
Beberapa menit sebelumnya, Rhiana keluar. Dia butuh udara segar sehingga memutuskan untuk pergi ke taman di depan mansion. Di sana, dia terus mondar-mandir sambil memikirkan jawaban apa yang tepat.
Sebagai wanita normal, Rhiana tidak menolak pesona Kenneth yang sangat tampan. Bulu-bulu halus menghiasi wajahnya. Sangat rapi karena Rhiana yakin Kenneth selalu merawat dirinya dengan baik.
Intinya, Kenneth adalah paket komplit. Hanya saja tingkahnya yang tidak mencerminkan kedewasaan sama sekali. Bagaimana bisa Rhiana membangun komitmen dengan lelaki kekanak-kanakan itu? Namun, jika dia menolaknya, ke lubang semut pun Kenneth akan terus mengejarnya.
"Aku harus apa sekarang?" tanya Rhiana pada dirinya sendiri.
Saat sedang berpikir keras, tiba-tiba Samuel datang untuk menanyakan sesuatu. Pasalnya, malam ini jika harus tinggal di sini, dia memerlukan tempat untuk tidur.
"Nona, Anda akhirnya keluar juga. Apakah Anda akan tinggal di sini malam ini? Jika iya, aku minta tolong kepada Anda untuk memberikan tempat istirahatku," ucap Samuel.
"Oh, ya ampun. Aku minta maaf, Samuel. Aku akan meminta pemilik mansion ini memberikan tempat untukmu. Sungguh, aku lupa karena ada urusan yang sangat penting. Kemungkinan kita akan tinggal di sini sampai besok malam," balas Rhiana.
Samuel melihat Rhiana sedang tidak baik-baik saja. Seperti ada masalah serius.
"Nona, mengapa Anda terlihat cemas?"
Rhiana akhirnya mau berbagi cerita kepada Samuel. Walaupun dia orang baru, sikap sopirnya itu terlihat sangat baik dan peduli.
"Lalu, apa jawaban Anda?" tanya Samuel setelah Rhiana mengakhiri ceritanya.
"Aku ragu, Samuel. Di sisi lain, banyak pertimbangan yang sedang kupikirkan."
"Kalau begitu jawab dengan hati Anda, Nona. Kesempatan memang tidak akan datang kedua kali, tetapi saat kesempatan terbuka lebar maka Anda bisa mengambilnya saat ini juga."
Ucapan Samuel begitu mengena. Apakah keputusannya untuk menerima Kenneth sudah benar? Bila esok hari dilakukan acara pertunangan, itu artinya tidak lama lagi Rhiana akan menikah dengan Kenneth. Waktu berubah begitu cepat hingga Rhiana bingung dan kalut dalam waktu bersamaan.
__ADS_1
Saat ini, di sinilah Rhiana berada. Berada di ruang keluarga di mana semua orang sedang menunggu jawabannya. Terutama Kenneth yang sudah melayangkan pertanyaan lebih dulu.
Kenneth semakin cemas. Memandangi wajah Rhiana pun dia tidak menemukan sedikit jawaban. Sangat misterius sekali wajahnya. Sebentar lagi Kenneth pasti akan pingsan saat Rhiana menolaknya.
"Iya, Rhiana. Apa jawabanmu? Kami sedang menunggu keputusan penting itu darimu," ucap Albert berusaha menetralisir suasana hening saat ini.
Rhiana memejamkan matanya sejenak. Dia berharap semua orang bisa mengerti jawabannya. Bibirnya seakan gemetar, aliran darah menuju jantung terasa begitu deras, jantungnya pun bekerja begitu cepat, dan dadanya berdebar sangat kencang.
"Aku menerimanya." Hanya kalimat itu yang lolos dari mulut Rhiana.
Albert dan Kenneth terlihat sangat bahagia. Sementara Stella langsung memasang wajah pura-pura bahagia. Bagaimanapun keputusan sudah terjadi.
"Ma, besok pagi segera urus semuanya. Lalu, jangan lupa batalkan permintaan lamaran dari keluarga Samantha. Kita sudah menerima calon untuk Kenneth," pesan Albert.
Stella hanya mengangguk. Dia masih tidak bisa terima dengan jawaban Rhiana. Jika pertunangan ini berjalan lancar, maka Stella harus menggagalkan pernikahannya. Biarkan Kenneth bahagia saat ini. Setidaknya agar anak lelakinya tidak bertindak nekat lagi seperti sebelumnya.
