
Alexander beranjak dari tempat atas ayunan secara tiba-tiba sehingga membuat sang istri yang tengah bersandar di atas dada kekarnya menjadi heran sendiri, ada apa dengan suaminya sehingga meninggalkannya begitu saja tanpa berkata apa-apa?
“Hei, Suamiku! Kau hendak ke mana?” jerit Almira sedikit besar saat melihat Alex melangkah pergi dari dekatnya menuju ke halaman rumah.
“Tunggulah dahulu, Mira.”
Alex tak menoleh, dia terus melangkah ke arah depan agar lebih dekat dengan kedua anak buahnya. Dia hendak memastikan kalau kedua matanya tidak salah melihat—yang di mana dia melihat kehadiran Roy bersama Ricky di rumahnya ini.
“Roy, Ricky!” panggil Alex dengan nada besar saat dia bediri tegap di penghujung teras rumahnya tanpa mengenakan alas kaki.
“Se-selamat sore, Tuan Alex,”
Ricky bersama temannya, Roy, menyapa pria yang kini berdiri tegap di hadapan mereka ketika keduanya sudah sampai di depan teras.
“Ya, sore kembali. Kenapa kalian pulang lebih awal? Bukankah kalian mengatakan akan menghabiskan waktu lama di sana? Dan waktu cuti kalian masih tersisa empat hari lagi lho,” tutur Alex heran, dia memperhatikan kedua anak buahnya itu dengan seksama dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Merasa bingung atas pertanyaan dari sang atasan membuat keduanya hanya bisa saling menatap sambil menyengir lebar sendiri sehingga hal tersebut membuat Alex sangat penasaran. Apakah ucapannya beberapa hari yang lalu kepada Ricky benar terjadi?
He’em, sepertinya benar sekali.
“Di mana wanita yang kau temui itu, Ky? Apakah kau tidak mengajaknya kemari?” selidik Alex mencoba membuka percakapan di antaranya bersama kedua lelaki di hadapannya agar tidak terlalu canggung.
Ricky menelan ludahnya sendiri sembari menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal di hadapan Alex, “Dia tetap berada di rumahnya, Tuan. Lagipula untuk apa saya membawanya kemari? Dia milik orang tuanya yang sangat tidak bisa saya ajak ke sana kemari dengan sesuka hati,” ujar Ricky menjawab seraya menyengir lebar di depan Alex.
Plak!
Roy yang merasa lucu dengan jawaban Ricky pun refleks menepuk punggung teman kerjanya itu sambil mencibir, “Heh! Tidak usah kau berbohong lagi, Ky. Katakan saja yang sebenarnya terjadi kepada atasan kita ini. Mau kau rekayasa bagaimanapun dia nanti juga akan tahu pada akhirnya!” tegas Roy memperingati Ricky agar tidak lagi menutupi kebenaran apa pun dari Alex.
Melihat perlakuan Roy membuat Alex sudah bisa menemukan jawabannya, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali sembari mengenduskan napasnya kasar.
__ADS_1
“Apakah kau menyesal telah menghabiskan uangmu untuk pergi ke sana, Ricky?” tanya Alex dengan wajah santainya kepada Ricky. “Ternyata apa yang aku ucapkan sudah terbukti juga. Ha-ha!”
Roy mengamati netra indah milik atasannya, dia bisa melihat kalau pria itu sudah tahu jawabannya sendiri tanpa mereka menjelaskan lebih dulu. Ah, ternyata benar kalau Alex sangatlah pintar dalam hal apa pun. Dia tidak bisa terbayang bagaimana kemampuan keturunan lelaki itu nantinya. Apakah akan sama seperti ayahnya, Alex, ataukah akan jauh lebih pintar dari ayahnya? Hmm, sebuah penantian yang begitu dinanti oleh Roy.
“Jika tidak seperti itu mungkin saya akan terus mengamali hendak pergi ke sana, Tuan Alex, ha-ha. Semua yang sudah terjadi memberikan saya begitu banyak pelajaran,” sahut Ricky lirih. “Apa yang Anda katakan beberapa hari yang lalu ternyata benar, dia adalah seorang banci. Semua ini bagaikan mimpi buruk yang tidak pernah terbayang sedikitpun di hidup saya, Tuan.”
Alex tersenyum tipis saat telinganya mendengar kejujuran dari sang asisten. Ada rasa ingin tertawa lepas saat ini, namun dia berusaha keras menahannya agar tidak membuat Ricky tersinggung. Ya, bagaimanapun juga dia masih memiliki hati untuk itu. Kasihan sekali asistennya gantengnya ini, bisa-bisanya banci itu mengerjainya sampai kelewatan seperti ini.
Hikmah dari ini semua sangat baik bagi Ricky—di mana dia sudah disadarkan untuk jangan pernah percaya dengan aplikasi-aplikasi biro jodoh maupun media sosial yang menghubungkan dengan para wanita. Karena, kebanyakan pemain di dalamnya adalah seorang pria yang menyamar menjadi seorang wanita demi sebuah keuntungan, yaitu uang. Atau bisa jadi pria-pria itu adalah seorang g*y yang menyukai sesama bangsanya sendiri.
Masalah yang dialami oleh Ricky benar-benar sangat lucu, apabila anak buahnya yang lain tahu perihal ini bisa-bisa asistennya itu akan menjadi bahan olok-olokan ataupun bully-an dari teman-temannya.
