
“Wanita ini kekasih barumu ya, Lex?” tanyanya penasaran, sebab wanita itu terlihat bukan seperti asisten ataupun sekretaris pribadi mantannya, Alex.
“Bukan.” Alex menjawabnya dengan dingin. “Dia istriku, belahan jiwaku, nafasku!” tegas Alex di hadapan Laura.
Kedua mata Laura mendelik mendengar jawaban dari Alex, sejak kapan pria itu menikah? Pikirnya bertanya-tanya dengan heran di dalam benaknya. Kenapa dia tidak mendengar kabar pernikahan mantan kekasihnya itu? Akankah Alex hanya bersandiwara agar dia tidak banyak bertanya? Sepertinya memang benar dugaannya kalau Alex hanya mencoba membuatnya kepanasan. Ha-ha, apakah Alex masih belum bisa melupakan kenangan manis di antara mereka berdua?
“Jangan mengada-ngada deh, Lex. Kamu itu sudah besar lho, masa mau sandiwara terus,” hina Laura diiringi oleh tawa kecil di hadapan Alex bersama istrinya, Almira.
Almira mengerutkan aslinya, tatapannya menatap ke arah Laura dan Alex secara bergantian. Apa maksud ucapan wanita di hadapannya ini? Dan siapa dia? Mengapa omongannya sangat tidak bisa dijaga? Apakah dia tidak percaya bahwa dirinya ini adalah istrinya Alex? Ah, padahal Alex sudah memposting foto pernikahan mereka berdua di sosial media miliknya. Apakah wanita itu tidak melihat postingan Alex beberapa hari yang lalu?
“Maaf, apakah kamu tidak bermain sosial media, Nona?” tanya Almira membalas ucapan wanita di hadapan mereka. “Jika kamu bermain sosial media, tentunya kamu sudah tahu kalau kami berdua adalah pasangan suami istri.”
Damn!
Laura mati kutu di hadapan sepasang suami istri di depannya ini, perasaan malu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya ketika mendapati senyuman mengejek dari sang mantan kekasih. Sial! Bagaimana bisa dia kalah telak seperti ini? Duh, rasanya dia sudah tak memiliki wajah lagi di depan Alex.
“Oh iya, siapa kamu?” lanjut Mira kembali setelah dia menyelesaikan perkataannya tadi. “Sepertinya kamu dengan suami saya saling mengenal satu sama lain.”
Laura tersenyum jahat ketika mendengar pertanyaan dari istri mantan kekasihnya itu, ini adalah kesempatan emas untuk dia membuat kacau rumah tangga sang mantan di depan umum. Dia akan membuat istri pria itu mati kepanasan dengan membicarakan kenangan masa lalunya bersama Alex.
Pertemuannya kembali bersama Alex adalah sebuah pertanda bahwa mereka berjodoh. Ya, dia harus mencoba meluluhkan hati Alex agar mau memaafkan kesalahannya beberapa tahun silam dan kembali masuk ke dalam pelukannya. Apalagi dia tahu bahwa saat ini karier dan perkembangan bisnis Alex sedang berkembang pesat.
__ADS_1
Wanita mana yang tidak ingin hidup bahagia dengan bergelimang harta? Tentunya tidak ada bukan?
“Oh iya, aku lupa kalau kita belum berkenalan.” Laura tersenyum lebar sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Almira. “Laura.”
Almira menerima jabatan tangan dari wanita di depannya, lalu membalas ucapan tersebut. “Almira.”
“Nama yang cukup indah,” puji Laura kepada Mira, namun tatapan matanya fokus kepada Alex yang kini berdiri tegap di samping istrinya. “Namaku Laura, dan aku adalah orang yang pernah dicintai setengah mati oleh suamimu.”
Dengan penuh percaya diri Laura melontarkan kalimat itu di hadapan Mira, sedangkan Almira yang mendengarnya pun merasa ingin sekali tertawa lepas di hadapan Laura. Dia merasa mantan kekasih suaminya ini sangat lucu, apakah menurutnya dia terlihat keren jika bersikap seperti itu?
Percaya diri boleh, tapi untuk sadar diri jauh lebih penting.
