
Kondisi Kenneth yang sedang sakit tak menyurutkan niat lelaki itu untuk membahagiakan istrinya. Keesokan harinya, dia tidak pergi ke kantor melainkan membantu persiapan pameran yang akan berlangsung.
"Sayang, biarkan Samuel saja yang bantu aku," ucap Rhiana.
Beberapa manekin sudah dipajang di berbagai tempat yang akan menjadikan tempat itu sebagai pusat kegiatan pameran malam ini. Dia tidak menyangka antusias mama mertuanya terlihat saat membantu menata tempat pameran.
"Sayang, Mama kenapa?" bisik Kenneth pada istrinya.
"Entahlah, Kenneth. Sedari kemarin Mama banyak berubah. Atau, jangan-jangan Mama kerasukan?"
"Ssstt, serius? Mansion ini tidak ada setan modern, Sayang. Semuanya normal tanpa masalah. Jadi, itu tidak mungkin. Kurasa telah terjadi sesuatu pada Mama yang membuatnya berubah." Kenneth berbisik.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Stella.
"Oh, Mama. Tidak ada. Kami hanya sedang memikirkan penempatan beberapa manekin tambahan," kilah Kenneth.
"Oh, mama kira kalian membicarakanku. Oh ya, tamu mama malam ini banyak sekali. Jadi, kalian harus benar-benar menyiapkannya dengan baik. Oh ya, Rhiana. Terima kasih sudah menyiapkan satu gaun terindah untuk mama. Ya, walaupun desain yang mama minta belum selesai, ternyata kau juga memiliki rancangan tunggal yang belum dimiliki oleh orang lain. Terima kasih." Stella kemudian berlalu meninggalkan anak dan menantunya.
Kenneth refleks memeluk istrinya. Dia tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Mamanya sudah tidak memusuhi Rhiana lagi.
"Apakah itu artinya mama sudah merestui hubungan kita, Sayang?" tanya Kenneth dengan bahagia.
"Kurasa begitu, Kenneth. Ah, setidaknya aku bisa bekerja dengan tenang."
"Hemm, jangan lupakan progam kehamilan kita. Kalau bulan pertama kau tidak juga hamil, secepatnya kita harus pergi ke rumah sakit." Kenneth tidak mau menunda keinginannya untuk memiliki anak.
Waktu yang dinanti pun tiba. Baik Kenneth maupun Rhiana, mereka masih berada di kamar untuk bersiap. Sementara Samuel bertugas menjemput beberapa karyawan Rhiana yang akan membantu di dalam pameran ini.
Albert meminta Samuel untuk membawa mobil yang ada di mansion. Bukan yang biasa Rhiana pakai. Dia juga memberikan sejumlah uang untuk membeli makanan saat perjalanan. Albert sangat royal kepada Samuel sehingga pria itu pun sangat menghormati papa mertu bosnya itu.
__ADS_1
Stella tampak terlihat cantik dengan gaun barunya. Dia terus bercermin memandangi dirinya. Ini gaun yang luar biasa menurut Stella.
"Sayang, kau terus memandangi cermin seperti itu. Kenapa?" tanya Albert yang baru keluar dari kamar mandi.
"Mama tidak menyangka jika Rhiana sangat berbakat sekali. Padahal dulu saat mengasuh Kenneth, dia sama sekali tidak terlihat memiliki bakat mendesain gaun seperti ini. Aku sangat puas sekali dengan hasilnya. Pasti teman-teman sosialita mama iri melihat gaun ini," jelas Stella.
"Jadi, Mama sudah bisa menerima Rhiana sekarang?"
"Iya, Pa. Mama udah janji saat tahu Kenneth kecelakaan kemarin. Mama melihat banyak cinta dari mata Rhiana untuk putra kita. Maaf, selama ini aku yang membuat anak dan menantu kita merasa kesulitan."
"Kemarilah!" Albert merentangkan tangannya. Dia memeluk istrinya dengan sangat lembut. "Terima kasih. Kau sudah percaya pada putramu, kan? Rhiana tidak akan pernah menjauhkan Kenneth dari kita. Dia mau mengalah untuk membiarkan usahanya diurus oleh orang lain. Apakah Mama mau memberikan hadiah untuk Rhiana atau Kenneth?"
Stella terdiam. Kebahagiaan Kenneth adalah kebahagiaannya juga. Apalagi Rhiana sudah berhasil menyenangkan hatinya saat ini.
