Mencintai Pengasuhku

Mencintai Pengasuhku
Bab 42. Makanan Manis


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, sakit kepala Kenneth menghilang. Namun, tergantikan dengan sesuatu yang membuat semua orang heran. Kenneth mengalami gejala mual lalu muntah. Ini membuat Kenneth merasa terganggu.


Selain itu, dia semakin sensitif. Apalagi saat tahu Samantha datang ke mansion. Dia langsung memintanya segera pergi.


"Ma, tolong minta Samantha pergi. Sayang, aku tidak mau ada dia di sini," ucap Kenneth membuat semua orang bingung.


"Kau kenapa, Sayang?" tanya Stella. Dia juga khawatir dengan kondisi Kenneth saat ini.


"Entahlah, Ma. Sejak pagi dia mengalami mual dan muntah. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana," ujar Rhiana yang sama paniknya.


"Kenneth, aku datang ke sini untuk bertemu denganmu dan Aunty. Kenapa kau mengusirku?" Samantha tidak terima. Dia malah mencoba mendekat lagi pada Kenneth.


"Mundur! Jangan dekati aku!" Kenneth histeris.


Kenneth sama sekali tidak menyangka akan mengalami kejadian seperti ini. Dia anti sekali dengan Samantha. Sementara Kenneth tidak mau pergi ke kantor karena merasa tidak nyaman. Beberapa lagi membuat Albert terkejut.


"Papa, parfum Papa aromanya menjijikkan. Lebih baik ganti dengan parfum milik Mama yang lebih soft dan aromanya wangi," ucap Kenneth membuat kedua orang tua itu terkejut.


"Apa?" Albert jelas tidak terima.


Kelakuan Kenneth sangat meresahkan. Tidak hanya membuat seisi rumah kacau, dia lebih seperti wanita yang sedang mengandung.


Tunggu! Ada sesuatu yang tidak mereka sadari. Ya, bisa saja ini terjadi pada suami yang istrinya sedang mengandung. Setidaknya ini hukuman yang setimpal sudah membuat istrinya hamil.


"Rhiana, apa kau hamil?" tanya Albert akhirnya.


Sontak semua orang yang sedang berada di sana terdiam. Mereka sedang mencerna ucapan Albert. Sementara Samantha merasa cemburu yang luar biasa. Walaupun dia tidak bisa menjadi kekasih Kenneth, tetapi mendengar kata hamil rasanya membuat sesak. Kenneth pasti sudah menyentuh seluruh tubuh istrinya. Apalagi sampai hamil. Sungguh, Samantha tidak mampu membayangkan itu. Dia malah berharap Kenneth bisa menjadi orang yang sangat dikagumi dan bisa dimiliki.


"Benarkah? Apa benar kau hamil, Sayang? Ah, mama sudah tidak sabar mendapatkan kabar itu," ucap Stella terlihat bahagia.


Sejujurnya semenjak Stella sudah menerima Rhiana, wanita itu sama sekali tidak lagi memperdebatkan hal-hal yang tidak penting. Justru dia juga yang telah berencana memberikan hadiah butik kepada menantunya.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, Ma. Rhiana sama sekali tidak merasakan tanda-tanda kehamilan yang kucari dari internet. Mungkin hanya kebetulan Kenneth sakit, tetapi itu tidak ada hubungannya denganku." Rhiana memang sama sekali tidak merasakan menjadi wanita hamil.


"Oke, oke. Kita berhenti ribut, ya. Lebih baik kita bawa ke rumah sakit. Mama ingin pastikan kalau feeling papa benar."


Stella mengabaikan Samantha. Dia segera memerintahkan sopir untuk membawa Rhiana dan Kenneth pergi ke rumah sakit.


Ternyata dugaan mereka benar. Dokter menjelaskan bahwa Kenneth mengalami kehamilan simpatik di mana yang merasakan kehamilan dan mengidam adalah laki-laki.


"Jadi, selama ini sakit kepala yang kuderita itu disebabkan oleh kehamilan istriku, Dokter?" tanya Kenneth heran.


"Bisa disimpulkan seperti itu, Tuan Kenneth. Kandungan Nyonya Rhiana baru berusia empat minggu. Beruntung sekali sudah diberikan tanda lebih awal. Jadi, untuk pasangan suami istri agar saling menjaga kandungannya dengan baik."


"Ini namanya bukan beruntung, Dokter. Ini siksaan buatku. Aku jadi lebih sensitif. Apalagi aroma parfum pria yang sangat maskulin, rasanya aku muak saat menciumnya. Belum lagi beberapa makanan yang kumakan harus rela dimuntahkan lagi," sesal Kenneth.


