
“Selamat pagi, Sayang!” sapa Alex kepada sang istri yang saat ini terlihat sibuk menyiapkan pakaian untuknya sembari berjalan keluar dari dalam kamar mandi menuju ke arah ranjang.
“Hai, selamat pagi kembali Suamiku.”
Almira membalas sapaan dari sang suami tak kalah romantisnya sembari menoleh selama beberapa detik ke arah pria itu berada, lalu dia kembali fokus mencari pakaian yang bagus untuk dikenakan sang suami pergi ke kantor hari ini.
“Kau terlihat repot sekali beberapa hari ini,” ucap Alex berbicara dengan santai. “Jika kau merasa lelah, beristirahatlah sekarang. Jangan terlalu memaksakan diri untuk melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri—yang di mana kau harus melayani suamimu dengan baik, kau itu istriku, bukan babuku.”
“Apakah kau mengira bahwa aku merasa direpotkan oleh ini semua, Alex?” tanya Almira pada intinya. “Aku sama sekali tidak merasa direpotkan olehmu, ini adalah tugasku sebagai seorang istri dan aku sangat suka menjalani peranku. Kapan lagi aku harus berbakti kepada suamiku jika tidak dimulai dari sekarang?” sambung Almira berkata.
Alex menundukkan kepalanya ke bawah sembari menggelengkan kepalanya berulang kali. Tentunya tidak ada yang salah dari perlakuan Almira untuknya, hanya saja dia merasa tidak enak hati kepada wanita itu apabila terus-terusan melayaninya dari segi apa pun. Apalagi tadinya Almira sudah memasakkan sarapan pagi untuk dia makan. Ah, dia takut apabila Almira kelelahan dengan semua ini dan menganggap bahwa dirinya—sebagai sosok suami tidak ada perhatiannya dengan itu semua.
Huuh, harus bagaimana lagi?
“Beristirahatlah sekarang, Mira. Kau sudah bangun sejak subuh tadi, aku tahu kau lelah. Ayo, istirahatlah sekarang!”
Keputusan terakhirnya dia berbicara dengan tegas penuh penekanan kepada sang istri.
Mira yang mendapatkan perintah dari suaminya pun tidak bisa berkata apa-apa lagi selain hanya bisa menuruti perkataan pria itu, dia pun segera meraih sebuah kemeja putih polos itu dari dalam lemari, kemudian menutup pintu lemari pakaian itu kembali dengan pelan agar pintu lemari tidak rusak. Ya, Almira adalah tipe wanita yang begitu menjaga barang-barang agar lebih awet.
Almira membawa pakaian itu mendekat ke arah ranjang untuk diberikan kepada sang suami, sedangkan Alex tampak duduk di tepian ranjang sembari mengeringkan rambutnya yang masih terasa basah.
__ADS_1
“Apakah hari ini kau berniat untuk pergi berjalan-jalan, Mira?” tanya Alex, dia pun menaikkan pandangannya sedikit ke atas. “Jika kau hendak pergi, katakan saja ke mana, aku akan membawamu ke sana. Mau kau pergi ke Bali, Amerika, Inggris, Turki, katakan saja.”
“Sepertinya tidak ada,” tolak Almira secara halus, dia tahu bahwa hari ini suaminya akan pergi bekerja untuk mengurus-urusan kantornya, dan dia tidak mau merepotkan sang suami hanya karena keinginannya. “Hari ini adalah hari senin, Alex, sebaiknya kau memakai kemeja putih ini saja.”
“Jangan pernah sungkan untuk bicara kepadaku tentang hal apa yang kau inginkan,” lirih Alex serius. “Aku tidak suka ketika kau memendam keinginanmu.”
Mendengar hal tersebut membuat Almira hanya bisa diam sambil mendudukkan dirinya di tepian ranjang di samping sang suami, dia membalas tatapan dari Alex sehingga keduanya beradu pandang satu sama lain selama beberapa detik lamanya.
