Mendadak Dinikahi Milliarder

Mendadak Dinikahi Milliarder
017 : SEMUA DEMI DIRIMU


__ADS_3

Almira terjebak di dalam pembicaraannya sendiri, lantas bagaimana caranya menjelaskan kepada Alex bahwa dia hanya berniat mengetesnya saja dan tidak bermaksud untuk dibelikan barang-barang branded oleh lelaki itu.


 


Hais, dia harus meluruskan masalah ini secepat mungkin sebelum pria itu salah paham dengannya. Dia sangat takut apabila pria itu akan menganggapnya sebagai perempuan matre  yang hanya tahu menghabiskan uang. Sungguh Mira sangat tidak ingin dicap seperti itu oleh Alex, apalagi mereka adalah orang asing yang baru mulai saling mengenal satu sama lain.


 


“Alex ...,” panggil Almira dengan nada lembut kepada sang suami, dia tampak sedikit kaku. “Maaf, aku tidak bermaksud untuk meminta barang-barang branded itu, aku hanya ingin menguji sampai di mana omonganmu bisa dipegang.”


 


Alex menoleh sebentar ke arah samping di mana sang istri berada, lalu satu tangannya menggapai pipi chuby milik wanita itu, dia memainkannya dengan begitu gemas. Dia sama sekali tidak peduli terhadap penjelasan dari Almira, baginya membelanjakan sang istri serta menyenangkan hatinya adalah suatu kewajiban untuknya sebagai seorang suami.


 


Selama dia bisa memberikannya, kenapa dia tidak melakukan itu bukan? Yup, dia akan memberikan yang terbaik untuk sang istri agar wanita itu bahagia hidup bersama dengannya.


 


Seperti janji yang telah dia ucapkan bahwasannya dia tidak akan membuat Almira menjalani kehidupannya bersama dengannya dengan penuh air mata kesedihan.


 


“Mau itu hanya ujian kek atau apa kek, aku tidak peduli, Mira. Kita akan tetap pergi ke Mall untuk membeli apa pun yang kau sukai,” cakap Alex serius, lalu dia kembali fokus ke arah depan untuk memperhatikan jalan raya. “Membuatmu bahagia adalah prioritasku saat ini.”


 


“Lex, harganya enggak murah lho.” Mira menatap Alex dengan sendu karena dia benar-benar merasa bersalah. “Sebaiknya kita pergi ke tempat lain dan jangan pergi ke Mall, aku enggak mau buat uangmu habis begitu saja. Tas yang kukatakan tadi enggak murah harganya.”


 


“Uang bisa dicari lagi, Mir. Tenang saja, tak usah khawatir untuk hal seperti itu,” ujar Alex dengan santai bicara kepada sang istri. “Yang terpenting adalah bahagiamu dalam menjalani kehidupan bersamaku. Sudah tugasku untuk membiayai apa pun kebutuhan dan keinginanmu, jadi jangan pernah merasa bahwa dirimu adalah beban bagiku. Kau adalah istriku. Paham?”


 


“Lex, tapi—”


 


“Stttttttt!” Alex memotong ucapan Almira dengan cepat saat wanita itu hendak berbicara. Dia sudah bisa menebak kalimat apa yang akan dilontarkan oleh gadis itu untuk dirinya. “Jangan pikirkan harganya, nominal itu hanyalah angka, Mira. Sekarang kau tenang saja, aku tidak akan mungkin memintamu untuk mengganti nominal itu di kemudian hari nanti.”

__ADS_1


 


Hais, lagi dan lagi Almira gagal untuk menghentikan Alex yang hendak membelikannya tas branded yang dia bicarakan tadi. Ah, mengapa semuanya menjadi kacau begini? Duh, yang benar saja bahwa dirinya akan menghabiskan uang suaminya dengan nominal fantastis yang di mana bisa mencapai ratusan juta, bahkan hampir menyentuh satu milliar rupiah.


 


Duh, mengapa dari awal dia tidak bisa berpikir?


 


Sial!


 


Apakah dirinya ini mengira bahwa Alex benar-benar sangat mempunyai uang banyak sehingga bisa berpikir ke sana? Dan juga kenapa otaknya tidak bisa membantunya untuk berpikir terlebih dahulu sebelum mengucapkan kalimat tersebut?


