
Liana dan Liani pergi ke rumah sakit bersama Rahman. Sesuai kesepakatan bersama, akhirnya tes DNA dilakukan. Liana menatap Liani dengan tatapan membunuhnya, sudah seperti harimau yang siap menelan mangsanya.
”Aku tidak ingin pengetesan ini dilakukan, aku terpaksa. Pasti tes DNA itu akan menunjukkan Liani sebagai anaknya. Sedangkan aku hanya seorang anak yang berwajah mirip dengan dia.” batin Liana.
Beberapa waktu lalu, saat sudah sampai di rumah. Rahman terus terpikir oleh mereka berdua, hingga muncul sebuah petunjuk dipikirannya untuk melakukan tes DNA.
"Liani sayang, kenapa kamu cemberut terus dari tadi?" tanya Rahman, pada Liana.
”Bahkan, saat akan tes DNA seperti ini papa masih memanggilnya Liani. Akulah Liani pa, bukan dia.” Batin Liani menangis.
Di rumah sakit pribadi milik Rahman. Dia disambut hangat oleh pekerja di sana, semuanya memberikan hormat sang direktur utama itu. Mereka berjalan di koridor rumah sakit, semua orang memperhatikan kedua putri berwajah kembar itu.
Rahman melihat dokter dan memanggilnya. "Aku ingin memeriksa golongan darah kedua anak ini dan darahku juga."
"Untuk melakukan tes DNA, silahkan kalian ikut saya ke ruangan." ucap dokter, dengan ramah.
"Iya Dok." jawab Liani lembut.
__ADS_1
Liana melengos. "Ribet sekali, harus diambil dulu darahnya. Pasti sakit sekali terkena jarum suntik." Liana menggerutu sepanjang berjalan menuju ruangan.
Dokter yang mengikutinya hanya geleng-geleng kepala. Rahman merasakan perbedaan diantara keduanya. ”Mereka memang berwajah kembar, tapi beda.” Gumamnya dalam hati.
Setelah melalui proses yang lama, mulai dari disuntik oleh jarum besar dan darah ditampung akhirnya semuanya sudah keluar dari ruangan.
"Pak, kira-kira kapan kami bisa melihat hasil tesnya?" tanya Rahman.
"Sekitar beberapa hari kemudian." jawab Dokter.
"Dengar iya, kamu pasti bukan anak papaku. Kebusukanmu akan terbongkar." ucap Liana.
"Tidak Pa, dia bukan siapa-siapa ku." Liana berteriak dengan lantang. Dia segera berlari meninggalkan rumah sakit.
”Aku akan melakukan cara apapun untuk menyingkirkan kamu Liani. Kalaupun ternyata tes itu menunjukkan aku anaknya, aku akan membuatmu merasakan penderitaanku terlebih dahulu.” batin Liana.
"Hai Liani!" Sapa Alfian.
__ADS_1
Liana menoleh ke arah sumber suara. "Alfian, kamu mengejutkan aku saja." jawabnya.
Alfian segera duduk di sebelah Liani. "Kamu itu aneh iya Liani, sikapmu sekarang berubah. Biasanya kamu cuek kepadaku, tumben sekarang kamu bisa akrab sekali." Menatap Liana dengan tersenyum.
”Apa sikapku beda dengan Liani, gawat bisa ketahuan ini.” batinnya mulai cemas.
"Wajahmu kenapa berubah seperti itu, jadi seperti cabe bengkok." ledek Alfian.
"Hih, apaan sih. Kamu jail sekali jadi orang." ucapnya.
"Aku senang sekali lihat kamu bisa seperti ini. Banyak bicara, biasanya diam terus. Kalau disapa baru menjawab." tutur Alfian.
"Iya, aku seperti ini kan karena ada teman super heboh sepertimu. Sudah ah melelahkan berdebat denganmu, sekarang aku mau ke kantin." Liana berdiri dan mulai melangkahkan kakinya, keluar dari kelas.
"Ayo, aku juga mau ke kantin." Alfian mengikuti langkah Liana.
Sementara itu, seorang siswi tengah menangis memandangi foto seorang wanita yang lagi tersenyum disebelah Rahman. Wanita itu adalah Aulia sang mama tercinta.
__ADS_1
"Mama, andaikan ada mama di sini. Liani pasti tidak sesedih ini, Liani harus menjalani hari di sekolah yang harusnya ditempati Liana. Liani bukannya tidak bahagia tinggal dengan mbok Inem, tapi Liani ingin papa tahu kenyataan yang sebenarnya." monolog Liani.