Mendadak Dinikahi Milliarder

Mendadak Dinikahi Milliarder
047 : LAYAKNYA SEORANG BOSS


__ADS_3

‘Ah, sial. Mengapa aku terjebak di dalam perkataanku sendiri?’


 


Ricky hanya bisa membatin kesal di dalam hatinya, dia benar-benar merasa tak tahu lagi harus berkata apa agar rasa malu di hadapan atasannya menghilang. Ah, banci itu benar-benar merubah kehidupannya.


 


“Ah iya Tuan Alex, harusnya saya tidak berkata seperti itu kepada Anda. Maafkan saya,” balas Ricky merasa tidak enak hati. “Ya sudah, saya tidak akan mencari jodoh melalui aplikasi-aplikasi online dan semacamnya lagi, Tuan. Saya akan mencoba saran dari Anda,” imbuhnya penuh semangat.


 


Alex terkekeh ketika melihat ekspresi asistennya itu. “Saya tidak memaksamu untuk melakukan saran itu, Ky. Lakukan saja jika menurutmu itu benar, jika itu salah kau bisa meninggalkannya dan tidak usah dilakukan.”


 


“Tidak-tidak, Tuan!” sambut Ricky cekatan menyambar ucapan Alex. “Saran Anda sangat baik, dan saya ingin mencobanya. Siapa tahu keberuntungan saya ada di sana,” balasnya lagi, dia pun tersenyum lebar di depan Alex.


 


Roy menghela napasnya kasar ketika melihat perlakuan Ricky yang tampak seperti anak kecil di hadapan atasan mereka. Menurutnya, banci itu memang sangat kurang ajar sekali pada mereka berdua. Bisa-bisanya banci itu membuat uang mereka habis secara sia-sia hanya untuk bolak-balik membayar tiket pesawat dan penginapan. Jika tahu seperti itu, sedari awal Roy pun tidak mau melakukan penerbangan ke Luar Pulau.


 


Lebih enak dia menghabiskan waktu di rumah ini dan tidur seharian sepanjang hari untuk menghabiskan waktu cuti daripada harus membuang uangnya dengan ketidakjelasan karena ulah banci itu.


 


Ini semua bagaikan mimpi buruk yang menimpa mereka.


 


“Lain kali saya tidak mau menemanimu ke mana-mana lagi, saya takut uang saya habis secara sia-sia karena ulahmu,” ketus Roy menimbrung masuk ke dalam pembicaraan.


 


Alex yang mendengar ucapan itu pun sontak menoleh ke arah sumber suara, dia memperhatikan Roy dari ujung kepala hingga ke ujung kaki dengan kedua matanya. Dia melihat dengan jelas kalau pengawalnya itu tampak sedang tidak baik-baik saja. Ha-ha, ini semua terjadi untuk menyadarkan mereka berdua agar lebih teliti dalam mengambil sebuah tindakan.


 


“Jika banci itu tidak ada, kalian berdua akan tetap percaya dengan sosial media, ‘kan?” tanya Alex. “Banci itu baik pada kalian, contohnya saja dia rela memberikan kalian pelajaran agar kalian sadar bahwa tidak baik apabila mencari jodoh melalui aplikasi online, apalagi biro jodoh online.”


 


“Berapa nominal uangmu yang habis, Roy?” sambung Alex bertanya kembali kepada pengawalnya sesudah sedikit memberikan nasihat.


 


Roy mendelik ke arah Alex berada, dia tahu bahwa pria itu pasti akan mengganti uang miliknya yang habis karena banci itu. Tapi, Roy tidak akan membiarkan Alex menggantinya. Toh, ini murni kesalahannya bersama Ricky. Ah, mengapa pula dia merutuki hal pribadi semacam itu di depan Alex?

__ADS_1


 


Kesannya, seakan-akan dia meminta ganti semua uang tersebut kepada Ricky maupun atasannya.


 


“Abaikan saja, Tuan Alex.” Roy merasa tidak enak hati. “Oh ya, bagaimana dengan Anda selama saya tidak ada di rumah ini, Tuan? Apakah semua baik-baik saja?”


 


Roy mengalihkan pembicaraan agar tidak tenggelam pada topik pembahasan mengenai wanita jadi-jadian itu supaya moodnya segera membaik dan rasa malunya bersama Ricky di hadapan Alex agar menghilang jua.


 


“Tidak ada yang baik-baik saja selama kalian pergi, Roy.”


 


Ricko tiba-tiba muncul dari dalam rumah dan langsung menyambar pertanyaan Roy begitu saja. Dia tampak berjalan membawa kedua kakinya keluar dari dalam rumah dengan sedikit elegant, dan terlihat begitu berwibawa.


 


Sontak Ricky bersama Roy mengerutkan dahi mereka, lalu bertanya dengan serentak kepada Ricko tentang maksud ucapannya yang berbicara kalau tidak ada yang baik-baik saja selama mereka pergi dari rumah ini.


 


 


Ricko menghela napas panjang di hadapan Roy bersama Ricky, lalu memandangi kedua pria itu dengan wajah seriusnya tampa berpaling ke arah lain.