“Bagus, Ky. Setidaknya banci itu membuatmu sadar untuk jangan pernah mencari jodoh melalui aplikasi-aplikasi biro jodoh lagi,” tutur Alex kepada Ricky. “Jika kau memang hendak mencari pasangan, pergilah berjalan-jalan mengelilingi Kota atau pergi ke sebuah tempat dan lihatlah wanita-wanita di luar sana yang tampak jelas di depan matamu, lalu kau minta nomor HP-nya,” usul Alex memberikan saran terbaik kepada sang asisten pribadinya itu.
“Siapa banci yang kau maksud, Alex?” tanya Mira langsung, dia menyela masuk ke dalam topik pembahasan seraya beranjak dari atas ayunan.
Alex menoleh ke arah sumber suara, lalu tersenyum sedikit lebar. Ah, istrinya ini selalu saja mendengar pembahasannya bersama anak buahnya.
“Tidak ada, Sayang.” Alex tidak memberitahunya kepada Mira tentang permasalahan yang terjadi kepada Ricky kepada istrinya karena hal tersebut adalah privasi. “Sebaiknya sekarang kau masuk saja ke dalam kamar, ya. Aku akan membahas sesuatu yang penting bersama mereka.”
Mendapati sebuah perintah dari sang suami membuat Mira menjadi sedikit kecewa karena lelaki itu tidak memberitahu apa pun kepadanya. Tapi ya sudah, dia tidak mengambil hati dengan itu semua karena dia tahu kalau Alex pasti menjaga sebuah privasi milik anak buahnya.
“Baiklah, Suamiku. Aku akan pergi sekarang juga. Dah, sampai jumpa kembali di kamar, ya.”
Mira berlalu pergi meninggalkan teras rumah dan berjalan masuk ke dalam rumah untuk pergi ke dalam kamar pribadinya bersama sang suami yang ada di lantai dua tanpa menunggu lebih lama lagi. Sedangkan Alex melihat kepergian Mira sampai menghilang dari pandangan matanya, kemudian dia kembali memandangi kedua anak buahnya yang berdiri tegak di depan matanya.
“Mengapa Anda meminta nona pergi ke kamar?” tanya Roy bingung kepada Alex.
__ADS_1
“Itulah yang dinamakan sebuah privasi Roy, tidak semua hal dia harus mengetahuinya.” Alex menjawab dengan tenang kepada pengawalnya. “Bagaimanapun kita harus tetap saling menjaga aib, mau itu teman, sahabat, keluarga maupun pasangan. Tidak akan mungkin aib Ricky harus aku ceritakan kepada istriku,” sanggahnya kembali.
Ricky tertegun mendengar ucapan Alex yang begitu bijak menurutnya.
“Ah, saya menjadi terharu mendengar pernyataan itu Tuan Alex, saya ucapkan terima kasih banyak karena masih menjaga aib saya dari nona Mira,” sahut Ricky, dia pun merasa bangga kepada lelaki itu. Menurutnya, dia tidak sia-sia sudah memilih Alex sebagai atasannya.
“Tidak perlu berterima kasih kepada saya, Ky. Semua itu sudah menjadi keseharusan.” Alex tersenyum kecil. “Jadi, apakah kau masih ingin mencari jodoh melalui aplikasi online?” tanya Alex kembali kepada topik pembahasan mereka.
“Tentu saja tidak, Tuan Alex, karena saya begitu kapok!” ketus Ricky dengan napas memburu. “Anda tahu? Wanita itu sangat cantik sekali, badannya langsing dan putih bersih. Tapi sayang, dia adalah pria yang sudah mengubah wujudnya menjadi seorang wanita. Dia benar-benar wanita jadi-jadian, Tuan! Ih, untung saja saya cepat sadar, kalau tidak mungkin saya akan menjadi pria g*y!”
Tawa Alex pecah ketika melihat ekspresi Ricky yang tampak geli dengan wanita jadi-jadian yang dia maksud itu. Lagipula salah siapa yang masih saja percaya dengan dunia online di era sekarang? Padahal zaman udah begitu canggih sekali.
“Ha-ha-ha, mangkanya jangan terlalu percaya dengan dunia online. Hal semacam ini tidak perlu kau cari secara online, Ky. Jika kau mau mendapatkan kekasih, kau buat saja pengumuman di akun instagrammu, lalu buatlah caption begini. ‘Dicari seseorang yang berjenis kelamin perempuan original untuk dijadikan kekasih saya. Jika berminat langsung interview sekarang juga di alamat Xxx’ pasti banyak yang akan datang untuk melakukan interview, Ky.”
Roy mendecit, “Sudah seperti melamar kerja saya, Tuan Alex, ha-ha!”
“Bukankah itu ide bagus, Roy? Mengapa kau justru menertawainya?” tanya Alex heran seraya mengangkat satu alisnya ke atas. “Atau harus saya juga yang membuat pengumuman itu untuk kalian berdua agar berhenti tertipu oleh media online?” imbuhnya kembali.
“Sebaiknya Ricky saja, Tuan. Kalau saya bisa sendiri mencarinya,” tolak Roy secara halus.
“S-saya juga bisa sendiri Tuan Alex,” sambut Ricky.
“Jika kau bisa sendiri, lantas mengapa kau bisa tertipu oleh seorang banci, hmm?”
__ADS_1