Mendadak Dinikahi Milliarder

Mendadak Dinikahi Milliarder
026 : JODOH ABAL-ABAL


__ADS_3

Harun mempersilakan semua para tamu undangan menikmati semua hidangan yang telah disediakan oleh teamnya, begitupula dengan tamu spesialnya malam ini, yaitu keluarga besar Alexander bersama sang istri, Almira Bawazier.


 


Alex bersama sang istri dan semua anak buahnya yang ikut hadir di acara dokter Harun pun menikmati hidangan itu dengan sangat lahap tanpa rasa malu. Ya, pria itu sangat menghargai jerih payah team dari dokter Harun yang sudah menyiapkan hidangan di atas meja di tempat mereka berada.


 


Hanya butuh waktu lima belas menit untuk mereka menghabiskan hidangan itu tanpa sisa.


 


“Tuan, apakah Anda ingin menambuh lagi? Jika iya, saya akan meminta team saya untuk membawakannya kemari,” ujar sang Dokter ramah ketika dia sudah melihat hidangan itu sudah habis tanpa sisa di atas meja.


 


Pria itu menggelengkan kepalanya pelan sembari membersihkan sisa makanan di ujung bibirnya menggunakan tisu kering yang ada di atas meja, “Tidak, Harun. Saya sudah sangat kenyang sekali. Entahlah kalau yang lain,” sanggahnya menjawab diikuti tawa kecil oleh Harun.


 


“Baiklah, Tuan.” Harun mengerti, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Mira berada. “Nona Muda, apakah Anda ingin menambuh?” tanya Harun dengan sopan kepada istri lelaki itu.


 


“Tidak, Dokter Harun.” Mira tersenyum kaku ketika ditanya oleh rekan suaminya itu. “Mungkin Kak Roy yang ingin menambah,” imbuhnya terkekeh kecik melirik ke arah Roy berada.


 


“Benar itu, Harun! Sepertinya kau harus menanyakan itu kepada Roy saja!” seru Alex menyela masuk ke dalam pembicaraan.


 


Roy hanya bisa menghela napasnya sembari menikmati sebatang rokok di tangan kanannya. Apakah mereka pikir dia masih belum kenyang setelah menikmati hidangan yang begitu banyak tadinya? Ah, ada-ada saja. Memangnya perutnya ini karet apa? Huhu, mengesalkan sekali rasanya.


 


“Roy, apa dirimu hendak menambuh lagi?” tanya Harun kepada si pengawal yang tengah duduk santai di sebuah kursi sembari menikmati rokoknya.


 


“Tidak, Harun. Saya juga masih sangat kenyang, hidangan ini sangat banyak, jadi perut saya sudah benar-benar terisi,” sahut Roy dengan santai.


 


Harun menghela napasnya ketika mendengar jawaban dari Roy, semua orang yang ditawari pada menolak. Padahal menurutnya hidangan ini masih belum seberapa, namun apa boleh buat jika semua orang tidak mau. Mana mungkin baginya untuk memaksa tamu undangan, kan?


 

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu!” kata Harun dengan tegas. “Oh iya, Tuan Alex, bagaimana kalau kita semua sekarang berfoto di atas sana agar momen ini bisa abadi untuk kita kenang beberapa tahun ke depan,” usul Harun kepada Alex sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah panggung yang tidak jauh dari tempat mereka semua berada.


 


Alex melihat ke arah panggung yang ditunjuk oleh Harun.


 


“Ide bagus untuk itu, Harun. Tapi kita harus menunggu rokok yang ada di tangan kanan Roy sampai habis terlebih dahulu,” kata Alex dengan tenang. “Tidak mungkin kita berfoto di atas sana sedangkan Roy berada di sini sampai rokoknya habis. Jadi, mari kita menunggu saja sambil menurunkan makanan juga.”


 


Roy mendelik heran saat kedua telinganya mendengarkan penjelasan itu dari atasannya. Mengapa pria itu tidak memintanya untuk mematikan api rokoknya saja daripada harus menunggunya?


 


“Jika Anda ingin saya mematikan api rokoknya, saya bersedia melakukan itu, Tuan Alex,” imbuh Roy merasa tidak enak hati kepada sang atasan.


