Mendadak Dinikahi Milliarder

Mendadak Dinikahi Milliarder
048 : PERMINTAAN ALMIRA UNTUK SUAMINYA


__ADS_3

“Sayang, ini aku.”


 


Alex mengetuk pintu tebal berwarna abu-abu yang menjadi penghalang untuknya masuk ke dalam kamar secara berulang kali agar sang istri mendengarnya.


 


Tak menunggu lama, Almira yang ada di dalam kamar pun segera meresponnya dengan cara membukakan pintu kamar dan mempersilakan lelaki tampan itu masuk ke dalam kamar tempatnya berada.


 


“Silakan masuk Bapak Alexander,” sambut Almira dengan diiringi tawa kecil.


 


“Terima kasih, Nona Manis.”


 


Alex membalas sambutan dari Mira dengan wajah penuh senyum sambil melangkah masuk ke dalam kamar pribadinya bersama Mira. Entah mengapa akhir-akhir ini dia selalu merasa rindu, dan tidak ingin berjauhan dari istrinya, Mira, meskipun hanya berbeda jam saja.


 


“Urusanmu sudah selesai?” tanya Mira membuka percakapan setelah suaminya berhasil masuk ke dalam kamar seraya menutup kembali pintu tebal berwarna abu-abu itu. “Jika aku boleh tahu, mengapa mereka kembali lebih cepat? Bukankah mereka meminta izin padamu selama satu minggu, Alex?” sanggahnya bertanya kembali.


 


Jujur, rasa penasaran yang ada di dalam diri Mira sebagai manusia normal meronta-ronta di dalam sana. Dia begitu ingin tahu tentang itu. Barangkali ada hal yang buruk yang terjadi kepada keduanya, dan dia bisa membantunya.


 


Alex mendudukkan dirinya di tepian ranjang, lalu menaikkan pandangan matanya ke arah Mira yang saat ini terlihat sedang berjalan menuju ke arahnya.


 


Dia memperhatikan Mira yang kini terlihat begitu penasaran sekali pun memutuskan untuk memberitahunya sedikit informasi saja, tidak lebih. Karena dia menghargai sebuah privasi dari kedua anak buahnya.


 


“Duduklah di sampingku, Mira. Aku akan memberitahukannya sedikit padamu,” titah Alex dengan suara pelan.


 


“Tentu saja.”


 


Hanya dalam hitungan detik, Mira langsung menempati posisi duduk di samping sang suami tanpa berlama-lama.


 


“Ayo, ceritakan padaku!” serunya sedikit tegas.

__ADS_1


 


“Mereka pulang lebih awal karena perintah dariku,” jelas Alex mengada-ngada di depan istrinya. “Kau tentu tahu bukan kalau mantan kekasihku itu selalu mengusik ketenanganku lagi? Jadi, aku memutuskan untuk menyuruh Roy bersama Ricky kembali ke sini dan menyudahi liburannya.”


 


Mira berdiam diri sesaat sesudah mendengar penjelasan dari sang suami, mengapa rasanya dia begitu sulit untuk menerima penjelasan dari lelaki di sampingnya ini? Apakah dia sedang berbohong dan menutupi sesuatu darinya? Ataukah memang benar kenyataannya seperti yang dia katakan?


 


Entahlah.


 


Ya sudah, dia tidak boleh terlalu menuntut kejujuran dari sang suami. Bisa jadi, dia menyembunyikan sesuatu darinya yang bersifat privasi. Bukankah setiap orang memiliki yang namanya privasi? Ya, dia harus tahu diri untuk itu.


 


“Tapi, tidak ada hal buruk yang terjadi kepada mereka berdua ‘kan?” tanya Mira memastikan.


 


Alex tersenyum sambil menggeleng pelan, dia tahu kalau istrinya itu pasti mengkhawatirkan anak buahnya. “Tenang saja, Miraku. Mereka baik-baik saja, kok. Kalaupun mereka terluka, pasti sudah ada bekasnya ‘kan? Kau lihat sendiri tadinya kalau keduanya baik-baik saja.”


 


Mira merasa tenang ketika Alex memberikannya penjelasan.


 


 


Alex menatap Mira sedikit memicing, permintaan apa yang akan dipinta oleh istrinya pada dirinya sehingga dia harus meminta izin terlebih dahulu? Apakah sesuatu yang sangat penting dan sulit untuk dia lakukan? Tidak-tidak. Tidak ada hal sulit di dunia ini jika demi cintanya. Apa pun permintaan Mira akan dia usahakan untuk selalu bisa tanpa menunda-nunda.


 


Karena dia sudah bersumpah dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk mengutamakan Mira diatas segalanya, termasuk dirinya sendiri.


 


“Katakan saja, Mira.” Alex merengkuh pinggang langsing itu dengan satu tangannya, dia mencoba membawa Mira lebih dekat dengan dirinya ini agar tidak ada jarak di antara mereka berdua. “Lain kali kau tidak perlu meminta izin terlebih dahulu padaku, aku ini suamimu, bukan tuanmu. Oke?” imbuhnya tegas kepada sang istri.