 


Tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Mira kecuali hanya bisa pasrah dengan keadaan sembari memasang wajah tembok di hadapan suaminya sendiri. Sungguh pagi ini menjadi awalan yang membuatnya malu. Ah, kejadian ini tak kan mungkin bisa terlupakan.


 


Dua puluh menit telah berlalu, kini mobil sport berwarna hitam bersemi maroon itu telah terparkir rapi di sebuah parkirkan VIP di sebuah Mall.


 


 


Tanpa adanya rasa malu-malu kucing,  di hadapan semua orang Alex menggandeng lengan istrinya untuk ikut bersamanya masuk ke dalam Mall. Almira yang lengannya dia gandeng pun terlihat tidak nyaman alias tidak percaya diri. Namun wanita itu berusaha semaksimal mungkin agar Alex tak mengetahui hal tersebut demi menjaga perasaannya.


 


“Apa kau merasa risih dengan gandengan ini, Mira?” tanya Alex pelan di samping daun telinga sang istri. “Jika kau tidak nyaman, kau mempunyai hak untuk melepaskannya.”


 


Gadis itu sontak mendongak sedikit ke atas, menatap wajah sang suami dengan heran. Mengapa Alex bisa peka terhadap ketidaknyamanannya kali ini?


 


“M-mengapa kau bicara seperti itu, Alex?” tanya Mira pelan. “A-aku tidak merasa risih dengan gandenganmu, mungkin kau saja yang merasa begitu. Lagipula ini adalah pertama kalinya aku bergandengan tangan denganmu, jadi menurutku wajar-wajar saja jika aku merasa sedikit kaku, Alex.”

__ADS_1


 


Almira melakukan sedikit kebohongan tentang perasaannya sendiri agar tidak membuat suaminya tersinggung karena kejujurannya.


 


Apa yang dikatakan oleh Mira ada benarnya, hal itu pun membuat Alex bisa memaklumi. Dan ya, dia tidak jadi memutuskan untuk melepaskan gandengan tangannya dari lengan Almira.


 


“Kalau begitu ya sudah, Sayang! Ayo, kita masuk sekarang!”


 


Tak ada lagi percakapan di antara mereka, keduanya segera melangkahkan kedua kaki mereka untuk masuk ke dalam Mall dan meninggalkan area parkiran.


 


Tak butuh waktu lama keduanya telah sampai di dalam Mall. Almira yang merasa sudah lama tidak bepergian ke Mall pun mendadak menjadi seperti anak kecil yang terpicut oleh banyak mainan karena begitu banyak barang-barang bagus yang kini tampak di kedua matanya.


 


Andai kata dia memiliki banyak uang dari hasil kerjanya sendiri mungkin dia sudah memborong seisi Mall saat ini juga.


 


Mungkin sebaiknya dia kembali bekerja agar dia bisa mengumpulkan uang sendiri dan membeli apa pun yang dia kehendaki dengan uangnya sendiri. Tapi, apakah Alex mengizinkannya untuk bekerja? Hmm, entahlah. Dia hanya bisa berharap kalau Alex akan memberikannya kebebasan untuk melakukan apa pun selama itu tidak merugikan siapa pun termasuk Alex sekalipun.


 


“Apa kau ingin bermain time zone dahulu denganku, Sayang? Ataukah kau ingin langsung ke lantai atas—yang di mana barang-barang branded berada?” tanya Alex kepada Mira langsung pada intinya. “Sepertinya bermain time zone di sini begitu menarik, Sayang.”


 


“Kembali lagi pada dirimu, Alex. Kalau kau maunya seperti itu, kenapa tidak? Kau adalah seorang pemimpin keluarga, maka kau juga yang harus menentukan segalanya,” celetuk Almira.


 


“Ya sudah kalau begitu.” Alex berpasrah diri. “Sebaiknya kita bermain terlebih dahulu saja daripada ribet mikirin membawa tas-tas belanjaan kamu apabila membeli tas terlebih dahulu.”


 

__ADS_1


“Baiklah, ayo! Aku yakin bahwa kau dan aku adalah satu.”


__ADS_2