
“Duduklah di sini, Alex!”
Almira menegaskan kalimatnya kepada sang suami agar laki-laki itu segera duduk, dia tampak membawa sebuah kotak yang tidak lain adalah kotak obat-obatan. Ya, dia hendak mengobati suaminya yang kini terlihat sedang tidak baik-baik saja.
Tanpa menolak, Alex segera mendudukkan dirinya di atas sebuah mini sofa yang ada di dalam kamar pribadinya bersama sang istri tercinta.
Sesampainya di dekat mini sofa, Almira segera mendudukkan dirinya di samping tubuh sang suami. Wanita itu meletakkan kotak obat itu di atas meja di depannya sembari memposisikan dirinya agar berhadapan dengan pria di sampingnya itu.
Almira segera mengeluarkan obat-obatan yang ada di dalam kotak, sebelum dia mengoleskan betadine ke luka-luka yang ada di wajah suaminya, wanita itu memilih untuk membersihkan luka tersebut mengenakan air hangat yang ada di atas meja terlebih dahulu.
Dia merawat suaminya dengan hati yang tulus tanpa diminta oleh pria itu. Itu semua adalah inisiatifnya sendiri sebagai seorang istri. Alex yang mendapatkan perlakuan manis dari Almira pun menjadi semakin jatuh hati padanya, sebab Almira melakukan semuanya tanpa dia minta dan tanpa dia berikan kode apa pun. Itu semua murni dengan cara pikirnya sendiri.
Sungguh Almira berbeda jauh dari masa lalunya.
Bahkan dahulu—pada saat dia bersama masa lalunya, dia selalu memberikan kode terlebih dahulu jika menginginkan sesuatu. Namun sekarang? Sangat berbanding terbalik. Sangat tidak sia-sia dia memilih Almira untuk dijadikan sebagai cinta terakhirnya.
Almira mencelupkan sebuah kain halus ke dalam wadah air hangat itu sebentar, kemudian segera membersihkan luka di wajah suaminya mengenakan kain itu dengan penuh rasa hati-hati sebab dia tidak ingin membuat Alex merasa kesakitan karena ulahnya.
“Apakah ini sakit, Alex?” tanya Almira kepada suaminya dengan nada begitu lembut, sedangkan satu tangannya masih menari di atas luka di wajah suaminya.
__ADS_1
Pria itu menggeleng ketika mendengar pertanyaan dari sang istri. Mana mungkin dia bisa mengeluh sakit kepada istrinya sedangkan wanita itu membersihkan luka di wajahnya dengan begitu hati-hati.
“Sama sekali tidak, Mira. Lanjutkan saja, aku tidak akan mengeluh apa pun karena aku yakin kau akan melakukan yang terbaik untuk suamimu ini,” ujar Alex menjawab pertanyaan istrinya.
Almira hanya bisa mengembuskan napasnya kasar ketika mendengar balasan dari sang suami, bahkan disaat kondisinya sudah babak-belur pun pria itu masih sempat-sempatnya membuatnya terbawa perasaan. Ha-ha, sepertinya Alex adalah pria yang tidak mengenal kondisi jika hendak bercanda.
“Bahkan disaat kondisimu sedang tidak baik-baik saja, kau masih bisa membuatku terbang,” celetuk Almira ikut bergurau dengan suaminya.
“Lebih baik kau mempunyai pasangan yang suka bercanda dan asik bukan? Daripada punya pasangan yang hanya diam?” terang Alex kembali bertanya.
Senyuman di wajah wanita itu seketika lenyap ketika Alex berkata sedemikian rupa. Apa yang dikatakan oleh pria itu sangat benar, seperti hubungannya dengan Ameer. Begitu kaku. Karena Ameer adalah pria yang jarang bisa diajak bercanda dan bersenda gurau.
Tak ada lagi percakapan di antara keduanya, Alex hanya bisa berdiam diri sembari memperhatikan Almira. Jarak antara dirinya dan wanita itu begitu dekat sehingga membuat detak jantungnya berdebar-debar ketika dia menyaksikan secara langsung kecantikan Almira sedari dekat seperti posisi mereka saat ini.
