
"Halo, Rhiana. Aku Stella, mamanya Kenneth. Apa kau bisa datang untuk melakukan fitting gaun pengantin?"
Rupanya penelepon adalah calon mertuanya. Sayang, suara lembut dan penuh kasih itu hanyalah kedok untuk Rhiana.
"Tidak perlu, Nyonya. Aku akan mendesain gaun pernikahanku sendiri. Masih perlu beberapa hari lagi, bukan?" tanya Rhiana.
Justru hal itu malah membuat Stella kesal. Ukuran wanita seperti Rhiana yang menolak permintaannya termasuk kategori sombong.
"Sombong sekali! Kalau bukan Kenneth yang memintanya, aku pun tidak akan sudi menghubungimu," jelas Stella dengan suara kesalnya.
"Terserah apa pandangan Anda kepadaku, Nyonya. Jika Anda tidak mau menyampaikan itu pada Kenneth, biar aku saja."
Stella tidak menanggapinya. Dia malah menutup teleponnya secara sepihak. Rhiana tidak habis pikir dengan rencana Tuhan kepadanya. Dia mendapatkan lelaki yang baik, tetapi calon mama mertua yang sangat meresahkan. Kalau bukan rasa hormatnya kepada Albert tinggi, mungkin saja Rhiana akan memaki Stella tanpa ampun.
"Anda terlihat cemas, Nona," ucap salah satu karyawannya setelah menerima telepon dari nomor baru.
"Dari calon mama mertua. Biasalah, dia sangat sensitif kepadaku," jelas Rhiana.
Sementara Stella seusai menutup teleponnya lalu mengadukan kelakuan Rhiana pada Albert. Suaminya baru saja pulang dari kantor.
"Pa, calon menantumu itu sombong sekali. Mama menghubungi berniat untuk mengajaknya untuk melakukan fitting gaun pengantin. Dia menolaknya. Katanya dia akan menggunakan gaun rancangannya sendiri." Wajah Stella benar-benar kesal.
Albert malah tertawa. Jelas saja Rhiana menolak. Dia tahu mana yang harus dipersiapkan untuk pernikahannya sendiri. Apalagi dia itu desainer yang memiliki butiknya sendiri.
"Kenapa kau malah tertawa, Sayang? Apa aku salah?" tanya Stella kemudian.
"Sayang, Rhiana itu wanita dewasa. Dia memiliki butik. Sebelum menikah, dia pasti sudah memikirkan gaun untuk pernikahannya sendiri. Selain itu, dia juga pasti menyiapkan pakaian untuk putra kita. Percayalah, kau tidak akan menyesal memiliki menantu sepertinya. Jangan kelewat benci, nanti kau akan malu sendiri," pesan Albert sebelum masuk ke kamar mandi.
Sementara Kenneth tidak sabar ingin memandangi wajah calon istrinya. Hanya beberapa minggu saja mereka akan menjadi sepasang suami istri. Dia mengambil ponsel kemudian melakukan video call dengan Rhiana.
__ADS_1
Tampak wajah Rhiana memenuhi ponsel Kenneth. Rasanya tidak ingin berhenti memandangi wajah calon istrinya yang tampak terlihat manyun seperti itu.
"Kenapa video call?" tanya Rhiana kesal.
"Calon pengantin jangan marah-marah! Nanti cepat tua," canda Kenneth.
"Memang sudah tua. Kalau mau, mending cari saja gadis muda," balas Rhiana.
Kenneth tersenyum lebar. Dia juga baru pulang dari kantor dan masih menggunakan jas kerja lengkap dengan dasi.
"Aku menunggu istriku untuk membukakan dasi dan jas kerjaku. Apa kau suka melayani suamimu nantinya?" Kenneth mencoba merayunya.
"Ck, tergantung! Kalau suamiku baik, royal, dan menyenangkan pasti akan aku layani. Jika seperti anak kecil, manja, dan menjengkelkan. Aku akan membuatnya menyesal karena bersikap seperti itu. Aku bukan lagi pengasuhnya, tetapi istrinya!"
Tamparan yang cukup keras diterima oleh Kenneth. Namun, dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia sudah berjanji akan menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab. Dia pun akan menjadi pria dewasa yang senantiasa menjadi pelindung untuk anak dan istrinya.
"Ya, baiklah. Demi istri dan anakku, aku akan berubah," ucapnya yakin. "Oh, ya, apa mama sudah menghubungimu? Kapan kau bisa datang untuk melakukan fitting gaun pengantin? Aku sudah rindu ingin bertemu denganmu juga."
"Aku minta maaf untuk itu, Kenneth. Aku tidak bisa datang karena akan menggunakan gaun rancanganku sendiri. Aku juga akan menyiapkannya untukmu."
