Mendadak Dinikahi Milliarder

Mendadak Dinikahi Milliarder
034 : APAKAH ADA KAITANNYA?


__ADS_3

Awan hitam telah membentang luas di atas langit yang tinggi di atas sana sehingga membuat sang mentari tak menunjukkan wajahnya ke permukaan bumi. Rerintikan hujan mulai turun membasahi bumi yang sudah mulai gersang karena sudah hampir satu minggu lebih tidak disiram oleh air hujan.


 


Gemuru petir serta geluduk beradu di atas sana sehingga menimbulkan suara yang cukup kuat terdengar di kedua telinga siapa pun, sehingga membuat seorang wanita yang tadinya terlelap di dalam alam mimpinya menjadi terbangun. Wanita itu tidak lain adalah Almira bawazier, seorang nona muda di rumah besar yang saat ini dia tempati.


 


Dia memulai kehidupan barunya setelah menikah dengan Alexander tanpa membawa apa pun, selain hanya badan dan ponselnya. Selebihnya tidak ada sama sekali.


 


Hidup sebatang kara di Kota ini setelah sang ibunda tiada, sedangkan ayahnya sudah meninggalkan dirinya bersama mendiang san ibu dari usianya tujuh bulan berada di dunia ini. Kedua orang tuanya adalah orang perantauan, jadi tidak ada sanak-saudara yang dia kenali baik dari sang ibu maupun sang ayah. Ibunya adalah wanita berdarah asli orang Indonesia, sedangkan sang ayah adalah seorang bule asal Belanda yang menetap di Indonesia.


 


Dia adalah gadis blesteran Indonesia-Belanda.


 


Wajah cantik dan anggun yang dia miliki diwarisi dari mendiang ayahnya, sedangkan kulitnya yang putih bersih diwarisi dari sang ibunda. Sungguh perpaduan yang sangat indah dan serasi bukan? Tentu saja, apalagi Mira adalah anak satu-satunya dari kedua orang tuanya.


 


Merasa nyawanya sudah terkumpul secara keseluruhan, Mira pun mencoba bangkit dari atas ranjang untuk membersihkan wajahnya dan membuang air liur basi. Sebelum dia bangkit, dia pun menoleh ke arah samping, ternyata tidak ada siapa-siapa di sana, termasuk suaminya sendiri.


 


Wanita itu mengerutkan kedua alisnya heran. Dalam hatinya bertanya, ke mana perginya Alex? Apakah dia telah pergi bekerja? Benarkah pria itu pergi bekerjanya?


 


Mira yang merasa bingung sendiri pun mengalihkan pandangan matanya ke arah lain untuk mencari keberadaan jam dinding. Jarum jam tampak menunjukkan pukul tujuh pagi lewat sepuluh menit, dan cuaca juga tampak tidak bersahabat. Benarkah Alex sudah pergi? Ataukah dia pergi sebentar keluar untuk mencari sarapan di meja makan?


 


Ah, entahlah.


 


Dia yang tidak ingin pusing pun memutuskan untuk pergi ke dalam kamar mandi tanpa menunggu lama.

__ADS_1


 


Sesudah membersihkan wajahnya, Mira kembali keluar dari dalam kamar mandi. Dia yang mendengar deruan petir dan geluduk saling bersahutan pun memutuskan untuk menutup lemari kaca dan cermin di meja riasnya agar tidak menimbulkan petir di dalam rumah seperti konon kata orang-orang—jika ada petir segera tutup cermin atau kaca apa pun.


 


Almira mendesahkan napasnya kasar ketika dia telah menutup kaca lemari pakaiannya bersama Alex dan cermin riasnya, dia bingung harus melakukan kegiatan apa di pagi hari ini karena tidak tahu di mana keberadaan Alex sekarang. Dia hendak menelepon Alex tetapi dia tidak tahu nomor ponsel lelaki itu. Hais, bagaimana ini?


 


Sebaiknya dia tunggu saja di dalam kamar ini sampai pria itu kembali lagi kemari walau dia tidak tahu kapan pria itu akan kembali kemari. Seperti menunggu, tetapi tidak tahu apa yang akan ditunggu.


 


Ketika pikirannya sedang memikirkan Alex, tiba-tiba saja sesuatu melintas di pikirannya saat ini.


 


Apakah Alex marah padanya karena dirinya mengatakan kalau dia sudah tidak p*rawan lagi?


