
Albert sudah berada di depan IGD. Menurut beberapa informasi yang didapat, dari kecelakaan itu memang ada yang meninggal dunia. Namun, Kenneth masih beruntung karena dia mengalami tabrakan beruntun. Bukan dari Kenneth sendiri, tetapi mobil Kenneth ditabrak mobil lain.
"Pa, bagaimana kondisi Kenneth?" tanya Stella.
"Ah, akhirnya kalian datang juga. Kenneth masih berada di dalam. Sedang ditangani dokter. Aku pun belum tahu bagaimana kondisinya saat ini."
"Papa, parahkah?" tanya Rhiana. Dia terlihat sembab karena sedari tadi menangis terus.
"Papa belum tahu, Rhi. Doakan saja yang terbaik."
Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya mereka diizinkan untuk melihat kondisi Kenneth. Rhiana lah orang pertama yang masuk melihat suaminya. Sebenarnya Albert dan Stella juga ingin melihatnya, tetapi kali ini Stella meminta Rhiana masuk lebih dulu.
"Kau duluan saja. Mama dan Papa masih ada yang perlu dibicarakan sebentar," ucap Stella dibarengi dengan pandangan aneh dari Albert.
"Terima kasih, Ma." Rhiana langsung masuk ke ruangan IGD.
Kenneth memang diinfus, tetapi sepertinya dia sangat kesakitan. Sampai pada Rhiana datang, lelaki itu malah tersenyum menatap sang istri.
"Sayang, kenapa dengan matamu? Apa yang terjadi?" tanya Kenneth dengan suara pelan.
"Dasar bodoh! Aku sangat khawatir saat mama memberikan kabar buruk itu. Rasanya setengah hidupku hilang!" keluh Rhiana.
"Hemm, sabar. Aku malah terkejut saat sebuah mobil tiba-tiba menghantam mobilku. Aku masih setengah sadar, lalu entah tiba-tiba aku berada di sini."
"Mana yang sakit?"
Kenneth malah menunjukkan pipinya.
"Jangan bercanda, Kenneth! Ini tidak seru!" Rhiana mencubit tangan Kenneth.
"Auw, sakit, Sayang! Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Apa kau mengkhawatirkan suamimu?"
Dalam kondisi seperti ini, Kenneth masih saja bisa bercanda. Sungguh membuat Rhiana kesal padanya.
"Aku hanya takut kalau nantinya anakku tidak memiliki papa," jelas Rhiana yang membuat Kenneth semakin gemas pada tingkah istrinya.
__ADS_1
"Sudahlah. Bilang saja kalau kau cinta padaku. Jangan tinggi gengsi. Beruntung aku masih hidup. Kalau sampai aku ma—"
"Cukup, Kenneth! Aku tidak mau mendengar omong kosongmu itu. Ya, aku mencintaimu! Puas kau?"
Rhiana menutup mulut suaminya dengan salah satu jari telunjuk agar lelaki itu berhenti terus menggodanya.
"Mama dan Papa ada?"
"Ada di luar. Mau kupanggilkan?"
"Iya. Tolong panggilkan."
Tidak lama, pasangan suami istri itu sudah berada di sisi brankar putranya. Stella beruntung karena Kenneth baik-baik saja.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?"
"Kenneth baik, Ma. Mama jangan khawatir. Kenapa hari ini semua wanita kesayanganku cengeng semua? Kenneth baik-baik saja. Sebentar lagi juga boleh pulang. Yang lecet hanya mobilnya," jelas Kenneth.
"Dasar anak nakal! Mama sangat khawatir sekali, Sayang."
Rhiana memang sengaja membiarkan kedua orang tua itu bersama putranya. Dia lebih baik menunggu di luar karena tidak ingin mengganggu.
"Mama dan Papa cukup jaga Rhiana dengan baik. Itu saja. Masalah mobil, setelah dari sini biar diurus oleh asuransi. Kalaupun harus melalui jalan rumit, kita bisa bawa ke bengkel lalu diperbaiki. Seribu mobil bisa aku beli, tapi satu wanita langka bernama Rhiana itu sangat sulit sekali dicari. Jadi, tolong bantu aku menjaga aset terpenting dalam hidupku," jelas Kenneth.
Kenneth benar. Selama ini Stella yang terlalu berlebihan. Walaupun harta kekayaan keluarganya banyak, tetapi Rhiana masih terus bekerja keras. Dia juga tidak peduli sekuat apa pun Stella berusaha memisahkan, dia tetap bertahan. Bagaimana jadinya kalau Rhiana benar-benar berpisah dari putranya? Stella tidak sanggup melihat Kenneth depresi atau gila.
