Mendadak Dinikahi Milliarder

Mendadak Dinikahi Milliarder
038 : MENCINTAIMU SEPANJANG WAKTU


__ADS_3

“Hei, aku tidak kenapa-kenapa, Alex.” Mira tersenyum, kemudian dia membelai wajah Alex yang tengah berjongkok di hadapannya dengan kedua tangannya. “Aku hanya merasa terharu karena perlakukanmu yang begitu amat manis terhadapku, Sayang. Perlakuanmu begitu hangat, sehangat cinta kasih seorang ayah.”


 


Lelaki itu merasa begitu legah ketika mendengar jawaban dari sang istri, namun kedua matanya masih menyelidiki bola mata Mira dengan sedikit dalam untuk membuktikan kalau wanita itu tidak berbohong pada dirinya. Ternyata, tidak ada kebohongan yang terlihat di sana setelah dia perhatikan.


 


“Darimu, aku merasakan kehangatan dari seorang ayah. Karena perhatian dan perlakuanmu dalam menyuapiku makan itu seperti seorang ayah yang sedang memberikan anaknya makan,” lontar Mira kembali.


 


“Jika benar begitu, mengapa kau harus menitikkan air mata, Sayang? Sepertinya hal itu sangat menyayat hatimu, ada apa denganmu, hmm? Katakan saja, aku akan mendengarkan ceritamu dengan baik. Siapa tahu aku memiliki solusi terbaik untuk dirimu,” tawar Alex meminta Mira untuk bertukar cerita pada dirinya dengan suka rela.


 


Mira mengatur pernapasannya sebentar sebelum berbicara.


 


“Karena aku tidak pernah merasakan itu dari ayahku kandungku, Alex,” tutur Mira dengan nada suara yang sangat lirih.


 


Raut wajah lelaki itu seketika berubah saat mendengar lirihan Mira, ke mana ayah kandung wanita itu sehingga dia bisa berkata seperti itu pada dirinya? Apakah dia sama sekali tidak pernah merasakan momen itu di masa kecilnya? Ah, tidak! Mana mungkin wanita secantik Mira tidak pernah merasakan kehangatan cinta dari seorang ayah.


 


“Kau tidak berbohong padaku?” selidik Alex heran, dia menatap Mira dengan begitu serius.


 


“Apakah ada kebohongan di mataku, hmm?” deham Mira halus. “Membohongi dirimu sama sekali tidak membuatku untung dalam hal apa pun, yang ada hanyalah sebuah dosa karena telah membohongi suami sendiri.”


 


Ucapan Mira ada benarnya juga, dan Alex pun sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Sebaiknya dia mengajak Mira untuk bercerita dengan kepala dingin saja.


 


“Maaf, memangnya ayah kandungmu ke mana sehingga kau bisa beranggapan tidak pernah merasakan kehangatan dari seorang ayah?” tanya Alex langsung to the point kepada sang istri tanpa banyak basa-basi lagi.


 


Mira menjauhkan tangannya dari wajah pria itu, lalu dia turut mengalihkan pandangan matanya ke arah lain. Jika diingat tentang masa lalunya mungkin sedikit menyayat hati, tapi apa boleh buat jika takdir telah tergaris untuknya yang di mana dia harus kehilangan sosok ayah pada saat masih bayi, bahkan kedua matanya yang indah ini belum pernah menatap secara langsung bagaimana wajah ayahnya.


 


Dia hanya bisa menatap wajah tampan lelaki itu dari foto-fotonya di masa lalu pada saat ayahnya masih remaja.


 


Alex merasa heran ketika mendapati Mira yang membuang pandangannya ke arah lain, karena merasakan sesuatu yang tidak beres, Alex pun beranjak dari hadapan Mira dan beralih duduk di sebelah sang istri. Tanpa menunggu lama, dia pun merengkuh tubuh langsing itu masuk ke dalam pelukannya.


 


“Jika pertanyaanku membuatmu sakit, abaikan saja, Sayang. Aku tidak mau membuatmu bersedih karenaku,” bisik Alex di samping daun telinga Mira. “Kemarikan wajahmu sekarang Mira! Ayo, aku akan menyuapimu kembali sampai makanan ini habis.”


 

__ADS_1


Mira pun menoleh, kemudian dia tersenyum sedikit lebar.


 


“Ayahku sudah lama tiada, dia pergi disaat aku masih bayi, Lex. Aku merasa sangat kekurangan figur seorang ayah di hidupku, tapi meskipun begitu ibuku selalu mengatakan kalau ayahku sangat menyayangi diriku, he-he. Aku sedih karena takdir begitu cepat memisahkan kami,” jelas Mira kepada suaminya.


 


Cup!


 


Alex mendaratkan kecupan manis di pipi kanan Mira setelah wanita itu berbicara jujur padanya mengenai isi hatinya.