"Ehm, hadiahkan saja tempat baru untuk mengelola butik Rhiana di sini. Sementara di tempat lama, biarkan diurus oleh orang lain. Atau, kalau mau sekalian diboyong ke sini saja. Biar di sana dijual lalu masuk ke tabungan Rhiana. Untuk cucu kita juga, kan?"
Albert melepas pelukannya kemudian memegang kening Stella.
"Papa! Ini mama! Siapa lagi? Apa aku salah kalau bisa menerima Rhiana menjadi menantuku? Dia juga tidak buruk-buruk amat, kan?"
Albert tertawa. Dia bahagia sekarang. Itu artinya tidak ada lagi yang akan menjadi penghalang hubungan rumah tangga putranya.
Menjelang malam, para tamu undangan sudah hadir di sana. Mereka menunggu kehadiran Stella yang menyiapkan acara seperti ini. Apalagi kaum sosialita rata-rata wanita itu suka sekali dengan fashion.
"Stella! Acara ini sangat luar biasa. Sejak kapan kau memiliki desainer pribadi seperti ini?" tanya salah satu rekan sosialita.
"Oh, dia menantuku. Nanti kalau sudah keluar dari kamar, aku perkenalkan pada kalian. Gaunku ini juga dia yang desain khusus buat mama mertuanya." Stella memamerkan gaun rancangan Rhiana.
"Ini luar biasa, Stella. Aku mau dibuatkan khusus. Di mana menantumu?"
__ADS_1
"Tunggu! Sebentar lagi dia juga akan keluar. Sabar, ya!" Stella menoleh ke sana kemari hanya menemukan Albert di sana.
Tidak lama, pasangan suami istri yang ditunggu keluar. Mereka tampak terlihat anggun dan gagah dengan pakaian yang digunakan. Tidak hanya itu, pasangan muda itu memang tampan dan cantik. Banyak teman sosialita yang memuji betapa beruntungnya Stella memiliki menantu sepertinya.
"Wah, menantumu cantik dan luar biasa. Aunty mau juga dibuatkan gaun seperti mama mertuamu. Nanti minta nomor yang bisa dihubungi, ya? Serius, beberapa rancangan yang sudah kulihat, kau benar-benar luar biasa, Sayang."
"Terima kasih, Aunty. Nanti akan kami bagikan kartu nama. Biar bisa konsultasi desain langsung denganku," ucap Rhiana ramah.
Para tamu undangan sangat iri dengan apa yang dimiliki Stella. Suami yang mapan, tampan, anak yang tampan, dan menantu yang cantik. Ditambah lagi dengan talenta yang dimiliki menantunya menjadikan nilai plus bagi semua yang hadir.
Para tamu undangan sedang berkeliling menikmati pameran kecil, tetapi sangat menarik. Gaun-gaun yang dipajang pun memang diproduksi limited edition. Rhiana memang tidak terlalu suka memproduksi banyak gaun. Walaupun biaya produksinya mahal, tetap saja membuat klien puas.
"Sayang, aku tidak menyangka acara ini akan berlangsung dengan lancar," ucap Kenneth sambil memeluk pinggang istrinya.
"Ini juga berkat mama, papa, dan semua orang yang ada di sini. Terutama kau, Sayang," ucap Rhiana.
"Apa? Bisa kau ulangi lagi ucapanmu itu?"
"Itu juga karenamu, Sayang."
Kenneth malah memeluk Rhiana dengan sangat erat hingga menjadi pusat perhatian. Albert memang berhati mulia. Dia memberikan 3 gaun untuk masing-masing tamu undangan yang berhasil membuat Stella tertawa. Ini sangat lucu dan sama sekali belum pernah terjadi di mansionnya.
"Apa? Papa mau meminta mereka untuk membuat mama tertawa? Ada-ada saja!" tolak Stella.
Kenneth dan Rhiana pun memaksa hingga acara itu berlangsung dengan sangat luar biasa. Pemenang lomba dadakan ini sangat senang mendapat hadiah gaun limited edition secara cuma-cuma.
"Sering-seringlah adakan acara seperti ini, Stella. Kami sangat menikmatinya."
"Iya, Tuan Albert. Setidaknya buat even seperti ini sebulan sekali."
__ADS_1
"Nanti kalau butik Rhiana sudah resmi pindah ke sini, kita akan adakan di butik. Bagaimana?" usul Albert.
Rhiana sama sekali baru tahu kalau Albert sudah siap memindahkan butiknya ke dekat mansion. Namun, Albert pasti punya alasan khusus sehingga belum menyampaikan kabar baik itu kepada menantunya.