
“Yang terjadi di masa lalu, biarlah semua berlalu. Aku tidak ingin mengingat perkara apa pun lagi tentang yang sudah terjadi, Lex.”
Mira berpura-pura sedih di hadapan sang suami. Padahal dia masih memegang status dirinya sebagai p*rawan. Ini semua dia lakukan semata-mata hanya ingin menguji kesetiaan seorang suami.
Alex mendesahkan napasnya sedikit kasar ke udara, tatapan matanya berpaling ke arah lain. Entah mengapa ketika mendengar kata tak p*rawan lagi dari sudut bibir Mira membuat dadanya terasa sesak. Padahal dia sendiri sudah tidak memegang status keperjakaannya.
Huuh, apa yang harus dia lakukan kini?
Haruskah dia menerima kenyataan dengan lapang dada? Entahlah. Tapi, kalau dia protes akan masa lalu Mira, bagaimana dengan masa lalunya bersama Laura yang telah melakukan hubungan itu berkali-kali di rumah pribadinya ini?
Apakah dia juga harus jujur mengenai persoalannya di masa lalu bersama Laura kepada Almira? Lagipula, istrinya berhak tau bukan kalau status dirinya juga bukan seorang perjaka? Ya, cepat atau lambat pastinya Almira juga akan mengetahui semua itu. Bukannya lebih baik wanita itu tahu dari dirinya sendiri daripada dari orang lain, 'kan?
Lebih baik mereka berdua saling terbuka satu sama lain tentang masa lalu, agar di masa depan tidak ada lagi pembahasan masa lalu. Sebab Alex juga ingin memperindah masa depannya bersama Almira.
Toh, tidak ada yang salah dari istrinya. Mereka dipersatukan dengan status mereka masing-masing—yang di mana dia mendapatkan Almira sebagai sosok gadis tak p*rawan sedangkan Almira mendapatkannya sebagai sosok pria tak perjaka.
Ini hanya perkara waktu yang telat mempertemukan mereka berdua. Andai dia bertemu dengan Mira sedari dulu, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
Dia sudah bisa menebak kalau orang yang mendapatkan kep*rawanan istrinya itu adalah temannya sendiri, yaitu Ameer. Karena dia tahu kalau Ameer adalah pria yang gampang tergoda dengan seorang wanita. Mustahil bukan jika Ameer tidak tergoda sedikitpun dengan Mira—yang memiliki tubuh seindah itu?
Benar sekali.
Mau dikeluhkan juga tidak akan merubah keadaan. Dia hanya bisa menerima, dan memperbaiki kenyataan agar indah di masa yang akan datang.
“Alex, apa kau marah padaku karena kehormatanku sudah direnggut?” tanya Mira pelan, dia mencoba memperhatikan Alex dengan seksama dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
__ADS_1
Alex menoleh ke arah samping ketika mendengar pertanyaan lembut dari sang istri, “Tidak, Mira.” Dia berbohong kepada istrinya agar tidak melukai perasaan wanita itu. “Tidak ada yang salah, toh aku menikah denganmu karena aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan dirimu, bukan karena apa-apa. Berarti apa yang dikatakan oleh ayah tirimu kala itu benar adanya?” tanya Alex kembali.
Mira terpelongo mendengar pertanyaan terakhir dari suaminya. Cih, apakah Alex berpikir bahwa dia benar-benar sudah tidak p*rawan lagi? Jika pria itu tidak percaya dengan dirinya, boleh lah di test berhubungan untuk membuktikan bahwa dirinya benar-benar masih p*rawan.
Ingin sekali rasanya Mira memuntahkan isi perutnya ke depan wajah suaminya itu karena kembali mengingatkan dirinya tentang Zion. Dih, pria macam apa itu yang berambisi ingin mendapati anak tirinya sendiri setelah kepergian istrinya. Bahkan untuk sebutan sebagai seorang ‘pria’ untuk Zion pun rasanya sangat tidak pantas. Dia jauh lebih pantas untuk dipanggil sebagai seorang b*natang.
“Apakah bagimu kep*rawanan itu sangat penting, Alex?” tanya Mira kembali tanpa menjawab pertanyaan dari sang suami.
