
Rhiana memejamkan mata. Dulu, dia bertahan di mansion Nathanael sekitar 10 tahun. Dari tabungannya, Rhiana bisa membuka butik kecil. Kemudian dia belajar banyak hal sampai akhirnya bisa sebesar itu. Apartemennya dibeli secara kredit, itu pun baru lunas bulan kemarin.
Lalu, sekarang masalahnya adalah Kenneth. Dari pengasuhannya, lelaki itu tidak akan pernah menyerah sampai apa yang diinginkan itu berada dalam genggamannya. Apakah Rhiana harus kalah dengan keinginan Kenneth? Terlebih usianya jauh berbeda. Kenneth 21 tahun, sedangkan Rhiana 35 tahun.
Selisih 14 tahun bukan jarak yang pendek. Akan banyak perbedaan yang akan mereka jalani. Kedewasaan, keinginan, dan tujuan hidup. Kenneth masih muda. Tujuan hidupnya pasti hanya untuk bersenang-senang. Sementara Rhiana, sebentar lagi usianya memasuki setengah abad. Walaupun masih perlu waktu 15 tahun lagi.
"Kurasa kau salah makan, Kenneth. Lupakan tentangku! Kau bisa cari gadis lain seusiamu, bukan? Kita akan jadi teman. Kau bisa mencurahkan semua kegundahan hatimu."
Menerima salah, menolak pun tidak akan bisa. Sungguh sangat dilema sekali. Andaikan Rhiana sudah menikah, tentu tidak akan terjadi hal seperti ini.
"Aku tidak mau, Rhiana. Kau cuma punya dua pilihan. Menerima atau menolakku?"
Oh Tuhan, apalagi ini? Sebenarnya bisa saja Rhiana menjawab tidak, tetapi dia tahu betul siapa yang dihadapi. Justru itu akan mempersulit pekerjaannya di butik. Kenneth akan terus memberikan teror-teror yang membuat Rhiana menyerah.
"Aku menerimamu—"
"Iyey, terima kasih, Rhiana!" seru Kenneth riang. Dia langsung memotong ucapan Rhiana kemudian mendekati pengasuhnya itu lalu berani menggenggam tangannya.
"Apa yang kau lakukan? Aku belum selesai bicara!" Rhiana menepis tangan Kenneth.
Kenneth mundur lalu membiarkan Rhiana melanjutkan ucapannya. Mungkin akan memberikan syarat dan pesan-pesan khusus untuk hubungan yang tidak biasa ini.
"Aku menerimamu, bukan berarti kau bebas melakukan apa pun kepadaku. Lalu, kau tidak bisa menunjukkan aku ke muka publik karena kita jelas berbeda. Kehidupan keluargamu dan aku tidak seimbang, Kenneth. Sebelum kau mengatakan ungkapan perasaanmu itu, apa kau sudah berpikir matang-matang pada penolakan yang akan ditunjukkan mamamu pada hubungan ini?"
Kenneth terdiam. Saat ini Stella gencar sekali menjodohkannya dengan para gadis muda. Seperti Serry, Samantha, dan kebohongannya tentang Jane. Lalu, tiba-tiba Kenneth memiliki kekasih berumur bernama Rhiana. Semua orang juga tahu, apa hubungan Rhiana dengan dirinya? Hanya sebatas pengasuh.
"Kau jangan khawatir, Rhiana. Aku akan mengatasi semua itu." Kenneth mencoba meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
Itu hanya omongan yang sifatnya bulshit! Membawa dirinya saja sudah susah seperti itu, bagaimana dia mampu mempertahankan hubungan ini di hadapan orang lain?
"Kau tidak akan mampu, Kenneth! Mamamu akan menentang hubungan ini. Sebelum itu benar-benar terjadi, lebih baik lupakan aku! Hiduplah secara normal. Bergaul dengan gadis-gadis seusiamu. Kau akan menemukan cinta yang tulus di sana," pesan Rhiana.
Kenneth mana mau peduli. Dia hanya peduli jika Rhiana akan menjadi miliknya. Dia bahkan tidak akan pernah peduli rintangan dan halangan yang membentang. Segalanya dilakukan hanya untuk memiliki Rhiana. Lambat laun mamanya pasti akan mengerti keputusannya.
"Kau ini menerimaku atau menolakku?" tanya Kenneth. Dia sangat kesal sekali diceramahi seperti itu.
Rhiana duduk di sofa. Kenneth duduk bersimpuh di hadapannya. Dia mencoba menjadi pria sejati dengan memberanikan diri menggenggam erat tangan Rhiana. Tidak hanya satu, tetapi keduanya.
