Mendadak Dinikahi Milliarder

Mendadak Dinikahi Milliarder
028 : MENGUJI KESERIUSAN ALEX


__ADS_3

Tiga puluh lima menit sudah berlalu, pasangan suami-istri itu telah sampai di rumah sejak beberapa menit yang lalu, keduanya bergiliran untuk kembali membersihkan diri di dalam kamar mandi sebelum memutuskan untuk tidur di atas ranjang.


Setelah keduanya berhasil membersihkan diri dan mengenakan piyama tidur, kini mereka tampak berjalan naik ke atas ranjang untuk merebahkan diri di sana.


“Apa kau ingin tidur sekarang?” tanya Alex sembari mencari posisi yang nyaman untuk merebahkan diri di atas ranjang empuk miliknya.


Mira menoleh ke samping, “Mungkin sebentar lagi, Alex. Karena sekarang aku belum ada rasa kantuk sedikitpun,” balas Mira jujur.


“Owh begitu,” sahut Alex. “Ah iya, Mira. Aku ingin sedikit bertanya kepadamu, apakah boleh? Tapi pertanyaan ini sedikit sensitif untuk kau dengar,” imbuhnya.


Raut wajah Mira seketika berubah setelah mendengar ucapan dari sang suami. Pertanyaan apa yang hendak ditanyakan oleh Alex untuk dirinya sehingga pria itu harus meminta izin padanya terlebih dahulu? Hal sensitif apa yang ditanyakan pria itu?


“Silakan saja, Alex. Aku akan menjawab pertanyaan darimu sebisaku,” balas Mira kembali setelah terdiam selama beberapa detik.


Sebelum bertanya, lelaki itu menyiapkan mentalnya terlebih dahulu. Sebab pertanyaan yang akan ditanyakan begitu sensitif untuk sang istri, tapi apa pun jawaban dari Mira nantinya sebisa mungkin dia akan menerimanya dengan lapang dada.


“A-apakah kau ada rencana ingin pergi honeymoon denganku?” tanya Alex memulai basa-basi terlebih dahulu sebelum memasuki pertanyaan inti kepada Mira.


Mendengar pertanyaan itu membuat dada Mira terasa sedikit sesak, bagaimana bisa dia merencanakan hal itu sedangkan cinta di hatinya belum ada untuk lelaki yang saat ini telah berstatus sebagai suami sahnya. Ah, mengapa Alex bisa menanyakan hal itu padanya? Apakah Alex berniat untuk mengajaknya honeymoon?


“Kenapa kau bisa bertanya seperti itu padaku, Alex?” Bukannya menjawab, wanita itu justru melontarkan pertanyaan kembali kepada pria di sampingnya.


“Tidak apa-apa, Sayang. Aku hanya bertanya saja, apakah ada?” lanjut Alex, dia memberikan senyuman manis kepada sang istri agar wanita itu tenang menatap wajahnya.


“Kalau bagiku untuk saat ini belum ada sama sekali, Lex. Tapi, kalau kau ingin hakmu aku akan memberikannya sekarang juga,” jawab Mira bernada tegas sambil mendesahkan napasnya pelan ke udara.

__ADS_1


Alex tersentuh mendengar jawaban Mira yang menurutnya bersuka rela menyerahkan tubuhnya duluan tanpa dia minta. Padahal dirinya hanya bertanya, tetapi respon wanita itu cukup bagus. Dan Alex sangat menyukai jawabannya.


“Kau tidak terpaksa memberikanku hak itu?” lanjut Alex kembali menginterogasi Mira.


Gadis itu pun menggeleng dengan cepat.


“Tidak ada kata terpaksa bagi seorang istri untuk melayani ataupun menyenangkan suaminya,” jawab Mira ramah.


Untuk kedua kalinya Alex merasa terenyuh dengan perkataan Almira, dia memilih diam selama beberapa menit sebelum kembali melanjutkan pertanyaannya yang sedikit sensitif itu.


“Mir, kali ini aku akan bertanya lebih dalam lagi. Aku minta kejujuranmu padaku, ya. Apa pun kejujuranmu akan aku terima.”


Alex menyentuh permukaan wajah Mira dengan satu tangannya, dan membelai lembut pipi chuby itu.


Tanpa menjawab, wanita itu hanya mengangguk saja.


