
Sepasang pengantin baru itu tampak berjalan keluar dari dalam kamarnya, mereka hendak turun ke lantai bawah untuk pergi sarapan di meja makan.
Ameer yang belum juga pergi dari kediaman Alex pun melihat sang mantan kekasih, Almira, sedang berjalan menuruni anak tangga bersama sahabatnya, Alex, hal tersebut membuat hati Ameer ingin sekali menjerit dan meminta untuk Almira kembali kepadanya lagi. Tapi, apakah bisa? Ah, entahlah. Rasanya dia benar-benar sangat tidak bisa menerima kenyataan.
“Almira!”
Ameer berteriak keras menyebut nama wanita yang dia cintai di dalam ruang tamu hingga suaranya yang besar itu pun menggema di seluruh ruangan. Jarak antara tangga dan ruang tamu cukup jauh, namun Alex dan Almira yang ada di sana bisa mendengarnya dengan jelas.
Wanita itu mendelik heran dan memperhatikan seluruh arah, suara yang memanggil namanya seperti sudah tidak asing lagi di kedua telinganya. Setelah dia mencari-cari pemilik suara itu, ternyata benar bahwasannya suara itu adalah milik sang mantan.
“Ameer?” ucap Alex heran ketika dia masih mendapati Ameer berada di rumahnya. “Tunggu aku di meja makan, ya. Aku akan menyelesaikan urusanku bersama Ameer terlebih dahulu. Jangan panik, oke?”
Alex memandangi Almira penuh keyakinan agar wanita itu mau mengikuti arahan darinya, dia tidak akan mengizinkan Ameer untuk kembali hadir di hadapan istrinya karena dia tidak mau membuat Almira semakin membutuhkan waktu lama untuk melupakan kenangannya bersama sahabatnya itu.
“Baiklah, Alex. Hati-hati ya, jaga dirimu baik-baik supaya tidak terpancing emosi.”
Wanita itu mengerti dengan arahan Alex dan dia sama sekali tidak bertanya kepada Alex tentang apa alasan pria itu memintanya langsung pergi ke meja makan tanpa diperbolehkan ikut dengannya ke ruang tamu di mana sang mantannya berada. Baginya, kalau dia bertanya seperti itu sama saja dengan dia tidak bisa menghargai Alex sebagai suaminya. Bukankah kewajiban bagi dirinya mengikuti perintah dari Alex? Ya, benar adanya begitu.
“Aku akan selalu menjaga diriku. Pergilah sekarang, Sayang!”
__ADS_1
Alex menekankan perintahnya kepada Almira, lalu setelahnya dia segera berlari kecil menuju ke ruang tamu. Dia mengira bahwa Ameer sudah pergi dari rumahnya, ternyata belum. Mau menunggu apa lagi pria itu di sini? Apakah dia akan menunggu sampai Alex mau menyerahkan Almira kembali padanya?
“Kenapa kalian semua masih membiarkan dia berada di sini? Bukankah aku sudah memerintahkan kalian untuk mengusirnya?!”
Satu persatu anak buah Alex mulai menundukkan pandangan mata mereka ke bawah tanpa berani membalas tatapan dari sang atasan ketika melihat air muka pria itu berubah drastis. Tapi apa boleh buat jika mereka tidak bisa mengusir Ameer dari rumah ini, hal tersebut dikarenakan Ameer sendiri tidak mau pergi. Jika mereka mengusir pria itu pergi memakai kekerasan, maka Ameer pastinya akan menuntut mereka semua ke polisi atas tindakan penganiayaan.
Jadi, tidak ada pilihan lain bagi mereka selain membiarkan Ameer pergi dengan sendirinya dari rumah ini. Namun, meskipun begitu semua anak buah Alex berjaga agar Ameer tidak akan berbuat hal lebih seperti—menerobos masuk ke dalam ruangan lain-selain ruang tamu karena rumah ini begitu banyak privasi yang harus dijaga. Bahkan semua anak buah Alex dan pelayan rumah pun tidak akan berbuat sesuka hati mereka di rumah mewah ini tanpa adanya izin dari Alex.