“Untuk apa kau berkata seperti itu? Apakah kau mengira dirimu keren?” ketus Alex tak suka mendengar kalimat tersebut. “Enyahlah! Aku begitu muak melihat wajahmu!”
“Oh gitu ya,” sambut Almira sedikit kaku. “Mau bagaimanapun masa lalu kamu bersama suami saya, saya sungguh tidak peduli. Yang terpenting bagi saya adalah dia milik saya, Mba.”
Almira tersenyum manis, lalu menggandeng lengan suaminya di depan mantan kekasih suaminya itu. Dia menilai Laura dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, wanita itu terlihat seperti wanita murahan yang gampang dimiliki oleh siapa pun. Pantas saja suaminya, Alex, memilih untuk meninggalkan dirinya.
“Ouh, benarkah begitu?” kekeh Laura bertanya, kemudian dia beralih menatap ke arah Almira. “Apa kau tahu bahwa seorang pria hanya jatuh cinta sekali dalam seumur hidupnya? Dan selebihnya hanya meneruskan kehidupan. Bisa jadi dia menikah denganmu bukan karena dia mencintaimu, Nona.”
Bukannya tersinggung dengan ucapan Laura, Almira justru tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya berulang kali.
__ADS_1
“Apakah kamu menyesal karena telah menyia-nyiakan ketulusan hati suami saya sehingga kamu mencoba untuk menghancurkan hubungan kami berdua, Mba?” tanya Mira sedikit lantang kepada Laura. “Tidak ada gunanya kamu membahas masa lalumu bersama suami saya di sini, karena apa pun masa lalu suami saya sudah saya terima. Dan hubungan kami pun tidak ada masalah apa pun mengenai hal yang terjadi di masa lalu.”
“Urusan suami saya mencintai saya atau tidak biarlah Tuhan dan dirinya sendiri yang tahu, kamu tidak perlu mengurusi rumah tangga saya. Sebaiknya sekarang kamu urus saja dirimu sendiri!”
Alex terkagum mendengar ucapan sang istri yang tegas dalam berbicara kepada mantan kekasihnya tanpa harus mengeluarkan bahasa kasar agar Laura paham. Bahkan sedikitpun tidak terpancing emosi, dan Alex akui bahwa dirinya begitu bangga kepada Almira.
“Coba tanyakan kepada suamimu, berapa lama dia tidak bisa move-on dari saya. Sayang sekali kamu hanya dijadikan tempat pelampiasannya untuk melupakan saya. Ha-ha!”
Laura tertawa jahat mengejek istri mantan kekasihnya itu, kemudian dia segera melenggang pergi meninggalkan sang mantan bersama istrinya itu dengan perasaan hati yang mulai memanas di dalam sana karena istri mantannya itu cukup hebat dalam membalas perkataannya dan tidak mudah terpancing emosi.
Ah, andaikan wanita itu mudah terpancing, mungkin dia akan sangat mudah mengolok-ngolok wanita itu hingga hubungan rumah tangga mereka berakhir di ruang sidang perceraian.
Tapi amat disayangkan jika semuanya tidak semudah apa yang dia pikirkan.
Setelah kepergian Laura dari pandangan mereka, Alex hanya bisa diam sembari meredakan emosi yang bersarang di dalam dirinya sebelum dia berbicara kepada sang istri.
Sekian lama tidak bertemu dengan wanita itu, kini dia kembali hadir ke dalam kehidupannya dan seperti memiliki niat untuk menghancurkan kehidupannya yang baru bersama orang baru. Ah, apakah sebegitu bencinya Laura kepada dirinya sehingga tidak membiarkannya menikmati kebahagiaan di dunia ini?
Laura boleh menyakitinya, tetapi tidak dengan istrinya.
Dia tidak akan membiarkan Laura menyakiti istrinya, baik secara fisik maupun batin. Selama nafasnya masih berembus di dunia ini, maka selama itu dia akan menjaga Almira dengan sebaik mungkin. Almira berhak mendapatkan kebahagiaannya, dan juga dirinya.
__ADS_1
“Apakah hatimu baik-baik saja, Sayang?”