 


“Sabar ya, Mir. Kita memang tidak bisa memilih untuk di mana kita hidup dan di mana kita tumbuh. Inilah kehidupan, pahit dan manisnya pasti dirasakan oleh setiap jiwa yang hidup di dunia ini.” Alex memberikan sedikit motivasi bijak tentang kehidupan kepada istrinya. “Semua terjadi pasti ada hikmahnya, kau percaya atau tidak untuk itu? Kalau aku sih percaya. Karena aku sudah menemukan apa hikmah dari kisahku dahulu.”


 


“Aku juga percaya dengan itu semua, Alex. Aku hanya merindukan sosok yang bahkan belum pernah aku lihat di masa kecilku, he-he,” papar Mira menyahut ucapan pria di sebelahnya.


 


“Tidak ada salah dengan rasa rindu itu, yang salah itu apabila kau terpuruk di dalam rasa sedih. Berbahagialah selalu, Mir. Aku benar-benar tidak ingin melihatmu bersedih, kau harus bahagia hidup bersamaku, oke?” tangkas Alex hangat.


 


“Ah, baiklah kalau begitu Komandan Hatiku! Ayo, suapi aku lagi!”


 


 


Karena sesungguhnya, perpisahan bukanlah jalan keluar yang sebenarnya.


 


Terkecuali apabila itu perselingkuhan.


 


“Kemarikan mangkuknya, aku akan menyuapimu juga, Komandanku,” pinta Mira seraya menadahkan satu tangannya ke depan wajah Alex.


 


“Tidak, Mir. Ini makanan aku bawakan khusus untuk dirimu sarapan pagi agar tubuhmu ada nutrisi,” sambut Alex menolak halus permintaan istri kecilnya itu.


 


“Hei, kau itu suamiku lho bukan asistenku, Alex!” tegur Mira tegas. “Ayo, kemarikan mangkuknya sekarang. Bukankah menikmatinya berdua jauh lebih enak daripada harus aku sendiri yang memakannya?”


 


Alex pasrah dengan keadaan, dia pun menyerahkan mangkuk berisi makanan itu setengan niat kepada sang istri. Jujur dia bukannya tidak mau disuapi oleh istrinya, hanya saja makanan yang dibadahkan oleh Roy ke dalam mangkuk itu tidak terlalu banyak, yang dia pikirkan apakah istrinya itu kenyang jika makanan itu dibagi dua bersama dia?


 


Ah, entahlah.

__ADS_1


 


Baik, demi sang istri dia harus menuruti saja daripada nantinya wanitanya itu akan merajuk.


 


‘Oke, hanya satu suap saja, tidak boleh lebih.’ Batin Alex berbicara.


 


“Buka mulutmu, Komandan!” perintah Mira seraya menggiring sendok berisi makanan itu ke dalam mulut suaminya.


 


Alex menerimanya dengan baik dan segera mengunyahnya.


 


“Terima kasih, Mira. Sudah, sekarang giliranmu untuk menghabiskan semua sisa makanan itu,” cakap Alex tegas. “Aku sudah makan, kok, tadi pagi pas ke lantai bawah.”


 


Terpaksa dia berbohong agar sang istri mau menghabiskan semua sisa makanan yang ada di dalam mangkuk agar dia kenyang dan tidak kelaparan, sedangkan dirinya bisa menahan perutnya sampai wanita itu tidur dahulu. Sesudah wanita itu tertidur nantinya, baru dia akan turun kembali ke bawah untuk mengisi perutnya yang kosong.


 


Demi sang istri, dia akan rela mengalah.


 


“Benarkah kau sudah makan?” tanya Mira tidak percaya. “Jangan berbohong padaku, katakan saja dengan jujur kalau dirimu juga belum makan, ‘kan?” lanjut Mira menginterogasi.


 


“Mana mungkin aku membohongi wanitaku yang super cantik bak bidadari ini, Sayang!” gombal Alex berbohong.


 


Baginya, jika berbohong demi kebaikkan adalah hal yang tidak apa-apa. Toh, niatnya sangat baik, yang di mana dia lebih mementingkan istrinya daripada dirinya sendiri.


 


“Emm, kalau begitu ya sudah. Aku akan menghabiskan makanan serta minuman yang sudah kau bawakan untukku ini, lalu setelah itu aku akan kembali berhibernasi di atas tempat tidur, kalau dirimu akan melakukan aktivitas apa, Lex?" tanya Mira mencoba membuka kembali topik pembicaraan agar suasana di antara dia bersama sang suami tidak terasa hening.


 


“Aku? Tentu saja aku akan melakukan aksi untuk terus mencintaimu di sepanjang waktuku, Mira. Baik itu pagi hari, maupun malam hari,” sahut Alex menggombal.


 


Plak!


 


“Aku bertanya serius padamu, mengapa kau selalu menjawabnya dengan bermain-main, sih?!”


 


Mira menepuk lengana pria itu menggunakan telapak tangannya dengan kesal. Pantaskah Alex bersikap seperti itu disaat dia sedang membahas hal yang cukup serius?

__ADS_1


__ADS_2