"Tentu, Rhiana. Katakan!"
"Sopirku membutuhkan tempat untuk istirahat. Bisakah Anda memberikan satu kamar untuknya?" tanya Rhiana pada Albert.
Hampir lupa. Bahkan Rhiana pun belum mendapatkan kamarnya. Albert segera meminta maid untuk mengurus segalanya. Dia juga meminta mereka untuk membawakan koper milik Rhiana supaya diletakkan di kamar tamu.
"Tentu. Kalian juga pasti lapar, bukan? Maid akan mengirimkan makanan ke kamar kalian masing-masing. Maaf, karena Kenneth sudah membuatmu lupa segalanya," ucap Albert.
Saat Rhiana diantarkan maid ke kamarnya, Kenneth sebenarnya ingin ikut. Namun, dia dicegah oleh Albert.
"Pergi ke kamarmu, Kenneth! Biarkan Rhiana beristirahat," ucap Albert.
__ADS_1
Daripada kena marah papanya, Kenneth langsung menuju ke kamarnya dengan perasaan yang sangat bahagia. Besok dia akan bertunangan dengan wanita yang dicintainya sejak lama.
"Ck, mereka pikir aku masih anak-anak," ucap Kenneth di depan cermin yang ada di kamarnya.
Setelah masuk ke kamar, dia mengunci pintunya. Kenneth tidak mau semua orang tahu dirinya yang sebenarnya.
Kenneth bukan pria manja yang ditunjukkan selama ini. Walaupun usianya masih muda, tetapi dia sudah memiliki rasa tanggung jawab yang begitu tinggi. Apalagi menyangkut perusahaan papanya. Bukan juga bersikap seperti hari ini yang harus menggunakan drama mogok dan lain sebagainya. Sikap bertolak belakang seperti ini akan ditunjukkan terus sampai Kenneth benar-benar mendapatkan Rhiana. Setelah itu Rhiana pasti akan terkejut dengan sikap aslinya.
Sementara Rhiana baru saja masuk ke kamar. Salah satu maid mengirim makanan ke kamarnya. Mana mungkin dia bisa makan saat perasaannya tidak menentu. Takdir mengubahnya begitu cepat.
"Nona, kalau Anda membutuhkan sesuatu bisa panggil salah satu dari kami," ucap maid sebelum undur diri dari kamar Rhiana.
"Iya, terima kasih," jawab Rhiana dengan suara lembutnya.
Menu yang dihidangkan sangat lengkap. Mulai dari appetizer, main course, hingga dessert. Rhiana hanya mengambil dessert-nya saja karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Dia pun langsung meminum segelas air.
Berniat menenggelamkan diri ke alam mimpi rupanya harus ditunda lebih dulu. Pasalnya pintu kamar ada yang mengetuk sehingga Rhiana harus keluar menemui orang tersebut. Betapa terkejutnya saat Stella sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Dia pikir Kenneth yang datang.
"Kau pasti berharap putraku yang akan datang, bukan? Jangan terlalu percaya diri, Rhiana. Dia hanya akan patuh padaku dan juga suamiku," jelas Stella.
"Tidak, Nyonya. Kurasa Anda salah paham padaku," balas Rhiana tanpa menunduk sama sekali. Dia bukan karyawannya sekarang. Tentunya Rhiana tidak perlu takut lagi dengan apa yang akan diperbuat Stella padanya.
"Aku ke sini cuma mau menyampaikan bahwa besok pagi kau harus pergi ke butik lalu ke toko perhiasan untuk membeli cincin pertunangan. Kenneth juga akan ikut. Ingat, jangan sampai terlambat!" pesan Stella kemudian berlalu begitu saja.
Rhiana menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Dulu, kegagalan hubungannya karena para pria hanya memanfaatkan kesempatan untuk mengeruk keuntungan darinya. Lalu, sekarang Rhiana dihadapkan dengan peringai calon mama mertuanya yang galak. Semoga saja dia sanggup bertahan hingga akhir kisah hidupnya.
Rhiana kembali ke kamarnya. Dia mengambil laptop kemudian mengecek beberapa email balasan dari karyawan kepercayaannya. Dia pun mengirimkan pesan ke ponsel butik bahwa lusa baru kembali. Namun, Rhiana tidak mengatakan jika besok adalah hari pertunangannya.
__ADS_1
"Semoga besok tidak ada drama yang melelahkan," ucap Rhiana sebelum menutup laptopnya lalu pergi ke alam mimpi.