
Albert dan Stella baru saja turun dari pesawat. Mereka mendapatkan kabar jika cucu laki-lakinya telah lahir. Orang tuanya sudah memberikan nama, tetapi kakek dan neneknya belum tahu nama cucu mereka.
"Kenneth sudah membuat kita penasaran, Pa. Selepas dari bandara, aku langsung ke rumah sakit."
"Ma, sebaiknya kita pulang ke mansion dulu. Meletakkan koper, membersihkan diri, lalu kita pergi ke rumah sakit dengan membawakan beberapa hadiah. Mungkin kita bisa membawa buket bunga atau buah-buahan. Rhiana baru saja melahirkan. Dia pasti tidak nyaman kalau kita datang setelah bepergian," jelas Albert.
Stella sangat tidak sabaran. Dia harus menunggu beberapa jam lagi untuk sampai ke rumah sakit.
"Pa, ini memerlukan waktu yang lumayan lama. Sampai di mansion, Papa jangan lama-lama di kamar mandi. Aku pun ingin segera membersihkan diri lalu pergi melihat cucuku. Ah, pasti sangat tampan seperti Kenneth. Apalagi cucu laki-laki. Ini merupakan kebahagiaan tersendiri," ungkap Stella.
Ucapan Stella benar. Albert sendiri sebenarnya sudah tidak sabar untuk segera menemui cucunya. Sementara di rumah sakit, pertama kalinya Kenneth melihat sosok bayi mungil yang tampan dan sangat menggemaskan. Walaupun saat ini hanya tidur, menangis, dan terkadang minta minum ASI.
Kali ini Dudley sedang tertidur pulas. Sementara Rhiana baru saja menikmati makannya setelah dianjurkan untuk menahan diri tidak makan dan minum selama beberapa jam hingga dokter baru mengizinkan bisa makan kembali.
"Sayang, Dudley tampan, bukan?" ucap Rhiana.
"Tentu. Dia adalah duplikatku," ujar Kenneth dengan bangganya.
"Tidak. Dia harus meniru aku sepenuhnya. Aku tidak mau dia sepertimu. Menyebalkan."
"Sayang, aku sekarang sudah menjadi seorang daddy. Mana mungkin aku sangat menyebalkan? Aku harus belajar banyak darimu."
"Ah, ini yang paling berat dalam hidupku." Rhiana mengeluh.
"Kenapa? Apa ada yang salah?"
"Tidak. Takdirku memang rumit. Setelah mengasuh papanya, kini aku ganti harus mengasuh anak dari anak asuhku sendiri. Rumit, kan?"
Kenneth tertawa. Ya, dia hampir lupa kalau Rhiana pernah menjadi bagian terpenting di dalam hidupnya.
"Kita akan asuh Dudley bersama-sama."
"Kau yakin?"
Rhiana mana bisa percaya dengan ucapan suaminya. Terkadang dia menjadi orang yang paling menyebalkan di dunia ini. Kadang juga hadir seperti malaikat pelindungnya.
Pintu kamar rawatnya diketuk. Lalu, dua orang tua masuk. Siapa lagi kalau bukan Albert dan Stella? Albert membawa 1 buket bunga dan buah-buahan. Stella hanya datang membawa diri karena semua sudah diserahkan kepada sang suami.
__ADS_1
"Wah, tampannya cucu mama. Siapa namanya? Awas kalau kalian kasih nama jelek untuk cucu mama. Mama pasti akan ganti dengan yang lebih bagus," cerocos Stella.
"Mam, jangan keras-keras. Cucu kita sedang tidur. Mama tidak mau kan dikatakan cerewet oleh cucu kita itu?" tanya Albert.
Kenneth dan Rhiana tertawa kecil mendengar kelucuan yang dilontarkan orang tuanya. Tidak hanya itu, sebenarnya Stella ingin segera menggendongnya. Hanya saja bayi mungil itu benar-benar pulas.
"Jadi, siapa namanya? Kalian tidak lupa memberikan nama keluarga kita, kan?" Stella paling tidak sabar menunggu nama cucunya diumumkan.
"Namanya Dudley Nathanael, Ma. Apa Mama suka?" tanya Kenneth.
"Wah, nama yang bagus itu. Papa suka," sahut Albert. Apa pun nama pemberian orang tua pasti sudah dipikirkan dengan matang.
"Wah, baby D. Tampan, imut, dan menggemaskan. Mama sudah tidak sabar ingin menggendongnya."
Stella berisik sehingga membuat baby D menangis. Mungkin tidurnya merasa terganggu.
"Nah, gara-gara Mama itu," ucap Albert.
"Papa, cucu kita tahu kedatangan kita kemari." Stella segera mengambil Dudley lalu menggendongnya. Bayi itu seketika diam. "Nah, dia diam, kan? Berarti memang sedang menunggu mama."
Kebahagiaan keluarga Nathanael belum berakhir sampai di situ. Setelah beberapa hari menginap di rumah sakit, hari ini Rhiana sudah diizinkan pulang.
Betapa repotnya keluarga Nathanael menyiapkan box bayi, beberapa mainan, dan pelengkap lainnya untuk bayi laki-laki. Memang tidak ada persiapan sama sekali.
Seperti biasa, Albert selalu memberikan kebahagiaan kepada orang lain apabila dirinya mendapat kebahagiaan. Hari ini mansion sengaja membuat acara untuk penyambutan kehadiran bayi Dudley bersamaan dengan pemberian hadiah untuk seluruh pekerja mansion Nathanael.
