
Langkah demi langkah ditelusuri oleh Alex hingga membawanya sampai pada sebuah ruangan yang tidak lain adalah ruang tamu di mana sahabatnya berada bersama anak buahnya.
“Hai, Ameer!” sapa Alex lebih dulu kepada sahabatnya itu sembari tersenyum lebar. “Ada kepentingan apa kau kemari sepagi ini? Apakah ada hal penting yang ingin kau bicarakan denganku?” sambungnya kembali.
Ameer yang melihat kedatangan Alex pun berdecak kesal. Bagaimana tidak begitu, wanita yang begitu dia cintai direbut oleh sahabat dekatnya sendiri. Apa yang ada di pikiran Alex mengenai Almira sehingga begitu teganya melukai hati sahabatnya sendiri? Sahabat macam apa itu yang tega merebut milik sahabatnya sendiri?
Tidak, ini tidak boleh dibiarkan. Ameer harus memberikan pelajaran agar Alex tidak berbuat semena-mena dengan hatinya.
Almira adalah miliknya, dan tidak boleh direbut oleh siapa pun, termasuk sahabatnya sendiri. Dia harus membawa Almira kembali ke dalam pelukannya.
Ameer berdiri dari tempat duduknya, sebuah senyuman tipis terukir di wajahnya yang kini terlihat begitu masam. Lelaki itu berjalan mendekat ke arah Alex berada sehingga kedua pria itu saling bertukar tatap satu sama lain.
Tatapan Ameer menatap Alex sangat dipenuhi oleh api kebencian, sedangkan Alex menatap Ameer menahan tawa. Karena menurutnya Ameer sangat lucu sekali. Dia datang ke rumahnya dengan membawa banyak bodyguard, itu dilakukannya buat apa, sih? Pikir Alex kebingungan. Apakah Ameer mengajaknya bertarung di sini?
“Mengapa kau menatapku seperti itu, Ameer?” tanya Alex kembali memecahkan keheningan di antara mereka berdua. “Jika ada hal penting, mari kita duduk dan bicarakan dengan kepala dingin.”
“Kepala dingin kau katakan?” Ameer mengusap wajahnya dengan satu telapak tangannya. “Berhenti berpura-pura polos seakan tidak ada masalah yang terjadi antara aku dan dirimu, Lex! Jangan menjadi pria pengecut!” cecar Ameer mulai melampiaskan amarahnya.
Alex mengerutkan dahinya heran di hadapan Ameer, dia tahu maksud yang diucapkan oleh Ameer namun dia berusaha untuk berpura-pura tidak tahu dengan apa yang terjadi. Sedari awal dia sudah bisa menebak bahwa Ameer pasti telah mendengar kabar pernikahannya bersama Almira sehingga hal tersebut tidak bisa diterima dengan baik oleh mantan kekasih sang istri.
Untuk apalagi Ameer mempermasalahkan hal ini? Bukankah dia sendiri yang sudah meninggalkan Almira? Lantas salah dia di mana yang memilih untuk menjadi suami pengganti bagi Almira? Toh, dia sama sekali tidak merebut Almira dari genggaman Ameer.
Dia mengambil Almira dikala Ameer menghempaskannya begitu saja bak sampah yang tak berharga. Setelah dia mengambil sampah yang dibuang oleh Ameer dan menjadikannya sebuah berlian yang berharga kemudian Ameer tidak terima dan hendak mengambilnya lagi? Oh tentu saja hal itu tidak akan dia biarkan sampai kapan pun. Apa yang sudah menjadi miliknya tentunya tidak akan mungkin bisa dia lepaskan begitu saja kepada orang lain.
“Maksudmu apa?”
Alex memasang wajah polosnya kembali.
__ADS_1
“Kau merebut kekasihku dan menikahinya secara diam-diam di belakangku! Apakah seperti itu sikapmu sebagai seorang sahabat!?” teriak Ameer keras di depan wajah Alex. “Di mana hatimu, Alexander!”
Ameer melepaskan seluruh hasrat kemarahannya kepada Alex yang kini berdiri di hadapannya dengan memasang wajah polosnya seperti tak berdosa. Ketika Ameer hendak melayangkan satu pukulan ke wajah Alex, dengan cepat seluruh anak buah Alex menahan Ameer untuk tidak menyentuh atasan mereka. Ya, Ameer ditarik paksa untuk menjauh dari Alex sebelum adanya baku hantam antara Alex dan Ameer.
Melihat kekesalan Ameer membuat Alex melepaskan tawanya, lalu dia berjalan maju mendekat ke arah pria yang kini ditahan oleh anak buahnya.
“Kau menyebut Almira sebagai kekasihmu dan menuduhku merebutnya darimu, begitukah Ameer?” tanya Alex dengan diiringi suara tawa kecil. “Aku tidak merebutnya darimu, tapi dirimulah yang memberikannya kepadaku secara sia-sia, kau membuangnya layaknya sampah yang tak memiliki nilai. Lalu kau kembali dengan penyesalan setelah sampah itu kuambil dan kujadikan dia sebagai permata, begitu?”
Oh, ****!