Stella tersenyum mendengar penuturan putranya. Karena rasa ingin tahu Stella yang begitu tinggi membuatnya ikut masuk ke ruang pemeriksaan.


"Setidaknya kau akan merasakan bagaimana susahnya menjadi seorang wanita. Ya, agar kau tidak nakal!" sahut Rhiana penuh dengan kemenangan.


"Sayangnya itu tidak ada, Tuan. Anda harus mencarinya sendiri. Mungkin saja aroma bunga bisa membuat Anda tenang atau bisa juga aroma coklat, kopi, maupun teh. Semua tergantung cara Anda menghadapinya juga."


Ini merupakan hukuman paling berat yang harus dirasakan oleh Kenneth. Dia pun penasaran sampai kapan ini akan berakhir.


"Apakah ini bisa hilang dengan sendirinya?" tanya Kenneth.


Stella dan Rhiana tampak menikmati kepanikan Kenneth. Sebenarnya kedua orang itu merasa kasihan, tetapi mau bagaimana lagi.


"Tidak, Tuan. Maksudku tidak menentu. Ada yang dari trimester pertama saja. Ada yang sampai istrinya melahirkan."


Kenneth langsung lemas rasanya. Selama kurang lebih 9 bulan Kenneth akan disiksa oleh anaknya sendiri.


"Mama rasa ini karma untukmu. Apa kau lupa masa kecilmu yang lumayan menyebalkan? Nah, sekarang nikmatilah bagaimana rasanya mama saat mengandungmu."

__ADS_1


Keluar dari ruangan dokter bukannya membuat Kenneth bebas. Dia semakin tertekan dengan aroma rumah sakit yang semakin membuat pusing.


"Sayang, bisa kita pergi ke mal? Aku ingin berbelanja dan makan di sana. Mungkin dengan itu, aku bisa menikmati makanan tanpa memuntahkan lagi." Kenneth mengiba.


"Kalian pergi saja. Mama mau pulang. Mama lelah sedari tadi menertawakan Kenneth. Rhiana, jaga ibu hamil itu baik-baik. Mama sungguh tidak bisa menahan tawa kalau sudah seperti ini."


Stella cukup puas dengan Kenneth. Rhiana malah tersenyum menatap mama mertuanya yang terus saja tersenyum.


Inikah bahagia? Melihat Mama yang terus tersenyum seperti itu rasanya tidak ingin cepat berlalu. Aku memiliki suami yang penyayang. Aku pun sedang hamil. Lalu, Mama mertuaku bisa menerimaku dan selalu bersikap baik padaku. Terima kasih, Tuhan. Untuk semua karunia yang Engkau berikan kepadaku. Semoga kami selalu bahagia seperti ini sampai kapan pun.


Stella kembali ke mansion menggunakan mobil. Sementara Rhiana dan suami langsung memanggil taksi karena mereka tidak mau repot harus menunggu sopir mansion.


Anehnya, Kenneth malah menikmati perjalanannya dengan menggunakan taksi.


"Masih mual?"


"Tidak. Aku sangat nyaman sekali menikmati perjalanan ini. Terima kasih sudah mau menampung bibitku. Aku semakin mencintaimu, Rhiana."


Ada banyak cinta di mata Kenneth. Semua itu dilakukan untuk membahagiakan sang istri. Karena sang istri sedang hamil, maka Kenneth pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke luar negeri.


Rhiana tampak senang melihat Kenneth yang baik-baik saja. Sesampainya di mal, mereka langsung turun lalu masuk untuk mencari makanan lebih dulu. Kenneth kelaparan karena sedari pagi memuntahkan isi perutnya.


"Kau mau makan apa, Sayang?"


"Kita cari pastry atau makanan manis, Sayang. Rasanya aku ingin menikmatinya sambil meminum kopi."


Rhiana sudah hapal betul mal itu. Mereka langsung menuju ke sebuah Kafe yang menyediakan makanan seperti keinginan Kenneth.


"Tunggu di sini. Aku mau pesan dulu," pamit Rhiana. Dia malah yang paling antusias memilih beberapa kue untuk dinikmati.


Sementara dari sudut lain, seseorang sedang mengamati kegiatan sepasang suami istri ini dengan tatapan tidak suka. Mungkinkah orang itu memiliki niat buruk pada mereka atau hanya sekadar mengamati saja?

__ADS_1


__ADS_2