Mendadak Dinikahi Milliarder

Mendadak Dinikahi Milliarder
027 : TERINGAT WISATA MASA LALU


__ADS_3

“Jodoh abal-abal?” kata Alex mengulangi ucapan sang Dokter. “Apakah ada jodoh abal-abal di dunia ini, Harun? Seperti apa jodoh abal-abal itu?” sambungnya bertanya, pria itu memasang wajah pura-pura polos di hadapan semua orang, termasuk Harun dan Roy.


 


“Jodoh abal-abal itu seperti orang yang salah, Tuan,” sahut Roy menjawab pertanyaan dari sang atasan. “Lebih baik terlambat daripada menjalin hubungan dengan orang yang salah. Akibat dari orang yang salah itu sangatlah fatal, Tuan Alex. Hal itu bisa menyebabkan kematian hati, hati yang seharusnya berperasaan bisa menjadi tidak berperasaan.”


 


Alex terdiam mendengar perkataan dari Roy, kata-kata itu benar-benar membuatnya terbungkam tak mampu bicara bak anak panah yang melesat di dasar hatinya. Benar apa yang dikatakan oleh Roy, lebih baik menunda daripada mengobati—seperti dirinya dahulu pada saat menjalin hubungan dengan sang mantan kekasih, Laura.


 


Tiga tahun bersama, namun semuanya sia-sia ketika dia memergoki wanita itu berselingkuh dengan pria lain di sebuah kamar hotel. Sadis bukan permainan wanita itu? Tentu saja. Tapi tidak apa-apa, tentulah Alex sangat tidak rugi dengan itu semua sebab kehormatan Laura sudah dia dapatkan lebih dulu ketimbang pria yang menjadi selingkuhan Laura itu.


 


Padahal dia sudah berniat untuk menikahi Laura kala itu, tapi takdir berkata lain ketika dia tahu bahwa sang kekasih telah berkhianat lebih dulu dengan cara memberikan tubuhnya secara gratis kepada laki-laki lain. Mungkin jika itu perselingkuhan biasa, dia bisa memaafkannya dan memberikan kesempatan kedua untuk wanita itu agar berubah. Tetapi karena perselingkuhan itu sudah melebihi batas kewajaran maka dia harus memilih untuk meninggalkannya.


 


Apakah ada seorang pria yang masih mau menerima wanitanya setelah dia tahu kalau wanitanya sudah ditiduri oleh lelaki lain secara sadar di belakangnya?


 


Kalaupun Laura melakukan itu bukan secara sadar, atau bisa terbilang diperkaos, mungkin dia akan tetap bersama Laura dan menyembuhkan wanita itu dari rasa traumanya karena diperkaos. Tetapi kenyataannya sangat berbeda seratus persen—di mana Laura dengan bersukarela melakukan hubungan itu.


 


“Tuan Alex, apakah Anda baik-baik saja?”


 


Harun melambaikan satu tangannya ke depan wajah Alex ketika melihat pria itu hanya diam termenung di tempat duduknya. Dalam benaknya berpikir, apakah lelaki itu kembali teringat akan wisata masa lalunya tentang wanita yang salah akibat perkataan Roy tadinya? Ehem, sepertinya benar dugaannya begitu.


 


Ah, Roy bisa saja menyuntik atasan mereka ini sehingga membuatnya diam dan tak berkutik. Eitss, tapi salah siapa yang mencoba untuk meledek mereka terlebih dahulu, ya ‘kan?


 

__ADS_1


“Sepertinya Tuan sedang tidak baik-baik saja kali ini, Harun,” sahut Roy menyela masuk ke dalam pembicaraan.


 


Almira yang melihat suaminya masih termenung pun mendadak heran. Apa yang membuat pria itu termenung lama? Apakah ada hal buruk mengusik ketenangan jiwanya?


 


“Alex!”


 


Mira menepuk pelan pundak sang suami agar pria itu tersadar dari lamunannya.


 


“A-ah iya, Mira ... Ada apa, Sayang?” tanya Alex kaget, dia pun sontak menoleh ke arah Mira berada. “Ma-maafkan aku termenung. He-he.”


 


Gadis itu mendesah pelan, “Kau baik-baik saja? Ataukah ada sesuatu yang berusaha mengusik ketenangan jiwamu?” tanya Mira penuh perhatian, tatapannya berfokus mengunci ke bola mata lelaki di sebelahnya.