 


Apakah karena itu Alex pergi meninggalkannya begitu saja disaat dia masih tertidur pulas di dalam mimpi? Hais, bagaimana kalau pria itu benaran akan menceraikannya karena dia mengatakan kalau dia sudah tidak p*rawan lagi? Ah, sial sekali! Mengapa dia bisa sebodoh itu menjadikan hal sensitif seperti itu sebagai sebuah lelucon.


 


 


“Kau sudah bangun, Mira?”


 


Suara seseorang terdengar jelas di kedua telinga Mira hingga membuatnya terkejut dari lamunannya dan sontak menoleh ke arah suara tersebut.


“A-alex …, Kau dari mana saja?” Gadis itu membawa kedua kakinya melangkah ke arah Alex berada. “Mengapa kau pergi tidak memberitahuku terlebih dahulu?” tanyanya kembali menyerocos kepada sang suami.


 


Melihat sang istri sedikit panik membuat Alex mengerutkan dahinya heran, apa yang dipikirkan oleh wanita itu tentang kepergian dirinya yang hanya sebentar dari kamar ini? Apakah dia sedang memikirkan hal buruk? Hmm, sepertinya memang benar begitu.


 

__ADS_1


“Aku tidak pergi ke mana-mana, Mira, hanya pergi ke bawah untuk mencari keberadaan Roy dan Ricky, memangnya ada apa sampai kau terlihat panik begitu, Sayang?” tanya Alex perhatian, dia pun merangkul wanita itu masuk ke dalam pelukannya. “Tenanglah, aku tidak mungkin pergi ke luar dari rumah ini tanpa memberitahumu terlebihi dahulu, aku di sini untukmu selalu.”


 


Mira merasa tenang setelah pria itu menuntun tubuhnya masuk ke dalam dekapannya, pikiran-pikiran buruk mengenai Alex sudah mulai berpergian dari ruang otaknya.


 


“A-aku hanya takut apabila kau marah kepadaku dan berniat untuk meninggalkanku setelah pertanyaan kemarin,” tutur Mira jujur, tampak jelas bukti kecemasan itu di raut wajahnya.


 


Alex terkekeh mendengar ucapan istrinya, mengapa Mira bisa berpikir seperti itu tentangnya? Hais, bukankah dia mengatakan kalau dirinya tidak akan meninggalkan Mira meskipun dia tahu kalau wanita itu sudah tidak menyandang status p*rawan? Tapi, mengapa dia bisa berpikir sejauh itu? Apakah karena rasa bersalah kepada dirinya karena tidak lagi memiliki mahkota berharga?


 


“Apa pun yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Mau kau sesali bagaimanapun, mau ditangisi seperti apa pun, semua tidak akan bisa kembali, kan? Jadi, sudahlah. Tidak perlu kita mengingat hal buruk itu, biarlah semua terlupakan seiring berjalannya waktu,” kata Alex dengan lembut seraya membelai pucuk kepala Almira dengan satu tangannya.


 


Mira mendongak sedikit ke atas untuk menatap wajah pria itu, apa yang harus dia lakukan kini? Apa sebaiknya dia berkata jujur saja kepada suaminya kalau dirinya ini masih menyandang status sebagai seorang p*rawan? Tapi, apakah mungkin pria itu percaya pada ucapannya?


 


Sepertinya tidak mudah bagi Alex untuk percaya begitu saja kepada dirinya.


 


Ah, masa bodoh. Mau Alex percaya atau tidak pada dirinya bukankah itu hak dirinya sendiri? Kalaupun pria itu tidak percaya dia akan meminta pria itu melakukan hubungan itu sekarang demi membuktikan kalau dirinya ini masih memiliki mahkota berharga seperti gadis pada umumnya.


 


“Alex,” panggil Mira dengan nada lirih dan terdengar sangat lembut di kedua telinga Alex.


 


“Iya, Sayang?”


 


“Apakah kau benar-benar percaya kalau aku sudah tidak p*rawan lagi?”

__ADS_1


 


Mira langsung melontarkan pertanyaan kepada Alex sehingga membuat pria itu terdiam tak bersuara. Sejenak dia berpikir mengapa Mira bertanya seperti itu? Dan apakah ini semua ada kaitannya dengan kenyataan yang dia ketahui dari kedua anak buahnya tadi?


__ADS_2