Mendadak Dinikahi Milliarder

Mendadak Dinikahi Milliarder
043 : TIDAK MEMILIKI RASA MALU


__ADS_3

“Kekasihmu?” kata Mira mengulangi kalimat tersebut dengan penuh rasa lucu. “Dia suami saya, secara hukum maupun agama. Sedangkan Anda adalah masa lalu suami saya, kalau Anda tidak bisa melupakan suami saya dan tidak bisa mendapatkan lelaki bujangan, apakah mau saya bantukan cari?” tawar Mira tersenyum lebar menatap ke arah Laura.


 


Dia tahu betul kalah wanita di hadapannya ini begitu licik, jadi dia juga harus lebih licik agar wanita itu mati kepanasan di dalam ulahnya sendiri. Dia tidak akan tinggal diam ketika wanita itu mencoba menghancurkan hatinya dengan cara membicarakan tentang masa lalunya bersama sang suami, apakah mantan suaminya itu mengira kalau dia akan menangis dan pergi begitu saja seperti istri-istri yang ada di film-film Indosiar?


 


Ha-ha, tidak seperti itu.


 


“Kau terlalu membanggakan suamimu, memangnya kau yakin jika suamimu ini benar-benar setia padamu, hmm?” kata Laura tersenyum jahat menatap Alex dan Mira secara bergantian. “Jangan terlalu percaya diri sekali, sebaiknya kau periksa semua ruangan yang ada di rumah suamimu ini, Nona. Kau membanggakan suamimu seperti dia setia saja, ha-ha!” ejek Laura.


 


Mira merapikan anak rambutnya yang kini menutupi kedua matanya dengan jemari tangannya, lalu menatap dalam ke arah Laura berada.


 


“Saya rasa itu tidak perlu karena saya tahu kalau di rumah ini sudah tidak ada lagi jejak sedikitpun tentang Anda,” balas Mira tak mau kalah. “Kasihan ya kalau mbaknya belum bisa move-on dari suami saya, padahal di luar sana masih banyak bujangan yang belum menikah, atau duda kaya raya,” imbuh Mira lagi bicara.


 


Laura berdecak kesal, “Seharusnya yang lebih dikasihani itu dirimu, lho. Karena apa? Karena sudah mendapatkan barang bekas yang sudah dinikmati perempuan lain, tidak takut penyakitkah dirimu?” lantang Laura dengan nada suara besar sehingga membuat semua pelayan yang sedang sibuk berberes si dalam rumah menjadi keluar untuk melihat keributan yang terjadi.


 


Mira mengembuskan napasnya pelan ke udara. Wanita ini benar-benar tidak tahu malu sekali, pikirnya heran. Setahu dirinya, wanita yang benar-benar menyesali masa lalunya karena telah melakukan hubungan terlarang di masa lalu pasti akan menyimpan rahasia itu dengan seketat-ketatnya, sebab itu adalah sebuah aib yang harus dirahasiakan. Tetapi mengapa mantan kekasih suaminya ini sungguh berbanding terbalik?


 


Bahkan dia dengan bangga-membanggakan kalau dia sudah pernah ditiduri oleh suaminya, Alex, di masa lalu.


 


Dih, benar-benar wanita murah.


 


“Lalu, kau bangga karena sudah dinikmati oleh suamiku tanpa adanya pernikahan? Kau terlalu bodoh atau terlalu murah? Kau tahu itu seharusnya adalah sebuah privasi, tapi mengapa kau mengumbarnya tanpa rasa malu? Apakah karena kau menginginkan sebuah popularitas?” tanya Mira memancing amarah Laura.


 


Mendengar perkataan seperti itu membuat amarah di dalam diri Laura mendadak meledak begitu saja, rasanya ingin sekali dia menjambak serta mencabik-cabik wajah istri mantannya itu. Mengapa istri mantan kekasihnya sangat pintar membalas ucapannya? Padahal dia mengira kalau wanita itu adalah wanita cupi dan gampang menangis seperti istri-istri di film yang sering dia tonton di Channel Televisi. Ternyata kenyataannya tidak seperti itu.


 


Mengalahkan Almira sepertinya membutuhkan sikap dan ucapan yang logis agar tidak terlihat seperti orang bodoh.


 


“Tuan, ada apa ini?”


 


Ricko muncul  dari dalam rumah saat mendengar suara keributan di luar rumah, sedangkan pelayan yang lain hanya bisa memperhatikan dari jarak jauh karena takut apabila Alex akan mengamuk jika terjadi kerumunan besar di depan rumahnya.


 


“Kebetulan ada dirimu di sini, saya minta kamu untuk urus wanita gila ini, Ricko. Jika perlu, bawa langsung dia ke RSJ agar pihak sana memberikannya perawatan yang baik untuk mental dan psikisnya,” kata Alex menjawab pertanyaan dari sekretaris pribadinya.