“Bukankah kau mengatakan hari ini kau akan pergi bekerja, Alex?” tanya Almira pelan. “Aku tidak ingin mengganggu jadwal kerjamu, aku tahu pasti pekerjaanmu begitu banyak.”
“Kau menganggap aku akan benaran pergi bekerja ke kantor hari ini, Mira?” tanya Alex serius sambil menoleh ke samping.
Almira mengangkat kedua bahunya ke atas, lalu menyengir lebar bak kuda di hadapan Alex, “Tentu saja aku mengira seperti itu, Alex. Secara aku tahu bahwa kau adalah pria sibuk, pastinya banyak urusan di luar sana.”
“Ya, aku akan pergi bekerja hari ini. Dan apa kau tahu pekerjaan apa yang akan aku kerjakan hari ini?” tanya Alex.
“Tidak.” Dia menggelengkan kepalanya berulang kali. “Aku tidak tahu pasti mengenai semuanya, yang aku ketahui pastinya kau mengerjakan semua urusanmu di kantor.”
“Aku bekerja untuk membuatmu bahagia dan selalu tersenyum bersamaku hari ini dan seterusnya. Pekerjaan yang amat menyenangkan bukan?” kata Alex menerangkan semuanya kepada sang istri. “Bersiaplah sekarang, Mira. Aku akan mengajakmu jalan-jalan hari ini mulai dari pagi hingga malam hari.”
__ADS_1
“Ma-maksudmu kita akan fulltime bersama di luar?” tanya Mira dengan tak percaya, dia memandangi wajah suaminya tanpa berkedip. “T-tapi bukankah kau sibuk hari ini?” lanjutnya.
“Jika dikatakan sibuk atau tidak, tentunya aku akan sangat sibuk setiap harinya, Mira. Tapi, yang namanya waktu tidak bisa dibeli dengan uang bukan? Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu selama satu minggu penuh ini, selebihnya aku akan kembali fokus bekerja dan mengurus semua anak perusahaan yang ada di Dalam Kota maupun di Luar Kota.”
“B-baiklah, Alex. T-tapi benarkah aku tidak mengganggu waktumu? Emm, maksudku apakah dengan kita fulltime di luar tidak mengganggu pekerjaanmu? A-aku takutnya itu semua mengganggu pekerjaanmu,” ungkap Almira jujur dari hatinya.
“Tenang saja, Sayang. Semua urusan kesibukanku telah aku serahkan kepada anak buahku, dan aku yakin mereka semua bisa menghandlenya dengan baik selama aku tidak bekerja.”
Alex tersenyum manis, lalu diiringi oleh anggukan kepala. Dia berusaha meyakinkan sang istri kalau semuanya akan baik-baik saja. Alex meraih satu tangan sang istri kemudian mendaratkan sebuah kecupan manis di atas punggung tangan wanita.
“Bersiaplah sekarang, aku akan segera mengenakan pakaian yang telah kau pilihkan, Sayang.”
“Baiklah. Tunggu aku, ya.”
Tak banyak bicara lagi, gadis itu segera bangkit dari ranjang. Dia berjalan dengan hati yang tengah berbunga-bunga mendekat ke arah lemari pakaiannya berada. Bagaimana dia tidak senang ketika seseorang mengajaknya berjalan-jalan ke luar rumah untuk menikmati waktu. Jika berada lama-lama di rumah juga akan membuatnya sangat bosan bukan? Ya, benar. Dan Alex sudah membuat keputusan benar dengan cara mengajaknya refreshing ke luar rumah tanpa dia pinta terlebih dahulu.
Jujur, Almira merasa sangat bersyukur dengan jalan kehidupannya yang sekarang—yang di mana dia benar-benar mendapatkan sosok pria sempurna di matanya setelah dihancurkan seperti debu oleh pria yang dianggapnya sebagai rumah untuknya kembali ketika dunianya sedang tak baik-baik saja.
Satu-persatu keraguan yang terpendam di dasar hati Almira sudah mulai pergi, namun dia masih saja suka berpikir akankah Alex benar-benar bisa mendapatkan posisi tertinggi di hatinya setelah Ameer?
__ADS_1