 


“Beberapa hari kalian pergi, rumah ini dilanda oleh bom atom yang sangat besar. Kalian tahu siapa bom atom itu? Bom atom itu adalah nona Lau, dia kembali kemari untuk menghancurkan tuan Alex bersama nona Mira.”


 


Oh, ****!


 


Benarkah itu? Batin Roy terguncang saat mendengar penjelasan Ricko.


 


Penjelasan dari Ricko hanya diikuti anggukan kepala dari Alex.


 


“Bagaimana bisa wanita itu datang kemari lagi setelah sekian lama, Ricko? Ah, sebaiknya kau jangan mengada-ngada cerita!” ketus Roy tidak percaya, dia berusaha untuk tetap tenang ketika batinnya terguncang dengan perkataan Ricko.

__ADS_1


 


“Apa yang dikatakan oleh Roy benar, kau jangan membuat karangan cerita, Ricko.” Ricky ikut menyuarakan dirinya yang saat ini benar-benar tidak percaya dengan perkataan saudara kembarnya, Ricko.


 


Ricko menatap sedikit tajam ke arah kedua pria yang baru saja kembali setelah berlibur itu, kemudian dia mengakat ujung bibirnya sedikit ke atas hingga menciptakan sebuah senyuman tipis.


 


“Apakah dari tampang saya ini terlihat bahwa saya hanya membual?” decit Ricko, lalu dia menoleh ke arah samping di mana Alex berada. “Tuan Alex saya mohon izin untuk menjelaskan perkara kejadian ini kepada mereka berdua.”


 


Sebelum menjelaksan inti permasalahan, lelaki itu dengan sopannya meminta izin kepada atasannya terlebih dahulu apakah dia boleh menjelaskan masalah ini ataukah tidak. Sebab, semua yang terjadi di rumah ini adalah privasi. Tidak sembarangan orang yang boleh tahu termasuk Roy dan Ricky sekalipun jika tidak ada izin dari Alexander Bawazier. Dan Ricko sebagai sosok yang mengetahui privasi itu pun tidak boleh bersikap semena-mena untuk menceritakannya kepada siapa pun.


 


“Silakan saja, Ricko. Saya izin pamit terlebih dahulu untuk menemui nona Mira. Kau tahu bukan apa yang akan kau lakukan bila semuanya telah kau jelaskan?” kata Alex enteng, namun penuh ketegasan bagi semua anak buahnya yang ada di sekitarnya saat ini.


 


“Baik, Tuan Alex.” Ricko mengangguk mengerti. “Saya tahu langkah apa yang harus saya lakukan setelah itu,” cakapnya lagi.


 


“Okey, dah.”


 


Alex segera berlalu pergi dari teras rumah dan berjalan masuk ke dalam rumah mewahnya dengan langkah cepat untuk segera sampai di dalam kamarnya bersama sang istri, Mira. Karena ada sedikit hal penting yang ingin dia bahas bersama wanita itu mengenai rumah tangga mereka ini.


 


“Hei, Ricko!” seru Roy memanggil Ricko yang berdiam diri memandangi kepergian atasan mereka. “Coba katakan kepada kami berdua, apa yang sudah terjadi selama beberapa hari kami berdua pergi? Dan mengapa nona Lau bisa datang kemari secara tiba-tiba jika tidak ada sebab?” lanjutnya bertanya, rasa penasaran begitu lekat pada otaknya kini.


 


Ricko melangkah mendekat ke arah ayunan di dekat pintu masuk berada, lalu dia pun mendudukkan dirinya di sana. Karena berdiri secara terus-terusan akan membuat urat kaki-kakinya naik ke atas, dan itu akan sangat membuat kedua kakinya terasa pegal-pegal sepanjang hari. Dan ya, Ricko tidak mau hal tersebut terjadi.


 


“Nona Lau datang kemari bukan secara tiba-tiba, melainkan ada sesuatu yang terjadi di antaranya bersama tuan Alex sehingga membawanya datang kemari,” jelas Ricko santai sambil menikmati angin segar di sore hari di atas ayunan itu. “Saya akan menceritakan secara detail kepada kalian berdua agar kalian mengerti. Kalian kemarilah agar mendengarnya dengan baik, karena saya hanya berbicara dengan nada kecil agar tidak banyak orang yang mendengar percakapan kali ini!”


 


Ricko memperintahkan kedua pria itu agar berdiri di dekatnya dengan sedikit tegas, namun tingkah lakunya yang seperti itu sudah membuat dirinya seperti bos saja—yang di mana sesuka hati memberikan perintah. Ha-ha, tapi tidak apa-apa bukan? Toh, kapan lagi dia bisa memerintahkan Roy bersama kembarannya itu jika tidak sekarang?


Bukankah ini kesempatan emas yang di mana dia bisa berlaku sesuka hati karena kedua pria itu sangat ingin tahu mengenai permasalahan yang terjadi beberapa hari ini?

__ADS_1


__ADS_2