 


Bagi Alex, Ricko muncul di waktu yang tepat—disaat dia membutuhkan bantuan untuk menyudahi perkelahian antara mantannya bersama sang istri.


 


“Oke, saya akan melakukan yang terbaik untuk Anda bersama nona Mira, Tuan Alex. Sebaiknya Anda bersama nona beristirahat sekarang, saya akan mengurus ini semua dengan sebaik-baik mungkin.”


 

__ADS_1


Ricko menatap Alex dengan dalam sambil menganggukkan kepalanya agar pria itu percaya kepada dirinya kalau dia bisa mengurus ini semua seorang diri menjelang Roy dan Ricky kembali ke Indonesia lagi.


 


“Baik, Roy. Saya percayakan semuanya pada dirimu, ya.”


 


Alex berjalan masuk ke dalam ruangan sembari menepuk pundak Ricko dengan pelan, lalu dia bersama sang istri segera berjalan menuju kamar mereka yang ada di lantai dua di rumahnya.


 


“Alex, kau tidak bisa meninggalkanku sendirian di sini!” pekik Laura dengan nada besar nan tinggi hingga suaranya terdengar oleh Alex bersama istrinya yang sudah ada di dalam rumah.


 


Dia yang mendengar pekikkan dari masa lalunya sama sekali tidak peduli, baginya tidak ada lagi hal yang perlu dibahas maupun diselesaikan bersama Laura. Karena hubungan keduanya sudah lama kandas, bahkan sebelum dia memulai lembaran baru bersama Mira.


 


Kembalinya wanita itu ke kehidupannya sebagai penyesalan. Akan tetapi amat disayangkan jika dia sudah tidak mau lagi mengulangi kisah bersama sang mantan.


 


Balikkan dengan mantan sama halnya membaca sebuah buku sebanyak dua kali sehingga endingnya sudah bisa ditebak dari awal.


 


Ricko yang diberikan tugas oleh atasannya pun segera melakukan tindakan untuk mengurus wanita gila yang saat ini berusaha masuk ke dalam rumah mewah milik Alex, dia yang merasa tidak mampu menanganinya seorang diri pun meminta bantuan satpam yang ada di pos penjaga dengan cara berteriak.


 


Dengan sigap satu orang satpam menjumpainya ke teras rumah dan mereka berdua mencoba mengusir Laura dengan cara tidak hormat ditengah hujan deras.


 


Hal tersebut tidak akan mungkin mereka lakukan apabila nona Laura tidak melakukan tindakan kurang ajar lebih dulu. Ya, wanita ini sudah benar-benar keterlaluan dalam mengusik ketenangan atasan mereka. Dalam benaknya Ricko bertanya, untuk apalagi nona Lau mengusik tuan Alex? Padahal kisah cinta mereka sudah lama padam.


 


 


Ha-ha sepertinya benar.


 


Duh, kasihan sekali.


 


Jika tidak memiliki paras yang cantik, setidaknya haruslah memiliki hati yang bersih.


 


“Beraninya kalian mengusirku dengan cara kotor seperti ini!?” bentak Laura marah serta memberontak kasar ketika Ricko bersama satu orang satpam membawa tubuhnya pergi dari teras rumah menuju ke dekat mobilnya berada yang tengah terparkir di halaman rumah.  “Lepaskan aku! Lepaskan aku sekarang, Brengsek!”


 


“Tidak semudah itu, Nona. Anda harus pergi dari rumah ini sebelum saya memakai cara yang sangat kasar,” tegas Ricko sedikit mengancam wanita ini. “Pergilah dari rumah ini dan jangan pernah memunculkan wajah Anda lagi!”


 


Dengan kompak, Ricko bersama satpam itu melepaskan tubuh Laura dari cangkingan mereka. Dia menatap wajah Laura dengan mata memicing tajam, tidak ada rasa hormat lagi untuk wanita di hadapannya ini meskipun dahulu wanita itu sangat dia hormati sebagai pasangan atasannya.


 


“Cih, kau mengancamku, Ricko?” decak Laura kesal sembari merapikan rambutnya yang acak-acakan di hadapan sekretaris pribadi mantan kekasihnya, Alex. “Ancamanmu sangat tidak mempan untukku. Aku tidak akan pernah berhenti mengusik ketenangan kalian sebelum wanita itu pergi dari kehidupan Alex!” tegasnya dengan nada suara begitu lantang di hadapan Ricko sembari menunjuk wajah Ricko menggunakan jari telunjuknya.


 


Ricko merasa lucu ketika mendengar perkataan dari wanita di hadapannya ini. Mengapa dia seperti orang gila yang tidak bisa menerima kenyataan yang menjadi akibat dari perbuatannya sendiri?

