Mendadak Dinikahi Milliarder

Mendadak Dinikahi Milliarder
012 : MENGAKUI KEKALAHAN


__ADS_3

Perkelahian antara Alex dengan Ameer langsung terjadi begitu saja tanpa dimulai terlebih dahulu di luar ring tinju, kedua pria itu bertinju lepas di dalam ruangan tanpa mengenakan pengaman apa pun di tubuh keduanya. Amarah Alex pecah ketika sahabatnya itu mencoba menyentuh tubuh istrinya sehingga hal tersebut tidak bisa dimaafkan olehnya. Menurutnya, Ameer haruslah diberi paham agar dia tidak bersikap semena-mena.


 


Apakah Ameer mengira bahwa dia tidak akan melawan ketika pria itu berbuat sesuka hatinya? Oh, tentunya tidak! Dia tahu bahwa Ameer adalah mantan atlet tinju beberapa tahun lalu, tetapi hal itu tidak sedikitpun membuat Alex takut dan mundur begitu saja. Justru sedari kecil dia sangat suka bertinju meskipun dia tidak hafal dengan jurus tinju-tinjuan. Ya, Alex mengenakan jurus bebas yang dia kuasai sendiri.


 


Almira melihat pertarungan sengit nan brutal antara kedua pria itu menjadi ketakutan, dia hanya bisa berdiri tegak di sedikit kejauhan sambil menggigit bibir bawahnya ketika melihat darah segar mengalir dari ujung bibir sang suami.


 


Begitu banyak anak buah Alex dan Ameer yang mencoba memisahkan mereka, namun hasilnya tidak ada apa-apa. Alex tidak membiarkan Ameer lolos dari pertarungan kali ini sebelum pria itu benar-benar menyerah. Ya, pria itu akan membuat musuhnya, Ameer, benar-benar trauma mencari masalah dengannya. Jika tidak seperti ini, mungkin Ameer akan kembali mengulangi perbuatannya.


 


Ameer tampak meringis kesakitan ketika Alex berhasil mendaratkan sebuah pukulan keras tepat di bagian dadanya, namun hal tersebut tetap tidak membuatnya menyerah. Dia terus membalas serangan dari Alex meskipun kondisinya sudah babak belur dihabisi oleh Alex kali ini.


 


Bugh!


 


Alex terpental sedikit jauh ketika Ameer melayangkan tendangan keras tepat mengenai bagian dadanya. Namun, meskipun dia terpental, sedikitpun rasa sakit ataupun nyeri tidak dapat dirasakan olehnya. Apakah mungkin karena dirinya sudah dikebali oleh emosi?


 


“Sudah kukatakan bahwa aku tidak akan mungkin tidak menghabisimu kali ini, Alex!” seru Ameer dengan napas tersengal-sengal. “Menyerahlah sekarang atau aku akan benar-benar menghabisimu di pertarungan kali ini.”


 


Mendengar ancaman dari temannya membuat Alex hanya bisa berdecak kesal. Ah, sejak kapan ada orang yang berani mengancamnya seperti ini? Jujur, ini adalah momen pertama kalinya dia diancam oleh seseorang dan seseorang itu pun tidak lain adalah sahabatnya sendiri. Hais, apakah Ameer mengira dia akan takut dengan ancaman tersebut? Tentulah tidak.


 

__ADS_1


Menyingkirkan manusia angkuh seperti Ameer sangatlah mudah baginya, ibaratkan seperti menghilangkan noda yang ada di ujung kuku jemari tangannya, sungguh hal kecil!


 


Alex mencoba bangkit dari tempatnya dan kembali berjalan mendekat ke arah Ameer berada.


 


“Pukulan yang aku berikan kepadamu belum sepenuhnya, Ameer. Aku bisa memberikanmu sepenuhnya, tapi amat disayangkan jika aku masih memandangmu sebagai temanku. Jika tidak, mungkin kau sudah ada di ruang ICU,” celetuk Alex sedikit arogant dengan nada bicaranya yang khas.


 


“Kau terlalu banyak b*cot, Alex!” cecar Ameer tersenyum miring sembari memegang ujung bibirnya dengan jemari tangannya. “Pria seperti dirimu tidak pantas mendapatkan citra baik di hadapan publik. Cih, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika orang-orang tahu kalau kau adalah pengkhianat yang tega merebut calon pengantin sahabatmu sendiri. Aku sangat yakin kalau nama baikmu akan hancur apabila publik tahu tentang ini semua. Ha-ha!”


 


Mendengar ocehan dari pria di depannya itu membuat Alex tertawa geli. Apakah dia peduli dengan ucapan itu? Tentu saja tidak, hanya saja Ameer terlalu percaya diri kalau dia akan mengambil pusing dengan permasalahan tersebut.


 


Bugh!


