
Regart bertemu dengan Liana, yang sedang berada di salon. Regart sengaja mendekatinya, lalu menyapa. Tidak peduli, meski akan mendapatkan respon yang cuek.
"Hai Liana!" Menyapa dengan ramah.
Liana menoleh ke sumber suara. "Dari mana kamu tahu namaku."
"Kamu ramai diperbincangkan dalam kelas senior." Regart berkata dengan jujur.
"Bagus, itu artinya aku junior populer." jawab Liana.
Liana merasakan rambutnya, yang mulai dipotong oleh gunting. Regart lucu melihat sifat sombong Liana, namun dia tetap unik di matanya.
"Kamu kenapa cuek sekali? Masih marah, soal batu yang aku lempar kemarin?" tanyanya.
"Aku tidak ada waktu untuk meladeni kamu." jawab Liana datar.
"Maka aku akan mencari waktu, sampai kamu bersedia meladeni." ucap Regart.
"Baiklah, aku akan lihat, kamu bertahan sampai mana." jawab Liana, sengaja menantang untuk balas dendam.
Tiba-tiba, pintu ruangan kerja Rahman terdengar ketukan. Liani masuk ruangan, setelah dipersilakan oleh Rahman.
__ADS_1
"Papa, apa boleh Liani menyumbangkan dana untuk panti asuhan." Liani memberanikan diri, mendekati Rahman di ruang kerjanya.
"Iya sayang, boleh kok." jawab Rahman.
"Ini nomor rekeningnya Pa." Liani memberikan catatan pada Rahman.
"Baiklah, nanti Papa minta sekretaris kantor untuk transfer uangnya." jawab Rahman.
Liana yang baru pulang, tidak sengaja mendengarkan. Akhirnya menempelkan sebelah telinga, di pintu ruangan kerja. Hatinya mulai iri, ingin melakukan hal serupa.
”Enak iya Liani, meminta uang dalam jumlah banyak. Aku juga akan mencari perhatian Papa, pura-pura membantu teman.” Liana berbicara dalam batin, dengan rencana jahatnya.
Liana masuk ke dalam, setelah Liani keluar dari ruangan tersebut. Liana memasang raut wajah melas, supaya Rahman lebih empati padanya. Liana mengajukan keinginannya, meski ada embel-embel kebohongan.
"Aku ingin membantu temanku, dia membutuhkan dana untuk operasi." jawab Liana.
Alfian dan Liani berada di dapur, mereka memasak bersama. Tempat ini adalah dapur khusus kuliner, siapa pun yang ingin masak istimewa, bumbu sudah disiapkan lengkap.
"Ikan Salmon yang dilumuri bumbu Indomie terus digoreng enak sekali." ujar Alfian.
"Hmm... aku coba deh. Jadi penasaran dengan rasanya." jawab Liani.
__ADS_1
"Iya Liani, kamu bawa pulang kotak makanan ini. Aku sudah menyiapkan untuk Bibi Ijah dan Mbok Inem juga." ucap Alfian.
"Terima kasih Alfian." jawab Liani, dengan tulus.
Keesokan harinya, Yoehun tertidur sambil menunduk pada meja belajar. Dia terlalu sibuk bergadang semalaman, mengerjakan skripsi anak kuliah disebuah universitas.
"Yoehun, kamu sarapan pagi dulu." ujar ibu Pratiwi.
"Iya Bu, aku mandi dulu iya." jawab Yoehun.
Ibu Pratiwi meletakkan piring berisi nasi goreng, di atas meja yang tidak jauh dari Yoehun. Yoehun melangkahkan kaki ke kamar mandi, sedangkan ibu Pratiwi keluar.
Domiko memberikan kertas latihan pada semua siswa dan siswi. Domiko melihat ke arah Liuqy dan Nhiky, yang sedang sibuk berbicara. Nhiky terus menoleh ke belakang, dan Liuqy sibuk berbisik.
"Liana itu suka cari masalah, lihat papan tulis ada bacaan Liani Maling." ucap Nhiky.
"Padahal dia saudara kembarnya Liani, masa si tega berbuat begitu." Liuqy tidak habis pikir.
"Kalian ini kenapa berbicara terus, sudah tahu ada guru di kelas." tegur Domiko.
"Kami sedang membahas bullying yang terjadi pada Liani." jawab Nhiky.
__ADS_1
"Dia itu pencuri, satu sekolahan juga tahu." ucap Domiko.
"Bu, Liani bukan pencuri." Nhiky membelanya, namun mendapat respon diam.