 


Mira melepaskan napasnya ke udara dengan sedikit kasar sembari meletakkan kepalanya di atas pundak sang suami, pandangan matanya menatap ke arah langit-langit kamar. Harus dari mana dia memulai pembicaraan ini?


 


Rasanya dia begitu malu jika mengatakan hal ini kepada Alex, karena dia takut akan dicap oleh suaminya sebagai wanita yang terlalu banyak maunya. Ah, begini sekali nasibnya jika harus menikahi pria asing yang tidak dia kenali.


 


“Jadi begini ... Aku sangat merasa bosan di rumah ini jika tidak melakukan aktivitas apa pun, Lex. Mau mencuci pakaian, piring, menyapu, mengepel, kau tidak memperbolehkannya. Lantas, bagaimana caraku menghilangkan kebosananku selama berada di rumah ini? Bukankah besok kau sudah masuk kerja?  Ah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana bosannya aku apabila kau tidak ada di rumah.”

__ADS_1


 


Perlahan dia menjelaskan apa yang dia rasa kepada suaminya sebelum dia berbicara masuk ke dalam intinya.


 


Alex mengelus pucuk kepala istrinya dengan satu telapak tangannya, dia tahu betul dengan apa yang dirasakan oleh Mira kali ini. Tapi, mengingat kondisi yang saat ini terjadi tidak membuat Alex bisa memberikan izin kepada istrinya untuk pergi berjalan-jalan ke luar mencari udara segar maupun pergi ke Mall tanpa adanya dia di sisi wanita itu.


 


Sebab dia tahu betul bagaimana Laura. Dia yakin, Laura pasti selalu mengintai gerak-gerik keluarga kecilnya ini. Wanita itu mungkin bisa saja melakukan hal nekat yang akan mencelakakan dia ataupun istrinya, Almira. Dan Alex bersumpah untuk tidak akan membiarkan Laura menyakiti istri tercintanya.


 


Haram bagi Laura bisa menyentuh Almira meski hanya seujung kuku sekalipun, hal itu tidak akan dia biarkan.


 


“Apakah maksudmu kau ingin pergi berjalan-jalan ke luar tanpa adanya aku di sisimu, hmm?” tanya Alex kepada Mira dengan nada yang begitu lembut di dekat daun telinga istrinya.


 


Mira menegakkan kembali kepalanya, lalu menoleh ke arah Alex berada. Dia menatap Alex dengan dahi mengerut serta kedua mata memicing tajam. Alex sudah salah paham dengan dirinya ini, bahkan dia sendiri tidak terpikir sampai ke sana dan bukan itu tujuan dia berkata seperti itu kepada sang suami.


 


Lagi dan lagi, Alex telah salah kaprah kepadanya.


 


“Tidak seperti itu maksudku,” jawab Mira pelan. “Aku tidak akan mungkin pergi ke luar jika tidak ada izin darimu dan tidak denganmu, Suamiku.” Imbuhnya. “Aku hanya akan pergi ke luar jika bersamamu saja, kok.”


 


Mendengar ucapan sang istri membuat pria itu menaikkan satu alisnya ke atas, apa maksudnya? Jika tidak seperti itu, lantas apa yang dikehendaki Mira untuk mengisi kebosanannya disaat dia sedang tidak ada di rumah? Sungguh sebuah teka-teki yang membuatnya begitu heran.


 


“Jadi, apa maksudmu Sayangku?” tanya Alex penasaran.


 


“Maksudku begini ... Aku ‘kan di rumah saja tanpa diperbolehkan menyentuh kegiatan rumah, jadi aku meminta kepadamu untuk membelikanku alat-alat lukis secara lengkap, serta semua alat kerajinan untuk membuat perhiasan dari manik-manik, Alex. Aku sangat menyukai kerajinan, serta lukisan. Jadi, aku ingin mengisi waktu kosongku dengan membuat karya.”


 


Almira tampak begitu bersemangat menjelaskan apa yang dia inginkan kepada Alex, senyuman di wajahnya tampak begitu indah serta penuh harapan kepada suaminya. Dia berharap agar lelaki itu mampu memberikan apa yang dia inginkan. Jauh di dasar hatinya dia berdoa agar lelaki itu mau mengiyakan hal tersebut agar kebosanan tidak melandanya selama sang suami tidak berada di rumah.


 


“Apa kau mau mengabulkan permintaanku, Suamiku?” lanjutnya bertanya kepada Alex sesudah menjelaskan semuanya. “Jika kau keberatan, kau bisa menolaknya.”


 

__ADS_1


Alex terkekeh saat melihat perubahan wajah sang istri yang tadinya tersenyum senang menjadi sedikit mengerut. Apa saja yang diinginkan oleh wanita itu pasti akan dia turuti selama itu hal positif. Jika dengan itu bisa membuat istrinya bahagia, kenapa tidak ‘kan?


__ADS_2