Mendadak Dinikahi Milliarder

Mendadak Dinikahi Milliarder
037 : SANGAT TERLIHAT KHAWATIR


__ADS_3

Roy berdiri di ambang pintu ruangan di mana Alex berada sembari membawa sebuah nampan di tangannya. Kedua manik indahnya memperhatikan gerak-gerik Alex dalam diam—yang di mana pria itu asik menatap foto-foto masa lalu bersama sang mantan kekasih, Laura. Dalam benaknya dia bertanya sendiri, sebenarnya hal apa yang dipikirkan Alex mengenai foto tersebut? Apakah dia mengingat tentang kisah manisnya lagi? Ataukah menertawai kebodohannya yang mencintai Laura setengah mati di masa lalu?


 


Entahlah, hanya pria itu dan Tuhan lah yang tahu segalanya.


 


Roy tidak ingin membuat Alex kembali tenggelam dengan masa lalunya pun memutuskan untuk segera menghampiri Alex di dalam sana.


 


“Tuan, ini makanan yang Anda pinta,” ucap Roy seraya berjalan mendekat ke arah Alex, lalu dia menyerahkan nampan itu kepada pria di hadapannya.


 


Sontak Alex melepaskan pigura yang ada di tangan kirinya kembali ke tempat asal semulanya—di atas ranjang, kemudian dia menyengir lebar bak kuda ke arah anak buahnya, Roy.


 


“Ah, Roy … Mengapa kau tidak memanggil dari luar saja? Kau sangat membuatku kaget dengan kedatanganmu secara tiba-tiba,” cakap Alex merasa kaku ketika diciduk oleh Roy disaat memegang fotonya bersama Laura. “Kau tahu ‘kan kalau di ruangan ini banyak debu, harusnya di luar saja.”


 


Pengawal itu hanya bisa memutar kedua bola matanya dengan rasa malas di depan atasannya.


 


“Ya, saya tidak terpikir untuk melakukan itu Tuan karena keasikan melihat Anda menatap foto-foto yang ada di atas ranjang itu,” cibir Roy penuh kemenangan menyuntik sang atasan.


 


Damn!


 


Alex kalah telak ketika terkena cibiran dari anak buahnya kali ini. Apa yang dipikirkan oleh Roy mengenai perlakukannya yang melihat foto itu? Apakah hanya karena dia memperhatikan foto tersebut Roy mengira bahwa dirinya masih mengharapkan masa lalunya, Laura? Dih, sama sekali tidak. Dia benar-benar tidak terpikir untuk mengharapkan Laura kembali ke kehidupannya.


 


Kalaupun dia berpikri untuk kembali bersama Laura itu bisa saja dia lakukan sedari dulu pada saat belum menikah dengan sang istri, yaitu Mira.


 


“Tidak usah berpikir yang aneh-aneh tentang apa yang kau saksikan tadi, Roy. Saya hanya melihat saja, tidak lebih dari itu,” tegur Alex dengan nada tegasnya  berbicara kepada Roy yang saat ini tampak menyengir lebar ke arahnya berada.


 


“Baguslah jika memang benar begitu, Tuan Alex. Saya hanya takut apabila foto tersebut mempengaruhi Anda untuk kembali kepada beliau,” kata Roy jujur. “Ini yang Anda pinta, Tuan. Ambil lah dari saya.”


 


“Tenang saja, kehadiran dia di hadapan saya pun tidak akan mampu membuat saya kembali jatuh hati pada dirinya. Sekarang saya sudah dimilikki oleh seseorang dan saya akan menjaganya dengan baik agar saya tidak akan merasakan kehilangan lagi,” jelas Alex. “Oke, terima kasih banyak, Roy!”

__ADS_1


 


Alex mengambil alih nampan yang ada di tangan Roy ke tangannya, kemudian dia segera menggiring langkah kakinya keluar dari dalam ruangan itu dan bergegas menyusuri anak tangga agar cepat sampai di dalam kamarnya bersama Mira.


 


Tok-tok-tok!


 


“Sayang …, Buka pintunya! Ini aku!”


 


Pria itu mengetuk pintu kamar secara berulang kali sembari berteriak di samping pintu kamar mereka agar sang istri mendengarnya.


 


“Oke, tunggu sebentar, Alex!” sahut Mira dari dalam sana.


 


Alex menghentikan aksinya yang mengetuk pintu kamar secara berulang kali setelah mendengar sahutan dari sang istri, dia pun dengan rasa sabar menunggu di depan ambang pintu sampai sang istri membukakan pintu untuknya masuk ke dalam sana.


 


Selang beberapa detik setelahnya pintu kamar pun terbuka lebar dan Alex pun segera berjalan masuk ke dalam sana sembari membawa nampan berisi makan dan minuman untuk sang istri tercinta, sedangkan Mira kembali mengunci pintu kamar mereka berdua, lalu berjalan mengekori suaminya menuju ke mini sofa.


