Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 38. Kenneth Kecelakaan


__ADS_3

Stella meminta Rhiana selalu menyediakan rancangan khusus setiap akan ada acara. Jadi, anggap saja kalau Rhiana adalah desainer pribadinya. Sebenarnya agak berat karena harus menyesuaikan selera Stella, tetapi setelah mendapatkan penjelasan dari Albert, Rhiana pun menyetujuinya.


"Hari ini aku minta Samuel untuk membawa beberapa barang yang kita butuhkan," jelas Rhiana sebelum Kenneth pergi ke kantor.


"Hemm, tapi kau jangan terlalu lelah. Ingat tujuan pernikahan kita."


"Kau yakin siap memiliki anak? Lalu, tugas pengasuhan kau bebankan padaku lagi? Enak saja!" gerutu Rhiana.


"Tidak, Sayang. Aku akan belajar banyak padamu."


Selalu saja merayu. Jika tidak, pasti Kenneth akan membelikan beberapa hadiah.


"Oh ya, semalam Samantha pasti kesal padaku, ya?"


Kenneth tidak peduli. Apalagi gadis itu pasti mencari ribuan alasan untuk bisa dekat dengannya. Sejak menikah, Kenneth tidak bisa terlalu dekat dengan Samantha. Jangankan mengobrol, pergi bersama seperti dulu saja sudah jarang dilakukan.


"Biarkan saja. Dia kan gadis labil. Aku malas dengannya."


"Benarkah? Kenapa kau tidak mau menikah dengannya? Dia masih muda, cantik, berkelas, dan menarik," jelas Rhiana.


"Aku cintanya cuma sama istriku. Mau apalagi? Menolakku?"


Rhiana menggeleng. "Mana mungkin. Justru sekarang aku mau minta pertanggungjawaban darimu. Apa kau sudah lupa telah meniduri aku selama ini? Kalau salah satu bibit itu berhasil, aku akan melahirkan penerus tahta perusahaan Nathanael, bukan?"


"Bilang saja kalau kau sudah cinta sama aku."


Kenneth terlalu percaya diri. Dia sering mengungkapkan perasaannya, tetapi Rhiana sama sekali belum pernah membalasnya.


"Bulshit apa itu cinta." Rhiana mengejek suaminya.


"Sudah, cukup untuk hari ini. Aku bisa terlambat pergi ke kantor."


"Sini, peluk aku dulu!" pinta Rhiana. Tanpa merasa malu lagi, dia yang memintanya lebih dulu.


Kenneth tanpa malu langsung memberikan pelukan sekaligus kecupan mesra untuk sang istri.


"Ucapkan sesuatu!" pinta Kenneth.


"Terima kasih, Sayang," jawab Rhiana.


Albert ternyata sudah menunggu Kenneth di ruang tamu. Mereka akan pergi ke kantor bersama hari ini. Sementara Stella akan mulai meminta Rhiana untuk membuatkan gaun limited edition.


"Hati-hati di jalan, ya," pesan Stella.

__ADS_1


"Ya, Ma. Kami berangkat dulu," pamit Kenneth.


Tinggallah Stella dan Rhiana di mansion. Sebenarnya Rhiana ingin mengurus beberapa pekerjaan penting dengan Samuel. Walaupun sebenarnya tidak terlalu dipusingkan karena semua sudah diserahkan pada karyawan kepercayaan Rhiana.


"Kau mau ke mana?" tanya Stella.


"Ke kamar, Ma. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Jangan dulu, lah! Urus itu nanti saja. Sebaiknya kau buat desain gaun yang belum banyak dimiliki teman sosialitaku. Aku mau gaun yang limited edition. Bisa?"


"Hemm, baiklah. Selesaikan di kamarmu. Jika sudah, jangan lupa tunjukkan padaku."


Rhiana beruntung. Gara-gara dia bisa membuat gaun rancangan sendiri, Stella akhirnya mengalah. Setidaknya ini akan aman untuk beberapa waktu ke depan. Semoga saja mama mertuanya tidak berulah lagi.


Rhiana mencoba mengambil kertas. Dia harus berkonsentrasi untuk mengerjakan tugas berat dari mama mertuanya.


Sementara Kenneth berada di kantor. Dia merasa sedang tidak enak badan. Padahal sebelumnya baik-baik saja.


"Kenneth, kau kenapa?" tanya Albert.


"Entahlah, Pa. Tiba-tiba badanku rasanya aneh sekali. Seperti berkeringat dingin."


"Kalau kau sakit, lebih baik pulang saja. Setidaknya masih ada waktu istirahat walaupun hanya sehari," jelas Albert.