 


“Buat apa saya memintamu untuk melakukan itu, Roy? Lagipula kita semua baru saja selesai makan, jadi tunggu makanan itu untuk turun juga. Masa iya kita habis makan langsung memulai aktivitas, dikasih jeda dulu dong harusnya,” jelas Alex sedikit bernada tegas kepada sang pengawal.


 


“Baiklah, Tuan.”


 


 


Suasana terlihat begitu hening ketika Alex memutuskan untuk tidak lagi banyak bicara, lelaki itu terlihat meraih sebuah tisu kering yang ada di atas meja lagi untuk membersihkan bekas sisa-sisa makanan yang masih tampak menempel di permukaan bibir sang istri.


 


“A-apa yang kau lakukan, Alex!?” sontak Mira menjauhkan wajahnya ketika mendapati Alex yang menyentuh permukaan bibirnya dengan tisu kering di tangannya.


 


“Aku tidak melukaimu, kok. Kemarilah Sayang!” tegas Alex sembari tersenyum lebar di hadapan Mira. “Aku hanya ingin membersihkan bibirmu.”


 


Mira mendesahkan napasnya pelan ke udara. “Ouh begitu, baiklah.” Tanpa rasa ragu lagi wanita itu kembali mendekatkan wajahnya ke arah suaminya berada.


 


Alex membersihkannya dengan begitu teliti tanpa rasa malu di hadapan semua orang, termasuk anak buahnya. Ya, dia tidak pernah memandang tempat jika ingin berbuat hal romantis. Selama itu dalam batasan wajar, kenapa tidak? Toh, dia tidak akan mungkin mengajak istrinya untuk berhubungan yang lebih sensitif di tempat umum.

__ADS_1


 


“Sudah.”


 


Pria itu meletakkan tisu kotor itu ke atas piring bekas sisa makan mereka, lalu dia pun membelai lembut pucuk kepala sang istri dengan satu telapak tangannya.


 


“Terima kasih atas kepedulianmu terhadapku, Alex.”


 


Mira sangat senang dengan perlakuan Alex yang baru saja membersihkan sisa makanan di bibirnya. Pria itu terlihat semakin hari semakin romantis dan baik dalam memperlakukan dirinya. Apakah itu semua bentuk upaya Alex untuk memenangkan hatinya dari masa lalunya, Ameer? Hmm, sepertinya memang benar begitu.


 


Ini adalah suatu tindakan yang bagus, yang di mana dia akan segera melupakan kisah cintanya bersama Ameer. Ya, pria seperti Ameer tidak pantas untuk terus berlarut di dalam hatinya. Secepat mungkin dia harus mengeluarkan Ameer dari otak dan hatinya agar tidak berlalu di sana dengan waktu yang cukup lama.


 


“Sudah menjadi tugasku untuk itu, Sayang.”


 


Alex menoleh ke arah Mira berada, kemudian mendaratkan sebuah kecupan manja di pipi kiri milik Mira.


 


“Harun, tolong beritahu saya info keberangkatan ke Planet Mars jam berapa!” celetuk Roy berdeham ketika melihat pemandangan manis di hadapannya.


 


“Saya juga tidak tahu untuk itu, Roy. Tapi yang jelas saya juga ingin ikut berangkat ke Planet Mars hari ini,” kata Harun membalas ucapan si Roy. Diiringi tawa lepas oleh Alex.


 


“Ekhem, mangkanya kalian itu cari pasangan dong. Masa umur saja yang dituain, tapi pasangan belum ada juga, ha-ha!” ledek Alex kepada dua orang anak buahnya yang saling berbicara. “Uang saja yang dibanyakin tapi perempuan tidak ada, ck-ck-ck!”


 


Harun dan Roy seketika tampak mati kutu setelah diledek habis-habisan oleh atasan mereka. Jika Alex bukan orang terhormat dalam hidup mereka, mungkin mereka berdua akan memukul Alex saat ini juga. Namun sayang emosi mereka tertahan karena tahu siapa Alex.


 


“Kerja melulu tiap hari, tapi yang nemanin kagak ada. Aduh, kasihan sekali anak buah saya ini!” ledek Alex kembali sambil terbahak.

__ADS_1


 


“Lebih baik kami berdua telat mendapatkan jodoh, Tuan Alex, daripada nanti kami ketemu jodoh yang abal-abal!”


__ADS_2