
“Kau belum juga sarapan di sini, Mira?”
Alex melontarkan pertanyaan untuk Almira sembari melangkahkan kedua kakinya mendekat ke arah meja makan, lalu dia pun mendudukkan dirinya di sebuah kursi di samping istrinya berada.
“Belum,” jawab Almira jujur. “Aku menunggumu sampai kau datang kemari, Alex. Tidak enak rasanya bila aku makan sendirian sedangkan suamiku tidak ada di dekatku, he-he.”
Mood yang tadinya menghilang pergi entah ke mana kini telah kembali secara utuh dibuat oleh istrinya. Ya, Almira sangat pandai sekali menghiburnya sejak kemarin. Dia selalu berharap kalau rumah tangga yang akan dia bina bersama Almira akan selalu dipayungi oleh kebahagiaan dan dijauhkan dari marabahaya apa pun yang sekiranya bisa mengancam keselamatan keduanya.
“Tidak ada salahnya kau sarapan lebih dulu, jangan menunggu cacing di dalam perut berbunyi dahulu baru kau hendak makan, Sayang!” celetuk Alex memperingati istrinya itu. “Lain kali kau tidak perlu menungguku.”
“Baiklah, aku mengerti.” Almira menarik sedikit ujung bibirnya agar lengkungan indah tercipta di wajahnya. “Tunggu sebentar ya, Lex, aku akan mengambilkanmu makanan ini.”
Wanita itu beranjak dari tempat duduknya, lalu dia segera meraih piring putih yang ada di hadapan suaminya untuk diisi nasi dan lauk pauk yang telah dihidangkan oleh para pelayan rumah. Dengan senang hati sebagai seorang istri dia melayani suaminya tanpa keberatan sedikitpun, dia merasa jauh lebih bahagia ketika dia bisa memberikan yang terbaik kepada suaminya.
“Ini makanan untukmu, Pak Suami.”
Almira meletakkan piring yang berisi makanan itu di hadapan Alex sembari membungkukkan badannya selama beberapa detik, lalu dia pun kembali ke tempat duduknya.
“Silakan dinikmati makanannya, Pak Alex, saya jamin setelah Anda memakan-makanan dari yang saya hidangkan Anda akan keracunan,” ucap Almira tersenyum lebar menatap ke arah Alex.
Uhuk!
Lelaki itu tersedak mendengar perkataan dari istrinya. Apa benar Almira memasukkan racun ke dalam makanan ini? Tidak, hal ini tidak boleh dibiarkan.
“Racun katamu?” Raut wajah Alex seketika berubah menjadi memerah padam. “Beraninya kau berniat untuk meracuniku, Almira!”
__ADS_1
Melihat air muka Alex berubah membuat Almira hanya bisa membulatkan kedua matanya, apakah pria itu berpikir bahwa dia akan serius memberikan racun di dalam makanan yang telah dia hidangkan untuknya? Ah, Alex sangat tidak bisa diajak bercanda.
“Hais, maka mungkin aku serius meracunimu, Alex!” gerutu Almira dengan bibir sedikit manyun. “Maksudku, setelah kamu memakan-makanan itu, kau akan keracunan dengan pelayananku terhadap dirimu sebagai suamiku, Alex!” sambungnya sembari mengomeli Alex.
Seketika wajah Alex langsung berubah, wajah yang tadinya hampir memerah padam kini telah kembali ceria seperti sedia kala. Untung saja Almira langsung menjelaskan kepada dirinya sebelum dia salah paham lebih dalam daripada ini.
“Ah, maafkan aku yang sudah berburuk sangka dengan perkataanmu, Mira.” Alex tersenyum kaku di depan wanitanya. “Ya sudah, mari kita nikmati hidangan pagi ini sebelum semua makanan ini dingin!” ajak Alex.
“Ayo!”
Hening.
Tak membutuhkan waktu lama, keduanya telah selesai menikmati hidangan yang ada. Almira tampak mengelap sisa makanan yang masih menempel di bibirnya mengenakan tisu kering yang ada di hadapannya, sedangkan Alex hanya diam di tempat duduknya sembari menikmati rokok elektrik miliknya.
