Menggenggam Takwa

Menggenggam Takwa
Mengumpulkan Tugas


__ADS_3

Upacara hari pahlawan akhirnya dilaksanakan, semua siswa dan siswi SMA Permata berbaris di lapangan. Semua menghayati lagu kebangsaan Indonesia, yang sedang dinyanyikan.


"Eh, Adik kamu tadi buat ulah lagi." ujar Zeylo.


"Sudah langganan, mungkin betah dijadikan sasaran kemarahan." jawab Regart.


"Kali ini lebih konyol, dia memanjat gerbang sambil bernyanyi lagu rock." Zeylo memberitahu dengan raut wajah serius.


"Malu-maluin saja tingkah bocah." Regart mendengus kesal.


Barisan dibubarkan, saat upacara selesai dilaksanakan. Regart dan beberapa temannya lewat. Liani mendekati mereka, yang sedang asyik mengobrol. Padahal yang Liani tahu, membicarakan aurat perempuan di depan laki-laki termasuk haram.


"Pokoknya betis Liana itu bagus, bentuknya seperti model." ujar Melisa.


"Nah iya loh, bahkan tubuhnya seperti gitar spanyol." jawab Dora.


"Ingin deh seperti dia, langsung suut." Malika menggerakkan telapak tangannya, membentuk tubuh seperti Liana. "Hahah..."


Liani menasehati. "Astaghfirullah, maaf sebelumnya, haram hukumnya berbicara bentuk-bentuk di depan umum. Banyak laki-laki yang dari tadi memperhatikan." Menunduk dengan rendah hati.


Liana yang awalnya bangga jadi malas. "Kamu kenapa si Liani, ikut campur urusan kita. Itu hanya perbincangan biasa, jangan dibawa serius."

__ADS_1


"Namun hal tersebut bisa mendekat pada zina saudaraku." Liani masih berusaha mengingatkan.


"Heh, tidak usah sok alim kamu." Dora tegak pinggang, sambil membentaknya.


"Aku tidak merasa seperti itu. Maaf jika kata-kataku menyinggung kalian." ucap Liani.


Melisa dan Malika melihat dengan muak. "Maaf saja tidak cukup, kamu sudah menyinggung kami."


"Sudahlah, jangan diperpanjang." Liana pura-pura membelanya.


"Baiklah, kali ini aku bebaskan dia." jawab Dora.


Bapak Chandra terkagum melihat pohon jati, yang diukir oleh Liani. Di sana terlihat sebuah panah, beserta ukiran hati. Ada tulisan Allah yang diukir dengan sangat teliti, terlihat indah karena penuh cinta.


"Hati manusia hanya milik Allah, karena pada-Nya semua akan kembali." jawab Liani, sambil tersenyum.


"Luar biasa, namun mengapa kamu mencuri dompet milik guru?" Bapak Chandra penasaran, apakah ini hanya pencitraan.


"Hati manusia hanya Allah yang mengetahui, sepatutnya jangan mempertanyakan hal yang telah berlalu. Dosa manusia itu banyak, perlu introspeksi diri sendiri. Jangan terlalu fokus pada dosa orang lain yang terlihat, namun bagaimana cara memperbaiki diri ketika berbuat khilaf." jelas Liani, dengan tenang.


Liuqy dan Nhiky sampai tidak berkedip, mendengarkan penjelasan Liani. Yoehun kagum dengan Liani, yang berusaha menutupi aib temannya. Sungguh luar biasa, ucapannya rendah hati.

__ADS_1


Liani dibully teman sekelas. "Munafik!"


"Palingan juga untuk menutupi kesalahannya, karena tidak ingin dibully satu sekolahan."


Bapak Wedri masuk ke kelas, menanyakan tugas yang disuruh. Alfian dan Liana mengumpulkan tugas pembuatan tape, yang telah difermentasi.


"Kalian berdua mendapatkan nilai yang bagus." ucapnya.


"Terima kasih Pak." jawab Alfian dan Liana bersamaan.


"Cie, kalian berdua memang pasangan serasi." Malika melihat ke arahnya.


"Ehem, kapan nih tunangan." Melisa ikut-ikutan jadi kompor.


"Sudahlah, jangan berisik!" Alfian menghentikannya.


Pulang sekolah, Liani melihat sekumpulan laki-laki menghampirinya. Liani melihat sekilas, lalu menundukkan pandangan.


"Eh, boleh kenal tidak? Siapa namamu?" tanyanya, dengan senyum mengembang.


"Namaku Liani." Menjawab singkat dan seperlunya.

__ADS_1


Laki-laki itu hendak merangkul pundak Liani, namun ditepis oleh tangannya. "Tolong jaga etika kamu, terhadap perempuan yang bukan mahram."


"Wow... sok suci sekali!" Menatap Liani dengan kesal.


__ADS_2