Ameer kalah telak setelah mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Alex padanya, apa yang dikatakan oleh Alex sangatlah benar dan itulah kenyataannya. Namun mengapa sekarang dia menyesali itu semua? Di mana pikirannya kini? Dia yang memutuskan untuk tidak jadi menikahi Almira lantas mengapa sekarang dia menjadi sangat tidak bisa menerima kenyataan kalau wanita yang dia cintai dan mencintainya dinikahi oleh sahabat dekatnya sendiri?
Sial!
Mengapa dia tidak bisa mengikhlaskan Almira menjadi istri sahabatnya? Mengapa rasa ini membuatnya tersiksa? Sebenarnya rasa apa yang kini ada di hatinya? Akankah rasa cinta? Ataukah rasa menyesal karena telah membuang Almira begitu saja?
“Kau harus mengembalikan Almiraku, Alex!” seru Ameer setelah terdiam selama beberapa menit. “Dia milikku, sedari awal dia milikku bukan milikmu, Lex!”
“Berhentilah bermain drama, Ameer. Aku tidak suka melihat pria yang pandai bermain peran, pergilah dari rumahku dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi ke hadapanku. Apa yang telah menjadi punyaku, tidak akan kubagikan kepada orang lain!”
Alex menegaskan ucapannya, lalu mengarahkan tangannya ke arah luar pintu, dia mengusir Ameer dengan cara yang begitu terlihat elegant. Tanpa harus baku hantam, dia pun sudah pandai memainkan amarah Ameer. Lucu sekali pria itu, pikirnya.
“Silakan pergi! Pintu rumahku terbuka lebar untuk dirimu hengkang. Dan satu lagi Ameer, jangan pernah mengusik ketenangan hidupku setelah ini, jika kau masih berani maka akan kutunjukkan kepadamu siapa diriku. Aku tidak akan pernah segan menunjukkan taringku ketika ketenanganku kau usik.”
Setelah meninggalkan ucapannya, Alex segera berlalu dari ruang tamu. Baginya tidak ada gunanya berdebat dengan orang bodoh seperti Ameer, karena itu hanya akan membuat waktunya habis sia-sia tanpa adanya hasil. Bukankah lebih baik dia memanfaatkan waktunya dengan cara berquality time bersama sang istri? Ya, memang sebaiknya begitu.
Tak butuh waktu lama, Alex telah kembali ke kamarnya. Dia tidak bisa langsung masuk ke dalam sana dikarenakan pintu kamar tersebut dikunci oleh Almira dari dalam sana atas perintah yang dia berikan tadi sebelum dia pergi menemui Ameer di ruang tamu.
__ADS_1
Tok-tok-tok!
Alex mengetuk pintu kamarnya secara berulang kali agar Almira yang ada di dalam sana mendengarnya. Tak butuh waktu lama, pintu kamar pun terbuka.
“Urusanmu sudah selesai?” tanya Almira kepada Alex sembari membiarkan lelaki itu masuk terlebih dahulu ke dalam kamar mereka. “Bagaimana? Apakah kalian bertengkar?” lanjutnya bertanya, lalu wanita itu pun kembali menutup pintu kamar mereka berdua.
Alex menoleh ke arah Almira dan memandangi wajah wanita itu selama beberapa menit.
“Tidak perlu cemas, Mira. Aku dan Ameer baik-baik saja, bahkan kami berdua tidak sampai baku hantam, kok.” Alex mengangguk perlahan agar Almira percaya padanya. “Dia datang kemari seperti yang sudah aku duga bahwasanya dia menginginkanmu kembali.”
Almira mendesahkan napasnya pelan ke udara, mendengar penjelasan Alex mengenai maksud dan tujuan Ameer datang kemari membuatnya begitu merasa bersalah kepada suaminya, Alex.
“Maafkan aku ...,” lirih Almira.
“Maaf?” Alex mengernyitkan dahi. “Maaf untuk apa, Nona Manis?”
“Ya ..., Maafkan aku karena kehadiranku membuat hubungan kau dan Ameer menjadi tidak bagus, Lex. Maafkan aku sekali lagi, aku tidak bermaksud begitu.”
Pria itu tersenyum tipis, dia tahu bagaimana perasaan Almira saat ini.
“Kemarilah, Mira!” titahnya tegas.
Wanita itu mengangguk, lalu melangkah beberapa langkah ke depan agar lebih dekat dengan suaminya.
“Tidak ada yang salah pada dirimu, Almira. Kau ditakdirkan untukku, bukan untuknya. Dia masa lalumu, aku masa depanmu. Dia memberikanmu rasa sakit, aku memberikanmu kebahagiaan. Kau dibuang layaknya sampah olehnya, dan kuambil untuk kujadikan sebagai permaisuri di hidupku.”
Alex memeluknya lagi dengan erat.
__ADS_1
“Jangan memandang rendah dirimu sendiri, kau harus bisa percaya kalau dirimu berharga, apalagi di mata orang yang tepat. Terutama aku sebagai suamimu, Mira. Kau adalah permata yang begitu indah, dan aku akan menjaganya sampai akhir hayatku.”