"Iya, Sayang. Mama janji!" jawab Stella sambil mengelus puncak kepala putranya.
Albert tersenyum lega. Hubungan Rhiana dan Kenneth akan baik-baik saja jika Stella sudah berubah seperti itu. Jangan sampai istrinya kembali seperti dulu lagi. Beruntung karena kecelakaan ini bisa mengubah sikap mama mertua terhadap menantu.
"Jadi, kau hari ini bisa pulang? Kalau memang masih ada masalah serius, lebih baik tetap di sini," jelas Albert.
"Tidak masalah, Tuan. Putra Anda sangat kuat untuk bangkit dari syok yang dialaminya. Itu bukan masalah serius. Keberuntungan berpihak pada putra Anda," sahut dokter yang kebetulan sedang visit pasien.
"Oh, Dokter. Terima kasih atas penjelasannya yang sangat membahagiakan bagi keluarga kami. Kami akan mensyukuri atas apa yang telah terjadi hari ini. Putra kami baik-baik saja," ucap Albert.
__ADS_1
"Tentu. Tinggal beberapa jam saja, Tuan Kenneth bisa kembali ke rumah. Tunggu dengan sabar, ya," pinta dokter.
Ada beberapa hal yang harus diperiksa sebelum pasien meninggalkan ruang IGD. Apalagi penyelidikan tentang kecelakaan itu masih berlangsung. Beberapa polisi akan datang meminta keterangan darinya.
Waktu yang ditunggu pun tiba. Kenneth didorong menggunakan kursi roda untuk sampai ke mobil mamanya. Albert pun ikut di dalam mobil yang sama.
"Apa kalian mau mampir ke suatu tempat?" tanya Albert.
"Langsung pulang ke mansion saja, Pa. Aku sudah rindu kamarku," jawab Kenneth asal. Padahal dia sudah rindu dengan istrinya. Kejadian tadi sempat membuat Kenneth berpikir akan berpisah jauh dari Rhiana. Ternyata Tuhan belum mengizinkan Kenneth untuk meninggalkan sang istri.
"Rhiana mau mampir beli buah dulu, Pa."
Beberapa hari terakhir ini, Rhiana sangat senang sekali makan buah-buahan. Mungkin dia sedang mengalami fase bosan memakan makanan berat yang disiapkan pelayan mansion.
"Hemm, baiklah. Katamu Samuel juga akan datang sore ini. Apa dia sudah mengabarimu?" Albert mengingatkan.
"Belum, Pa. Ponselku ketinggalan di mansion. Kalaupun dia sudah sampai pasti langsung menuju ke sana."
Rhiana benar. Samuel bukan pertama kalinya datang ke mansion. Jadi, kemungkinan dia akan datang tepat pada waktunya.
Setelah berkeliling membeli beberapa buah-buahan, mereka kembali ke mansion dengan segera. Saat mobil baru saja masuk, Samuel sudah menunggu di sana dengan mobil box yang dibawanya.
"Ah, Nyonya Rhiana. Aku mencoba menghubungi Anda, tetapi tidak ada yang menjawab," ucap Samuel panik.
"Iya, Sam. Maaf, ya. Suamiku baru saja mengalami kecelakaan. Kami baru dari rumah sakit untuk menjemputnya. Oh ya, kau bisa letakkan semua barang itu di tempat yang akan ditunjukkan maid padamu. Kalau kau memerlukan sesuatu, bisa minta pada mereka," jelas Rhiana.
"Baik, Nyonya."
Kenneth sudah dibawa masuk ke kamar. Rhiana segera menyusulnya. Sesampainya di sana, Kenneth masih saja memberikan senyum termanisnya.
"Kau panik kan saat tahu aku kecelakaan," ucap Kenneth.
"Tidak. Aku biasa saja."
"Hemm, jangan bohong! Mama sudah cerita semuanya sebelum keluar dari kamar ini. Aku malah bersyukur karena kau mengkhawatirkan aku. Terima kasih, Sayang. Kemarilah!"
__ADS_1
Kenneth rindu sekali ingin mengecup, memeluk, dan memberikan kebahagiaan dunia kepada istrinya. Rhiana pun menurut sehingga Kenneth memberikan kecupan kemudian ciuman mesra sampai keduanya lupa pada kondisinya saat ini.