
Rhiana tegang. Dia menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Tatapannya datar, tidak berapi-api seperti sebelumnya. Biasanya dia akan marah kepada Kenneth, tetapi tidak dilakukan.
"Dengarkan aku, Kenneth! Lebih baik lupakan rencanamu, hubungan tidak jelas ini, dan keinginanmu yang seperti anak kecil itu."
"Kenapa? Apa kau takut kalau hubungan kita akan mendapatkan penolakan?"
Kenneth sudah terbiasa dengan suara Rhiana yang tinggi. Saat Rhiana berbicara dengan nada pelan, tetapi penuh penekanan. Rasanya agak aneh di telinga.
"Ya. Itu sudah jelas. Sekarang, kau bisa pergi dari ruanganku. Pulanglah!"
Jika Rhiana pikir Kenneth akan menyerah, dia salah besar. Justru Kenneth sedang berpikir cara untuk meyakinkan Rhiana supaya dia mau pergi. Itu dilakukan semata-mata karena Albert, papanya.
"Tidak. Aku tidak akan pulang tanpamu, Rhiana. Kita akan hadapi bersama penolakan itu. Kumohon!"
Lucu sekali. Kenneth pun sudah yakin akan penolakan itu, tetapi dia tidak mau menyerah sebelum mencobanya. Jika mamanya menolak, tidak dengan papanya. Albert akan menerimanya dengan tangan terbuka. Terlebih Rhiana sudah berjasa besar dalam kehidupan keluarga Nathanael.
"Oke. Aku ikut denganmu, tetapi dengan syarat."
Sepertinya kehidupan Kenneth akan dipenuhi dengan syarat, makian, umpatan, dan beberapa penolakan dari Rhiana. Itu tidak akan mengubah keinginan Kenneth untuk membawa Rhiana ke hadapan orang tuanya.
"Katakan sekarang!" pinta Kenneth.
"Setelah orang tuamu menolak, jangan pernah temui aku lagi! Dan, satu hal lagi! Hubungan kita akan berakhir setelah penolakan itu."
Kenneth mengangguk. Memangnya siapa Rhiana? Dia bisa mengendalikan Kenneth sesuka hatinya. Namun, setelah ini tidak lagi. Kenneth harus belajar menjadi pria dewasa untuk memegang kendali pada diri Rhiana. Beberapa kali Kenneth dianggap seperti anak kemarin sore.
Mereka pergi ke apartemen Rhiana lebih dulu. Rhiana harus membawa satu koper kecil untuk memasukkan beberapa pakaiannya. Dia juga tidak akan membawa mobilnya karena akan sangat merepotkan saat berada di sana.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Kenneth setelah melihat Rhiana menarik satu koper berukuran sedang.
"Siap, tetapi kau juga harus siap dengan risikonya," ungkap Rhiana.
"Tunggu sebentar! Kita harus bicara sebelum pergi," ucap Kenneth.
__ADS_1
Rhiana berbalik menatap Kenneth. Sejujurnya, dari dalam lubuk hati Rhiana sama sekali tidak ada cinta untuk Kenneth. Dia hanya kasihan pada lelaki itu yang terus mengejarnya tanpa mau menyerah. Namun, sesaat dia tersadar akan ketakutan lelaki itu pada penolakan orang tuanya. Sanggupkah Rhiana meninggalkannya sendiri? Bagaimana kalau Kenneth mengambil keputusan yang salah? Mungkin saja bunuh diri, atau malah kabur dari kehidupan keluarganya? Rhiana sama sekali tidak ingin hal itu akan terjadi.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Malam ini aku akan mengantarmu ke hotel. Esok sebelum pesta ulang tahunku digelar, akan ada orang yang menyiapkan semuanya khusus untukmu. Lalu, aku akan menyiapkan sopir untuk menjemputmu ke hotel. Aku tidak bisa meninggalkan mansion. Pasti akan banyak tamu yang menanyakan keberadaanku," jelas Kenneth seperti pria dewasa yang sudah mengatur secara terperinci.
"Bagaimana kalau aku tidak datang?" tanya Rhiana.
"Aku akan mengejarmu sampai ke lubang semut!"
Rhiana pikir Kenneth bodoh? Tidak! Justru Kenneth belajar banyak dari Rhiana. Semakin Rhiana menjauh, dua langkah Kenneth akan berada di depannya.
"Oke. Kita sudah menyepakati satu hal. Kalau salah satu orang tuamu menolak hubungan tak lazim ini, maka lepaskan aku!"