“Kau sudah kenyang, Mira?” tanya Alex mengawali percakapan antara dirinya dan sang istri. “Jika kau masih lapar, silakan nambuh, tidak ada yang melarangnya.”
“Ah, tidak. Aku sudah sangat kenyang sekali, Alex.” Almira menolaknya secara halus sembari menyengir sedikit lebar. “Jika kau memaksaku untuk menambah makanan yang ada, bisa-bisa berat badanku naik beberapa kilo dalam semalam saja. Memangnya kau mau bentuk tubuh istrimu ini tidak ideal lagi?”
“Mau seperti apa pun bentuk tubuhmu aku tidak akan protes sedikitpun, Mira. Yang terpenting bagiku hanya satu, kau sehat secara fisik maupun batin,” cakap Alex serius, tatapan matanya mengunci ke arah Almira.
“Bohong!” ketus Almira menolak ucapan Alex secara terang-terangan. “Jika aku gendut, hitam, dekil, jerawatan, pastinya kau mana mau denganku!”
Alex mengerutkan dahinya heran atas perkataan Almira. Apakah menurut Almira dia adalah pria yang suka memandang wanita dari segi fisiknya? Aha, jika benar begitu, mana mungkin dia bisa mencintai wanita di masa lalunya dengan begitu dalam. Jika bisa dibilang fisik sang mantan sangatlah tidak cantik, bahkan jauh dari kata sempurna. Tetapi waktu itu, di mata Alex, wanita itu sangatlah sempurna. Namun sekarang matanya telah terbuka lebar semenjak wanita itu menduakannya.
__ADS_1
Biarpun begitu, Alex tidak pernah menjelekkan sang mantan di depan siapa pun, termasuk Almira sekalipun. Bahkan ketika media bertanya-tanya padanya apa alasan dia meninggalkan wanita itu, dia tidak pernah speak-up apa pun. Dia hanya mengatakan bahwa dia bersama sang mantan sudah ditakdirkan untuk tidak berjodoh.
Toh, apa keuntungannya yang dia dapatkan dari menjelekkan sang mantan? Tentunya tidak ada. Justru yang ada dia akan dianggap sebagai pria yang tidak memiliki kualitas diri, karena mengumbar omongan ke sana-kemari.
“Tidak semua pria memandang rupamu, Nona Manis,” tutur Alex lembut. “Jika semua pria di dunia ini memandang fisik, maka bagaimana nasib wanita yang menurutmu tidak cantik itu?” sambungnya berbicara.
Alex melontarkan kalimat yang langsung membuat Almira terdiam tak berkata. Apa yang diucapkan oleh Alex ada benarnya juga. Tapi, apakah mungkin pria seperti Alex tidak memandang wanita dari segi fisiknya?
Hal yang amat sulit untuk diterima oleh pikirannya.
“Mana mungkin pria tampan tidak memandang wanita dari segi fisiknya, Alex!” ketus Almira setelah berdiam diri selama beberapa saat.
“Mungkin saja, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Almira,” terang Alex kembali bicara. “Bagiku yang paling utama adalah rasa nyaman, untuk fisik nomor dua setelahnya. Karena yang aku butuhkan dari pasangan adalah kenyamanan dan kesetiaan. Bukankah percuma jika aku memilih wanita cantik dan seksi di luar sana jika aku tidak dapat kesetiaan darinya?”
“Untuk apa mencari yang cantik dan seksi kalau yang sederhana pun bisa memberikan kenyamanan dan kebahagiaan?”
“Ah, Alex ..., Mengapa kau sangat manis sekali kalau berbicara?” tanya Almira, dia menatap Alex dengan penuh tanda tanya.
Dia takut apabila pria di hadapannya ini hanya manis dalam berbicara namun zonk dalam bersikap. Seperti pada umumnya kebanyakan pria yang manis dalam berbicara adalah pria yang suka bermain di belakang. Mungkinkan suaminya ini berbeda dari yang lain? Entahlah. Almira hanya bisa berharap kalau suaminya ini adalah pria yang tepat untuk menjadi pelabuhan terakhirnya.
Jujur, dia tidak ingin kembali mencintai orang yang salah.
“Aku tidak manis dalam bicara, Almira. Apa yang aku katakan, itulah kenyataannya.”
__ADS_1