Alex menggeleng dengan cepat, kali ini dia kembali berbohong kepada Mira. “Tidak. Mau seperti apa pun dirimu, jika kau setia padaku, maka aku akan membersamaimu sampai kapan pun. Waktu tidak bisa dirubah, 'kan? Jadi, mending sama-sama memperbaiki diri agar kehidupan kita jauh lebih indah di kemudian hari nanti.”
Gadis itu sontak mengerutkan kedua alisnya dengan heran. Apa maksud ucapan Alex yang bicara menggunakan kalimat ‘mending sama-sama memperbaiki?’ apakah dia pernah melakukan hubungan itu bersama banyak wanita sebelum menikah dengannya? Atau hal lain yang tidak dia ketahui?
“Apa maksudmu berbicara seperti itu, Alex?” tanya Mira langsung to the point setelah merasa bingung dengan ucapan suaminya.
Kebimbangan pun mulai melanda dirinya secara perlahan, antara menjelaskan atau tidak, sebuah pilihan yang begitu sulit untuk ditentukan.
“Meskipun ini hanya masa lalu, tapi aku sangat takut untuk menjelaskannya padamu, Mir,” lontar Alex lirih tanpa menoleh ke arah Mira berada. Rasanya dia tidak sanggup untuk menatap netra indah itu dengan matanya.
Mira semakin tidak mengerti dengan suaminya sendiri, apa maksud pria itu? Ah, mengapa malam-malam seperti ini dia disuruh berpikir keras oleh Alex?
“Katakan saja!” tegas Mira.
“Kau tidak akan marah kalau aku sudah menjelaskan semuanya?” lanjut Alex memastikan.
“Tidak.”
__ADS_1
Perlahan pria itu menaikkan pandangan matanya ke atas, namun dia masih tidak memandang ke arah samping yang di mana istrinya berada.
“Aku juga sudah tidak menyandang status perjakaku, Mira. Aku pernah menidurinya di rumah ini,” ungkap Alex.
Damn!
Hati Mira berasa hancur ketika mendengar ungkapan dari Alex mengenai kenyataan yang terjadi di masa lalu, benarkah pria itu bicara dengan jujur? Ataukah juga ingin mengetes dirinya sampai di mana dia akan bertahan? Ya, sepertinya Alex benar-benar ikut menguji dirinya.
“Katakan padaku kalau kau hanya membual, Lex!” seru Mira bernada tegas. “Kau hanya mengarang saja, 'kan?” imbuhnya kembali.
Alex memberanikan diri menoleh ke arah samping, “Tidak, Mir. Aku sama sekali tidak mengada-ngada, inilah kenyataannya kalau aku juga pernah merusak perempuan lain, dan perempuan itu adalah Laura, mantan kekasihku.”
Mira terbungkam ketika Alex kembali berbicara.
Apa-apaan ini!?
Batinnya meronta seakan tidak terima dengan itu semua. M-mengapa dia bisa mendapatkan pria yang sudah tidak perjaka lagi? Sedangkan sampai saat ini dia masih memegang statusnya sebagai seorang p*rawan.
“M-mengapa kau tidak menikahinya saja? Bukankah kau sudah merenggut mahkota berharganya?” ucap Mira lirih, dia pun mengalihkan pandangan matanya ke arah lain untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya setelah mendengar pernyataan itu.
Pria itu menatap wajah Mira dengan dalam, meskipun Mira tidak menoleh ke arahnya.
“Tepat di depan mata kepalaku sendiri aku melihatnya berc*nta dengan laki-laki lain, Mir. Bayangkan saja, bagaimana bisa aku menerimanya kembali setelah aku memergoki skandal itu? Aku tidak sudi menerima kembali wanita yang bersuka rela memberikan dirinya kepada banyak pria,” kata Alex menjelaskan.
“Jika itu perselingkuhan biasa, mungkin aku akan menerimanya kembali dan menikahinya. Tetapi sayang, jika perselingkuhan itu melebihi batas kewajaran. Aku dengannya tidak ditakdirkan untuk bersama, sedangkan dengan dirimu sudah ditakdirkan untuk selamanya. Bagaimanapun dirimu di masa lalu, biarlah. Aku sudah tidak peduli, yang terpenting sekarang dirimu adalah milikku.”
__ADS_1