"Tapi, hari ini masih banyak meeting yang harus kuhadiri, Pa. Apakah Papa mau menghandelnya sendiri?"


"Tidak masalah, Kenneth. Kau bisa pulang. Akan aku panggilkan taksi untukmu," ucap Albert.


"Tidak, Pa. Aku akan bawa mobil saja. Aku pasti baik-baik saja."


Kenneth malas harus menunggu taksi. Apalagi kondisinya memang tidak terlalu parah.


"Hemm, baiklah. Bawa saja mobilnya. Biar papa yang akan pulang menggunakan taksi."


Rhiana sama sekali tidak tahu jika suaminya akan pulang karena sakit. Namun, sejak memegang peralatannya untuk membuat sketsa, perasaannya tidak menentu. Dia sama sekali tidak bisa fokus.


"Ada apa denganku? Mengapa aku menjadi seperti ini?"


Berulang kali memegang lalu meletakkan pensil sketsanya. Dia mengambil satu foto milik suaminya. Foto saat keduanya masih terikat hubungan sebagai pengasuh.


Foto itu sangat lucu sekali. Wajah Rhiana memang tidak banyak berubah. Namun, bila dibandingkan dengan suaminya, Rhiana terlihat sedikit tua memang.


"Kau memang lucu, Kenneth. Mengapa perasaanku tidak bisa dibohongi saat kekhawatiran ini melanda. Sebenarnya ada apa?"

__ADS_1


Rhiana mengembalikan foto itu kemudian beranjak dari meja kerjanya. Dia menuju ke kamar mandi untuk mencuci muka. Dia berharap ini akan kembali menjadi lebih baik.


Sekembalinya dari kamar mandi, Rhiana masih sama seperti sebelumnya. Dia semakin cemas. Tidak tahu perasaan apa ini. Dia juga belum mencintai Kenneth secara serius walaupun sudah menjadi sepasang suami istri.


"Apa aku harus memejamkan mata sejenak?"


Rhiana naik ke ranjang. Dia mengambil selimut lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut tersebut. Sayang, usahanya tetap saja tidak berhasil.


Hingga suara gaduh di luar membuatnya lekas turun dari ranjang. Ya, Stella menggedor pintu kamar untuk memanggil Rhiana.


"Rhiana, buka pintunya!" teriak Stella panik.


"Ada apa, Ma?"


"Kenneth kecelakaan!"


Rhiana terpaku. Dia merasa melayang. Seperti tidak ada kekuatan untuk berdiri tegak. Dia terduduk ke lantai kemudian air matanya mengalir.


"A-apa yang terjadi?" Rhiana linglung.


Padahal baru pagi tadi keduanya bercengkrama. Saling bercanda satu sama lain. Detak jantung Rhiana seakan berhenti berdetak. Dia sangat ketakutan.


"Kenneth kecelakaan saat pulang dari kantor. Dia sedang tidak enak badan. Papamu memintanya untuk pulang menggunakan taksi, tapi dia menolak."


"Ba-bagaimana kondisi Kenneth, Ma? Apa dia baik-baik saja?"


Stella menggeleng. Dia juga tidak tahu. Itulah sebabnya saat ini mereka harus segera pergi ke rumah sakit.


"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang," ajak Stella.


Albert sudah tahu lebih dulu. Pasalnya pihak rumah sakit malah menghubungi lebih dulu. Lalu, Albert meneruskan kabar itu pada istrinya.


Kecemasan Rhiana semakin tidak menentu saat dalam perjalanan. Dia menangis tiada henti. Stella melihatnya sangat kasihan sekali.


Begitu cintanya kau pada putraku, Rhiana. Hingga aku yang bersikap kurang ajar ini ingin memisahkan kalian. Aku berjanji saat Kenneth baik-baik saja, maka tidak akan seorang pun kuizinkan untuk memisahkan kalian.


"Kau sangat mencintai anakku?" tanya Stella.


Rhiana menoleh sejenak lalu mengangguk pelan. Cuma itu yang bisa dilakukan saat ini. Sebelum dia bertemu dengan suaminya dan memastikan kondisi Kenneth baik-baik saja, Rhiana pasti merasa sedih dan takut kehilangan Kenneth.


Apa aku sudah mencintainya sekarang? Bagaimana kalau dia pergi meninggalkan aku untuk selamanya? Apa aku sanggup?


Ribuan pertanyaan bergelayut di benak Rhiana. Suami berondongnya itu sedang dalam keadaan yang bagaimana saat ini? Parahkah?

__ADS_1


__ADS_2