 


 


“Suamimu baik-baik saja, kok. Sudah ya, tidak usah dipikirkan lagi. Mari kita lakukan aktivitas selanjutnya,” papar Alex berbohong kepada Mira seraya membelai lembut pucuk kepala wanita itu.  “Oh iya, Harun, ayo kita abadikan momen ini seperti yang tadinya kau usulkan, setelah itu saya ingin kembali ke rumah sebab hari sudah mulai larut malam.”


 


Harun bersama Roy saling tatap satu sama lain selama beberapa detik setelah mendengar ucapan dari sang atasan. Mereka berdua tahu kalau pria itu sedang berbohong kepada istrinya, namun apa boleh buat kalau mereka hanya bisa diam? Takutnya kalau mereka bersuara ataupun salah bicara maka di hadapan nona muda Bawazier, maka mereka akan kehilangan jabatan mereka dan reputasi nama baik mereka hancur begitu saja seperti debu.


 


“Ah iya, Tuan Alex, saya hampir lupa untuk itu. Mari kita semua ke sana, nanti akan ada team photografer yang memotret kita semua!” seru Harun.


 


Dokter Harun beranjak dari tempat duduknya lebih dulu, dia berjalan meninggalkan tempat di mana Alex berada bersama rekannya yang lain menuju ke atas panggung dengan penuh rasa semangat, lalu tak lama kemudian disusul oleh Alex bersama sang istri dan para anak buahnya yang ikut ke acara dokter Harun.

__ADS_1


 


Keenam orang itu telah bersusun rapi di atas panggung sambil bergaya ala kadarnya untuk dijepret oleh beberapa orang photografer handal dalam bidangnya sebanyak beberapa kali dengan gaya dan pose yang berbeda-beda dari setiap individu.


 


Setelah sesi pemotretan selesai, Alex pun memutuskan segera berpamitan kepada sang dokter untuk kembali ke rumahnya, sebab jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


 


“Harun, terima kasih atas undanganmu malam ini untuk saya. Dan saya ucapkan selamat atas lauchingnya klinik kecantikanmu, semoga sukses selalu Dokter Harun. Saya bangga terhadap pencapaianmu di usia yang masih tergolong muda,” kata Alex tegas sembari memegangi pundak Harun dengan satu tangannya. “Nanti kapan-kapan saya akan melakukan test perawatan kulit wajah di sini bersama nona Mira.”


 


“Saya juga sangat berterima kasih atas kehadiran Anda sini Tuan Alex, saya benar-benar tidak menyangka jika pria yang saya ketahui sangat sibuk masih memiliki waktu untuk datang kemari, he-he.” Harun menundukkan kepalanya sebentar ke bawah, lalu menaikkannya kembali ke atas dan membalas tatapan dari Alex. “Saya tunggu kehadiran Anda bersama nona Mira di klinik saya kapan pun itu, Tuan. Saya pastikan klinik ini akan terbuka dua puluh empat jam untuk Anda bersama nona Mira.”


 


“Terima kasih, Harun. Saya pamit undur diri dahulu kalau begitu.”


 


“Mari, Tuan. Saya akan mengantarkan Anda sampai ke parkiran.”


 


Alex tersenyum menatap ke arah Harun, kemudian dia menggandeng lengan istrinya dan mulai berjalan turun dari atas panggung untuk keluar dari dalam gedung tersebut dengan diikuti oleh anak buahnya yang lain, termasuk Harun. Karena lelaki itu hendak mengantarkannya ke mobil.


 


Sesampainya di parkiran Roy dengan cepat membukakan pintu mobil untuk keduanya masuk ke dalam sana, setelah suami-istri itu masuk ke dalam sana dia pun segera menutup pintu mobil kembali. Roy bergegas masuk ke dalam mobil dan mengambil posisi di depan untuk menyetir kendaraan atas perintah dari sang atasan pada dirinya.


 


“See you next time, Tuan!”


 


Harun melambaikan tangannya ke arah mobil Alex, sedangkan Alex meminta Roy untuk membalasnya dengan klakson setelah mobil berhasil melaju meninggalkan lokasi acara.

__ADS_1


 


“Apakah kita akan langsung pulang?”


__ADS_2