Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 13. Kecupan Mendadak


__ADS_3

Kenneth diizinkan untuk memakai kamar mandi yang ada di kamarnya. Apartemennya memang terletak di kawasan elit, tetapi Rhiana memilih unit dengan satu kamar saja. Sementara kamar mandinya memiliki akses masuk dari kamarnya saja.


"Kau bisa mandi di sana. Ingat, jaga batasanmu! Selagi kau mandi, aku akan menyiapkan makan malam. Handuk sudah kugantung di kamar mandi," pesan Rhiana.


Ah, rasanya seperti membangun rumah tangga dengan Rhiana. Kenneth dilayani dengan baik. Mungkin inilah definisi wanita mandiri yang sebenarnya.


Kenneth melangkahkan kaki menuju ke kamar Rhiana. Dia sangat penasaran. Apakah di sana ada fotonya di masa lalu? Atau, Rhiana sama sekali tidak mengingatnya?


Kenneth salah besar. Kamar berukuran kecil itu sangat rapi sekali. Hanya saja tidak terdapat apa yang diharapkan. Sama sekali tidak ada foto-foto Rhiana atau dirinya, tetapi sketsa gaun pernikahan dipajang dengan pigura. Jumlahnya juga banyak. Namun, ada satu yang menarik perhatiannya.


Sketsa gaun pengantin yang begitu indah. Di dalam sketsa itu, jika dilihat dari jarak dekat, tertulis tahun pembuatan. Sepertinya Rhiana sangat menyukai sketsa gaun pengantin itu. Dibuat sekitar 5 tahun yang lalu.


"Apa mungkin kau berniat menikah saat itu?" lirih Kenneth.


Daripada Rhiana nanti semakin kesal karena tak kunjung keluar, lebih baik Kenneth segera mandi.


Rhiana harap-harap cemas karena Kenneth berada di kamarnya lama sekali. Mungkin dia akan melihat-lihat apa yang ada di hadapannya. Lalu, dia akan mengubah tata letak barang-barang Rhiana. Itu sangat menyebalkan.


Rhiana memasak makanan baru setengah jalan. Dia mematikan kompor kemudian menuju ke kamarnya. Dia ingin tahu apa sebenarnya yang dilakukan Kenneth. Jangan sampai karena kecerobohannya, kamar Rhiana menjadi berantakan.


Bersamaan Rhiana masuk, Kenneth keluar dengan handuk yang terlilit di pinggangnya. Otomatis menampilkan bentuk dada hingga perut yang begitu menarik untuk ukuran laki-laki seperti Kenneth.


"Kenneth, pakai bajumu!" teriak Rhiana. Dia menutup matanya agar tidak merasa ternodai.


"Ck, jangan naif, Rhiana. Dulu kau sering memandikan aku. Lalu, apa bedanya jika kau melihat bentuk tubuhku yang berotot sekarang?"


Rhiana jalan miring untuk menghindari agar tidak melihat Kenneth secara langsung. Dia menyadari jika pakaian lelaki itu berada di atas ranjangnya. Buru-buru dia mengambilnya kemudian menjatuhkan baju itu tepat di kaki Kenneth.


"Pakai bajumu!" bentak Rhiana.

__ADS_1


"Uh, kau manis sekali kalau marah. Kenapa malu? Kau sudah mengekspos seluruh tubuhku, bukan?"


Maksud Kenneth, Rhiana sudah sering memandikannya kala itu. Makanya dia mengatakan hal seperti itu. Tujuannya agar Rhiana tidak marah, justru kekasihnya itu malah marah-marah tanpa henti.


"Dasar bodoh! Dulu dan sekarang beda. Kau masih belum mengerti apa itu wanita, cinta, dan hasrat!" geram Rhiana. "Sekarang, kau dan aku sama. Kita sudah sama-sama dewasa. Jangan berlagak seperti anak kecil. Kalau sudah selesai, cepat keluar dari kamarku! Kembalikan handuknya ke tempat semula. Aku tidak mau kamarku menjadi gudang handuk basahmu! Paham?"


"Oke, Sayang!" jawab Kenneth.


Rhiana kembali ke dapur tanpa menoleh sedikit pun. Rasanya ingin segera mengeluarkan lelaki itu dari unitnya.


"Dasar, anak nakal!" gerutu Rhiana. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, ini pertama kalinya Rhiana melihat tubuh kekar dan menarik itu. Walaupun dia kesal, tetapi ada sesuatu yang membuatnya tersenyum tidak jelas.


"Bodoh! Dia hanya anak kecil," gumam Rhiana sambil melanjutkan memasaknya.


Rasanya memang agak aneh. Entah, karena Rhiana yang berhenti untuk tumbuh, atau memang pertumbuhan Kenneth yang begitu cepat. Dia seperti pria dewasa yang memiliki tubuh sixpack.