__ADS_1


 


Gemas sekali rasanya Ricko dengan wanita ini. Karena saking gemasnya, ingin sekali Ricko memberikan satu tonjokkan ke wajahnya yang burik itu. Jika dia bukan seorang perempuan, mungkin Ricko sudah menghabisinya sejak tadi.  


 


Tapi amat disayangkan kalau orang yang sedang berhadapan dengannya ini bergender seorang perempuan.


 


Andaikan ada Roy bersama kembarannya di sini, mungkin wanita ini sudah dicibir serta dikata-katain dengan amat pedas sampai terkena mental. Sayang saja kalau dirinya ini tidak memiliki sifat judes seperti yang dimiliki oleh Roy bersama kembarannya, Ricky.


 


Semoga kembarannya itu cepat kembali agar dia tahu betapa serunya berita kali ini.


 


“Ya sudah, sebaiknya Anda pergi dari rumah ini sekarang. Jangan hanya tahu mempermalukan diri saja di sini, Anda terlihat seperti wanita bodoh yang masih memperjuangkan hak yang seharusnya tidak menjadi hak Anda lagi, ck-ck. Kasihan sekali hidup Anda kurang dengan kasih sayang,” balas Ricko enteng seraya tersenyum mengejek ke arah perempuan itu.


 


“Kau!?”


 


Laura menggertakkan giginya sembari mengepalkan kedua tangannya dengan penuh amarah. Ricko benar-benar membuat emosinya semakin memuncak kali ini.


 


Benar-benar sial! Mengapa dia sangat sulit untuk mendapatkan Alex kembali? Padahal dulunya dia mendapatkan lelaki itu dengan begitu sangat mudah. Apakah dia benar-benar sudah tidak bisa mendapatkan pria itu lagi? Tidak. Dia pasti bisa mendapatkan cintanya kembali ke pelukannya dan mereka hidup bahagia bersama selamanya.


 


Takkan dia biarkan Alex menjadi milik wanita itu sepenuhnya. Dia akan menghancurkan citra Alex di mata publik agar pria itu mau kembali padanya. Ya, dia harus melakukan itu sekarang juga. Alex pikir apakah dia tidak bisa berbuat sesuatu yang lebih kejam daripada ini? Ah, tentu pekerjaan semacam ini adalah hal yang amat kecil sekali baginya.


 


Merasa sangat malu di depan Ricko, wanita itu masuk ke dalam mobilnya dengan penuh amarah. Pakaian yang dia kenakan sudah amat basah karena harus beradu mulut dengan si sekretaris brengsek itu di halaman rumah. Jika ini bukan karena Alex, dia tidak akan sudi mandi hujan seperti ini.


 


Ricko tersenyum penuh kemenangan setelah wanita itu berlalu pergi dengan mobilnya dari pekarangan rumah mewah milik sang atasan.  


 


“Apa kau yang membiarkan dia masuk kemari?” tanya Roy kepada Satpam.


 


Satpam mengangguk, dia merasa sangat cemas ketika Ricko menatapnya dengan mata memicing tajam. Apakah dia akan kehilangan pekerjaannya sekarang karena keteledorannya yang membiarkan orang asing masuk? Hais, dia benar-benar tidak tahu kalau mobil yang masuk bersama mobil atasannya adalah nona Laura. Dia mengira kalau mobil itu adalah mobil rekan atasannya.


 


“Maaf, saya tidak tahu kalau itu adalah nona Laura, Pak Ricko.” Dia berkata dengan jujur sambil menundukkan pandangannya ke bawah. “Saya benar-benar minta maaf, saya kira itu adalah mobil rekannya tuan Alex.”


 


Ricko menghargai kejujuran satpam itu, dia pun hanya bisa mendesahkan napasnya pelan ke udara. Tidak ada yang salah di sini, sebagai seorang satpam juga bukan hal yang mudah. Tetapi Ricko bersyukur karena dia bisa menjalankan tugasnya dari Alex dengan baik meskipun sedikit membuatnya menguras emosi karena ulah Laura.


 


“Ya sudah, silakan kembali bekerja. Sebelum itu, ganti pakaianmu dulu. Pakaianmu itu sudah basah, oke? Saya tinggal sekarang, ya.”


 


Ricko segera berlalu meninggalkan halaman rumah, dia berjalan masuk ke dalam rumah mewah sang atasan menuju ke dalam kamar pribadinya untuk segera membersihkan diri karena tubuhnya terasa kotor terkena air hujan di luar rumah tadinya. 


 


Ketika sedang asik berjalan masuk ke dalam rumah, kedua mata Ricko terpanah kepada sebuah pigura yang terpampang besar di ruang keluarga. Itu adalah foto pernikahan atasannya bersama nona Mira, mereka sangat serasi sekali dan cocok.

__ADS_1


 


Apakah kebahagiaan serta kehangatan di dalam rumah tangga yang baru saja dibina itu akan bertahan selamanya meskipun ada sosok wanita yang berniat menghancurkan segalanya?


__ADS_2