Lima belas menit telah berlalu, Almira sudah berhasil mengobati suaminya dengan obat-obatan yang ada sedangkan Alex telah berlarut ke dalam alam mimpinya, hal itu membuat Almira hanya bisa tersenyum manis sembari membuang napasnya secara perlahan. Dia memperhatikan wajah Alex yang tengah tertidur pulas di depannya ini dengan seksama. Meskipun wajahnya terdapat banyak bekas luka, akan tetapi ketampanan yang dimiliki oleh Alex tidak tertutupi sedikitpun.
Wanita itu membereskan semua obat-obatan yang ada di atas meja untuk dikembalikan ke dalam kotak obat dan diletakkan di tempat asal semulanya—di dalam nakas di samping ranjang tempat tidur mereka.
Setelah merasa sudah beres semua, Almira segera bangkit dari tempat duduknya sambil membawa semua peralatan yang harus dibereskan, sebelum meletakkan kotak obat, wanita itu menaruh wadah air hangat itu ke dalam kamar mandi terlebih dahulu agar air yang ada di dalam itu tidak tumpah. Setelah menaruh benda itu, Almira bergegas menuju ke arah nakas untuk menaruh kotak obat.
__ADS_1
Semuanya sudah beres, melihat Alex yang tertidur pulas di atas sofa membuat Almira harus mencari cara bagaimana agar suaminya bisa tidur dengan nyaman tanpa harus dia bangunkan. Ah, sepertinya dia harus memberikan bantal dan juga selimut kepada pria itu.
Inisiatif untuk memberikan yang terbaik kepada Alex selalu saja ada di dalam otaknya. Ah, dia sangat suka dengan dirinya sendiri yang bisa diandalkan dalam hal apa pun dan dalam kondisi apa pun.
Wanita itu dengan cepat meraih bantal, guling, serta selimut masuk ke dalam pelukannya. Sesudah semuanya berhasil masuk ke dalam pelukannya, Almira segera berjalan kembali mendekat ke arah mini sofa—yang di mana Alex berada.
Almira meletakkan bantal, guling, serta selimut itu ke atas meja di dekat mini sofa. Dia mengambil bantal terlebih dahulu, lalu meletakannya di atas sofa di mana Alex berada. Karena posisi pria itu tertidur dalam keadaan duduk, Almira mencoba merebahkan tubuh Alex secara perlahan agar pria itu tidak terbangun dari tidurnya.
Hanya membutuhkan waktu lima menit untuk Almira merebahkan tubuh Alex ke atas sofa. Melihat pria itu tidak bereaksi untuk bangun membuatnya sedikit legah, kemudian dia kembali meletakkan guling di sisi kanan Alex agar pria itu tidak terjatuh ke atas lantai. Dan yang terakhir Mira memberikan selimut untuk menutupi tubuh Alex supaya tidak kedinginan.
“Selamat tidur, Suamiku. Bermimpilah yang indah malam ini, maafkan aku belum bisa membuka hatiku untukmu. Tetapi aku pastikan bahwa aku akan selalu menjaga hatimu, menjaga perasaanmu, dan menjalankan peranku sebagai seorang istri untukmu.”
Cup!
Almira mendaratkan sebuah kecupan manis di dahi sang suami setelah dia berbisik pelan di samping daun telinga Alex, perlahan satu telapak tangannya membelai pelan anak rambut lelaki itu agar Alex semakin nyaman terlelap di alam mimpinya.
Ketika sedang asik membelai anak rambut suaminya, tiba-tiba saja air mata turun mengalir ke permukaan pipi Almira. Kesedihannya tak dapat dia tutupi ketika dia kembali bertemu dengan sang mantan kekasih tercinta, dalam benaknya dia berpikir, akankah dia benar-benar bisa melupakan Ameer dan membuka hatinya untuk Alex? Dan apakah mungkin kebahagiaan itu akan menyambutnya di hari esok?
Entahlah.
__ADS_1
Kebingungan kembali melanda hatinya mengenai pria asing yang tiba-tiba menjadi suaminya ini. Jika dipikir secara logika, mana mungkin ada pria yang tiba-tiba mau menikahi gadis yang telah gagal menikah dengan kekasihnya jika tidak ada maksud dan tujuan tertentu. Bukankah begitu? Lantas apa tujuan Alex menikahinya?