
Pukul empat dini hari Alex terbangun dari tidurnya, dia merasa tidak bisa untuk kembali terlelap di dalam alam mimpinya karena sudah merasa sangat puas beristirahat. Tanpa menunggu waktu yang lama, lelaki itu pun memutuskan segera bangkit dari tempat tidur, dia berjalan menuju ke dalam kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Sesudah Alex mencuci wajahnya di sana, pria itu kembali menggiring kakinya keluar dari dalam kamar mandi. Karena Mira masih tertidur pulas, jadi pria itu memilih untuk pergi ke lantai bawah untuk menemui Roy dan juga Ricky, sebab dia hendak membahas sesuatu yang menurutnya begitu penting.
Sebelum berjalan keluar dari dalam kamar, Alex meraih ponselnnya yang terletak di atas nakas lebih dulu.
Tak lama setelah meraih benda pipih itu, Alex bergegas keluar dari dalam kamarnya dengan sangat hat-hati. Ya, itu semua dia lakukan karena tidak ingin membuat Mira terbangun karena mendengar suara berisik yang berasal dari pintu kamar.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari lima menit untuk Alex meninggalkan kamar dan sampai di lantai bawah, dia tampak sedang berjalan menuju ke kamar pribadi Roy dan juga Ricky yang tak jauh dari ruang kerjanya. Pria itu sengaja memberikan kamar Roy, Ricky dan Ricko secara berdekatan dan tidak jauh dari ruang kerjanya agar lebih memudahkannya mencari ketiganya apabila dia sedang membutuhkan mereka.
Tok-tok-tok!
Alex mengetuk pintu kamar Roy dengan cepat tanpa menunggu lama secara berulang kali, namun sama sekali tidak ada jawaban apa-apa dari dalam sana. Bahkan pintu kamar itu tak jua bereaksi seperti terbuka. Apakah mungkin Roy kelelahan karena acara semalam?
Hmm, sepertinya memang begitu.
Ya sudah, dia pun memutuskan untuk segera beralih ke kamar Ricky yang berada di sebelah kamar Roy, kamar ketiga anak buahnya saling berjempet, dan kamar Ricky berada di tengah-tengah antara kamar Roy dan Ricko.
Tok-tok-tok!
Pria itu kembali mengetuk pintu kamar untuk yang kedua kalinya di pintu kamar Ricky, akankah anak buahnya yang satu ini cepat merespon ketukan pintu dari dirinya? Entahlah, mari kita lihat saja.
__ADS_1
“Ricky … Ayo, bangunlah sekarang!”
Alex berteriak sedikit keras di dekat pintu kamar Ricky agar pria itu cepat terbangun dan membuka pintu kamarnya.
Tak lama setelah Alex berteriak, pintu kamar Ricky pun terbuka lebar. Terlihat seorang pria berbadan kekar tengah berdiri di belakang ambang pintu dengan wajah kusut serta rambut yang acak-acakan, dia terlihat seperti masih mengantuk berat, sebab pria itu menguap secara berulang kali di hadapan Alex.
“Ah, jam berapa ini, Tuan? Mengapa Anda membangunkan saya sepagi ini?” tanya Ricky heran, dia pun mengucek kedua matanya berulang kali untuk menghilangkan rasa kantuk.
“Cuci mukamu sekarang, Ky! Saya tunggu di ruang kerja saya,” lontar Alex tegas penuh perintah kepada sang asisten. “Dan satu lagi, sebelum kau pergi ke ruangan saya tolong bangunkan Roy juga, ada yang ingin saya bahas dengan kalian berdua.”
Ricky mengerutkan dahinya heran, kira-kira hal penting apa yang ingin dibicarakan oleh atasannnya sepagi ini? Apakah ada sesuatu yang tidak beres mengenai perusahaan atau ada sesuatu yang amat kacau di hidup atasannya itu mengenai masa lalu?
Setelah mendengar jawaban dari Ricky, pria itu pun segera melangkahkan kedua kakinya kembali untuk pergi dari sana dan menuju masuk ke dalam ruang kerja pribadinya. Hal penting mengenai permasalahan Mira bersama ayah tirinya, Zion, akan dibahas pada sekarang juga sebelum wanita itu terbangun dari tidurnya. Sebab, membahas permasalahan ini harus secara tersembunyi agar Mira tidak mendengarnya.
