
Suasana mansion terlihat begitu indah saat semua bunga-bunga tertata rapi. Maid menyiapkan makan malam untuk menjamu beberapa tamu yang datang.
"Mama mengundang siapa saja?" tanya Kenneth.
"Tidak banyak, Sayang. Hanya orang-orang terdekat saja. Samantha juga akan datang." Stella bersikap biasa saja, tetapi berbeda dengan respon Kenneth.
"Mengapa harus Samantha, Ma? Kenapa tidak orang lain saja? Dia pasti akan lebih marah padaku, bukan?" Kenneth tidak terima dengan apa yang dilakukan mamanya.
Hubungan Kenneth dengan Samantha sedang tidak baik-baik saja. Dia sudah menolak ungkapan cinta gadis itu. Lalu, kali ini menolak lamarannya.
"Kalau dia marah, tenangkan! Bukan tugas mama lagi, kan?" jawab Stella enteng.
Rasanya Kenneth semakin tidak mengerti dengan sikap mamanya. Malam ini dia akan berbahagia di atas penderitaan orang lain. Sanggupkah Kenneth menatap wajah sedih sahabatnya itu?
Rhiana melihat interaksi yang terjadi antara ibu dan anak itu. Keduanya memiliki standar kehidupan yang berbeda. Jelas terlihat nyata jika Stella sama sekali tidak menyukainya.
"Sejak kapan kau berada di situ?" tanya Kenneth saat melihat Rhiana masih mengenakan pakaian santainya.
Acara akan berlangsung sekitar dua jam lagi. Rhiana masih memiliki kesempatan untuk berkeliling mansion sebelum keesokan harinya kembali.
"Lumayan lama." Jawaban singkat, jelas, dan padat.
"Kau pasti mencariku karena rindu, bukan?"
Rhiana tersenyum. "Lebih baik pikirkan caramu bekerja untuk menghasilkan uang, daripada harus berdebat denganku. Menikah bukan sekadar cinta, butuh modal juga untuk menjalani kehidupan. Aku tidak mau nantinya kau akan bergantung padaku!"
Setelah ceramah singkatnya, Rhiana kembali ke kamar. Sementara Kenneth tersenyum mendengar penuturan calon tunangannya. Besok, Kenneth resmi akan bekerja di kantor membantu papanya. Hal itu dilakukan sampai menjelang pernikahan. Kenneth sudah memikirkan kapan mereka akan menikah. Dia akan mengumumkannya setelah pertunangan.
Waktu yang ditunggu pun tiba. Albert memang mengundang beberapa orang staf kantor untuk menjadi saksi bahwa putranya malam ini akan bertunangan dengan wanita pilihannya.
Sementara Samantha terkejut saat melihat suasana ruang tengah yang disulap sedemikian rupa. Seperti akan dilangsungkan pesta pertunangan di sana.
"Samantha, kau datang, Sayang," sapa Stella. Dia memberikan pelukan hangat kepadanya.
__ADS_1
"Iya, Aunty. Tapi, maaf, aku datang sendirian saja. Orang tuaku ada acara dengan kliennya."
"Tidak masalah, Sayang. Ayo, duduklah dulu!"
Stella tidak tega menjelaskan bahwa malam ini putranya akan bertunangan. Hal itu akan menjadikan pukulan berat bagi Samantha.
Saat Kenneth keluar bersamaan dengan Rhiana, tatapan mata Samantha seakan tidak suka. Hatinya hancur manakala Rhiana menggandeng tangan Kenneth dengan mesra. Beberapa orang sempat berkomentar lirih dengan apa yang dilihatnya, sehingga membuat Samantha mengerti apa maksud semua ini.
"Tidak heran kalau Tuan Kenneth ingin lekas bertunangan. Calonnya lumayan cantik dan menarik," ucap salah satu tamu, kemudian ditanggapi tamu yang lainnya.
"Iya. Rumornya wanita itu adalah pengasuhnya Tuan Kenneth di masa lalu, tetapi Tuan Albert sama sekali tidak mempermasalahkannya."
Hampir saja air mata Samantha luruh. Namun, dia mencoba untuk tidak menampakkan di hadapan semua orang. Cintanya pada Kenneth berakhir hari ini juga.
Acara berlangsung sangat singkat. Sebelum dilanjutkan makan malam bersama, Albert maju untuk mengumumkan bahwa putranya malam ini resmi bertunangan. Bersamaan dengan dilakukan tukar cincin di antara keduanya.
"Malam ini adalah malam yang sangat spesial. Di mana putraku sudah menemukan tambatan hatinya. Bersamaan dengan apa yang kusampaikan, detik ini juga Kenneth Nathanael dan Rhiana Roseanne resmi bertunangan!"