"Rhiana, selama ini kau anggap cintaku salah, bukan? Tidak masalah, tetapi perjuanganku untuk mendapatkanmu sejauh ini tidak akan membuatku menyerah. Walaupun hujan badai sekali pun, aku akan tetap mengejarmu. Berikan kesempatan ini padaku. Setidaknya sampai aku berani membawamu ke hadapan orang tuaku kemudian mengatakan padanya bahwa kau layak mendampingiku," ungkap Kenneth saat Rhiana terdiam.
Rhiana menggeleng. "Aku hanya debu di mansion mewah, Kenneth. Aku bukan siapa-siapa, bahkan aku tidak tahu siapa orang tuaku. Sejak kecil aku sudah hidup sendirian. Sampai mati pun aku akan tetap sendiri."
"Tidak! Kau akan mati bersamaku!" seru Kenneth.
"Jangan membual! Biasanya lelaki akan menunjukkan bualannya itu hanya untuk menggoda para wanita. Setelah dia mendapatkannya, maka secepatnya akan dicampakkan," tegas Rhiana.
Salah satu pengalaman pahit di dalam hidup Rhiana. Seperti yang sudah disebutkan barusan. Itulah mengapa dia anti sekali kepada para pria.
"Aku bukan mereka, Rhiana. Kau bisa buktikan ucapanku!"
Ah, lagi-lagi anak nakal ini membual di hadapan Rhiana. Harus menggunakan cara apalagi agar Kenneth sadar, kemudian melepaskan Rhiana?
"Kalau begitu pertemukan aku dengan Nyonya Stella. Setelah kau mendapatkan restu darinya, maka aku akan yakin dengan semua ucapanmu!"
Sial! Ini namanya cari mati. Kenneth ingin menikmati kebersamaannya, menggali informasi tentang Rhiana, kemudian baru melangkah ke jenjang selanjutnya.
__ADS_1
Kenneth berdiri. Dia kembali duduk ke sofa kemudian memijit keningnya. Sekarang dia bingung. Apalagi yang akan dikatakan pada Rhiana?
Setelah itu tidak ada pembicaraan. Malam ini dia harus mencari akal supaya bisa berada di sisi Rhiana sampai wanita itu melunak. Ah, rasanya sangat rikuh menyebutnya wanita. Menurut Kenneth, itu tidak sebanding dengan dirinya.
"Sudah tidak ada lagi yang mau dibicarakan, kan? Silakan keluar dari unitku!"
Kenneth tidak bergeming. Namun, tiba-tiba dia tersenyum menatap wajah Rhiana. Dia seperti seorang anak kecil yang masih manja dan menggemaskan. Jika Kenneth tidak membuat Rhiana kesal, dia pasti mendapatkan tempat yang nyaman. Lalu, dia tidak akan berdebat sepanjang hari dengan Rhiana. Ini benar-benar melelahkan.
"Bolehkah malam ini aku tidur di sini?" Kenneth menunjuk sofa.
"Tidak! Lebih baik kau pulang sekarang. Pantang laki-laki dan wanita berada di dalam unit berduaan saja!" tolak Rhiana.
"Aku di sini belum punya tempat tinggal. Tolong berbelas kasihlah padaku semalam saja. Aku janji tidak akan mengganggumu," rayu Kenneth.
Sebenarnya Rhiana kasihan sekali. Mungkin sudah tiga harian Kenneth berada di sini. Dia juga bekerja di restoran yang sudah didatangi Rhiana hari ini.
"Baiklah, tapi ingat. Jaga batasanmu!" pesan Rhiana kemudian meninggalkan Kenneth sendirian.
Kenneth harus kembali ke mobil untuk mengambil baju ganti. Seharian ini seharusnya dia sudah membersihkan diri, tetapi gara-gara mengejar Rhiana, semuanya jadi kacau.
Ponselnya terus saja berdering. Panggilan dari mama, papa, dan Jane terus saja tiada henti. Namun, Kenneth malas mengangkatnya.
Saat kembali, rupanya Rhiana di ruang tamu. Ponselnya sengaja ditinggalkan di sana untuk mengambil baju ganti. Setelah ini dia akan meminta izin Rhiana untuk menggunakan toilet.
"Gadismu terus saja menelepon. Lebih baik kau angkat dulu agar dia tidak salah paham padaku," pesan Rhiana kemudian menuju ke dapur.
Ah, belum apa-apa Rhiana sudah cemburu padanya. Baguslah, itu artinya tidak sia-sia usahanya selama ini. Padahal sebenarnya Rhiana ingin membuat Kenneth sadar bahwa dia dan Rhiana tidak sejalan.
__ADS_1