."


"Ya, aku akan segera ke sana." Menutup teleponnya, Kenneth bergegas ke kasir lalu membayar. Tidak hanya itu, dia pun membungkus makanannya. Mungkin maid tadi mau makan, jika tidak pun bukan masalah bagi Kenneth.


"Bagaimana? Apa kata dokter?" tanya Kenneth setelah sampai. "Oh ya, ini ada makanan. Sebenarnya ini tadi buat aku, tetapi aku sedang tidak ingin makan. Kalau kau mau, makan saja. Jika tidak, kau bisa keluar sementara aku akan menemui dokter."


"Terima kasih, Tuan. Aku akan makan ini saja, tetapi aku akan mencari tempat makan lebih dulu."


"Hemm, pergilah."


Sesampainya di ruangan dokter, Kenneth diminta untuk menyetujui tindakan operasi yang akan dilakukan pada istrinya. Hal itu sudah melalui beberapa jam observasi dan keputusannya harus segera dilakukan operasi.


"Baik, Dokter. Lakukan apa yang terbaik untuk anak dan istriku. Apa aku boleh menemani saat proses persalinan?"


"Silakan, Tuan. Operasi akan dilangsungkan sekitar pukul 9 malam. Jadi, Anda harus sudah berada di sana sebelum waktu yang sudah ditentukan."


"Baik, Dokter." Kenneth melihat jam di tangannya menunjukkan angka 8. Itu artinya tinggal 1 jam lagi anaknya akan lahir.


Tepat sebelum jam 9 malam, Kenneth sudah berada di ruang operasi. Rhiana pun sudah terbaring di sana. Beberapa tim medis sedang melakukan tugasnya masing-masing.


Tepat jam 9 malam, setelah dilakukan anestesi lokal pada punggung Rhiana, barulah operasi dilakukan. Kenneth sangat tegang karena duduk tepat di dekat kepala istrinya. Sekitar 30 menit, barulah suara tangisan bayi menggema.


"Selamat, Tuan. Bayinya laki-laki," ucap dokter.


Kenneth sangat bahagia sehingga memberikan kecupan kening pada sang istri secara terus-menerus. Rhiana pun menangis bahagia. Dia tidak menyangka akan memiliki bayi secepat ini. Padahal sebelumnya dia sama sekali tidak memiliki niat untuk menikah hingga Kenneth datang padanya.


"Jadi, siapa nama putra kita, Sayang?" tanya Kenneth sebelum istrinya keluar dari ruang operasi.


"Aku akan memberinya nama Dudley Nathanael. Apa kau suka?"


"Tentu, Sayang. Itu nama yang bagus," balas Kenneth.


Dudley Nathanael yang akan menjadi bukti cinta kedua insan beda usia. Kenneth sangat bahagia. Begitu juga dengan Rhiana.

__ADS_1



__ADS_2