
Sepertinya pendengaran Rhiana mulai terganggu. Ucapan Kenneth seperti sebuah petir di siang bolong. Rhiana terkejut dengan ucapan Kenneth barusan.
"Kau masih anak kemarin sore, Kenneth. Tidak pantas mengatakan itu kepada pengasuhmu! Lebih baik kau pergi sekarang dan lupakan semuanya."
Rhiana bukan gadis kemarin sore yang tidak memahami apa arti kata menyukai. Sudah banyak pria yang mengejarnya dengan dalih satu kata itu. Makanya dia merespon buruk terhadap ungkapan hati Kenneth.
"Tidak bisa, Rhiana. Kau boleh mengejekku sepuas hatimu, tetapi berikan aku kesempatan untuk bisa dekat denganmu." Kenneth masih berjuang sekali lagi untuk hati dan perasaannya.
"Maaf, aku tidak suka laki-laki sepertimu. Kau masih muda, masa depanmu masih panjang. Mengejar wanita sepertiku butuh modal besar. Kau harus sukses lebih dahulu, baru kau bisa mendapatkan aku!"
Syarat yang diajukan Rhiana salah satunya adalah cara untuk menolak Kenneth secara nyata. Tidak akan mungkin dia bisa berhasil dalam waktu singkat. Terlebih usia Rhiana semakin hari akan menjadi tua. Saat Kenneth berhasil, maka Rhiana sudah pasti akan menjadi milik orang lain.
"Baiklah. Aku terima tantanganmu." Kenneth menarik mundur kakinya sehingga Rhiana langsung menutup pintu itu tanpa melihat lagi ke arahnya.
Berada di dalam kamar, Rhiana merasa hidupnya berakhir hari ini. Dia tidak menyangka dengan tindakan Kenneth yang sangat tidak masuk akal.
"Apa tujuanmu sebenarnya, Kenneth? Kau hanya anak kecil yang pernah kuasuh dulu. Kau tidak akan bisa menjadi pasanganku. Apalagi sampai memaksa hatiku untuk masuk ke dalam kehidupanmu."
Bagi Rhiana, Kenneth seperti sebuah pantangan. Dia menyadari bahwa cinta atau kasih sayang bisa tumbuh dari mana saja. Rhiana tidak buta dan tuli sehingga dia menyadari apa yang sebenarnya dilakukan Kenneth padanya.
Kenneth berusaha mengejarnya seperti para pria pada umumnya. Niat mereka untuk menjadikan Rhiana kekasih kemudian mencampakkannya di tengah jalan. Rhiana sudah cukup lelah menghadapi beberapa pria model seperti itu. Itulah mengapa dia sama sekali tidak tertarik untuk menjalani hubungan serius atau apa pun itu. Semuanya mengecewakan hatinya.
Rhiana sudah memutuskan untuk kembali ke apartemen sore ini. Terlebih saat tahu Kenneth berada di resort yang sama dengannya. Ini namanya bukan liburan, tetapi tekanannya sungguh bertambah.
Berada di kamar lain, Kenneth merasa puas sudah mengutarakan isi hatinya. Walaupun mendapatkan penolakan, itu hal yang wajar. Kenneth harus berjuang keras untuk mendapatkan Rhiana. Semakin dia menolak, Kenneth akan maju dua langkah untuk mendapatkannya.
"Baiklah, Nona Rhiana. Aku akan membuktikan semua ucapanmu bahwa aku mampu dan bisa."
Setelah merasa yakin, Kenneth menjadi bimbang. Dia bisa saja bekerja di perusahaan papanya, tetapi risikonya harus jauh dari Rhiana. Dia harus memikirkan cara lain agar bisa dekat dengan Rhiana dan membuktikan bahwa dia mampu berdiri dengan kedua kakinya.
__ADS_1
Sementara di mansion, Stella sedang pusing memikirkan cara untuk melakukan negosiasi dengan Serry. Masalah ini bermula karena Kenneth sendiri.
Saat sedang gundah, Albert baru saja pulang kerja. Melihat wajah manyun sang istri membuatnya harus menahan rencana untuk langsung masuk ke kamar.
"Apa yang membuatmu merasa gundah seperti itu, Sayangku?" tanya Albert.
"Ini karena putramu, Albert. Aku sudah membuat janji dengan Serry, tetapi tiba-tiba hari ini dia pergi begitu saja. Apa yang harus aku katakan pada Serry?"
"Katakan seadanya. Bilang saja kalau Kenneth sedang pergi dengan teman-temannya."
