
Satu jam lebih menghabiskan waktu di sebuah pondok di halaman rumahnya, kini lelaki itu memutuskan untuk segera kembali ke dalam kamarnya, sebab dia tidak ingin membuat sang istri menunggunya di sana sendirian terlalu lama. Bukan hanya itu, dia juga hendak membersihkan tubuhnya yang terasa lengket akibat kotoran ice cream itu.
“Tuan Alex!”
Seseorang memanggilnya ketika dirinya telah berjalan menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Dia yang mendengar pun menghentikan langkah kakinya dan segera berbalik arah ke sumber suara, ternyata yang memanggilnya itu adalah asisten pribadinya bersama sang sekretaris.
Ada apa keduanya memanggilnya? Pikirnya heran bertanya-tanya di dalam benaknya.
“Ya ..., Ada apa?”
Alex menyahut panggilan dari kedua anak buahnya sembari kembali melangkahkan kedua kakinya turun kembali ke lantai bawah untuk menemui anak buahnya. Rasanya sangat tidak sopan apabila dia hanya berbicara dari lantai atas sedangkan anak buahnya berada di lantai bawah. Ah iya, benar sekali. Dan ya, Alex selalu memperlakukan anak buahnya dengan baik selayaknya manusia.
Dia bukan tipe pria yang gila akan kekuasaan dan tahta, dia menilai dirinya bersama anak buahnya yang lain sangat sama rata. Hanya saja status sosial dalam urusan bekerja yang membuat mereka semua berbeda. Tetapi di luar itu semua, Alex tetap menganggap dirinya hanyalah manusia biasa yang sama seperti anak buahnya.
“Apakah ada hal penting?” tanya Alex kembali ketika kedua kakinya telah berdiri tegak di hadapan asisten dan sekretarisnya.
__ADS_1
“Tentu saja, Tuan,” jawab sang asisten dengan sopan.
“Baiklah kalau begitu, mari kita ke ruang kerja saya untuk membahas hal penting itu!”
Pria itu menegaskan kalimatnya, namun nada suaranya masih terdengar santai di kedua telinga anak buahnya masing-masing. Alex berjalan lebih dulu dengan langkah cepat menuju ke dalam ruang kerjanya yang berada tidak jauh dari anak tangga.
Sesampainya di dalam ruang kerja, pria itu segera mendudukkan dirinya di sebuah mini sofa yang tersedia di dalam sana dengan diikuti oleh dua anak buahnya yang memilih duduk di hadapannya.
Asisten Ricky merapikan pakaiannya terlebih dahulu, kemudian dia menetralkan embusan napasnya supaya lebih memudahkannya dalam bicara.
“Kapan beliau menghubungimu, Ricky?” tanya Alex dengan wajah seriusnya.
“Beliau menghubungi saya setengah jam yang lalu, Tuan,” balas Ricky cepat ketika pertanyaan dari atasannya itu didengar oleh kedua telinganya.
“Apakah kau sudah membalas pesan masuk darinya? Jika belum, katakan saja kalau saya akan datang apabila waktu saya luang, jika saya tidak datang, kemungkinan mohon dimaklumkan.”
__ADS_1
Alex memberikan sedikit perintah kepada sang asisten, dia merasa begitu amat lelah hari ini. Dia masih belum pasti akan datang memenuhi undangan tersebut atau tidak, apabila tubuhnya nanti tidak lelah lagi, kemungkinan dia akan menghadirkan acara tersebut demi menghormati sang dokter. Biar bagaimanapun beliau sangatlah berjasa di hidupnya, sebab hanya beliau satu-satunya dokter pribadi yang bertanggungjawab penuh atas dirinya apabila dia sedang tidak sehat.
“Baik, saya akan menyampaikan pesan itu kepada beliau, Tuan.”
Ricky dengan tegas membalas ucapan sang atasan, lalu dia pun menarik sedikit ujung bibirnya agar terciptanya sebuah senyuman.
“Terima kasih sebelumnya Ricky.” Alex membalas tatapan dari asistennya, lalu tak lama dia beralih pandang ke arah sekretarisnya yang berada di sebelah Ricky. “Bagaimana denganmu, Ricko? Apakah ada sesuatu yang penting mengenai laporan bulanan?” lanjut Alex bertanya kepada sang sekretaris.
Ricky dan Ricko adalah saudara kembar yang menjabat sebagai asisten dan sekretaris pribadinya dari beberapa tahun lalu hingga sekarang. Sedari awal mereka bekerja dengan Alex, tidak sedikitpun saudara kembar itu memberikan kecewa kepadanya, sama seperti Roy, si pengawalnya, itulah mengapa dia mengangkat saudara kembar itu sebagai orang kepercayaannya tentang hal apa pun, termasuk pengelolaan dana perusahaan yang dia miliki.
Perusahaan yang dimiliki oleh Alex ada lima, satu di antaranya adalah sebuah perusahaan raksasa—yang di mana dia memiliki cabang lebih lebih dari dua puluh lima. Cabang yang dibangun oleh Alex hampir merata dari di seluruh wilayah Indonesia baik dari arah barat maupun timur.
Alexander Bawazier adalah seorang pengusaha muda, influencer, model iklan, affliate, dan juga salah satu brand ambasador dari salah satu club game yang terkenal di Indonesia, jadi tak heran apabila di usianya yang hampir memasuki kepala tiga dia sudah memiliki jumlah kekayaan yang hampir menyentuh sepuluh triliun.
Benar-benar beruntung bukan Almira mendapatkan sosok suami sekelas konglomerat seperti Alex?
__ADS_1