 


 


“Hmm, kalau aku sih terserah dirimu, Lex. Jika kau tidak keberatan mungkin aku mau disuapin saja, he-he,” balas Mira sedikit malu-malu kucing kepada Alex, suaminya.


 


“Tidak ada istilah keberatan  dalam hidupku jika itu menyangkut orang-orang penting di hidupku, seperti dirimu, Nona Cantikku.”


 


Alex telah selesai menaruh makanan itu di atas meja dan mengeluarkannya dari dalam nampan.


 


“Ayo, duduk lah di sini. Aku akan menyuapi makan, Sayang.”


 


Almira tak banyak bersuara lagi dia pun langsung mengikuti apa yang diperintahkan oleh sang suami. Dengan sangat hati-hati wanita itu mendudukkan dirinya di atas mini sofa di sebelah suaminya, sedangkan Alex saat ini tampak sibuk meraih sendok dan mangkuk berisi makanan di atas meja untuk segera menyuapi sang istri.


 


“Ayo, bukalah mulutmu, Sayang!”

__ADS_1


 


Alex menintin sebuah sendok berisi makanan masuk ke dalam mulut Mira dengan sangat pelan dan hati-hati agar tidak membuat wanita itu tersedak.


 


Mira menerima suapan itu, lalu mengunyahnya dengan penuh rasa haru bercampur bahagia. Bersama Alex dia merasa sedikit merasakan sosok figur seorang ayah yang  sedari kecil tidak dia rasakan. Ah, momen kali ini benar-benar membuatnya begitu terharu sekali sampai-sampai dia mengunyah makanan itu sambil menitikkan air mata di hadapan suaminya hingga membuat suaminya menjadi kebingungan sendiri mengapa dia menangis?


 


“Hei, kau kenapa menangis? Apakah makanan yang kau makan sekarang terasa tidak enak di lidahmu, Sayang?” tanya Alex penuh perhatian, lalu dia pun menyodorkan sebuah gelas berisi air putih kepada Mira. “Minumlah sekarang, Mir. Jika itu terasa sangat tidak enak, muntahkan sekarang juga daripada kau harus terpaksa memakannya.” Imbuh Alex penuh rasa peduli.


 


Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, justru wanita itu semakin terisak di dalam rasa harunya. Air mata itu bukannya berhenti, malah yang ada semakin deras jatuh ke permukaan pipinya. Alex yang melihat Mira semakin menangis pun menjadi begitu khawatir, ada apa dengan istrinya ini? Ah, apakah makanan yang dibawakan oleh Roy ini berisi racun sehingga mmebuat Mira kesakitan hingga tidak bisa bersuara?


 


Ya, sepertinya dugaannya ini benar sekali.


 


Baiklah, Roy harus bertanggungjawab dengan ini semua.


 


“Tunggu sebentar di sini, Sayang. Aku akan mengintrogasi Roy tentang makanan ini kenapa bisa membuatmu menangis seperti ini!” kata Alex tegas kepada Mira, dari raut wajahnya terlihat sekali kalau pria itu panik dan cemas dengan keadaannya.


 


“Tunggu!”


 


Mira menahan suaminya dengan satu tangannya ketika pria itu hendak beranjak dari sebelahnya, dia sama sekali tidak kenapa-kenapa, tapi mengapa Alex terlihat begitu cemas sekali dengan keadaannya? Padahal dia hanya terharu saja karena perhatian dan sikap lelaki itu pada dirinya yang kurang kasih sayang dari ayahnya.


 


“Kau kenapa, Mir?” tanya Alex lagi, kecemasan dirinya kini sudah ada di ambang ketinggian. “Ayo, katakan padaku, ada apa denganmu? Apakah kau tidak suka dengan makanan ini?”


 


Alex berjongkok di hadapan istrinya, kemudian dia menyeka air mata yang jatuh ke permukaan pipi Mira dengan jemari tangannya hingga bersih.


 


“Aku tidak kenapa-kenapa, Alex. Aku baik-baik saja dan makanan ini pun terasa begitu lezat,” balas Mira dengan nada lirihnya.


 


Alex meremas rambutnya ketika mendengar balasan dari istrinya. Jika memang tidak terjadi apa-apa pada dirinya, lantas mengapa dia menangis tersedu seperti ini? Ah, dia benar-benar dibuat bingung oleh Mira di pagi hari seperti ini.


 

__ADS_1


“Lalu, mengapa kau menangis ketika memakan-makanan ini, Mir? Ayo, katakan padaku jika terjadi sesuatu yang buruk terjadi. Mengenai apa pun itu, katakan padaku!”


__ADS_2