"Jadi, apa kau suka dengan box bayinya?" tanya Albert. Rupanya sang kakek lah yang membelikan box itu untuk cucunya.
"Terima kasih, Pa. Maaf, bukannya kami tidak mau menyiapkan. Papa tahu sendiri kan, kalau Dudley sama sekali malu-malu menunjukkan dirinya."
"Tidak apa-apa, Rhiana. Oh ya, bersiap-siaplah. Sebentar lagi acara akan dimulai. Sementara Dudley biar dipersiapkan oleh baby sitter. Mama sudah carikan baby sitter untuk Dudley sampai kau benar-benar bisa memegangnya sendiri. Papa tahu kalau luka operasi tidak semudah melahirkan biasa."
"Terima kasih, Pa."
Setelah Albert keluar, Kenneth pun masuk. Dia membawakan istrinya air minum dan beberapa makanan.
"Siap untuk acara hari ini?"
__ADS_1
"Tentu, Sayang. Ini merupakan hari bahagia kita semua, bukan?"
Albert sengaja mengundang beberapa perwakilan dari perusahaan dan butik. Selain itu, dari seluruh maid dan pekerja di mansion sudah cukup banyak. Ini merupakan perayaan pertama kalinya menyambut kehadiran bayi.
Stella terlihat sangat sibuk. Dia yang memberikan komando kepada para maid untuk menyiapkan makanan, menata tempat, dan menyiapkan bingkisan hadiah untuk seluruh tamu undangan. Perayaan yang lumayan menguras tenaga, waktu, dan pikiran karena dilakukan secara mendadak.
"Bagaimana? Apa makanan sudah siap? Lalu, bagaimana dengan minumannya? Apa sudah disiapkan tempatnya?"
"Sudah semua, Nyonya. Tinggal meletakkan beberapa bingkisan untuk semua tamu dan maid yang ada di mansion ini. Selebihnya sudah mencapai 80 persen persiapannya."
"Baiklah. Segera selesaikan. Satu jam lagi acara akan dimulai."
Tentunya perayaan tanpa adanya seksi dokumentasi tidak akan berjalan dengan sempurna. Albert sudah menyiapkan fotografer profesional yang akan menjadikan perayaan kelahiran Dudley ini sangat lengkap.
Kenneth, Rhiana, dan baby D sudah duduk di tempat yang sudah disediakan. Sementara kakek dan neneknya berdiri tidak jauh dari tempat mereka.
"Selamat sore. Maaf, kehadiran cucu laki-laki pertama keluarga kami sudah membuat kalian harus repot-repot seperti ini. Namun, semua itu tidak terlepas dari kebahagiaan yang akan kita rayakan bersama-sama. Bersamaan dengan hadirnya cucu laki-laki kami yang diberi nama Dudley Nathanael, pihak mansion akan memberikan beberapa hadiah untuk dinikmati para pekerja mansion, kantor, maupun butik. Semuanya tidak akan dibedakan karena sudah berjasa besar dalam keluarga kami," ucap Albert.
"Sebagai orang tua baru, kami turut mengucapkan terima kasih kepada mama dan papa yang selalu menjadi support sistem di dalam rumah tangga kami. Walaupun sempat terjadi ketegangan, kami berhasil melewatinya dengan sangat baik. Terima kasih juga pada kalian yang selalu peduli dan peka terhadap kehamilan istriku sampai pada kejadian beberapa bulan yang lalu. Terima kasih khusus untuk Samuel yang dengan cekatan melarikan istriku ke rumah sakit," ungkap Kenneth.
Acara pun dilanjutkan dengan makan-makan. Menikmati hidangan yang sudah disediakan. Kemudian fotografer mengambil momen-momen yang sangat membahagiakan. Setelah pasangan suami istri yang baru saja memiliki momongan itu lepas dari kedua orang tuanya karena mereka menggantikan posisi anak-anaknya untuk berfoto bersama.
Kini, Kenneth dan Rhiana sedang duduk memandangi kebahagiaan yang terpancar dari semua orang yang ada di sana.
"Jadi, apakah kau menyesal menikah denganku?" tanya Kenneth.
"Sama sekali tidak menyesal. Aku bahkan tidak menyadari jika jodohku adalah orang terdekatku. Andaikan aku tahu itu akan terjadi, aku mungkin tidak akan menjadi Rhiana yang seperti saat ini. Aku melewati cobaan yang tidak mudah untuk sampai di titik ini. Jadi, maukah kau bergandengan tangan untuk membimbing dan mendidik Dudley bersama-sama?"
"Tentu, Sayang. Kita adalah satu kesatuan yang harus bersama-sama membimbing putra kita agar lebih sukses lagi dari orang tuanya."
Kenneth memeluk istrinya kemudian memberikan kecupan mesra. Hal itu tidak lepas dari fotografer profesional yang siap memotret semua kejadian yang ada di sana. Ya, kehidupan mereka sudah bahagia walaupun nantinya akan ada problem dalam perbedaan pengasuhan antara kakek dan neneknya dibanding dengan orang tuanya sendiri.
...End...
Terkadang jodoh itu dekat sehingga kita baru menyadari saat dipertemukan dengan cara yang unik. Tetaplah berjuang dan berusaha. Jangan lupa bersyukur.❤️
__ADS_1