Mereka tidak berkecil hati, hanya saja menghargai yang namanya privasi.
“Maaf, Tuan. Tuan Ameer sejak tadi tidak ingin pergi, kami sudah mengusirnya dengan cara yang baik dan sopan, namun beliau juga masih tidak mau pergi.”
Alex mengangkat satu alisnya ke atas ke arah anak buahnya yang bertanya, lalu tak lama kemudian dia kembali menatap lurus ke arah Ameer berada. Apa yang dikehendaki oleh Ameer sehingga belum mau meninggalkan rumahnya? Apakah ucapannya kepada Ameer tadinya kurang jelas?
Entahlah.
Haruskah dia memberikan satu pukulan ke wajah Ameer agar pria itu berhenti memancing amarahnya hari ini?
Sepertinya memang benar bahwasannya Ameer sangat ingin diberikan pukulan olehnya. Rasanya juga sudah lama dia tidak beradu tinju di atas ring bersama Ameer.
__ADS_1
“Jika kau tidak mau pergi dari rumahku, bagaimana jika kita duel di atas ring nanti malam, Ameer?” tantang Alex tak main-main, rasanya dia begitu muak jika harus beradu mulut secara terus-menerus dengan sahabatnya ini. Bukankah seorang pria lebih baik beradu jontos daripada beradu mulut, ‘kan?
Semua orang yang ada di dalam ruang tamu pun hanya bisa menelan saliva mereka masing-masing, terkhususnya para anak buah Alex ketika mendengar atasan mereka menantang sahabatnya sendiri di atas ring untuk beradu jontos. Ah, atasan mereka ini benar-benar laki sejati yang mengambil jalan bagus daripada harus beradu mulut. Tapi, apakah sahabat atasan mereka itu akan menerima tantangan tersebut?
“Woah, apakah Tuan serius menantang tuan Ameer untuk beradu jontos nanti malam?” tanya salah satu anak buah Alex kepada dirinya. “Sepertinya akan sangat menyenangkan jika duel ini benar-benar terjadi.”
Alex tersenyum tipis, “Tentu saja serius, mana mungkin aku hanya bermain-main. Lagipula aku adalah seorang jantan dan aku tidak suka pria pengecut yang hanya besar di omongan saja.”
Wajah Ameer memerah padam menahan emosi di dalam dirinya, Alex benar-benar sudah sangat keterlaluan pada dirinya. Bagaimana tidak, setelah merebut Almira darinya, kini pria itu malah mengajaknya untuk bertinju di atas ring? Ah, menyebalkan sekali!
Demi tetap menjaga nama baiknya, Ameer harus menerima tantangan dari Alex. Jika dia tidak menerima tantangan dari sahabatnya itu, maka bisa-bisa dia dicap oleh semua orang sebagai pria pengecut dan penakut yang hanya besar di omongan saja.
“Kau katakan aku pria pengecut, Alex? Aku terima tantangan darimu. Jangan sok arogant di hadapan semua anak buahmu, kau kira aku akan takut dan menolak tantangan busukmu itu? Aduh, Lex, bukan mainanku untuk lari dari tantangan yang kau beri!” cecar Ameer membela dirinya, dia berpura-pura tegas agar Alex tak menindasnya di hadapan semua orang.
“Bagus lah jika kau mau menerima tantangan dariku. Sekarang pergilah dari rumahku, aku mengundangmu nanti malam untuk datang kemari pada jam delapan untuk duel denganku di atas ring,” ucap Alex dengan wajah datarnya, namun nada suaranya terdengar begitu tegas. “Jika aku menang, kau harus pergi dari kehidupanku dan memutuskan semua kerja sama kita dalam hal apa pun. Tapi, jika aku kalah, aku akan memberikanmu sepuluh unit ferari dan sepuluh unit lamborghini. Bagaimana?”
“Tidak masalah! Hal bagus untuk aku terima. Baik, aku akan datang kemari entar malam untuk bertinju denganmu, aku pastikan kau akan kalah telak malam ini, Alex!”
“Tidak usah banyak b*cot, Ameer. Pergilah dari sini, dan mari kita lihat hasilnya nanti malam.”
__ADS_1