Samantha cemburu. Sejujurnya dia menginginkan posisi Rhiana itu menjadi miliknya. Dia menyayangkan keputusan Kenneth memilih wanita tua untuk ukurannya.
"Selamat, Kenneth! Aku tidak menyangka kalau pilihanmu jatuh padanya." Samantha mengucap selamat, tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.
"Maaf, aku sudah menolak lamaranmu. Aku sangat mencintai Rhiana. Aku tidak bisa jauh darinya, Samantha. Aku minta maaf."
Senyuman Samantha seolah mengejek. "Dengan mencintai wanita tua itu? Seleramu sungguh rendah, Kenneth!"
Kenneth tidak terima kalau Rhiana direndahkan seperti itu. Bagaimanapun jasanya kepada kehidupan Kenneth sudah cukup besar. Bahkan, Kenneth pun tidak mampu membalasnya.
"Setidaknya dia cukup dewasa untuk ukuran laki-laki sepertiku," jawab Kenneth kemudian meninggalkan Samantha untuk menemui para tamu undangan.
Rhiana terlihat sangat cantik dengan gaun yang dipilih Kenneth untuknya. Beberapa staf kantor papanya sempat memuji bahwa semakin berumur, kecantikan Rhiana sangatlah paripurna.
"Anda beruntung, Nona. Tuan Kenneth adalah penerus tunggal Nathanael grup. Kami berharap Anda nantinya bisa bergabung di perusahaan," ucap salah satu staf.
__ADS_1
Nama Rhiana sudah terkenal di antara staf Albert. Mereka sudah tahu nama itu sejak lama. Albert seringkali memuji atas keberhasilannya.
Saat mendengar ucapan seperti itu, Stella sangat tidak senang. Dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Itu berkat suamiku juga, kan?" sahut Stella.
Para staf itu pun manggut-manggut saja. Lagi pula membahas apa pun dengan Stella pasti berakhir perdebatan. Beruntung Kenneth tidak seperti mamanya.
Beberapa orang sangat menikmati malam yang luar biasa itu. Sementara bagi Samantha, hatinya sangat terluka. Terbersit niat buruk di dalam dirinya untuk menghancurkan pertunangan ini.
"Kenneth, bisa kita bicara sebentar?" Samantha mencoba untuk berbicara dari hati ke hati.
"Ada apa? Katakan!" Kenneth masih kesal pada Samantha.
"Aku ingin meminta maaf padamu. Bisakah kita bicara di luar? Sebentar saja! Aku tidak ingin mengganggu para tamu di sini," pinta Samantha.
Kenneth mengiyakan tanpa berpikir buruk tentang sahabatnya. Namun, di luar dugaan saat keduanya sampai di tepi kolam, tiba-tiba Samantha menciumnya. Jujur, Kenneth pun terkejut hingga dia mendorong mundur tubuh Samantha.
"Apa yang kau lakukan, Samantha?" bentak Kenneth.
"Aku hanya ingin membuat perpisahan termanis denganmu, Kenneth. Aku tidak bisa jauh darimu. Kenapa kau meninggalkanku seperti ini? Apa kurangnya aku di matamu?" Samantha mengiba. Dia terus mengutarakan maksudnya agar Kenneth bisa mengerti.
Dari jauh, Rhiana melihat interaksi Kenneth dan seorang gadis. Ya, Rhiana mencari Kenneth karena diminta oleh Albert. Beberapa tamu yang berniat pamit masih menunggu. Saat melihat kejadian itu, Rhiana sama sekali tidak merasa cemburu atau apa pun. Justru itu sangat pas untuk kisah lelaki muda seperti Kenneth.
"Tidak dengan cara seperti itu, Samantha! Kau terlihat murahan sekali harus menciumku seperti tadi!"
Samantha tidak peduli. Mencintai Kenneth juga bukan kesalahan. Lagi pula, sebelum Kenneth menikah, Samantha masih perlu berjuang lagi untuk menikung Rhiana.
Rhiana sudah tidak bisa menunggu lagi. Albert pasti sedang mengharapkan kehadiran putranya.
"Maaf, mengganggu kalian. Tuan Albert meminta Kenneth untuk lekas kembali karena beberapa tamu ingin berpamitan," ucap Rhiana membuat Kenneth terkejut.
Mungkinkah Rhiana melihat segalanya? Bagaimana reaksinya setelah Kenneth berbicara padanya nanti? Akankah Rhiana menuduhnya berselingkuh? Kenneth berada dalam dilema yang luar biasa.
__ADS_1