
Pukul dua dini hari, Alex terbangun dari tidurnya. Dia merasa sedikit ada yang aneh dari tempat tidurnya, namun setelah pria itu mulai melebarkan kedua matanya dan menatap ke seluruh arah, dia pun mendapatkan jawabannya. Ternyata dia telah tertidur di atas mini sofa di dalam kamarnya sendiri.
Pria itu perlahan mendudukkan dirinya, lalu mencoba untuk menyandarkan punggungnya ke bantalan mini sofa di tempatnya berada, kedua matanya terbelalak kaget ketika melihat pemandangan tak sedap—yang di mana dia melihat sang istri tengah tertidur pulas di atas lantai.
Kenapa wanita itu memilih tidur di sana? Padahal ranjang mereka ada dan tidak di tempati oleh siapa pun. Apakah karena dia ketiduran di sini sehingga membuat Almira enggan meninggalkannya?
Ah, benar-benar romantis sekali istrinya itu.
Alex mengumpulkan tenaganya terlebih dahulu sebelum bangkit dari sana untuk memindahkan sang istri kembali ke atas ranjang, jika wanita itu lama-lama berada di sana bisa-bisa dirinya akan sakit. Dan hal tersebut sangat tidak diinginkan oleh Alex.
Alex menjauhkan selimut putih yang tebal itu dari tubuhnya, kemudian dia segera berdiri dan menghampiri sang istri yang masih terlelap dalam mimpinya. Dengan sangat hati-hati Alex mangangkat tubuh Almira masuk ke dalam pelukannya.
Sesudah berhasil membawa tubuh sang istri masuk ke dalam pelukannya, Alex mulai melangkahkan kedua kakinya menuju ke arah ranjang berada.
Namun pada saat Alex hendak menurunkan tubuh istrinya ke atas kasur, tiba-tiba saja wanita itu membuka kedua matanya.
“Kau hendak membawaku ke mana?” tanya Almira polos kepada suaminya ketika kedua matanya terbuka, dia merasa heran karena saat ini dia tengah berada di dalam pelukan sang suami.
“Membawamu ke mana saja, Sayang,” jawabnya enteng sembari mengembangkan senyuman manis di wajahnya. “Apakah kau berpikir bahwa aku akan membawamu ke tempat yang tidak-tidak dan berusaha untuk mencelakakan dirimu, Sayang?” sambung Alex bertanya kepada sang istri.
__ADS_1
“Turunkan aku!”
Alex yang mendengar permintaan Almira pun segera menurutinya, dia membiarkan Almira turun dari dalam gendongannya. Almira mengucek kedua matanya dengan jemari-jemari tangannya secara berulang kali, lalu menatap ke seluruh arah. Ah, ternyata dia
sedang berada di dalam kamar pribadi mereka berdua.
“Sekarang kau bisa lihat sendiri, ‘kan? Aku tidak akan membawamu ke tempat sembarangan, Mira, apa kau pikir aku adalah pria jahat yang akan mencelakakan istriku sendiri?” kata Alex bertanya sembari mengembuskan napasnya secara kasar. “Oh iya, kenapa kau bisa tidur di atas lantai? Kau tahu bukan kalau lantai itu sangat dingin dan juga kotor?” sambungnya kembali, dia terlihat sedang mengomeli istrinya itu.
Mira terkekeh kecil ketika melihat perubahan air muka sang suami. Apa salahnya tidur di atas lantai? Tidak ada yang salah, justru dia tahu bahwa lantai kamar suaminya ini sangat bersih mangkanya daripada itu dia memutuskan untuk tidur di sana agar tidak berjauhan dari suaminya sendiri. Baginya, tidur di atas lantai tanpa mengenakan alas apa pun sangatlah terasa enak dan nyaman daripada harus tidur di atas ranjang.
Sedari kecil Almira sudah terbiasa tidur di atas lantai, jadi hal itu sudah biasa dia lakukan. Apakah suaminya ini tidak pernah merasakan nikmatnya tidur di atas lantai tanpa mengenakan alas apa pun? Sepertinya benar dugaannya begitu. Sangat disayangkan sekali jika sang suami tidak pernah merasakan hal tersebut. Sepertinya dia harus membuat suaminya itu juga merasakan kenyamanan tidur di atas lantai tanpa mengenakan alas apa pun.