Satu hal lagi yang membuat Rhiana geram, saat Kenneth kembali ke meja makan yang berada satu lokasi dengan dapur. Aroma minyak wanginya tercium di sana.


"Kurasa tidak masalah saat kau berbagi minyak wangi dengan kekasihmu, Sayang. Aku juga menggunakan sisirmu," jawabnya enteng.


Ouh, menghadapi Kenneth seperti berperang saja. Tiap detiknya serasa seperti jantung memompa darah begitu cepat. Kesal, emosi, dan amarah memuncak.


"Aku tidak suka! Setidaknya minta izin dan bersikaplah dengan sopan. Ingat, jaga batasanmu! Kalau kau membuatku marah lagi, tidak hanya kau saja yang akan keluar dari apartemenku, tetapi akan kupastikan kau dipecat dari restoran!"


Kenneth diam saja. Dia sangat menikmati amarah kekasihnya. Ya, Kenneth tidak peduli. Mau ditolak atau diterima, Kenneth akan tetap menganggap Rhiana adalah kekasihnya. Kali ini dia cukup diam dan menunggu Rhiana selesai memasak. Melawan tidak akan membuatnya berada di posisi aman. Setidaknya untuk malam ini dia bisa tidur satu atap dengan kekasihnya.


Rhiana melanjutkan memasaknya setelah Kenneth tidak merespon. Dia menyiapkan dua piring makanan kesukaan Kenneth, apalagi kalau bukan spaghetti dengan saus daging yang dibuat langsung dari tangan Rhiana. Sebagai makanan penutup, dia menyiapkan puding coklat yang sudah tersedia di dalam lemari pendingin.


"Terima kasih," ucap Kenneth setelah menerima piring berisi makanan di hadapannya.

__ADS_1


"Sama-sama. Lekaslah makan, lalu tidur!" pesan Rhiana dengan nada yang begitu angkuh.


Kenneth cuma tersenyum. Harusnya setelah makan, dia pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi, baru tidur.


Keduanya makan dalam diam. Sesekali Kenneth mencuri pandang ke arah Rhiana, tetapi wanita itu sama sekali tidak bergeming. Dia tetap tenang menikmati makan malamnya. Setelah selesai, Rhiana mengambil piring-piring itu, padahal dia sendiri belum memakan pudingnya.


"Kau tidak makan puding, Sayang?" tanya Kenneth.


Sebenarnya Rhiana merasa risih, tetapi jika dia protes tentang panggilan Kenneth kepadanya, pasti akan berbuntut panjang.


"Aku sudah kenyang. Kalau sudah, lebih baik tidurlah. Besok aku harus ke butik lebih pagi," pesan Rhiana dengan suara yang melunak. Mungkin dia sudah merasa lelah.


Kenneth sudah lelah untuk mencari ribut. Buru-buru pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Setidaknya saat Rhiana kembali, Kenneth sudah duduk manis di sofa ruang tamu.


Selesai di dapur, Rhiana menengok sebentar ke ruang tamu. Kenneth sudah merebahkan tubuhnya di sofa. Kebetulan ruang tamu itu memiliki lampu ganda. Jadi, Rhiana akan menghidupkan salah satunya saja. Lampu utama dimatikan, diganti dengan lampu remang-remang. Cocok sekali untuk lampu tidur versi Kenneth.


"Selamat malam. Selamat beristirahat, Sayang. Mimpikan aku!" ucap Kenneth karena Rhiana tidak mengucapkan sepatah kata pun.


"Hemm, selamat malam," balas Rhiana.


Rhiana masuk ke kamarnya. Sebelum itu, dia juga menggosok gigi. Tidak hanya itu, dia mengganti bajunya dengan piyama satin.


Rasanya lelah sekali. Rhiana membaringkan tubuhnya di ranjang, tetapi tidak lupa mengunci pintu kamarnya. Untuk berjaga-jaga agar Kenneth tidak bersikap kurang ajar padanya.


Sebelum tidur, Rhiana malah gelisah. Dia merasa sangat keterlaluan memperlakukan Kenneth. Selain itu, di ruang tamu memang ber-AC. Kenneth pasti akan kedinginan saat tidur.


Rhiana beranjak mengambil selimut dari lemari. Dia menuju ke ruang tamu untuk memberikan selimut untuk Kenneth, tetapi Rhiana sudah mendengar dengkuran halus bahwa Kenneth sudah tertidur.


"Syukurlah. Rupanya kau sudah tidur," gumam Rhiana.

__ADS_1


Rhiana langsung membentangkan selimut itu kemudian menutupi bagian tubuh Kenneth hingga dada. Sayangnya, Kenneth terkejut hingga membuat Rhiana jatuh ke atas tubuh Kenneth. Sialnya lagi, tanpa sengaja kedua bibir itu beradu. Seolah melakukan kecupan secara mendadak.


__ADS_2