
Almira menoleh ke arah suaminya berada, kemudian dia tersenyum ramah menatap pria itu.
“Hatiku baik-baik saja, tidak perlu khawatir untuk itu,” balasnya menjawab pertanyaan dari sang suami. “Kalau dirimu bagaimana? Apa kau merasa baik-baik saja setelah bertemu dengan mantan kekasihmu, Alex?” tanya Mira penasaran.
“Aku juga baik-baik saja, kok.”
Alex berbohong, dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya mengenai perasaannya kini kepada sang istri demi menjaga perasaan wanita itu sendiri, jujur dia tidak ingin membuat senyuman yang terukir indah di wajah cantik itu mendadak pudar begitu saja setelah mendengar ucapannya.
Pertemuannya kembali bersama Laura membuat luka yang sudah dia obati bertahun-tahun lamanya kembali mengeluarkan rasa sakit di dasar hatinya. Mengapa Laura harus kembali ke hadapannya jika hanya meninggalkan luka?
Dia merasa sakit hati ketika dihina dan dianggap kecil oleh Laura di hadapan Mira, bukan karena dia masih mencintai wanita itu.
Andaikan dia sedang tidak bersama Mira, mungkin dia akan membalas semua perkataan Laura padanya. Namun amat disayangkan jika dia bersama Laura bertemu di waktu yang salah.
Mira memperhatikan wajah Alex dengan seksama. Dia tahu bahwa suaminya berbohong padanya saat ini, tapi demi menjaga suasana agar tetap baik-baik saja, Mira pun mencoba untuk bersikap netral di hadapan suaminya.
Dia tahu betul bagaimana rasanya berjumpa dengan mantan kekasih, apalagi dia tahu bahwa Alex dan Laura adalah pasangan yang telah menjalin hubungan asmara dengan jangka waktu yang lama—sama seperti dirinya bersama Ameer. Jujur, dia tidak munafik mengenai perasaannya sendiri bila berjumpa dengan Ameer ada rasa rindu yang lepas begitu saja dari lubuk hatinya yang terdalam.
“Sebaiknya sekarang kita pulang saja ke rumah,” ujar Almira pelan di samping daun telinga suaminya. “Untuk belanjanya bisa kita tunda dahulu, ini semua demi kenyamanan dirimu, Alex, sebab pakaianmu sudah kotor. Kau adalah pria yang dikenal banyak orang, tidak enak apabila kau berjumpa dengan salah satu rekanmu dengan pakaian yang kotor seperti ini.”
Ucapan Almira ada benarnya juga, tapi apakah wanita itu tidak akan berkecil hati padanya karena tidak jadi membeli barang-barang branded di Mall ini? Ah, mengesalkan sekali rasanya. Harusnya hari ini mereka menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, tapi semuanya harus kacau karena kehadiran Laura yang menghancurkan segalanya.
Wanita itu benar-benar seperti sebuah kutukan di dalam hidupnya, sebab dia hanya bisa memberikan luka dan emosi di sepanjang sejarah hidupnya.
“Jika kita kembali, apakah kau tidak akan berkecil hati, Mira?” tanya Alex langsung kepada sang istri. “Tolong berkata jujur, ya.”
Gadis itu menghela napasnya panjang, “Untuk apa aku berkecil hati dengan sebuah peristiwa yang tidak disengaja, Alex? Memangnya kita bisa untuk menunda sebuah peristiwa agar tidak terjadi? Tentunya tidak bisa, ‘kan?”
“Ah iya, Sayang, kau benar sekali!”
__ADS_1
Alex terkekeh pelan, lalu dengan gemas satu telapak tangannya mengacak-acak anak rambut sang istri.
“Maaf jika hari ini tidak sesuai dengan rencana yang telah aku katakan padamu, Mira. Tapi aku berjanji untuk mengganti hari ini dengan hari yang lain dan lebih special dari hari ini.”
Dia tersenyum penuh keyakinan, kemudian menggandeng lengan istrinya dan mereka pun bergegas untuk keluar dari dalam Mall menuju ke parkiran VIP yang di mana mobil pribadi Alex terparkir rapi.
**
Tiga puluh lima menit menghabiskan waktu di perjalanan, kini sepasang suami-istri itu telah kembali ke rumah pribadi mereka.
Kepulangan keduanya disambut hangat oleh beberapa orang anak buah yang berjaga di halaman rumah, terutamanya adalah Roy—si pengawal yang memiliki kasta teratas dari anak buahnya yang lain.
“Lho! Anda sudah pulang Tuan Alex? Kenapa begitu cepat sekali? Bukankah Anda mengatakan akan pulang pada malam hari?”