Apakah perintahnya mengenai Zion sudah ada perkembangan atau belum, dia ingin mengetahuinya. Sebagai seorang suami, tentunya dia akan terus melindungi Mira sampai kapan pun. Dan orang-orang yang menyakiti Mira harus lah mendapatkan balasan agar memiliki rasa kapok untuk berbuat jahat.
Sesampainya di dalam ruang kerja pribadinya, lelaki tampan itu pun memilih duduk di atas sofa empuk di dalam ruangan sambil memainkan ponselnya. Dia membuka aplikasi sosial medianya dan menambahkan sebuah cerita di ‘story instagram’ miliknya. Pria itu mempublish wajah Mira yang dia jepret secara diam-diam pada saat menghadiri acara dokter Harun malam itu agar semua pengikut instagramnya dan semua orang tahu bahwa Mira adalah miliknya seorang.
Apa yang sudah dia dapatkan, maka dia tidak akan mau membaginya kepada siapa pun jika dia tidak berkeinginan membagi. Apalagi Mira hanya ada satu di dunia ini dan tidak ada duanya, sangat mustahil jika dia ingin membagi wanita itu kepada semua pria. Dia adalah pria normal yang tidak akan sudi membagi seorang wanita.
__ADS_1
Sepuluh menit berlalu, kedua anak buahnya sudah berhasil menemui Alex di dalam ruang kerjanya dan duduk manis di hadapannya dengan wajah yang masih terlihat kusut meskipun sudah membasuh wajahnya masing-masing.
“Ada apa Anda meminta saya untuk datang kemari, Tuan Alex?” Roy mengawali pembicaraan lebih dulu ketika dia telah duduk di atas mini sofa di hadapan sang atasan. “Apakah ada hal penting?” imbuhnya lagi.
Alex mengangguk sebanyak tiga kali ketika mendengar pertanyaan dari pengawalnya.
“Tentu saja ada hal penting untuk dibahas, Roy. Jika tidak ada hal penting, mana mungkin saya meminta kalian berdua kemari,” celetuk Alex. “Saya ingin bertanya tentang perintah saya kepada kalian berdua beberapa hari yang lalu, apakah ada perkembangan?” lanjutnya dengan tampang serius menatap ke arah Roy dan Ricky secara bergantian.
“Masalah ayah tiri nona Mira yang Anda maksud, Tuan?” sela Ricky bertanya kepada Alex untuk memastikan apakah benar atau tidaknya karena dia takut salah menjawab pertanyaan dari lelaki itu.
“Menurutmu? Apakah saya memberikan perintah lain?” kata Alex tidak suka, alisnya tampak terangkat ke atas secara bersamaan. “Tolong pertanyaannya dicerna dengan sebaik mungkin ya, Ky.”
Ricky tergelak ketika mendapatkan sinisan dari atasannya, dia hanya bisa menelan salivanya sembari menggaruk tengkuknya yang terasa tidak gatal untuk menghilangkan rasa kakunya di hadapan Alex dan juga Roy.
Roy mendesah pelan, lalu memandang ke arah atasannya dengan seksama.
“Beberapa informasi sudah berhasil saya kumpulkan, Tuan. Termasuk tentang permintaan Anda yang terakhir tentang hubungan tuan Ameer bersama nona di masa lalu, tapi untuk menemukan hasil rekaman kejadian pelecehan beberapa tahun lalu belum berhasil ditemukan,” terang Roy berkata jujur kepada Alex tanpa ada satu pun yang dia tutupi dari atasannya.
“Apakah rekaman itu memang sudah tidak bisa ditemukan lagi, Roy?” selidik Alex serius, dia begitu ingin melihat rekaman beberapa tahun yang lalu agar dia memiliki bukti yang cukup kuat apabila hendak memenjarakan Zion. Karena tujuan utama dia mencari tau segalanya adalah untuk memenjarakan pria tua itu agar dia kapok.
__ADS_1
Jika tidak seperti itu, apakah Zion akan memiliki rasa trauma untuk berbuat jahat?