"Masalahnya, aku tidak tahu dia pergi dengan siapa. Beberapa hari ini tingkahnya sangat aneh. Dia sama sekali tidak mau berbicara secara jujur kepadaku," sesal Stella.
Albert mencoba mencerna setiap keluhan yang disampaikan istrinya. Ingatannya kembali pada pertanyaan Kenneth beberapa hari yang lalu tentang Rhiana. Mungkin saja Kenneth hanya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada pengasuhnya.
"Sabar, Sayangku. Mungkin saja dia ingin menikmati liburannya dulu. Lalu, dia akan membantuku di perusahaan. Oh ya, ngomong-ngomong, siapa sebenarnya Serry?"
Niat Stella ingin memperkenalkan para gadis agar hidup putranya sangat berwarna. Selain itu, tujuannya agar dia bisa melihat putranya seperti laki-laki pada umumnya. Memiliki kekasih, pergi berkencan, dan membuat komitmen masa depan.
"Oh, ayolah, Sayang. Jangan buat hidup putramu semakin rumit. Biarkan saja dia dengan dunianya. Saat dia yakin memutuskan memilih seorang gadis, dia akan datang padamu lalu memperkenalkannya."
Terkadang saran Albert tidak bisa didengar. Masalahnya itu sangat bertolak belakang dengan keinginan Stella. Dia akan tetap mempertemukan Serry dengan Kenneth.
Stella pun mengambil ponselnya. Dia mencoba mengirimkan pesan pada Serry untuk mengajaknya pergi berbelanja kemudian mampir ke salon esok lusa. Semoga saja gadis itu setuju pergi dengannya.
Serry Qianzy, gadis muda yang saat ini usianya 20 tahun tentunya akan memilih arah yang berbeda. Saat menerima pesan dari Stella, gadis itu seakan tidak peduli. Dia hanya peduli jika pertemuannya dengan Kenneth berjalan lancar.
"Huft, dia pikir aku akan pergi begitu saja," gumam Serry.
Malas sekali harus pergi dengan wanita yang berbeda generasi dengannya. Rasanya seperti pergi bersama mamanya saja.
__ADS_1
Serry mengirimkan pesan balasan bahwa dia tidak bisa ikut pergi bersama Stella. Saat tahu bahwa gadis itu menolak, Stella merasa sedih.
"Ada apa, Sayang?" Albert sangat peka bila berhadapan dengan istrinya. "Dia menolaknya, bukan?"
Stella mengangguk.
"Sudah kubilang padamu, bukan? Jangan libatkan gadis-gadis itu dengan putramu. Lebih baik kau nikmati hidup ini. Berhentilah mengurusi pada gadis itu, maka kau dan putramu akan semakin dekat."
Terkadang Albert benar, tetapi naluri seorang mama kepada putranya juga benar. Tidak mudah mendekati atau mendapatkan hati Kenneth. Itulah sebabnya Stella mencoba ikut campur dalam urusan percintaan sang putra.
"Aku takut kalau dia memilih orang yang salah, Albert. Seperti para orang tua kita, bukan? Mereka akan berlomba untuk mendapatkan jodoh terbaik untuk putra ataupun putrinya."
Albert merengkuh istrinya ke dalam pelukan. Rasanya begitu hangat dan nyaman.
"Percayalah pada Kenneth, Sayang. Dia akan menemukan pasangan terbaiknya."
Stella takut kalau gadis yang dibawa tidak sesuai dengan kriterianya. Stella membutuhkan gadis cantik, berkelas, dan sepadan dengan keluarganya.
"Bagaimana kalau gadisnya tidak seperti yang kuharapkan?" Stella memandang wajah suaminya.
"Maka kau harus menerimanya, Sayang. Ingat, apa pun keputusan Kenneth, itu yang terbaik untuk kita semua. Jangan memaksakan kehendak kepadanya."
Berulang kali Albert mengingatkan pada Stella untuk tidak ikut campur pada urusan Kenneth. Ribuan kali cara Stella untuk mencobanya.
Saat semuanya sudah dibatalkan oleh Stella, tiba-tiba Kenneth kembali ke mansion. Dia sangat terkejut saat putranya kembali dengan membawa misi yang berbeda, yaitu tentang tantangan seorang gadis padanya.
"Apa katamu?" tanya Stella keesokan harinya.
"Aku mendapatkan tantangan dari seorang gadis jika ingin mendapatkan hatinya. Maka aku harus menjadi laki-laki mandiri," jelas Kenneth di hadapan Stella.
__ADS_1
Bukan masalah tentang rencananya, tetapi siapa gadis yang membuat putranya berubah lebih cepat?