Nyeri rasanya mendengar Rhiana mengatakan seperti itu. Untuk saat ini, Kenneth mengiyakan saja apa pun yang diucapkan Rhiana. Setelah semuanya jelas, Kenneth akan mencari jalan keluarnya.
"Ya," jawab Kenneth.
Kenneth menarik koper Rhiana, memasukkannya ke dalam bagasi. Lalu, mempersilakan duduk di depan.
"Hemm."
Rhiana melipat kedua tangannya lalu memejamkan mata. Dia tidak mau mengganggu Kenneth yang sedang fokus menatap ke depan.
Sementara Kenneth sesekali mencuri pandang ke arah Rhiana. Betapa cantik dan menariknya wajah imut pengasuhnya dulu. Rhiana masih terlihat menawan. Bila dibandingkan dengan para gadis muda yang diperkenalkan mamanya, Rhiana merupakan paket komplit. Dia memenuhi segala aspek yang dibutuhkan Kenneth.
Cantik, mandiri, cerdas, dan yang paling penting adalah Kenneth mencintainya. Entah, sejak kapan Kenneth mulai merasakan cinta pada pengasuhnya? Mungkin jika Rhiana menanyakan, dia pasti akan mengakuinya atau minimal mengingat kapan mulai jatuh cinta.
Perjalanan yang cukup melelahkan membawa mereka sampai ke hotel. Rhiana menolak untuk makan saat perjalanan berlangsung. Dia ingin menikmati makanan di hotel saja tanpa ditemani Kenneth.
"Kau pulanglah. Aku mau menikmati suasana hotel ini sendirian."
Kenneth tidak pernah kapok walaupun Rhiana mengusirnya ratusan kali. Suatu hari Rhiana akan menjadi wanitanya yang paling romantis. Mungkin saat ini dia sedang jual mahal karena sesuatu hal. Lain kali Kenneth akan berbicara dengannya dari hati ke hati.
__ADS_1
"Hemm. Besok jangan lupa sesuai kesepakatan," jelas Kenneth.
Malam semakin larut, Kenneth baru saja sampai di mansion. Rupanya Stella dan Albert masih belum tidur. Keduanya terlihat cemas sekali saat Kenneth tidak berada di mansion.
"Akhirnya kau pulang juga, Sayang. Dari mana saja?" tanya Stella.
"Dari rumah teman, Ma. Kenapa belum tidur?" Kenneth memandangi Stella dan Albert secara bergantian.
"Mamamu takut kalau kau kabur, Kenneth. Besok mansion ini akan dipenuhi para gadis cantik. Makanya dia takut kalau kau tidak datang," jawab Albert.
Kenneth tersenyum. Baginya hanya Rhiana lah yang tercantik. Tidak ada lagi gadis cantik yang akan menggoyahkan hatinya.
"Benarkah? Kupikir Mama akan cemburu jika Papa akan menjatuhkan pandangan pada salah satu gadis itu," canda Kenneth.
"Kenneth! Jangan coba-coba pengaruhi Papamu!" kesal Stella.
Kalau sudah bertiga seperti ini, Stella pasti dikalahkan dua jagoannya. Mereka tidak akan berhenti mengolok-olok Stella sampai dia mengaku kalah.
"Aku cuma tidak mau terpengaruh dengan para gadis yang Mama undang ke sini," ungkap Kenneth. Dia tidak mau mamanya terlalu berharap banyak.
"Tidak masalah. Asal satu gadis yang kau ajukan cocok dengan mama," ucap Stella membesarkan hati putranya.
Kenneth masih ragu. Rhiana akan menjadi salah satu kandidat yang cocok untuknya maupun Albert. Namun, untuk meyakinkan Stella, Kenneth butuh Albert sebagai bala bantuan.
"Harus cocok, Ma," sahut Albert. "Kualitas gadis pilihannya tidak akan diragukan lagi. Masih ingat dengan pertaruhan kita kapan hari, bukan?"
Pertaruhan? Kenneth sama sekali tidak paham arah pembicaraan orang tuanya.
"Pertaruhan macam apa ini?" tanya Kenneth.
"Nanti kau akan tahu sendiri," jawab Albert.
Kenneth memandang ke arah Stella. Wanita itu juga pura-pura mengalihkan pandangannya. Lagi pula pertaruhan ini bukan sesuatu yang biasa bagi Stella, tetapi sangat menarik.
__ADS_1
"Kalian tidak merencanakan sesuatu yang buruk kepadaku, kan?" selidik Kenneth.
Albert dan Stella sama-sama menggelengkan kepala. Lagi pula pertaruhan ini demi kebaikan Kenneth di masa mendatang.