Roy mengajukan pertanyaan kepada atasannya setelah menyambut kepulangan pria itu bersama istri tercintanya, dia menatap heran ke arah atasannya yang tampak sedang tidak baik-baik saja. Apakah ada sesuatu yang terjadi kepada atasannya ini? Kalaupun ada, kenapa atasannya tidak mengabarinya?
Alex menunjukkan bekas kotoran ice cream yang ada di punggungnya ke hadapan Roy dengan tampang kesalnya.
“Kau sudah melihatnya Roy!?” teriak Alex sedikit tinggi di hadapan pengawalnya itu.
Roy melihat kotoran yang ada di punggung atasannya itu dengan jelas, kenapa pakaian atasannya itu sampai kotor seperti itu? Terkena apa dia? Pikir Roy kebingungan sendiri.
“Emmm ..., Saya melihatnya dengan jelas Tuan Alex, jika saya boleh tahu mengapa pakaian Anda bisa terkena kotoran seperti itu? Dan itu kotoran apa?” tanya Roy ingin tahu. “Bukankah sebelum pergi tadi Anda mengatakan kepada saya jika terjadi apa-apa Anda akan menelepon saya? Tapi mengapa Anda tidak menelepon saya juga?” tanya Roy kembali, dia tidak ingin menjadi empuh kemarahan atasannya kali ini karena pria itu sama sekali tidak meneleponnya.
“Ini bukan masalah besar, Kak.”
Almira menyela masuk ke dalam pembicaraan suaminya bersama anak buah suaminya itu. Dengan sopan dia memanggil pria itu ‘kak’ padahal status Roy adalah bawahan suaminya.
__ADS_1
Mendengar panggilan sopan dari istri atasannya membuat Roy hanya bisa menelan salivanya susah payah. Benarkah istri atasannya itu memanggilnya dengan sebutan ‘kak’ pada dirinya? Ataukah kedua telinganya salah mendengar?
“Anda memanggil saya ‘kak’, Nona Mira?” tanya Roy tidak percaya, dia pun mengalihkan pandangannya dari atasannya ke arah Mira berada.
Melihat suaminya dan Roy memandang ke arahnya dengan tatapan heran membuat Almira mengerutkan keningnya. Apakah ada yang salah dari panggilannya kepada Roy?
“T-tentu saja,” jawab Mira sambil menyengir lebar agar mengurangi rasa kaku pada dirinya. “A-apakah ada yang salah dari panggilanku?” tanyanya polos.
Alex melihat ekspresi kebingungan istrinya pun seketika tersenyum, moodnya yang hilang kini telah kembali. Dia tahu bahwa Mira menghargai Roy, sebagai orang yang lebih tua darinya.
“J-jangan memanggil saya dengan panggilan itu, Nona. Anda tidak boleh, panggil saja saya dengan Roy!” tegasnya kepada Mira, lalu beralih menatap ke arah atasannya sambil menyengir lebar bak kuda. Jujur dia takut bila atasannya marah padanya karena istrinya itu memanggilnya seperti itu.
“Kenapa kau melarang istri saya seperti itu, Roy?” tanya Alex heran. “Dia menghargaimu, karena usiamu jauh di atasnya.”
Roy tersentuh mendengar penjelasan atasannya, namun dia harus sadar bahwa posisinya adalah bawahan dan tidak pantas untuk merasa ‘dihargai’ oleh wanita itu.
“T-tapi, Tuan Alex—”
“Roy, jangan tapi-tapian. Biarkan dia menghormatimu dengan keseharusan. Usianya berbeda jauh dengan kita, dia berusia dua puluh tiga tahun, sedangkan kita sudah dua puluh tujuh tahun.”
“Apakah aku tidak boleh memanggilmu dengan panggilan itu?” tanyanya kembali pada Roy. “Tidak perlu merasa tidak enak, status hanyalah bentuk sosial, bukan berarti aku harus memanggilmu dengan sesuka hati, Kak Roy.”
Alex mengacungkan kedua jempolnya ke hadapan Mira. Dia bangga dengan istrinya itu karena memiliki attitude yang baik di hadapan semua orang, termasuk anak buahnya.
Seperti yang dia katakan kalau Laura berbanding terbalik dengan istrinya.
Bahkan Laura tidak pernah memanggil anak buahnya dengan panggilan-panggilan sopan, padahal usia Laura dengan istrinya tidak jauh berbeda. Tapi mengapa attitude istrinya jauh lebih bagus ketimbang mantan kekasihnya itu?
Mungkin itu semua karena didikan orang tua Almira.
__ADS_1
Ah! Dia menjadi penasaran dengan latar belakang orang tua istrinya ini. Sepertinya dia harus meminta asistennya untuk menggali informasi lebih dalam tentang Almira.