Rhiana memang berniat memasangkan gaun yang sudah dibuatnya dengan jas yang khusus dia pesan dari teman sesama butiknya. Sebenarnya dia bisa saja membuat untuk Kenneth, tetapi waktu yang sangat mendesak sehingga dia tidak mungkin membuat satu gaun untuk wanita dan satunya lagi pakaian untuk pria.
"Oh, ya ampun. Aku minta maaf, Sayang. Aku lupa kalau calon istriku adalah pemilik butik. Jadi, kapan aku bisa ke sana untuk melakukan fitting?"
Rhiana menggeleng. Tidak perlu mencobanya karena Rhiana tahu ukuran pakaian lelakinya itu. Dia sudah mengenal Kenneth cukup lama sehingga saat memandangnya saja sudah bisa dikira-kira ukurannya.
"Kenapa? Apa kau tidak suka kalau kita bertemu?"
"Bukan seperti itu, Kenneth. Kita akan bertemu mendekati hari H pernikahan saja. Kau tidak perlu susah-susah datang ke sini. Kalau kau rindu, kita bisa melakukan video call seperti ini, kan?"
__ADS_1
Saat serius melakukan video call, tiba-tiba Samantha masuk ke kamar Kenneth tanpa permisi. Hal itu membuat Kenneth terkejut lalu memutuskan sambungannya dengan Rhiana.
"Samantha, kenapa kau masuk ke kamarku tidak mengetuk pintu dulu?" tegur Kenneth.
"Hemm, aku sudah mengetuknya. Kau saja yang tidak merespon. Kenapa dimatikan? Aku juga ingin berbincang dengan calon istrimu. Apa kau malu kalau aku di sini?" tanya Samantha dengan suara manjanya.
"Tidak. Hanya saja kau mengganggu privasiku, Samantha. Duduklah!" Kenneth meminta sahabatnya untuk duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjangnya.
"Bagaimana kalau aku tidak mau duduk di sana, tetapi memilih untuk duduk di ranjang ini?" Lagi-lagi Samantha membuat Kenneth kesal.
"Jaga batasanmu, Samantha! Kau sudah kuanggap sebagai sahabatku. Jadi, tolong bersikaplah sebaik mungkin!"
Kenneth sama sekali tidak suka dengan tingkah Samantha saat ini. Dia mulai berani mendekati Kenneth, bahkan kapan hari malah mencium bibirnya.
"Sabar, Kenneth. Aku datang ke sini karena diminta aunty untuk membantu mengurus persiapan pernikahan kalian. Jadi, mana mungkin aku berani menodai calon suami wanita lain."
Hanya alasan itu yang bisa digunakan Samantha supaya bisa masuk ke kamar sahabatnya. Selain itu, tidak dipungkiri bahwa Samantha sangat merindukan Kenneth.
"Tidak perlu, Samantha! Wedding organizer sudah mengurus segalanya. Lebih baik kau keluar dari kamarku! Aku akan membersihkan diri lebih dulu," pamit Kenneth. Dia tidak ingin berbicara dengan Samantha sampai gadis itu benar-benar meminta maaf lalu menjauhinya.
Sementara Rhiana merasa tidak enak hati. Setelah tahu kalau Samantha masuk ke kamar Kenneth, ada gurat kesedihan mampir ke hatinya. Dia seakan menjadi wanita ketiga di dalam hubungan antara Kenneth dan Samantha.
Berniat untuk pulang diurungkan sampai salah satu karyawannya masuk. Sebenarnya agak heran dengan sikap bosnya mendekati hari H pernikahan.
"Nona, apa Anda baik-baik saja?"
"Ah, aku baik. Oh ya, boleh aku tanya sesuatu?" Rhiana tidak mampu memendam kegundahannya sendirian.
"Silakan, Nona. Jika aku bisa menjawab."
__ADS_1
"Menurutmu, apakah setiap mendekati hari H pernikahan akan banyak sekali godaan? Ehm, maksudku ada saja godaan untuk membatalkan pernikahan itu sendiri," ucap Rhiana ragu.
Karyawan itu juga ragu. Pasalnya baik bos ataupun dirinya sama-sama belum menikah. Namun, menurut beberapa cerita teman-temannya yang mendekati hari H pernikahan memang ada saja kendalanya. Terkadang calon pengantin tidak akur dalam menentukan pilihan. Lalu, orang luar yang berniat membubarkan rencana pernikahan itu sendiri. Yang paling miris, keluarga dekat yang tidak menginginkan pernikahan itu terjadi. Ah, banyak sekali rintangan menuju hari H pernikahan. Semoga Rhiana dan Kenneth sanggup melewatinya.