Damn!


Pertanyaan itu bak anak panah yang menghujam ulu hati Almira, apa motif dari pertanyaan Alex padanya mengenai hal tersebut?


Haruskah hal tersebut ditanyakan? Secara dia tahu kalau tidak semua wanita memiliki selaput darah.


Memang benar bahwasannya dia tidak pernah berhubungan dengan siapa pun, ataupun menyerahkan kehormatannya kepada pria mana pun di masa lalunya termasuk Ameer sekalipun. Tapi bagaimana jika nantinya pada saat dia bersama Alex melakukan hubungan itu namun darah itu tidak ada? Apakah Alex akan menuduhnya sudah tak p*rawan? Ataukah sebaliknya Alex akan memilih untuk menceraikannya?


Jawaban apa yang harus dia berikan saat ini kepada suaminya? Haruskah dia berpura-pura mengatakan bahwa dirinya tidak p*rawan untuk mengetes sampai di mana keseriusan pria itu dalam menjadikannya sebagai seorang istri di hidupnya?

__ADS_1


Ah, ide bagus!


Sepertinya dia harus mengetes Alex terlebih dahulu sebelum dia berkata dengan jujur. Sebab test-an kali ini juga ada dampak baiknya bagi dirinya, di mana dia bisa melihat jelas sampai di mana keseriusan lelaki itu. Apakah dia menikah dengannya hanya karena tubuhnya, atau memang karena ketertarikannya pada dirinya?


“Maaf, aku sudah tidak menyandang status itu lagi, Lex.” Mira berkata dengan sedikit lantang, lalu membuang wajahnya ke arah lain agar Alex terhanyut di dalam test-annya kali ini. “Ma-maafkan aku.”


Deg!


Alex mendengar kalimat itu pun berasa seperti disambar petir di malam hari, benarkah kalau istrinya sudah tidak lagi p*rawan? Lantas siapa yang mendapatkan kehormatan wanita itu di masa lalu? Apakah sahabatnya, Ameer?


Tidak.


Kenyataan ini begitu sulit untuk dia terima.


Apakah ini bentuk hukum karmanya di masa lalu—yang di mana dia merenggut kehormatan Laura sehingga dia mendapatkan sebuah balasan yang di mana dia mendapatkan istri yang sudah tidak lagi p*rawan?


Tidak, ini bukanlah sebuah karma. Karena dia bersama Laura melakukan hubungan itu tanpa adanya rasa terpaksa dari kedua belah pihak, dan kejadian itu terjadi pun karena Laura yang mengangkanginya lebih dulu. Ibaratkan, kucing mana yang akan menolak apabila diberi ikan segar dan enak? Tentunya tidak ada bukan? Ya, apalagi dia adalah pria normal yang tidak akan mungkin bisa menahan gairah apabila mendapati perlakuan seperti itu dari wanita yang dia cintai.


Bukan hanya sekali dua kali Laura mengajaknya untuk seperti itu, melainkan hampir setiap kali bertemu. Bahkan pada waktu itu, mereka sudah tinggal seatap di rumah ini selama beberapa waktu. Tapi semua harus berakhir ketika Laura bermain gila di belakangnya.


Kini hanya tersisa dosa terindah yang ada dibenaknya tentang Laura.


Almira menoleh ke arah Alex berada ketika dia tidak lagi mendengar percakapan dari bibir suaminya, dengan seksama wanita itu memperhatikan wajah Alex yang tampak kecewa dengan ucapannya. Tapi tidak mengapa, Alex hanya kecewa sementara saja, namun kenyataan yang sebenarnya tidak seperti apa yang dia ucapkan kepada lelaki itu.


“Apa kau kecewa dengan kejujuranku, Alex?” deham Mira bertanya ketika suasana mulai terasa hening di antara mereka berdua.

__ADS_1


Alex menoleh, lalu tersenyum kecut menatap ke arah istrinya, “Bagaimana bisa aku kecewa kepadamu, hmm?” lirih Alex. “Jika aku boleh tahu, siapa pria yang merenggut kesucianmu, Mira? Dan kapan pria itu merenggutnya? Apakah pria itu adalah mantan kekasihmu, Ameer?”


Mira tergelak mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya pada dirinya. Ah, sejauh itukah pikiran Alex mengenai ucapannya?


__ADS_2