
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, kini mereka pergi piknik karena sudah libur sekolah.
"Liani, kita mancing di sana ayo. Aku ingin duduk di bawah pohon."
"Kenapa tidak kamu sendiri. Aku malas bila harus berduaan saja." Liani melihat pohon di ujung yang lumayan jauh dari keberadaan keluarganya.
"Kalian tenang saja, aku akan ikut kok" Sahut Liana, dia memang sengaja mau mengganggu mereka.
"Kalau Liana ikut juga aku mau Alfian."
"Baiklah, ayo kita ke sana bertiga."
'Baiklah, tidak apa Liana ikut daripada aku tidak bisa mengobrol bersama Liani. Memang sebenarnya aku risih karena anak satu ini ikut, pasti dia akan mengganggu dan tidak membiarkan Liani senang' Batin Alfian.
Liana membentangkan payungnya karena panas, dia mengangkat payung ke atas kepala Alfian berusaha menghalangi terik matahari mengenai tubuhnya.
"Apaan sih kamu Liana" Alfian semakin mempercepat langkahnya.
Liana tidak mau kalah, dia berjalan mendahului langkah Alfian.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Alfian berubah sama aku? Memangnya aku ada salah apa sama kamu?"
"Kamu tidak ada salah sama aku. Tapi kamu banyak salah pada Liani." Jawabnya dengan setengah berteriak.
"Kamu kelihatannya peduli sekali iya sama si cupu satu ini. Apa kamu tidak lihat dia tidak memperdulikan kamu seperti aku" Protes Liana.
"Aku akan tetap mengejarnya ketika sudah besar nanti." Jawab Alfian santai.
'Ini semua tidak adil. Harusnya yang masuk sungai itu kamu Liani. Aku yang akan mendapatkan Alfian bukan kamu. Dia pasti mencintai aku kalau dari kecil aku yang ada didekatnya' Batin Liana, dia sudah ingin rasanya membunuh Liani saat itu juga. Tapi dia tidak mungkin melakukannya sekarang.
Liana mencari saat yang tepat untuk menyingkirkan Liani. Tidak peduli bila harus menggunakan cara sadis sekalipun. Yang terpenting dia mendapatkan segala yang dia inginkan.
Masih di tempat yang sama. Di danau biru, ketiga manusia sedang berbincang-bincang. Kegiatan piknik mereka belum selesai. Alfian masih fokus melihat ujung kailnya, kalau saja ada ikan yang akan menyambar umpannya.
"Rencananya aku mau sekolah ke SMA Permata."
"Bakal bareng lagi kita. Aku juga mau sekolah ke sana." Jawab Alfian.
"Aku juga mau sekolah ke SMA Permata" Sahut Liana.
__ADS_1
"Kenapa kamu ikut ke sana? Kenapa tidak SMA lain saja." Jawab Alfian dengan sewotnya.
"Suka-suka dong, itu kan sekolahan bukan milik kamu."
"Ah, jadi malas mau sekolah ke sana." Ujar Alfian dengan jujurnya.
Telinga yang disebelahnya sudah panas saja "Kelihatannya kamu sangat benci sama aku, sehingga hanya satu sekolahan saja kamu keberatan. Tapi harusnya sih kamu senang bisa bersamaku, karena kamu dan aku akan bertunangan saat kelas 12 SMA."
"Bertunangan denganmu? Buang jauh-jauh impianmu. Kalau sudah dewasa aku ingin menikah dengan Liani."
'Kalau aku tidak bisa memiliki kamu, maka Liani juga tidak boleh' Batin Liana.
Di dapur, ada Liani dan bibi Ijah.
"Bibi, aku bisa membuatnya. Lihatlah tercetak rapi." Liani kegirangan, sambil memperlihatkan kue yang sedang dipegangnya.
"Non pintar iya. Berarti selama ini belajar memasak dengan bibi tidak sia-sia."
"Kenapa sih Liani selalu saja lebih dicintai. Ingin rasanya aku menghancurkannya hingga lebur. Ntah bagaimana cara aku agar bisa membunuh dia" Monolog Liana. Memperhatikan bibi Ijah yang sedang bersenda gurau belajar membuat kue.
__ADS_1
"Selanjutnya, masukkan ke dalam oven lagi iya nona."
"Iya bibi, terimakasih sudah mengajariku" Liani memeluk bibi Ijah.