 


 


Ameer tak lagi mampu melawan musuhnya, pria yang bertarung dengannya ini benar-benar begitu kuat dari segi apa pun. Bahkan Ameer akui bahwa tidak sedikitpun Alex mengeluh kesakitan di hadapannya, apakah pria itu benar-benar kebal sehingga tidak bisa merasakan pedihnya pukulan yang dia berikan sejak dari awal mereka bertarung?


 


“Hentikan, Alex, hentikan sekarang!” ringis Ameer, dia mencoba untuk bangkit setelah terjatuh ke atas lantai. “Aku mengaku kalah bertarung denganmu, kumohon sudahi pertarungan ini.”


 


Dan pada akhirnya pria itu menyerah sendiri setelah kalah beradu jontos dengan Alex. Alex mendengar pengakuan kalah dari lawannya itu hanya bisa menghela napasnya panjang sembari menggelengkan kepalanya berulang kali. Dia sudah bisa menebak endingnya seperti apa, pastinya Ameer akan mengakui kekalahannya. Ha-ha, Ameer benar-benar pria yang hanya bisa memb*cot saja seperti seorang wanita.

__ADS_1


 


“Baguslah jika kau mau mengakui kekalahanmu secara cepat sebelum kedua tanganku akan membuat tulang-berulangmu patah-mematah,” balas Alex dengan enteng. “Seperti perjanjian tadi pagi, Ameer. Jika kau kalah maka hubungan kerja sama antar perusahaan harus diputuskan dan kau harus pergi dari kehidupanku bersama Mira.”


 


Ameer terdiam beberapa saat ketika otaknya kembali mengingat tentang perjanjian mereka tadi pagi. Perjanjian tersebut dia setujui dalam keadaan sadar, dan kini dia benar-benar harus merelakan Almira  sepenuhnya menjadi milik temannya, Alex, dan hubungan pertemanan antara dirinya bersama Alex harus kandas begitu saja karena kesalahan sendiri—yang tidak bisa menerima kenyataan kalau Almira dinikahi oleh Alex di hari pernikahannya bersama Mira.


 


Mungkin Almira memang ditakdirkan untuk Alex dan bukan untuk dirinya.


 


Ini semua adalah kesalahannya sedari awal—mengapa dia tidak mau mendengarkan penjelasan dari Almira terlebih dahulu. Ah, sudahlah. Semua sudah berlalu, kan? Dan waktu tidak dapat diputar kembali. Lebih baik dia mengikhlaskan Almira daripada dia harus kehilangan nyawanya di tangan sahabatnya sendiri.


 


“Perjanjian itu kuterima dengan sadar, maka aku akan menepatinya, Alex. Kau tenang saja untuk itu,” ucap Ameer kembali. “Maafkan aku telah mengacaukan suasanamu hari ini, Alex. Aku harap kita akan kembali berdamai seperti dahulu sebelum adanya masalah besar ini di kemudian hari nanti.”


 


“Biarlah waktu yang akan memaafkan semua kesalahanmu, pergilah darimu rumahku dan tolong jangan pernah muncul lagi ke hadapanku.”


 


Dengan rasa malas Alex membalas ucapan dari temannya, rasanya dia benar-benar seperti tidak memiliki niat untuk banyak bicara dengan Ameer lagi.


 


“Ah iya, Baiklah.” Ameer tersenyum kecut menatap Alex selama beberapa detik, kemudian pandangan matanya beralih menatap ke arah Almira berada. “Berbahagialah Almira, dan jangan pernah memikirkan apa pun tentang kita lagi. Anggap saja apa waktu lama yang telah kita lalui ini tidak pernah terjadi. Aku yakin Alex adalah orang yang tepat untuk menjadi pendampingmu. Semoga hubungan rumah tanggamu bersama Alex akan selalu dipayungi oleh ribuan kebahagiaan dan dijauhkan dari marabahaya apa pun.”


 


Almira hanya bisa diam tak bersuara, namun pandangan matanya turut membalas tatapan dari sang mantan kekasih yang sampai kini masih dia cintai itu. Dia melihat ada ketulusan di mata Ameer untuknya, namun amat disayangkan jika semua telah berubah dan mereka sudah tak bisa lagi untuk kembali bersama. Kalaupun dia tidak dinikahi oleh Alex, dia pun juga sudah tidak mau lagi menerima Ameer dengan bentuk alasan apa pun karena dia harus menjunjung harga dirinya sebagai seorang wanita.

__ADS_1


 


“Terima kasih atas do’a baikmu untuk rumah tangga kami, Ameer,” balas Almira. “Sekarang pergilah dari sini, Ameer, dan tolong jangan merusak kebahagiaanku bersama suamiku. Kau harus sadar bahwa di antara aku dan dirimu sudah tidak ada apa pun lagi. Berbahagialah dirimu dengan semua keputusanmu.”


__ADS_2