Alex menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Aku tidak pernah merasakan momen apa pun pada masa kecilku, Mira, apalagi sampai tidur di atas lantai tanpa mengenakan alas apa pun.”
Kejujuran dari Alex membuat Mira sedikit terkejut, namun dia berusaha mengerti. Mungkin Alex tidak perah merasakan hal itu karena sedari kecil dia hidup dengan kehidupan yang layak dan dipenuhi oleh kemewahan.
“Apa maksud ucapanmu yang mengatakan tidak pernah merasakan momen apa pun pada masa kecilmu, Alex?” tanya Almira sedikit penasaran. Ada apa dengan masa kecil Alex sehingga pria itu bisa berkata sedemikian?
Alex menarik sedikit ujung bibirnya, lalu menarik napasnya dengan dalam.
__ADS_1
“Masa kecilku dihujani oleh ribuan peraturan dari kedua orang tuaku … Yang di mana aku tidak bisa bebas untuk melakukan apa pun yang aku mau dan yang aku suka. Aku adalah korban keegoisan orang tuaku pada waktu lalu, mereka terlalu berambisi untuk menjadikanku seperti yang mereka mau tanpa memikirkan perasaanku sebagai seorang anak.”
Alex mulai menceritakan kisah masa kecilnya kepada sang istri.
“Aku tidak memiliki teman masa kecil, waktuku selalu habis dengan belajar, belajar dan belajar. Bahkan aku tidak diperbolehkan untuk bermain bersama anak tetangga meski hanya di halaman rumah. Sadis bukan? Aku hanya diperbolehkan menghabiskan waktu di dalam rumah dengan bermain seorang diri atau dengan pelayan dan penjaga rumah saja. Ah sudahlah, aku tidak sanggup mengingat semuanya lagi.”
Mendengar curhatan Alex membuat hati Almira tersentuh. Dia yang menganggap bahwa suaminya adalah pria yang paling berbahagia di dunia ini ternyata memiliki sebuah luka di masa kecilnya. Dia bisa merasakan sakitnya hati pria itu ketika pria itu bercerita dengannya.
“Maafkan aku, Alex, tidak seharusnya aku membuka percakapan ini,” ujar Almira merasa bersalah kepada suaminya. “Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih.”
“Tidak ada yang salah dari percakapan ini, Sayang. Semua sudah berlalu, aku yakin semua yang sudah terjadi adalah hal yang telah tergaris di dalam hidupku. Jika aku tidak merasakan penderitaan itu di masa kecilku, mungkin sekarang jalan hidupku tidak akan sama, dan aku tidak akan mungkin bisa bertemu dengan bidadari cantik yang kini telah berstatus sebagai istriku, ‘kan?” sambung Alex bertanya, pria itu terlihat tertawa kecil menatap ke arah istrinya.
Wanita itu menaikkan pandangan matanya untuk membalas tatapan dari lelaki yang berdiri tegap di hadapannya ini.
“Apakah kau membenci kedua orang tuamu?” tanya Mira kembali, dia ingin tahu semua tentang suaminya.
“Tidak, aku sama sekali tidak membenci kedua orang tuaku. Bagaimanapun mereka tetaplah orang tuaku, Mira. Mau dihapus dari ingatan sekalipun tidak bisa memutuskan ikatan batin antara aku dan mereka. Jika ditanya apakah aku mencintai mereka? Maka jawabannya adalah iya, aku mencintai mereka sampai kapanpun, namun amat disayangkan ketika aku berhasil meraih kesuksesaanku kini mereka sudah tiada.”
Alex menghentikan pembicaraannya selama beberapa detik agar embusan napasnya kembali normal supaya memudahkannya untuk kembali berbicara.
__ADS_1
“Kedua orang tuaku mengalami kecelakaan pesawat lima tahun yang lalu dan sampai saat ini jasad mereka tidak ditemukan. Kau masih ingat bukan tentang berita kecelakaan pesawat yang jatuh masuk ke pedalaman lautan itu? Nah, kedua orang tuaku menjadi korbannya. Tidak ada yang tersisa dari kecelakaan itu, yang tersisa hanyalah aku sendiri, aku tidak mempunyai adik ataupun kakak. Aku adalah anak satu-satunya yang mereka punya.”